Menikahi Istri Kakakku - Panggilan Telepon - Bab 8

Penulis Yuan_bee
15 September 2025

Tiba-tiba, Bi Wati muncul dari balik pintu, sambil mengusap tangannya yang masih basah setelah memasak di dapur. Ia tersenyum melihat Arga yang sedang duduk menemani Nabila.

“Mas Dirga, ayo makan di ruang makan. Jangan di kamar terus, ajak Neng Nabila juga.”

Arga yang masih berperan sebagai Dirga mengangguk singkat. Ia menoleh ke arah Nabila yang tampak bingung karena mendengar suara Bi Wati.

“Ayo, Nab. Kita makan di ruang makan. Kamu dari tadi belum makan, kan?”

Nabila mengangguk, wajahnya tenang meski ragu. “Maaf, Mas Dirga. Setelah aku buta, aku jadi merepotkanmu dan keluargamu.”

Arga tersenyum, lalu bangkit berdiri. Ia mendekat, meraih jemari Nabila dengan hati-hati.  “Enggak kok, kami di sini ga merasa direpotkan. Oke, aku tuntun, tenang aja.”

Nabila pun berdiri perlahan, masih menggenggam tangan Arga erat. Sentuhan itu membuatnya merasa aman. Arga menyesuaikan langkah, memastikan pijakan Nabila tak salah. Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, Arga tak henti-hentinya memperhatikan setiap gerakan Nabila. Ia membimbing dengan sabar, bahkan sesekali memberi aba-aba kecil saat ada kursi atau ujung meja. Sementara di sisi lain, Nabila hanya bisa percaya penuh pada laki-laki yang ia yakini sebagai suaminya itu.

Sesampainya di ruang makan, Bi Wati sudah menata hidangan.  “Mumpung makanannya masih hangat. Silakan, Neng Nabila, Mas Dirga.”

Arga membantu Nabila duduk, lalu menaruh sendok di tangannya dengan lembut.  “Pelan-pelan ya, aku suapin kalau kamu mau.”

Nabila tersenyum samar. “Nggak perlu, Dirga. Aku bisa sendiri, asal kamu tetap di sini.”

Arga terdiam sesaat, menatapnya dengan perasaan campur aduk, lalu hanya mampu mengangguk sambil tersenyum tipis.

Nabila meraba piringnya perlahan, berusaha menemukan sendok dan menyendok nasi. Namun, berkali-kali sendoknya hanya menyentuh piring kosong, atau menabrak lauk hingga terdengar bunyi kecil yang membuatnya canggung. Nabila menarik napas resah, wajahnya menunduk.

Arga yang duduk di sampingnya memperhatikan dengan seksama. Ia bisa melihat betapa sulitnya Nabila mencoba makan tanpa penglihatan, membuat hatinya tersentuh.

“Nabila, sudahlah, biar aku bantu. Kamu tak bisa memaksakan diri di saat kondisimu seperti itu.”

Nabila menggeleng pelan. “Nggak perlu, aku … aku bisa sendiri. Aku tak suka merepotkanmu.”

Arga menghela napas, lalu meraih sendok dari tangannya dengan lembut. Ia menatap Nabila dengan tatapan yang tak bisa dihindari oleh dirinya sendiri. “Kamu nggak merepotkan sama sekali. Bukannya tugas seorang suami itu membantu istrinya? Jadi biar aku yang suapin.”

Nabila terdiam. Hatinya bergetar mendengar kalimat itu. Ada rasa hangat menjalar di dadanya, membuatnya ingin menangis tapi sekaligus tersenyum. Arga menyendokkan nasi dan lauk, lalu mendekatkannya ke bibir Nabila.  “Ayo, buka mulut.”

Awalnya Nabila hanya menunduk ragu. Namun, akhirnya ia menurut. Suapan pertama masuk perlahan, dan Arga tersenyum melihatnya.

‘Ya Tuhan, betapa beruntungnya aku. Meski dalam kekurangan, aku punya suami yang mau sabar menemaniku, bahkan menyuapi seperti ini. Dirga, dia benar-benar menerima aku apa adanya.’

Nabila pun menahan air matanya yang hampir jatuh, memilih untuk hanya tersenyum samar sambil menikmati setiap suapan dari laki-laki yang kini semakin ia syukuri kehadirannya.

Setelah suapan terakhir, Arga membersihkan mulut Nabila dengan tisu, lalu meletakkan sendok. Bi Wati hanya tersenyum dari kejauhan, melihat keduanya tampak serasi tanpa berkomentar apa-apa.

Arga pun berdiri, lalu menawarkan tangannya.  “Sudah kenyang?” Nabila tak menjawab, hanya mengangguk.

“Kalau begitu, ayo kita kembali ke kamar.”

Nabila meraba sejenak, kemudian menggenggam tangan Arga.  “Iya, sepertinya aku sudah ngantuk. Tadi, kaya mau tidur, tapi belum bisa, entah kenapa?”

“Mungkin saja karena siklus tidur yang kacau, menjadi tak teratur waktu istirahatnya.”

“Iya, benar juga.”

Dikarenakan Nabila buta, siklus tidurnya kacau. Saat itu, masih sore, tapi ia sudah mengantuk.

Langkah mereka pelan dan tenang, Arga selalu memastikan Nabila tidak tersandung. Sesampainya di kamar, Nabila langsung duduk di tepi ranjang. Ia menguap kecil, menutup mulut dengan punggung tangannya.

Setelah membaringkan Nabila ke ranjang, ia mematikan lampu utama, menyisakkan lampu yang menyala redup agar Nabila cepat tertidur.

Di dalam kamar yang temaram, Arga duduk di tepi ranjang sambil memandang wajah Nabila yang tenang. Napas Nabila teratur, matanya terpejam rapat, seolah sudah terlelap. Arga mengira dia benar-benar sudah tertidur pulas. Dengan hati-hati, ia bangkit, berniat meninggalkan kamar agar Nabila bisa beristirahat dengan tenang.

Akan tetapi, begitu ia bergerak, jemari Nabila tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Genggaman itu tidak kuat, tapi cukup untuk menghentikan langkahnya. Perlahan, bibir Nabila bergerak, suaranya lirih tapi jelas, “Dirga, kumohon jangan pergi dulu. Tunggu sampai aku benar-benar tidur lelap.”

Arga terdiam, menatap Nabila yang masih memejamkan mata. Ada rasa perih yang tak bisa ia sembunyikan, antara keharuan dan beban karena terus menyandang nama sang kakak. Ia hanya mampu menarik napas panjang, lalu kembali duduk di sisi ranjang.

Dengan lembut, ia mengangguk meski tahu Nabila tak bisa melihat. “Baik, aku akan tetap di sini,” ucapnya pelan.

“Dirga, kau kan sudah berjanji, saat waktu cuti masih ada, kau tak boleh pergi dulu meninggalkan aku.”

“I-i-iya, maaf. Hanya saja ….”

“Hanya saja apa?”

“Oh, enggak, enggak jadi. Nabila, kau tidur saja, pejamkan matamu dan masuklah ke alam mimpi.”

“Dirga, kau tak boleh menyembunyikan apa pun padaku. Jangan anggap, aku buta kau bisa membohongi aku. Katakan saja, kau tadi mau bicara apa?”

Arga pun tersentak kaget. Meski ia buta, tapi perasaan curiganya begitu kuat. Bisa jadi, kebohongan yang ia lakukan akan cepat diketahui olehnya. Jadi, ia harus bergegas mencari tahu, siapa dalang dari kecelakaan kakaknya.

“Hanya saja, benturan itu membuat aku kadang pusing di waktu tertentu.”

“Oh begitu, kirain apa. Ya sudah, kamu juga tidur aja. Biar enggak pusing.”

“Oke.”

Sore itu, Arga pun memilih diam menemani, membiarkan tangannya tetap dalam genggaman Nabila sampai perempuan itu benar-benar terlelap.

Suasana kamar begitu tenang, hanya terdengar desah napas Nabila yang kini sudah benar-benar lelap. Arga duduk bersandar di tepi ranjang, matanya menatap perempuan itu yang masih menggenggam tangannya dengan erat. Ia tak beranjak karena masih sore hari.

Sesekali, ia merenung dalam batinnya. Mengusap pelan dahi Nabila, meski dia bukan istrinya, melainkan kakak iparnya. Arga tak mungkin berkata jujur saat itu, ia harus menunggu sampai waktu benar-benar tepat untuk mengungkap semua, bahwa dia bukanlah Dirga, dan dia yang memerankan sosok kakaknya yang sudah mati, demi kondisi psikologis Nabila agar tetap stabil.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di saku celana. Untung saja, nada deringnya hanya mode getar, sehingga tak sampai mengusik tidur Nabila. Dengan hati-hati, Arga meraih ponselnya dan melangkah sedikit menjauh, memastikan suara lirihnya tak membangunkan Nabila.

Di layar, terpampang nama yang membuatnya tercekat, yaitu Novita - kekasihnya. Dengan helaan napas, ia menjawab panggilan itu ….