Drama #crime #drama

Antara Tugas dan Cinta

Penulis sanzfy
23 January 2026

Pukul 12.00 WIB, Naufal masih duduk tegak di kursinya. Cahaya pagi menerobos jendela kantornya, menerangi tumpukan berkas tinggi menjulang di atas meja kerja.

Naufal menghela napas panjang, matanya menyapu lembaran-lembaran kertas yang menunggu untuk diproses.

Di antara tumpukan dokumen itu, terdapat berkas laporan penangkapan tersangka bandar narkoba yang kemarin ia tangkap.

Suara dering ponselnya membuyarkan konsentrasinya. Layar ponselnya menunjukkan sebuah panggilan masuk dari Sinta. Ia ragu sejenak sebelum mengangkatnya.

"Halo?" sapa Naufal, suaranya masih terdengar sedikit serak karena kurang tidur setelah apa yang terjadi dini hari tadi.

"Naufal." Suara lembut di seberang menjawab.

"Sinta? Ada apa?" tanya Naufal, sedikit terkejut.

"Aku berangkat penerbangan sore ini," kata Sinta, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

"Mau kemana?" tanya Naufal, bingung.

"Ke tempatmu lah, kemana lagi? Sudah jelas rencana liburanku gagal," jawab Sinta, suaranya terdengar manja.

"Bukannya kamu bilang Jumat? Mau weekend di sini kan?" tanya Naufal mengingatkan. "Kamu tidak kuliah?"

"Kelamaan, aku sudah rindu!" jawab Sinta, suaranya terdengar sedikit mendesak, suara yang penuh dengan kerinduan. Naufal bisa merasakan getaran kerinduan itu dari suaranya.

"Sudah semester akhir, Sayang. Masa mau main-main terus? Kapan kelar kuliahnya?" Naufal mencoba mengingatkan Sinta akan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.

"Halah! Cuma libur kuliah sehari dua hari kan tidak apa." Sinta terdengar sedikit meremehkan kekhawatiran Naufal.

"Kamu sudah kebanyakan libur loh sayang..." Naufal mengingatkan dengan lembut, mencoba untuk tetap tenang.

"Ah, kamu sudah mulai seperti Papa!" Sinta tertawa kecil, suaranya terdengar manja. Ia tahu Naufal sangat menyayangi dan selalu mengingatkannya akan tanggung jawabnya.

Tiba-tiba, ketukan pintu ruangan itu membuyarkan percakapan mereka. Naufal menoleh. Aretha, rekannya satu tim berjalan menghampiri. Aretha terlihat sedikit lelah, wajahnya pucat.

"Nanti aku telepon," ucap Naufal kepada Sinta, suaranya sedikit terburu-buru.

"Halah, nanti lupa." Sinta terdengar sedikit cemberut.

Naufal tertawa. "Mudah-mudahan tidak."

"Ya, sudah. Jemput aku ya?" pinta Sinta, suaranya penuh dengan harapan.

"Siap, Nona." Naufal menjawab dengan nada bercanda, suaranya terdengar lebih tenang sekarang.

Naufal menutup telepon dari Sinta, sebuah senyum mengembang di wajahnya. Kejutan dari Sinta telah sedikit mengusir rasa lelahnya. Ia menoleh pada Aretha.

"Sudah masuk saja?" tanya Naufal, khawatir dengan kondisi Aretha.

"Tidak enak lama di rumah sakit, Bang. Membosankan. Lagi pula lukanya juga tidak seberapa. Manja sekali kalau harus dirawat," jawab Aretha sambil tersenyum kecil, mencoba untuk terlihat tegar.

"Setidaknya istirahat dulu di rumah," saran Naufal, khawatir anggota timnya itu akan memaksakan diri.

Aretha meletakkan setebal berkas di atas meja. "Tambahan berkas untuk Abang lihat," ia tertawa kecil, suaranya sedikit lemah. "Sudah jam makan siang, Abang tidak makan?"

"Oya?" Naufal melihat jam di dinding. Ia begitu fokus pada pekerjaannya hingga lupa waktu.

"Mau makan siang di luar atau mau aku pesankan makan siang?" tanya Aretha, menawarkan bantuan. Ia tahu Naufal seringkali melewatkan makan siang karena kesibukannya.

"Makan siang di luar saja, yuk. Kamu pasti juga belum makan kan?" Naufal menyimpan ponselnya sebelum berdiri.

"Berdua saja? Tidak ajak tim kita yang lain?" Aretha berusaha menyembunyikan perasaan di hatinya. Bisa makan berdua saja dengan ketua tim yang ia puja jelas memberikan rasa bahagia tersendiri.

"Ada yang ingin didiskusikan denganmu. Ayo." Naufal menatap Aretha dengan tatapan yang lebih perhatian dari biasanya. Ia merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar keinginan untuk makan siang bersama di balik ajakannya.

"Siap," Aretha bergegas mengikuti seniornya itu keluar dari ruangan.

Di luar ruangan, mereka berpapasan dengan Razak dan Rangga, dua anggota tim mereka.

"Pak, nanti jam 2 kita gelar perkara," ucap Razak.

"Ya, kalian makan siang dulu. Retha, ayo." Naufal mengangguk pada Razak sebelum mengajak Aretha pergi.

"Siap, Bang." Aretha menjawab dengan suara yang sedikit gemetar, mencoba untuk menutupi debaran hatinya.

Keduanya keluar meninggalkan ruangan.

"Pantas Aretha tidak betah di rumah sakit, tidak bisa melihat komandan tampan," ucap Razak, tersenyum mengejek.

"Selagi belum terikat pernikahan, masih bisa diperjuangkan untuk dimiliki," bisik Rangga, menambahkan dengan nada bercanda.

Keduanya tertawa. Aretha yang mendengar percakapan mereka merasa pipinya berwarna merah padam.

Di sebuah rumah makan sederhana, Naufal dan Aretha duduk bersebelahan. Suasana rumah makan itu ramai, penuh dengan suara cengkrama dan aroma makanan yang menggiurkan. Namun, suasana di antara Naufal dan Aretha agak hening.

Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menciptakan ketegangan halus di antara mereka. Naufal terlihat tenang, tapi Aretha bisa merasakan ketegangan di dalam dirinya.

Ia mencoba untuk menjaga perasaannya agar tidak terlihat terlalu jelas, tapi debaran hatinya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Aretha memulai percakapan, "Saya tadi dengar cerita, katanya dini hari rumah Abang didatangi preman," ucapnya, suaranya sedikit gemetar. Ia khawatir akan keamanan Naufal.

"Ya, tapi sebuah tembakan membuat mereka kabur. Mereka suruhan bandar yang mengancam akan menculik Azam," jawab Naufal dengan tenang, tapi tatapan matanya menunjukkan bahwa ia masih terganggu oleh kejadian itu. Ketegangan di suaranya lebih terasa sekarang.

"Azam?" Aretha bertanya dengan khawatir, menyadari betapa seriusnya ancaman itu.

"Ya," jawab Naufal, "Aipda Dimas sudah kuminta untuk mengawasi. Dia sudah menurunkan Bripda Evan untuk menjaga keselamatan Azam selama berada di sekolah. Gurunya juga sudah diberitahu untuk tidak membiarkan sembarang orang menjemput Azam dari sekolah. Bahkan Mama juga tidak kuizinkan untuk menjemput Azam, khawatir Mama juga diawasi."

"Lalu, apa ibunya Bang Naufal aman?"

"Mama sementara di rumah kakek. Disana sudah pasti aman. Nanti setelah Azam pulang dari sekolah, Evan akan mengantarnya ke rumah kakek."

"Oh." Aretha mengangguk perlahan, masih tampak cemas.

"Kamu makanlah," Naufal menyendokkan nasi untuk Aretha. "Oya, benar lukamu tidak apa-apa? Kamu bisa pulang setelah ini, istirahat yang cukup."

"Tidak apa-apa, Bang," jawab Aretha cepat.

"Sebentar," Naufal meraih ponselnya karena sebuah panggilan masuk. Aretha menghembuskan napas lega. Seperti bisa bernapas kembali.

Mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak lebih kencang akibat perhatian yang ditunjukkan Naufal. Diteguknya air minum di hadapannya, Naufal terlihat bicara dengan seseorang, begitu serius, tidak tahu dari siapa.

Aretha meraih ponselnya, mencoba mencuri foto Naufal dari sudut yang tak terlihat.

Diliriknya Naufal yang sudah selesai menerima telepon dan membaca sebuah pesan masuk dari Sinta. Pelan-pelan Aretha mencoba mengintip dari sudut matanya.

Terlihat Sinta mengirimkan foto sedang di ruang tunggu bandara, dengan keterangan singkat: "Sampai jumpa dalam hitungan 2 jam, sayangku!"

Aretha tertegun. Kejutan Sinta, dan tatapan Naufal yang masih tertuju pada ponselnya, menimbulkan rasa penasaran yang mendalam di hatinya. Pikirannya melayang. Apakah perempuan bernama Sinta itu benar-benar akan tiba?