Horor #horor #ojol

Neraka Administrasi

Penulis djoedo
22 January 2026

Bunyi zrrrt-tak, zrrrt-tak itu merobek gendang telinga, lebih nyaring dari klakson tronton di jalur pantura. Aris merasakan punggungnya terbakar, gesekan antara kulit jaket ojol yang mulai menipis dengan lantai linoleum dingin yang entah bagaimana terasa berlendir. Ribuan struk kertas itu bukan sekadar melilit; mereka membelit seperti ular sanca yang kelaparan, setiap tepian kertasnya setajam silet baru, mengiris pori-pori, mencari celah untuk masuk ke dalam daging.

"Lepas!!! Bangsat, lepas!!!" Aris meraung-raung, suaranya pecah di antara gema lorong yang memanjang secara tidak masuk akal.

Kakinya menendang membabi buta, menghantam udara kosong dan tumpukan kertas yang terus memuntahkan diri dari kegelapan. Bau itu semakin menyengat, campuran memualkan antara aroma karbol rumah sakit yang tajam dan bau apek dompet kulit tua yang kehujanan. Setiap kali ia berhasil merobek satu lilitan struk, dua lilitan lain datang mencekik pergelangan kakinya, menyeretnya mundur semakin dalam ke perut lorong yang remang-remang.

Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip sekarat, mengeluarkan dengungan listrik statis yang membuat gigi ngilu. Di sela-sela kedipan itu, Aris bisa melihat dinding lorong yang bukan terbuat dari semen atau beton. Dinding itu berdenyut. Permukaannya dilapisi jutaan kertas tagihan yang saling menumpuk, basah dan bergerak-gerak seperti sisik binatang purba.

Aris mencengkeram lantai, kuku-kukunya berdecit meninggalkan bekas putih di ubin hijau pucat itu. Ia mencoba mencari pegangan, apa saja, tapi lantai itu licin oleh cairan hitam yang merembes dari celah-celah ubin, tinta. Tinta printer yang berbau busuk seperti darah yang membusuk.

"Kau mau lari ke mana, Ris?"

Suara itu tidak datang dari belakang, tapi langsung dari dalam kepalanya, bergema di batok kepala. Suara Si Penumpang. Tenang, berwibawa, namun mengandung ejekan yang menusuk tulang sumsum.

"Bukankah kau selalu bilang waktu adalah uang? Lihat, Ris. Lihatlah waktumu yang kau tukar dengan recehan."

Di depan matanya, sebuah struk panjang melayang, menempel paksa di wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Mata Aris terbelalak membaca tulisan yang tercetak dengan tinta merah menyala di sana.

ITEM: OBAT IBU (TERTUNDA) ALASAN: UPGRADE HP BARU HARGA: RASA BERSALAH STATUS: BELUM LUNAS

Napas Aris tercekat. Ia ingat momen itu. Dua tahun lalu, saat dokter meresepkan obat paten untuk jantung Ibu yang tidak ditanggung BPJS. Aris memegang uangnya, hasil narik selama dua minggu penuh. Tapi kemudian ia melihat iklan ponsel keluaran terbaru dengan RAM besar, ponsel yang dijanjikan bisa membuatnya "gacor" menerima orderan. Ia membeli ponsel itu. Ibu hanya minum obat generik warung selama seminggu.

"Itu... itu demi kerjaan! Demi Ibu juga!" Aris berteriak, mencoba membenarkan diri pada entitas tak terlihat yang menghakiminya. "Kalau HP gue lemot, gue nggak bisa dapet duit buat makan Ibu!"

"Alasan," bisik suara itu, kali ini terdengar seperti desis uap panas. "Selalu ada 'karena' untuk setiap 'tapi'."

Seretan itu makin kencang. Aris terpelanting, bahunya menghantam kusen pintu yang melintas cepat. Ia kini meluncur melewati deretan pintu-pintu bangsal yang tertutup rapat. Dari balik pintu-pintu itu, terdengar suara-suara yang akrab sekaligus mengerikan.

Dari pintu bernomor 301, terdengar suara Sarah menangis. Tangisan yang sama saat Aris meninggalkannya di stasiun di tengah hujan deras. Dari pintu 302, terdengar suara Rio, bocah penjual tisu itu, yang sedang terbatuk-batuk menahan asap knalpot, meminta maaf karena menghalangi jalan Aris.

"Diam! Diam kalian semua!" Aris menutup telinganya, tapi tangan-tangan kertas itu menarik paksa tangannya menjauh.

Aris melihat ponselnya yang retak masih tergenggam di tangan kanan. Layarnya menyala redup. Tidak ada sinyal. Tidak ada aplikasi ojek online. Hanya ada satu notifikasi yang terus berkedip: TOTAL TAGIHAN: NYAWA.

Ia harus memutus ini. Ia harus keluar dari siklus gila ini. Matanya menangkap sesuatu di pinggangnya, kunci motor. Ujung kuncinya cukup tajam. Dengan sisa tenaga yang dipacu adrenalin kepanikan, Aris menusukkan kunci itu ke lilitan kertas tebal yang membelit betisnya.

Crasss!

Bukan suara kertas robek, melainkan suara daging yang tersayat. Cairan merah pekat menyembur dari tumpukan kertas itu. Kertas-kertas itu menjerit, benar-benar menjerit dengan suara lengkingan tinggi seperti tikus terjepit pintu. Lilitan itu melonggar seketika.

Aris tidak membuang waktu. Ia berguling, merangkak, lalu berdiri dengan goyah. Kakinya gemetar hebat, celana jeans-nya robek-robek, memperlihatkan kulit yang lecet dan memar. Ia berada di tengah lorong yang seolah tak berujung. Di belakangnya, gundukan kertas tagihan itu menggeliat-geliat kesakitan, menyusun kembali dirinya menjadi bentuk yang lebih padat, lebih tinggi.

Mesin printer di kegelapan sana kembali bekerja. Zzzt-tak. Zzzt-tak. Kali ini lebih cepat. Lebih marah.

"Lari, Aris. Lari yang kencang. Seperti kau lari dari tanggung jawabmu selama ini," suara Si Penumpang menggema, tertawa rendah.

Aris memacu kakinya yang pincang. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti diisi serbuk kaca. Ia berlari melewati deretan bangsal yang kini berubah bentuk. Dinding-dindingnya bukan lagi tembok rumah sakit, melainkan tumpukan kardus mie instan dan seng berkarat pemandangan kumuh Jakarta yang selalu ia lewati dengan kecepatan tinggi, yang selalu ia abaikan.

Ia harus mencari jalan keluar. Matanya yang liar menyapu sekeliling. Di ujung lorong, ada sebuah cahaya hijau yang berpendar samar. Tanda "EXIT". Tapi di bawah tulisan itu, ada tambahan tulisan tangan dengan spidol hitam yang meleleh: "KHUSUS YANG SUDAH LUNAS".

Aris tidak peduli. Ia berlari ke arah pintu itu. Suara gemuruh di belakangnya semakin dekat. Bukan hanya suara kertas sekarang, tapi suara roda ranjang rumah sakit yang didorong paksa, berdecit-decit memecah kesunyian.

Ia menabrak pintu itu dengan bahunya. Terkunci.

"Buka! Tolong buka!" Aris menggedor pintu besi yang dingin itu. Karat menempel di telapak tangannya. "Gue mau bayar! Gue bayar semuanya nanti! Buka!"

Tidak ada jawaban. Hanya suara bip-bip-bip pelan dari panel elektronik di samping pintu. Panel itu tidak meminta kartu akses, melainkan memiliki layar kecil yang menampilkan pertanyaan:

MASUKKAN KODE OTENTIKASI: SIAPA YANG PALING KAMU CINTAI? A. IBU B. SARAH C. DIRI SENDIRI

Jari Aris gemetar di atas layar. Keringat dingin menetes masuk ke matanya, perih. Jawaban logisnya adalah Ibu. Jawaban romantisnya adalah Sarah. Tapi hati kecilnya, di sudut paling gelap dan jujur, tahu jawaban apa yang selama ini ia hidupi.

Jika ia menekan 'Ibu', dan sistem ini tahu ia berbohong, ia tamat. Kejujuran adalah mata uang di tempat terkutuk ini, begitu kata Pak Mulyono dalam ingatannya. Atau mungkin itu jebakan?

Suara roda di belakangnya semakin dekat. Bayangan raksasa mulai memanjang di lantai, menelan bayangan tubuh kecil Aris. Sosok Suster Ningsih dalam wujud monsternya mungkin sedang menuju ke sini.

"Persetan!" Aris menekan tombol C.

Tiiit. Lampu panel berubah merah. Tulisan di layar berubah: JUJUR, TAPI SALDO TIDAK MENCUKUPI.

Namun, pintu itu berbunyi klik. Terbuka sedikit. Bukan karena ia benar, tapi mungkin karena sistem itu kasihan atau ingin mempermainkannya lebih lama.

Aris menyeruak masuk, membanting pintu di belakangnya dan menahannya dengan tubuh. Napasnya tersengal-sengal. Ia merosot duduk di lantai, menahan pintu dengan punggungnya. Jantungnya berpalu di kerongkongan.

Ia mengira akan menemukan tangga darurat atau halaman luar. Ia berharap merasakan udara malam Jakarta yang penuh polusi namun bebas.

Namun, saat matanya mulai beradaptasi dengan keremangan ruangan baru itu, harapan Aris hancur berkeping-keping.

Ini bukan tangga darurat.

Ruangan ini dingin, jauh lebih dingin dari lorong tadi. Suhunya menusuk tulang. Aroma karbol di sini begitu pekat hingga rasanya bisa dijilat di lidah. Di tengah ruangan yang luas dan berdinding keramik putih itu, berjejer puluhan meja stainless steel.

Di atas setiap meja, terbaring sosok yang ditutupi kain putih. Kamar mayat.

Tapi bukan itu yang membuat lutut Aris lemas hingga ia tak sanggup berdiri lagi. Yang membuatnya terpaku adalah suara-suara yang keluar dari balik kain-kain kafan itu. Bukan suara mengerang atau menangis.

Itu suara notifikasi ponsel.

Ting-nung. Ting-nung. Orderan masuk.

Puluhan, ratusan notifikasi berbunyi bersahutan dari balik kain putih. Setiap jenazah di sana seolah sedang memegang ponsel yang aktif.

Aris merangkak mundur, menjauhi meja terdekat. Kain putih di meja itu perlahan tersingkap sendiri, seolah ditarik oleh tangan tak terlihat. Tidak ada mayat di sana. Hanya ada seragam jaket ojol yang lusuh, berlumuran darah kering dan oli, serta sebuah helm pecah yang di dalamnya terisi penuh dengan struk belanjaan yang diremas.

Di sela-sela tumpukan struk di dalam helm itu, sebuah wajah menoleh. Bukan wajah manusia. Itu adalah wajah yang terbuat dari layar ponsel yang retak, menampilkan peta GPS yang terus berputar-putar tanpa tujuan.

"Titik jemput... tidak ditemukan..." suara itu keluar dari helm, statis dan serak, seperti speaker rusak yang dipaksa berbunyi.

Aris mengenali jaket itu. Ada emblem nama di dada kirinya. SUGENG.

Itu jaket Sugeng, temannya yang polos, yang minggu lalu kecelakaan saat mengejar bonus poin dan Aris tidak datang melayat karena sibuk mengejar insentif.

"Sugeng?" bisik Aris, suaranya hilang ditelan dinginnya ruangan.

Sosok 'Sugeng' itu bangkit duduk kaku. Layar ponsel di wajahnya berkedip cepat, menampilkan rute merah yang menuju ke arah Aris.

"Aris..." panggil makhluk itu. "Kau mau ambil orderanku? Bonusnya besar... tujuannya neraka."

Tiba-tiba, kain-kain putih di meja lain mulai bergerak. Satu per satu, sosok-sosok dengan wajah layar retak dan tubuh terbuat dari sisa-sisa ambisi yang hancur itu bangkit duduk. Mereka semua menoleh serentak ke arah pintu tempat Aris bersandar.

Pintu di punggung Aris tiba-tiba terasa panas. Dari luar, dari lorong yang baru saja ia tinggalkan, terdengar gedoran keras. Bukan gedoran tangan, tapi hantaman palu gadam.

Aris terjebak. Di belakangnya adalah monster Suster Ningsih dan gulungan dosa masa lalu. Di depannya adalah kamar mayat berisi korban-korban ambisi yang kini menuntut ditemani.

Ponsel di tangan Aris bergetar lagi. Kali ini bukan notifikasi tagihan. Sebuah panggilan masuk. Layar retaknya menampilkan nama yang membuat darah Aris berhenti mengalir.

CALLING: ARIS (MASA DEPAN)

Aris menatap ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia tidak berani menjawab, tapi ia juga tidak berani mematikannya. Di ruangan pendingin mayat yang penuh dengan hantu ojek online itu, dering ponsel Aris terdengar seperti lonceng kematian yang paling sunyi.

"Angkat, Ris," suara Sugeng atau makhluk yang menyerupai Sugeng berkata datar. Tangannya yang terbuat dari kabel charger yang kusut terulur ke arah Aris. "Dia mau kasih tahu caranya mati tanpa rasa sakit."

Aris menekan punggungnya kuat-kuat ke pintu besi yang mulai melengkung ke dalam karena hantaman dari luar. Ia menatap tombol hijau di layarnya. Jempolnya melayang di udara, ragu, takut, namun putus asa.

Zzzt-tak.

Suara printer itu sekarang terdengar dari dalam saku celananya sendiri.

Aris merogoh sakunya. Bukan uang kembalian yang ia temukan, melainkan selembar kertas struk yang baru saja "dicetak" entah dari mana. Masih hangat. Tinta hitamnya masih basah.

Aris membacanya di bawah cahaya lampu kamar mayat yang biru pucat.

LOKASI SAAT INI: RUANG TUNGGU PENYESALAN ANTREAN ANDA: NOMOR 1 SILAKAN MASUK KE LACI PENDINGIN NOMOR 404.

Aris menoleh ke dinding di ujung ruangan. Sebuah laci pendingin mayat perlahan terbuka, menghembuskan kabut es yang tebal. Di atas laci itu tertera angka 404. Kosong. Gelap. Menunggu.

Dan dari dalam kegelapan laci itu, terdengar suara mesin motor matic yang sedang dipanaskan. Suara motornya sendiri.