Hawa dingin malam itu menusuk tulang, seakan merasuk hingga ke sumsum. Naufal merasakannya bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam bentuk ketakutan yang mencengkeram hatinya. Genap 8 bulan bertugas di satuan Narkoba, belum pernah ia merasakan ketakutan seintens ini.
Kata-kata Dimas, seniornya yang berpengalaman, meskipun menenangkan, tak mampu sepenuhnya meredakan kecemasannya. Bayangan Akhzam, adiknya yang masih polos dan lugu, terus menghantui pikirannya.
Kemungkinan terburuk, yang diutarakannya sendiri, terus berputar di kepalanya: bagaimana jika Akhzam benar-benar jatuh ke tangan orang-orang yang tak berperasaan? Bayangan itu begitu nyata, begitu mengerikan.
Dimas, dengan pengalamannya yang panjang di kepolisian, memahami kegelisahan Naufal yang masih hijau di dunia pemberantasan Narkoba. Ia tahu, rencana yang telah mereka susun, sedetail apapun, tak akan mampu menjamin keselamatan Akhzam sepenuhnya.
Ancaman ini berbeda. Ini bukan sekadar penangkapan bandar narkoba biasa. Ini adalah permainan dengan bayangan kematian, di mana taruhannya adalah nyawa seorang anak kecil.
“Kita tidak bisa mengandalkan hanya satu rencana, Pak Naufal,” ucap Dimas, suaranya serius, penuh penekanan.
Ia menatap mata Naufal, berusaha menyampaikan ketenangan dan keyakinan, meskipun ia sendiri merasakan beban berat yang sama.
“Kita perlu beberapa skenario cadangan. Kita harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Mereka punya informasi tentang operasi kita, ini bukan main-main. Ini adalah jaringan yang sangat terorganisir.”
Dimas mengeluarkan ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat mengetik pesan. Ia menghubungi beberapa temannya di intelijen, meminta informasi lebih lanjut tentang jaringan narkoba yang mengancam mereka.
Ia tahu, melacak keberadaan seseorang, bukanlah hal yang mudah. Namun, tidak boleh membuang waktu, setiap detik berharga, setiap detik bisa menjadi penentu hidup atau mati.
“Kita perlu tahu siapa mereka sebenarnya,” lanjut Dimas. “Kita perlu menggali informasi dari berkas-berkas bandar yang sudah kita tangkap. Mungkin ada petunjuk yang terlewatkan."
Naufal mengangguk, matanya menatap lekat-lekat berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Ia merasa lelah, sangat lelah, dan ia tahu, ia tak boleh menyerah. Ia harus menemukan celah, sebuah titik terang di tengah kegelapan yang mengancam adiknya.
Mereka berdua bekerja sama, meneliti setiap dokumen, setiap keterangan saksi. Mereka mencari nama, kode, dan setiap detail yang dapat mengungkap identitas para penjahat tersebut.
Jam berlalu dengan cepat, ditemani aroma kopi pahit dan ketegangan yang mencekam. Ruangan itu terasa semakin sempit, dipenuhi oleh bayangan-bayangan ketakutan. Ketakutan akan kehilangan Akhzam.
Tiba-tiba, Dimas menemukan sesuatu. Sebuah nama, tersembunyi di balik kode-kode yang rumit. Sebuah nama yang familiar, yang pernah ia dengar sebelumnya. Seorang informan, yang dulunya bekerja sama dengan mereka, dan kemudian menghilang tanpa jejak.
Seorang informan yang mungkin tahu lebih banyak tentang jaringan ini, informan yang mungkin memegang kunci untuk mengungkap seluruh jaringan ini.
“Ini dia,” bisik Dimas, suaranya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena menemukan secercah harapan di tengah kegelapan. “Nama ini … dia adalah kunci.”
Naufal membaca nama tersebut. Andre. Ia merasa seperti ada sesuatu yang terhubung, sebuah benang merah yang menghubungkan ancaman ini dengan kasus-kasus sebelumnya. Ia merasakan sebuah firasat buruk, firasat yang semakin menguat.
Firasat bahwa mereka sedang berhadapan dengan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan, musuh yang telah lama beroperasi, musuh yang licik dan berbahaya.
Mereka memutuskan untuk menghubungi informan tersebut, meskipun resikonya sangat besar. Mereka harus mengambil resiko, demi menyelamatkan Akhzam.
Mereka harus menemukan titik lemah musuh mereka, sebelum semuanya terlambat. Sebelum Akhzam menjadi korban. Sebelum semuanya menjadi lebih buruk.
Telepon berdering. Nomor tak dikenal lagi. Naufal ragu sejenak, kemudian mengangkatnya.
“Halo?”
“Ipda Naufal Hasbi?” Suara di seberang terdengar lebih dingin, lebih mengancam daripada sebelumnya. “Kami tahu kamu sedang mencari informasi. Kami tahu kamu sedang mencoba melacak kami. Itu adalah kesalahan besar.”
Naufal merasakan hawa dingin yang lebih menusuk daripada sebelumnya. Ia tahu, mereka telah terdeteksi. Permainan telah dimulai. Mereka telah masuk ke dalam perangkap. Perangkap yang sangat berbahaya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Naufal, berusaha mengendalikan suaranya.
“Besok malam, pukul sepuluh. Bukan di Pelabuhan.” Suara di seberang tertawa sinis, tawa yang menusuk hati Naufal, tawa yang penuh dengan ancaman. “Tunggu saja info selanjutnya. Dan aku pastikan, adikmu Akhzam akan menyaksikan semuanya.”
Telepon terputus. Naufal terduduk lemas, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Dimas, matanya dipenuhi keputusasaan.
Mereka telah terjebak dalam sebuah perangkap yang sangat berbahaya. Perangkap yang dirancang dengan sangat cermat, perangkap yang dirancang oleh musuh yang sangat licik dan berbahaya.
Naufal meraih ponselnya, jemarinya gemetar saat menekan nomor ibunya, Adelia. Detik-detik terasa begitu panjang, jantungnya berdebar kencang, berharap panggilannya diangkat.
Ia membayangkan wajah ibunya, yang selalu menenangkan, dan kali ini, ia tak yakin mampu menenangkan dirinya sendiri.
Pikirannya dipenuhi bayangan Akhzam, adiknya yang masih polos dan lugu, yang tinggal bersama ibunya.
“Assalamualaikum, Ma,” sapa Naufal, suaranya sedikit serak, dipenuhi oleh kecemasan yang amat sangat.
“Waalaikumsalam, Nak. Ada apa? Suaramu terdengar lelah sekali.” Suara ibunya terdengar khawatir. Adelia sudah terbiasa dengan pekerjaan Naufal yang melelahkan, dan nada suara Naufal kali ini terdengar berbeda, lebih cemas dari biasanya.
Naufal menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia harus menceritakan ancaman yang diterimanya, mencoba menyampaikannya dengan tenang, meskipun jantungnya masih berdebar-debar.
"Ma, Azam mana?" tanya Naufal, suaranya bergetar, dipenuhi oleh kecemasan yang tak tertahankan.
"Sudah tidur, Nak. Kenapa? Ada apa?" Adelia bertanya dengan nada khawatir. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres dari suara anaknya.
Naufal menceritakan semuanya, ancaman telepon misterius, ketakutannya akan keselamatan Akhzam.
Ia menceritakan detail ancaman tersebut, mencoba untuk tidak melewatkan satu pun detail. Ia harus memastikan ibunya mengerti betapa seriusnya situasi ini.
Tak terdengar suara Adelia. Hening setelah Naufal mengungkapkan masalah yang terjadi. Namun tak lama Adelia terisak di ujung telepon, kecemasannya semakin menjadi-jadi. Ia membayangkan Akhzam, anaknya yang masih kecil, terancam bahaya. Bayangan itu begitu mengerikan.
"Ma," panggil Naufal.
"Ya, Nak.."
"Jangan khawatir, Ma. Aku akan memastikan keamanan Azam. Besok Aku akan minta Aipda Dimas untuk mengawasi dia sepanjang hari, dari berangkat sekolah sampai pulang," kata Naufal, mencoba untuk tetap tenang dan memberikan rasa aman kepada ibunya, meskipun ia sendiri merasa sangat cemas.
"Terima kasih, Nak," ucap Adelia, suaranya masih bergetar. "Mama akan berdoa untuk keselamatan kalian berdua."
Naufal menutup telepon, rasa lega sedikit mengurangi beban di dadanya. Ia tahu, perjuangannya belum selesai.
Ia harus menemukan siapa dalang di balik semua ini, dan menyelamatkan Akhzam sebelum terlambat. Ia harus melindungi keluarganya. Ia harus melindungi adiknya.Demi Akhzam, ia akan berjuang sampai akhir.