Horor #horor #ojol

Laci Nomor 404

Penulis djoedo
23 January 2026

Suara motornya sendiri.

Itu bukan sekadar deru mesin matik standar pabrikan yang biasa ia dengar saban hari. Bukan pula suara knalpot bobokan yang kerap ia cibir saat berpapasan dengan remaja tanggung di aspal Jatinegara. Ini suara "partner" kerjanya. Si Honda Beat hitam. Si motor yang cicilannya pernah menunggak tiga bulan, yang olinya lebih sering hangus karena uang servisnya dialihkan demi kuota internet, yang joknya sudah tipis tergerus pantat dan kerasnya jalanan Jakarta.

Aris hafal mati irama itu. Ada ketukan ganjil di bagian CVT. Suara tek-tek-tek halus di antara putaran stasioner, penyakit lama yang belum sempat ia obati karena uangnya ludes menambal lubang pinjol.

Suara itu kini menggema. Bukan dari parkiran. Bukan dari jalan raya. Suara itu meraung dari balik pelat baja dingin laci pendingin jenazah nomor 404.

Getarannya merambat liar lewat lantai keramik, menjalar naik ke kaki Aris yang pincang, menusuk hingga ke sumsum tulang.

"Gila..." desis Aris. Suaranya parau. Kering kerontang. Napasnya mengepul menjadi uap putih di udara yang membeku.

BAMMM!

Hantaman di pintu logam di belakang punggungnya kian brutal. Hawa panas menyengat menembus jaket ojolnya yang lembap oleh keringat dingin. Suster Ningsih atau monster apa pun yang membalut tubuhnya dengan seragam perawat itu, tidak lagi mengetuk sopan. Dia sedang mendobrak. Pelat besi pintu mulai melekuk ke dalam, membentuk tonjolan buruk rupa menyerupai wajah yang menjerit kesakitan. Cat putih pintu mengelupas, hangus dijilat hawa panas yang tak wajar.

Aris terpojok.

Di belakang: neraka panas dan palu godam raksasa. Di depan: laci mayat yang menderu seperti mesin motor, disaksikan puluhan pasang mata dari wajah-wajah retak yang menatap diam.

Sugeng, sosok yang bertengger di atas meja autopsi terdekat, menggeser tubuhnya. Suaranya terdengar seperti gesekan kabel korslet, kresek-kresek statis yang mengilu di telinga. Tubuh Sugeng, anyaman semrawut dari lilitan kabel casan murah, menegang. Cairan hitam, oli bekas bercampur darah menetes dari sela sambungan kabel di lehernya.

Tes. Tes...

"Lu denger kan, Ris?" Wajah Sugeng, sebuah layar ponsel retak seribu, berkedip-kedip. Menampilkan notifikasi BATERAI LEMAH berwarna merah darah. "Itu suara ambisi lu. Mesin yang nggak pernah lu biarin napas."

Aris ingin membentak, menyuruhnya tutup mulut, tapi tenggorokannya terkunci. Ia mengedarkan pandangan. Lusinan "mayat" ojol lain di ruangan itu mulai turun dari meja baja nirkarat. Gerakan mereka kaku. Patah-patah. Persis koneksi internet yang lag parah. Kaki-kaki mereka menyeret di lantai, memicu bunyi cit-cit sepatu basah yang ngilu.

Mereka tidak menyerang. Belum. Mereka hanya mendekat, membentuk setengah lingkaran, menggiring Aris ke mulut laci 404.

Saksi bisu. Juri yang mati.

"Minggir..." Aris mengacungkan ponselnya yang retak seolah itu belati. Tangannya gemetar hebat. Layar ponsel masih menyala: MEMANGGIL: ARIS (MASA DEPAN).

"Nggak ada jalan lain, Bro," gumam salah satu sosok di pojok ruangan. Wajahnya hancur, helmnya terbelah dua. Aris mengenalnya samar-samar. Pengemudi yang tewas digilas truk tanah di Cakung tahun lalu. Aris ingat pernah melintas di TKP, hanya melirik sekilas mayatnya, lalu tancap gas karena takut performa akunnya turun kalau berhenti terlalu lama. "Jalan lu cuma ke dalem. Masuk ke sistem."

BAMMM! KRAK!

Engsel pintu di belakang Aris menjerit nyaring. Satu baut besar terpental, melesat bak peluru, menancap di dinding seberang tepat di samping kepala Sugeng. Hawa panas menyembur masuk, membawa aroma daging gosong yang menusuk hidung. Aris bisa mendengar napas berat Suster Ningsih dari celah yang mulai menganga. Napas yang terdengar seperti kipas AC rusak.

Aris menatap laci 404. Gagangnya terbuat dari besi krom yang dinginnya menggigit. Asap tipis merembes keluar dari celah laci, berbau bensin oktan rendah dan bunga kamboja.

Struk di tangan kiri Aris, yang baru saja ia ambil, terasa membara. Tinta merahnya seolah menyala dalam gelap. LOKASI PENJEMPUTAN: AREA 404 - RUANG HAMPA. CATATAN: JANGAN LUPA REM TANGAN.

"Bangsat," umpat Aris, separuh menangis karena takut dan panik.

Pilihan itu ilusi. Kakinya yang memar berdenyut nyeri saat ia memutar tubuh menghadap laci. Dengan sisa adrenalin terakhir, Aris mencengkeram gagang besi itu. Tarik.

SREEEET!

Bunyi logam beradu logam yang memilukan. Laci terbuka. Berat, seolah menyeret beban ribuan kilo.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Hukum fisika bangkrut di ruangan ini. Laci pendingin jenazah itu semestinya sempit, hanya cukup untuk sekujur tubuh kaku. Tapi saat ditarik, ruang di dalamnya memanjang tanpa batas, melengkung ke dalam kegelapan seperti terowongan tak berujung. Dinding-dinding laci itu bukan baja, melainkan lapisan beton kusam yang basah, mirip dinding terowongan Manggarai saat hujan badai.

Dan di tengah lorong sempit itu, terparkir motornya.

Lampu depan menyala redup, menyorot hampa. Mesin menderu stasioner, asap knalpot mengepul mengisi rongga laci, berpilin dengan kabut dingin. Spion kiri retak, persis kondisi terakhir saat ia menyerempet gerobak bakso bulan lalu.

"Masuk, Ris," suara Sugeng terdengar lebih dekat. Tangan kabelnya yang dingin menyentuh bahu Aris. Sengatan listrik statis membuat Aris tersentak. "Sebelum dia masuk."

Aris menoleh panik. Pintu besi ruang jenazah kini jebol. Sebuah tangan raksasa, pucat, bengkak, dengan kuku-kuku hitam panjang, mencengkeram pinggiran pintu, merobek baja seolah kertas. Di balik kegelapan lorong rumah sakit, Aris melihat satu mata raksasa Suster Ningsih. Iris matanya bukan pupil, melainkan jarum jam yang berputar terbalik. Menatap lapar.

"WAKTU... HABIS..." Suara Suster Ningsih menggelegar. Lantai bergetar hebat.

Aris melompat.

Otaknya berhenti bekerja. Ketakutan dimangsa monster mengalahkan logika waras bahwa ia sedang melompat masuk ke laci mayat. Aris melempar tubuhnya ke rongga laci 404, mendarat kikuk di atas jok motornya sendiri.

Dingin. Beku.

Ruang di sini sempit mencekik. Langit-langit laci, atau terowongan ini, hanya berjarak lima sentimeter di atas helmnya. Dinding kiri-kanan menjepit setang motor. Aris harus membungkuk dalam, menempelkan dada ke speedometer, memeluk motornya seperti janin dalam rahim besi.

Kaki yang sakit dipaksakan memijak pijakan kaki. Tangan gemetar meraih selongsong gas.

"Tutup pintunya!" teriak Aris pada siapa pun, pada ketiadaan.

Di luar, Sugeng berdiri di depan laci yang terbuka. Wajah retaknya menampilkan senyum emoji sedih yang terdistorsi. Dia tidak ikut masuk. Dia dan para ojol hantu lainnya hanya pengantar. Mereka residu, sampah data yang tertinggal di peladen kematian. Aris masih "aktif". Aris masih punya tagihan berjalan.

Sugeng mendorong laci itu menutup.

"Hati-hati di jalan, Ris. Jangan lupa bintang limanya," bisik Sugeng. Suaranya lenyap ditelan jarak.

BLAM.

Gelap total.

Gedoran Suster Ningsih lenyap seketika, terpotong segel kedap suara laci pendingin. Kini, yang tersisa hanya napas Aris yang memburu dan deru mesin di selangkangannya.

Greeng... Greeng...

Aris menyalakan lampu jauh. Sinar kuning pucat membelah pekat.

Ini bukan sekadar terowongan. Dinding-dinding di sekitarnya bergerak. Hidup. Aris menyipitkan mata, mencoba membaca tekstur di sekelilingnya. Itu bukan beton. Dinding itu tersusun dari tumpukan ribuan kertas struk belanja, tagihan rumah sakit, slip gaji yang dipotong, dan surat peringatan tunggakan. Semuanya basah, berlendir, berdenyut seirama detak jantung raksasa.

Aris terjebak di dalam usus besar birokrasi.

Gas diputar. Motor melaju. Bukan di atas aspal, tapi di atas landasan licin yang lunak. Roda bannya melindas tumpukan kertas-kertas itu, mencipratkan tinta hitam berbau anyir darah.

Speedometer motor berputar gila. Jarum penunjuk kecepatan tidak menunjuk angka kilometer per jam, melainkan berputar liar melewati simbol-simbol asing: USIA, SALDO, DOSA, HARAPAN.

Makin dalam ia memacu motor, makin sempit lorong itu. Kertas-kertas di dinding mulai menampar helm dan jaketnya. Aris membaca sekilas tulisan di dinding yang ia lewati dengan kecepatan tinggi:

TAGIHAN OBAT IBU: BELUM LUNAS. JANJI KE SARAH: BATAL. UANG KEMBALIAN RIO: DIAMBIL. HARGA DIRI: DISKON 50%.

"Cukup! Gue tahu! Gue tahu gue salah!" teriak Aris. Suaranya memantul sia-sia. Tidak ada yang mendengar. Hanya deru mesin yang semakin kasar, seolah motor itu turut menjerit kesakitan.

Tiba-tiba, ponsel di penyangga motor menyala. Cahaya biru menyakitkan mata menerangi kokpit sempit itu.

Bukan peta. Bukan aplikasi ojek daring.

Layar itu menampilkan antarmuka panggilan video. Namun kameranya gelap gulita. Hanya suara. Desingan angin kencang dan klakson truk yang memekakkan telinga.

"Halo?" Aris berteriak mengatasi bising mesin. "Siapa ini?"

Jawaban datang dari seberang. Berat. Lelah. Penuh penyesalan. Itu suara Aris sendiri.

"Putar balik, Ris. Jangan diterusin."

Aris mengerem mendadak. Ban motor selip di atas tumpukan kertas basah, nyaris membuatnya tergelincir menabrak dinding "usus" struk itu. Jantungnya serasa mau copot.

"Lu... lu siapa?"

"Gue Aris. Aris yang udah nyampe di ujung jalan ini," suara itu pecah, seolah sinyalnya dikirim dari dimensi lain. "Jalan ini buntu. Ujungnya cuma jurang. Lu nggak bakal nemu duit buat Ibu di sini. Lu cuma bakal nemu..."

BRAKK!

Suara itu terputus bunyi tabrakan keras. Besi menghantam beton. Kaca pecah. Jeritan pendek yang teredam.

"Halo?! Halo?!" Aris memukul layar ponselnya.

Sambungan mati.

Layar kembali ke mode navigasi. Rutenya berubah total. Jalur lurus di depannya kini menjadi garis merah putus-putus. Titik tujuannya bukan lagi nama tempat.

TUJUAN DIPERBARUI: TITIK NOL - RAHIM PENYESALAN. JARAK: 0 KM. ESTIMASI TIBA: SEKARANG.

Tanah—atau tumpukan kertas—di bawah ban motor Aris tiba-tiba runtuh.

Tanpa peringatan. Tanpa retakan. Lantai itu sekadar menghilang, seolah pikselnya dihapus dari realitas. Aris dan motornya jatuh bebas ke dalam jurang hitam pekat. Perutnya mual luar biasa, sensasi jatuh dari ketinggian yang membuat ingin muntah. Angin menderu di telinga, merobek jeritannya.

Namun, ia tidak jatuh ke bawah.

Gravitasi rusak. Aris ditarik ke samping, lalu ke atas, berputar-putar dalam pusaran angin berbau karbol dan melati busuk.

BRUK!

Aris mendarat keras. Bukan di aspal. Bukan di lantai rumah sakit.

Pipi kirinya menyentuh rumput basah. Bau tanah menyengat. Hujan rintik-rintik menyentuh kulit lehernya yang terbuka. Suara jangkrik. Deru lalu lintas Jakarta yang samar di kejauhan.

Aris mengerang, mencoba bangun. Remuk redam. Motornya tergeletak beberapa meter darinya, mesin mati, asap tipis mengepul dari knalpot.

Ia mendongak. Di mana ini? Apa ia sudah keluar? Apa ia sudah kembali ke dunia nyata?

Ia berada di sebuah tanah lapang yang gelap. Di sekelilingnya berdiri bayangan-bayangan hitam menjulang kaku. Saat mata mulai beradaptasi dengan gelap, Aris menyadari bentuk benda-benda itu.

Nisan.

Ratusan. Ribuan. Nisan kayu dan batu berjejer kacau sejauh mata memandang. Ada yang miring, ada yang roboh tertutup ilalang liar.

Tapi ada yang salah.

Kilat menyambar di kejauhan, menerangi nama-nama yang tertulis di nisan terdekat. Darah Aris berhenti mengalir. Ia merangkak mendekati salah satu nisan kayu lapuk. Tinta hitamnya masih terbaca jelas.

ARIS PRASETYO BIN MULYADI LAHIR: 1992 - WAFAT: DIABAIKAN.

Aris mundur panik, punggungnya menabrak nisan lain. Ia menoleh, membaca pahatan di batu nisan itu.

ARIS PRASETYO WAFAT: KARENA GENGSI.

Ia berlari tertatih-tatih ke nisan berikutnya.

ARIS PRASETYO WAFAT: LUPA DARATAN.

Setiap nisan di pemakaman luas ini memahat namanya. Ribuan versi kematiannya. Ribuan alasan kenapa jiwanya mati sebelum raganya. Ini bukan TPU biasa. Ini kuburan massal bagi setiap kesempatan baik yang pernah Aris bunuh demi ambisinya.

Dan di tengah pemakaman itu, duduk di atas nisan marmer hitam terbesar, seseorang sedang menunggunya. Sosok itu mengenakan jaket ojol yang sama persis, tetapi wajahnya tertutup helm full-face dengan kaca gelap gulita.

Sosok itu memainkan kunci motor di tangannya. Dilempar. Ditangkap. Dilempar. Ditangkap.

"Lama banget, Ris," sapa sosok itu.

Suara Aris. Tapi tanpa nada ragu. Dingin. Kejam. "Gue udah capek nungguin lu sadar. Mending kita selesein di sini aja, gimana?"

Sosok itu membuka kaca helmnya perlahan.

Kosong.

Tidak ada wajah.

Hanya lubang hitam yang berputar. Di dalamnya, Aris melihat Rio kecil menangis di pinggir jalan, Ibu terbaring dengan selang infus, dan Sarah berjalan menjauh di tengah hujan. Semua dosa masa lalu diputar ulang tanpa henti di dalam rongga helm itu. Looping neraka.

Ponsel Aris di saku bergetar satu kali. Notifikasi masuk, suaranya nyaring memecah kesunyian makam.

MISI TERAKHIR: KALAHKAN "DIRIMU" SENDIRI. TARIF: KETENANGAN JIWA (ATAU MATI SELAMANYA).

Sosok di atas nisan itu turun. Ia mencabut sebuah nisan kayu panjang dari tanah seolah itu pedang pusaka, lalu menuding wajah Aris.

"Ayo," tantang bayangan itu. "Tunjukin kalau lu emang pantes hidup."