Mendadak Kawin-Perang Tetap Berlanjut-Bab 38

23 January 2026

Pukul 09:00 WIB. Keesokan harinya, di penthouse lantai 50. Sandra dan Bisma duduk di meja makan, yang kini sudah tidak lagi dibelah lakban. Mereka sarapan dengan roti bakar dan scramble egg yang dimasak oleh Sandra. Suasana terasa damai, kontras dengan krisis yang mereka hadapi. Bisma terlihat jauh lebih rileks, aura lelahnya hilang digantikan oleh antisipasi. Bisma menatap flash disk berisi salinan master film OPIA yang tergeletak di meja. Flash disk itu kini menjadi aset paling berharga mereka. “Mama pasti datang pagi ini,” kata Bisma, mengoleskan selai kacang ke roti dengan santai. “Kenapa lu yakin banget?” tanya Sandra, menyeruput kopi. “Mama nggak akan puas cuma dengan master film. Dia pasti mau liat wajah gue hancur secara langsung,” jelas Bisma. “Dia akan datang ke sini, bawa bukti kehancuran itu, dan memaksa kita keluar.” Sandra tersenyum licik. “Bagus. Berarti kita bisa main sandiwara terakhir di rumah ini.” “Lu udah ready?” Bisma menatap mata Sandra, penuh kekaguman. Sandra yang sekarang jauh berbeda dari Sandra yang menangis di kamar kos. Dia memancarkan ketenangan yang berbahaya. “Gue udah jadi kuasa hukum lu, Bis. Gue udah jual mahkota replika lu. Nggak ada kata mundur,” jawab Sandra mantap. 10:30 WIB. Pintu penthouse diketuk. Bisma dan Sandra saling pandang. Mereka berdua berdiri, Bisma merapikan kemejanya, Sandra menyanggul rambutnya tinggi-tinggi. Pintu dibuka oleh Bisma. Di depannya berdiri Regina Adijaya, mengenakan setelan suit putih mahal dan kacamata hitam besar—seperti ratu yang baru pulang dari kampanye kemenangan. Di sampingnya, berdiri dua bodyguard tegap, siap siaga. “Selamat pagi, Bisma,” sapa Regina, nadanya dingin dan sombong. Dia melirik Sandra dengan tatapan menghina, dari ujung kaki hingga ujung rambut yang kini tertutup kemeja kebesaran Bisma. “Ternyata kamu masih di sini. Mama kira setelah kamu tahu betapa berharganya Mahkota OPIA bagimu, kamu akan mengusir wanita itu.” “Masuk, Ma. Kita perlu ngopi,” kata Bisma, suaranya tenang. Regina melangkah masuk. Dia menatap sekitar. Lantai bersih, piring-piring bekas sarapan tertata rapi. Tidak ada tanda-tanda kemiskinan yang ia harapkan. “Mama lihat kalian sudah nggak gembel lagi?” Regina menyeringai. “Mau pamer? Mama cuma kasih waktu sampai besok pagi. Setelah itu, kalian akan Mama usir secara hukum.” “Mama nggak perlu repot-repot, Ma,” balas Bisma. Regina tersentak. “Apa maksudmu?” “Mama mau menghancurkan gue, kan? Mama mau gue sadar kalau gue kehilangan segalanya?” Bisma mengambil langkah maju. “Mama mau Mahkota OPIA gue hancur?” Regina tertawa renyah. Tawa kemenangan. “Tentu saja. Dan Mama sudah mengurusnya. Tadi malam, Mama sudah mengambil master film OPIA dari vault Gema Visual. Dan sebentar lagi, aset itu akan menjadi debu.” Bisma dan Sandra saling berpandangan sekilas. Skenario berjalan sesuai rencana. “Mama pikir Mama sudah menang?” tanya Bisma, senyumnya meremehkan. Regina menjentikkan jarinya ke bodyguard-nya. Pria itu maju, membawa sebuah koper perak kecil. “Bisma, kamu selalu berpikir kamu lebih pintar dari Mama,” kata Regina, tangannya menunjuk koper itu. “Tapi kamu lupa, Mama yang melahirkan dan membesarkanmu. Di koper ini, ada rekaman video master film OPIA yang baru saja Mama rusak dan overwrite dengan video klip lagu anak-anak.” Regina membuka koper itu. Di dalamnya ada DVD master film yang sudah diretas, dan selembar surat pernyataan dari notaris yang menyatakan bahwa master film tersebut secara hukum sudah tidak ada. “Selamat, Bisma. Sekarang kamu hanyalah aktor tanpa mahkota. Karir film debutmu sudah Mama hancurkan,” kata Regina, suaranya dipenuhi kepuasan. “Sekarang, kemasi barangmu. Sebelum Mama memanggil polisi untuk menyeret wanita itu keluar dari sini.” Sandra maju. Dia berdiri di depan Bisma, menghalangi pandangan Regina. “Maaf, Bu Regina,” kata Sandra, nadanya formal dan dingin. Dia mengambil flash disk di meja. “Tapi Anda datang ke rumah yang salah untuk pamer.” Regina mendengus. “Kamu? Kamu pikir kamu bisa bicara dengan saya? Kamu bahkan tidak punya uang untuk membeli sampo.” “Saya mungkin tidak punya sampo, tapi saya punya aset Gema Visual yang asli,” kata Sandra, mengangkat flash disk itu. Regina tertawa terbahak-bahak. “Aset? Kamu pikir DVD rusak itu aset? Bodoh! Itu cuma sampah.” “DVD itu memang sampah, Bu. Karena itu bukan master film aslinya,” jelas Sandra. “Master film OPIA yang asli—yang Anda ancam akan hancurkan—sudah dipindahkan ke server cloud pribadi Gema Visual 15 jam yang lalu. Dan salinan fisik tidak terenkripsinya ada di flash disk ini.” Regina terdiam. Tawanya terhenti. Wajahnya perlahan memucat. “Bohong,” desis Regina. “Tidak mungkin.” “Pak Bima, Direktur Operasional Gema Visual, yang melakukannya. Dan dia dibayar dengan uang tunai,” lanjut Sandra, suaranya seperti hakim. Bisma melangkah ke samping Sandra, merangkul pinggang istrinya. “Mama lupa, Ma,” kata Bisma, menyeringai. “Papa gue nggak cuma ninggalin aset ke gue, dia juga ninggalin orang-orang setia. Dan Sandra Gunawan, istri gue, berhasil membeli kesetiaan itu.” Regina terhuyung mundur. Dia menatap DVD di kopernya. Master film yang dia hancurkan ternyata palsu. Kemenangan yang ia rayakan adalah kegagalan. “Dan, ada satu hal lagi, Bu Regina,” lanjut Sandra. “Saat Anda sibuk merusak DVD palsu, kami melakukan hal lain.” Bisma mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi banking dan menunjukkannya ke Regina. Terlihat saldo rekeningnya yang tebal, hasil pencairan warisan ayahnya di Jogja. “Mama matikan lift gue. Mama blokir kartu kredit gue. Mama hancurkan reputasi gue,” kata Bisma, suaranya penuh kemenangan. “Tapi sekarang, gue punya uang untuk beli seluruh apartemen ini. Dan Sandra... dia udah jadi kuasa hukum gue. Mama nggak bisa nyentuh kami.” Regina sudah tidak bisa bicara. Dia kalah telak. “Sekarang giliran kami, Ma,” kata Bisma. “Mama datang ke Kandang Komodo gue. Dan Komodo ini mau kasih Mama penawaran.” Bisma mengeluarkan selembar surat. “Ini surat pernyataan. Mama tandatangan surat ini. Mama kembalikan semua aset gue yang disita. Mama janji nggak akan ganggu Sandra lagi. Dan gue... gue nggak akan laporin Mama ke polisi atas kasus penggelapan pajak perusahaan keluarga,” Bisma menawarkan. “Penggelapan pajak?” Regina tertawa lemah. “Kamu gertak.” “Doni sudah mengirim file-nya ke kantor pajak. Hanya butuh satu klik dari gue,” Bisma tersenyum dingin. “Pilih, Ma. Penjara, atau kebebasan dan uang pensiun yang Mama butuhkan?” Regina menatap putra dan menantunya. Mereka tidak lagi takut. Mereka berdiri di sana, seperti Raja dan Ratu yang baru saja menaklukkan wilayah mereka. Setelah keheningan yang panjang, Regina menjatuhkan kacamata hitamnya. Dia mengambil pena yang disodorkan Sandra. “Kamu dan wanita ini... benar-benar anak dan menantu Mama,” bisik Regina, matanya penuh kebencian dan rasa bangga yang aneh. Regina menandatangani surat itu dengan cepat. Perang usai. Dia berjalan keluar dari penthouse, diikuti bodyguard-nya, tanpa menoleh. Dia meninggalkan putra dan menantunya di istana yang kini terasa hangat. Bisma dan Sandra saling berpandangan. Keduanya tertawa lepas. “Gue nggak nyangka, lu berani ngegertak soal pajak,” kata Sandra, menyeka air mata tawanya. “Gue belajar dari Ratu,” jawab Bisma, memeluk Sandra erat. “You’re the best partner I’ve ever had.” “You too.” Tiba-tiba, Bisma melihat ke sekeliling penthouse. “San. Lift-nya udah bisa dipakai lagi, kan?” “Kayaknya,” jawab Sandra. “Bagus. Malam ini, kita makan malam di lantai bawah. Di restoran paling mahal. Dan gue yang bayar,” kata Bisma. “Tunggu, Bis,” Sandra menarik tangan Bisma. “Kita menang. Tapi kita belum menyelesaikan wedding night kita yang tertunda di kamar kos yang kotor. Gue mau lu bawa gue ke kamar. Sekarang.” Bisma menyeringai. “Tugas selesai. Reward time.” Di malam hari, Regina Adijaya menatap langit dari kamar hotelnya di Jakarta. Dia melihat cahaya lampu dari penthouse lantai 50. Dia mengambil ponselnya. “Doni,” suara Regina serak. “Bisma sudah gila. Dia jatuh cinta sama wanita itu.” “Benar, Bu,” jawab Doni, yang ternyata selalu menjadi mata-mata Bisma. “Katakan pada Bisma. Ini baru awal dari permainan. Perang ini belum usai,” kata Regina. “Dan katakan pada Sandra... dia harus hati-hati. Mahkota selalu punya harga.” KLIK. Telepon dimatikan. Regina tersenyum. Seringai dingin dan licik yang sama persis dengan Bisma.