Pesawat dari Jakarta mendarat tepat pukul 16.12 WIB. Langit sedikit mendung, angin sore membawa aroma basah sisa hujan pagi. Sinta menuruni tangga pesawat dengan langkah ringan, tas kecil tersandang di bahu, koper berwarna ungu ditarik di belakangnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang dirindukannya.
Ponselnya berdering. Nama Naufal tertera di layar.
"Sudah mendarat?" tanya Naufal, suaranya tenang.
Sinta tersenyum. "Sudah, barusan. Kamu sudah di parkiran?"
"Sudah di pintu kedatangan," jawab Naufal.
"Oke. Aku di dekat pintu dua ya."
"Ya, dari tadi juga sudah kelihatan," Naufal terkekeh sebelum menutup telepon.
Sinta menoleh ke arah pintu kedatangan. Beberapa orang menyambut keluarga masing-masing. Beberapa sopir berdiri dengan papan nama. Namun, tak ada tanda-tanda pria tampan ber kemeja putih yang dibayangkannya. Kecewa menusuk sedikit hatinya.
Baru saja ia hendak menelepon lagi, suara langkah tergesa menyapanya dari belakang.
"Sinta." Suara Naufal membuat Sinta berbalik cepat. Senyum lega merekah di wajahnya.
"Sayang!" serunya riang, memeluk Naufal singkat. Pelukan yang cukup untuk menyampaikan rindunya yang terpendam selama ini.
"Aku tepat waktu kan?" ujar Naufal, mengambil kopernya. "Kamu mau berapa hari, bawa pakaian sampai koper segini?"
Sinta tertawa kecil. "Tiga setel. Sisanya kosmetik. Itubyang paling penting," jawabnya sambil bercanda.
Naufal menggeleng pelan. "Ayo, mobilnya di depan."
Di dalam mobil, suasana sempat hening. Sinta menatap jalanan kota yang masih asing baginya, menikmati perjalanan singkat menuju hotel tempat Naufal memesan kamar untuknya.
"Kamu tadi makan siang sama siapa?" tanyanya tiba-tiba, memecah keheningan. Pertanyaan yang sebenarnya muncul dari rasa penasaran yang terselubung.
"Aretha," jawab Naufal singkat, nada suaranya datar.
Sinta menoleh. "Yang waktu itu sempat kamu ceritakan? Anak baru di tim kamu?"
Naufal mengangguk. "Dia baru keluar dari rumah sakit. Luka ringan saat penggerebekan kemarin."
"Hmm." Sinta menggigit bibir bawahnya, pikirannya mulai berkelana. "Cantik nggak?" tanyanya, nada menggoda tersirat dalam suaranya.
Naufal menoleh cepat, sedikit terkejut dengan pertanyaan Sinta. "Sinta ...."
"Aku cuma tanya, kok. Bukan curiga," kata Sinta dengan senyum menggoda, berusaha meyakinkan Naufal.
"Dia rekan kerja. Aku ketua timnya. Profesional saja," jawab Naufal, berusaha menjelaskan.
"Ya ya," Sinta memutar mata, pura-pura tidak percaya. "Tapi kan kamu laki-laki, dia perempuan. Siapa tahu terselip rasa di antara tugas."
Naufal tertawa pelan, mencoba meredakan suasana. "Yang terselip itu cuma data penyelidikan. Bukan rasa. Lagi pula bukan hanya aku laki-laki di tim kami."
Sinta memutar wajah, pura-pura cemberut. Ia tahu Naufal berusaha meyakinkannya, tapi rasa cemburu kecil tetap saja menggelitik hatinya.
"Eh, kamu mau langsung ke hotel atau mau ke mana dulu?" tanya Naufal, mengubah topik pembicaraan.
"Kenapa?" tanya Sinta balik, penasaran.
"Aku mau jemput Azam di sekolah. Mau mengantarnya ke rumah kakek," jelas Naufal. "Setelah itu baru kita ke hotel."
"Serius? Wah, aku mau ikut!" Sinta tampak bersemangat. "Lihat, aku beli ini untuk Akhzam." Ia menunjukkan sebuah robot transformer yang cukup besar, terbungkus rapi dalam kotaknya. "Aku tahu dia pasti suka."
Pukul 17.00, mereka tiba di halaman sekolah Akhzam. Halaman sekolah sudah sangat sepi. Sinta berdiri di dekat gerbang, menunggu Akhzam dengan robot yang ia tahu pasti disukai adik Naufal itu. Kecemasan mulai muncul kembali.
Beberapa menit kemudian, Akhzam keluar bersama Bripda Evan, polisi yang ditugaskan menjaga adik Naufal. Namun, pemandangan yang dilihat Sinta membuatnya terkejut. Akhzam terlihat ketakutan, memeluk erat tubuh Bripda Evan, bersembunyi di belakangnya. Evan menggendong Akhzam yang masih gemetar ketakutan.
"Loh, kenapa?" tanya Sinta, khawatir. Suaranya terdengar panik. "Kak Sinta mau jemput Azam loh. Itu, Bang Naufal di mobil."
"Azam tidak mau kalau belum kenal, Kak," Bripda Evan menjelaskan dengan tenang, sambil menenangkan Azam. "Butuh waktu untuk dia bisa nyaman dengan orang baru." Ia menjelaskan situasi dengan sabar.
Sinta mengangguk mengerti. Ia mendekat perlahan, berusaha menenangkan Azam. Ia berbicara dengan suara lembut, berusaha menenangkan anak kecil itu.
"Hai Azam, ini Kak Sinta. Kakak bawa hadiah untuk kamu, nih," kata Sinta dengan suara lembut, menunjukkan kotak robot transformer itu. "Lihat, keren banget, kan?"
Akhzam masih ragu-ragu, tapi matanya tertuju pada kotak hadiah tersebut. Perlahan, rasa takutnya sedikit berkurang. Ia mengintip dari balik tubuh Bripda Evan.
"Robot?" bisik Akhzam.
"Iya, robot transformer. Kamu mau lihat?" tanya Sinta, membuka sedikit kotak robot tersebut.
Perlahan, Akhzam memberanikan diri untuk mendekat. Ia menatap robot transformer itu dengan mata berbinar. Ketakutannya sedikit demi sedikit sirna, tergantikan oleh rasa penasaran dan kegembiraan.
"Wah, keren banget!" seru Azam, akhirnya mau menerima robot transformer tersebut dari tangan Sinta.
Sinta tersenyum lega. Ia memeluk Akhzam singkat, menenangkannya. Bripda Evan pun ikut tersenyum, lega melihat Akhzam mulai tenang.
"Terima kasih, Kak Sinta," ucap Akhzam, matanya masih tertuju pada robot transformer di tangannya.
"Sama-sama, sayang. Sekarang kita pulang ya," Sinta menggandeng tangan Azam, membawanya menuju mobil Naufal yang sudah menunggu tak jauh dari situ diikuti Evan.
"Abang, adek punya robot baru dari kak Sinta," lapor Akhzam sambil duduk di samping Naufal.
"Bilang apa sama kak Sinta?"
"Makasih kak Sinta."
"Iya, sayang," jawab Sinta.
"Adek duduk di belakang ya? Gak muat nanti berdua kak Sinta?"
"Kak Sinta aja yang di belakang!" ucap Akhzam.
"Masa gitu sama tamu?" tanya Naufal.
"Gak papa, Aku di belakang kamu saja," ucap Sinta.
Naufal memandang Evan.
"Aman, Bripda Evan?" sapa Naufal.
"Siap, Aman Bang."
"Terimakasih, pamit ya?"
"Siap."
Di dalam mobil, suasana menjadi lebih hangat. Akhzam asyik bermain dengan robot transformernya, sesekali bercerita tentang sekolah dan teman-temannya. Sinta dan Naufal terlibat percakapan ringan, membahas kejadian penggerebekan kemarin dan dampaknya pada Akhzam. Percakapan mereka mengalir alami, mencairkan ketegangan sebelumnya.
Sesampainya di hotel..
"Terima kasih sudah menjemputku dan mengantar aku ke hotel," kata Sinta, tersenyum. "Dan terima kasih juga sudah memberiku kesempatan untuk mengenal Azam."
"Sama-sama," jawab Naufal, tersenyum balik. "Istirahat yang cukup ya. Besok kita bisa jalan-jalan di sekitar sini."
Sinta mengangguk, merasa senang dengan rencana Naufal. Ia tahu, Naufal selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya dan untuk orang-orang yang disayanginya. Ia berharap, hubungan mereka akan semakin baik dan lebih dekat lagi.
Sebelum berpisah, Sinta memeluk Naufal sekali lagi. Pelukan yang lebih lama kali ini, seolah ingin menyampaikan rasa syukurnya dan cintanya yang terdalam. Naufal membalas pelukan Sinta dengan erat, merasakan kehangatan dan kasih sayang yang begitu tulus.
"Selamat malam," ucap Naufal, suaranya lembut, penuh makna.
"Selamat malam," jawab Sinta, tersenyum. Ia masuk ke dalam hotel, membawa serta rasa bahagia dan harapan yang baru, serta sedikit rasa cemburu yang masih tertinggal.