“Minggir, Komodo. Berat. Tulang rusuk gue bisa retak kalau lu nindih terus.” Suara serak Sandra memecah keheningan pagi yang damai di kamar utama Penthouse. Sinar matahari menerobos masuk lewat celah tirai otomatis yang belum terbuka sepenuhnya, menciptakan garis-garis cahaya di atas seprai sutra yang berantakan. Bisma, yang sedang menelusupkan wajahnya di ceruk leher Sandra dengan lengan kekarnya melingkar posesif di pinggang istrinya, menggumam pelan. Dia tidak bergeser satu milimeter pun. Justru, dia mengeratkan pelukannya, menghirup aroma tubuh Sandra dalam-dalam. “Biarin retak,” gumam Bisma, matanya masih terpejam. “Nanti gue lem. Gue kan sekarang jago benerin barang rusak. Pompa air aja gue benerin, masa tulang rusuk istri nggak bisa.” Sandra tertawa kecil, getarannya terasa di dada Bisma yang menempel padanya. “Sombong. Giliran mesin cuci berbusa aja lu nangis.” “Itu trauma masa lalu. Jangan dibahas,” Bisma mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah Sandra. Wajah itu. Wajah yang semalam memerah karena malu, lalu memucat karena takut, dan akhirnya bersinar karena gairah dan kelegaan. Tidak ada makeup. Rambutnya berantakan seperti singa. Ada bekas air liur kecil di sudut bibirnya. Bagi Bisma, itu adalah pemandangan paling indah di dunia. Lebih indah dari pemandangan kota Jakarta dari lantai 50. Lebih indah dari piala penghargaan manapun di rak lemarinya. “Pagi, Istri,” sapa Bisma lembut, mengecup hidung Sandra. “Pagi, Suami,” balas Sandra, tersenyum malu-malu. “Sekarang minggir. Gue laper. Perang ngelawan Ibu lu bikin perut gue kosong.” “Perangnya udah selesai, San. Kita menang,” kata Bisma, akhirnya berguling ke samping dan merentangkan tubuhnya di kasur king size itu. “Aset gue balik. Black card gue aktif lagi. Kita kaya lagi.” “Bagus,” Sandra bangkit duduk, menarik selimut menutupi tubuhnya. “Berarti kita bisa pesen bubur ayam spesial pake telor pitan, cakwe, ati ampela, dan nggak pake drama.” Bisma tertawa renyah, menatap punggung Sandra yang memiliki beberapa tanda merah samar—karyanya semalam. “Gue pesenin semua menu di aplikasi kalau lu mau. Tapi...” “Tapi apa?” “Tapi gue lebih suka masakan lu. Nasi goreng ‘anak kos’ buatan lu lebih enak dari foie gras hotel bintang lima.” Sandra menoleh, melempar bantal ke wajah Bisma. “Gombal! Bilang aja lu males nunggu delivery!” “Dua-duanya bener,” Bisma menangkap bantal itu sambil menyeringai. “Ayo mandi. Kita sarapan. Terus kita ke kantor Gema Visual. Gue mau mastiin Master Film itu beneran aman di tangan kita.”
Satu jam kemudian, suasana di dapur Penthouse terasa berbeda. Tidak ada lagi garis lakban hitam di lantai ruang tengah. Bekas lemnya sudah dibersihkan oleh Bisma (dengan susah payah dan sedikit omelan Sandra). Sandra sedang mengaduk kopi di island dapur, mengenakan kemeja putih Bisma yang kebesaran—karena dia malas membongkar kopernya lagi. Bisma duduk di kursi bar, sudah rapi dengan pakaian kasual, mengecek tabletnya. “Gimana? Duitnya udah masuk?” tanya Sandra, meletakkan cangkir kopi di depan Bisma. “Udah,” Bisma mengangguk, matanya fokus pada layar. “Rekening gue udah unfreeze. Saham gue di perusahaan Papa udah aman. Dan pengacara gue bilang, surat pernyataan yang ditandatangani Mama itu sah secara hukum. Dia nggak bisa nuntut aset gue lagi tanpa masuk penjara.” “Syukurlah,” Sandra menghela napas lega. Dia menyesap tehnya. “Jadi... kita aman?” Bisma meletakkan tabletnya. Dia menatap Sandra. “Aman secara finansial? Iya. Aman secara hukum? Iya,” jawab Bisma. “Tapi...” “Tapi apa?” “Gue kenal Mama, San,” kata Bisma, wajahnya berubah serius. “Dia nyerah terlalu gampang kemarin. Dia tanda tangan surat itu tanpa perlawanan berarti setelah gue gertak soal pajak. Itu... aneh.” “Mungkin dia takut dipenjara, Bis. Siapa sih yang nggak takut?” “Regina Adijaya nggak takut penjara. Dia takut kehilangan kontrol,” koreksi Bisma. “Gue ngerasa... dia mundur selangkah buat nyiapin lompatan yang lebih jauh.” Ponsel Bisma bergetar di meja. Nama Doni muncul di layar. Bisma segera mengangkatnya dan menyalakan loudspeaker. “Pagi, Bos! Pagi, Nyonya Bos!” suara Doni terdengar ceria, tapi ada nada mendesak di baliknya. “Pagi, Don. Gimana? Udah lu cek kondisi kantor?” tanya Bisma. “Udah. Kantor aman. Tim produksi OPIA lagi pesta pora karena gaji mereka udah cair semua pagi ini. Lu jadi pahlawan, Bos,” lapor Doni. “Tapi...” “Tapi apa?” sela Sandra, perasaannya tidak enak. “Ada satu hal yang aneh. Gue baru dapet info dari orang dalem di rumah Regina. Katanya, semalam Regina nggak ngamuk. Dia nggak banting barang, nggak teriak-teriak. Dia cuma duduk di balkon kamarnya, nelpon seseorang, terus ketawa.” Bisma dan Sandra saling pandang. Bulu kuduk Sandra meremang. “Ketawa?” ulang Bisma. “Ketawa kayak gimana?” “Ketawa seneng. Kayak orang yang baru dapet mainan baru,” jawab Doni. “Dan pagi ini... dia terbang ke Singapura. Katanya medical check-up. Tapi gue curiga.” “Singapura...” gumam Bisma. Dia berpikir keras. Apa yang ada di Singapura? Tiba-tiba, Bisma teringat sesuatu. “Kantor pusat distributor film Asia,” desis Bisma. “Distributor yang megang hak tayang OPIA di bioskop luar negeri.” “Maksud lu?” tanya Sandra. “Film OPIA itu proyek besar, San. Kita nggak cuma targetin bioskop lokal, tapi juga Asia Tenggara. Kontrak distribusinya... diurus sama perusahaan cangkang yang dulu dibikin Mama.” Wajah Bisma memucat. “Kalau dia ke Singapura buat nemuin distributor itu...” “...dia bisa blokir penayangan OPIA di luar negeri,” sambung Doni di telepon. “Atau lebih parah, dia bisa klaim kalau hak cipta film itu bermasalah.” Sandra memegang tangan Bisma. “Bis, Master Film ada di kita. Kita yang pegang barangnya.” “Barangnya ada di kita, tapi jalur-nya ada di dia,” kata Bisma, memijat pelipisnya. “Sialan. Dia mau mainin distribusi.” “Tenang, Bos. Jangan panik dulu,” kata Doni. “Gue bakal coba kontak orang di Singapura. Sementara itu, lu berdua nikmatin dulu lah kemenangan kecil ini. Jangan tegang mulu, ntar cepet tua.” Telepon ditutup. Suasana sarapan yang tadinya hangat mendadak berubah dingin. Bayang-bayang Regina kembali menghantui sudut-sudut Penthouse. “Dia nggak bakal biarin kita bahagia, ya?” tanya Sandra lirih. Bisma menatap Sandra. Dia melihat ketakutan di mata istrinya. Ketakutan yang sama seperti saat di kosan. Bisma berdiri, berjalan memutari meja, dan memeluk Sandra dari belakang. Dia meletakkan dagunya di bahu Sandra. “Dia boleh nyoba,” bisik Bisma. “Dia boleh blokir bioskop. Dia boleh blokir dunia. Tapi dia nggak bisa blokir ini.” Bisma mencium pipi Sandra. “Selama kita di sini, di Kandang Komodo ini... kita yang bikin aturan. Hari ini, kita nggak bakal mikirin Regina. Kita nggak bakal mikirin Singapura.” “Terus kita mikirin apa?” “Kita mikirin... re-branding,” kata Bisma, melepaskan pelukan dan menatap Sandra dengan mata berbinar. “Re-branding apa?” “Hubungan kita,” jawab Bisma. “Media taunya kita partner kerja yang tinggal bareng karena 'karantina kreatif'. Tapi sekarang... kita udah lebih dari itu, kan?” Sandra tersipu. “Terus?” “Gue mau ajak lu keluar. Bukan sebagai Bisma aktor dan Sandra penulis. Tapi sebagai Bisma dan Sandra. Suami istri. Gue mau ajak lu kencan beneran. Tanpa kamera. Tanpa skenario. Tanpa lakban.” “Ke mana?” “Ke tempat di mana nggak ada orang yang kenal kita. Pasar Baru? Kota Tua? Atau... ke Dufan lagi tapi kali ini kita naik kora-kora sampe muntah?” Sandra tertawa. “Lu mau bikin gue muntah lagi?” “Biar romantis,” kata Bisma menyeringai. “Ayo ganti baju. Pake baju yang paling gembel yang lu punya. Kita nyamar jadi rakyat jelata lagi.”
Siang itu, Bisma dan Sandra melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka benar-benar pergi kencan. Bisma mengenakan topi nelayan, kacamata hitam bulat, kaos belel, dan celana pendek kargo. Sandra mengenakan daster motif bunga (yang ditutupi jaket denim) dan sandal jepit. Mereka naik MRT. Berdesak-desakan dengan penumpang lain. Bisma berdiri melindungi Sandra di pojokan gerbong, tangannya melingkar di pinggang Sandra, wajahnya tertutup masker. Tidak ada yang mengenali mereka. Bagi orang-orang di kereta, mereka hanyalah pasangan muda biasa yang sedang pacaran hemat. “Panas, ya?” bisik Bisma. “Enak, kok. Dingin AC-nya,” jawab Sandra. “Bukan AC-nya. Liat tuh, ibu-ibu di depan ngeliatin lu terus. Dia curiga lu nyulik anak orang kayaknya,” canda Bisma, menunjuk dirinya sendiri. Sandra mencubit perut Bisma. “Pede.” Mereka turun di Blok M. Makan gultik di pinggir jalan. Duduk di trotoar, tertawa-tawa melihat pengamen yang suaranya fals. Bisma menyuapkan sesendok nasi gule ke mulut Sandra. “Enak?” “Enak banget. Lebih enak dari makanan di pesta Mama lu.” Bisma tersenyum. Dia memandang Sandra yang makan dengan lahap, tanpa jaim, tanpa takut lipstick-nya luntur. Inilah Sandra yang dia cintai. Wanita yang bisa bahagia hanya dengan gultik sepuluh ribu perak. Wanita yang tidak butuh mahkota emas untuk menjadi Ratu. “San,” panggil Bisma tiba-tiba. “Hm?” Bisma mengeluarkan sesuatu dari saku celana kargonya. Sebuah cincin. Bukan cincin berlian raksasa. Itu cincin mainan. Cincin plastik dengan batu-batuan warna-warni yang baru saja dia beli dari pedagang mainan keliling seharga lima ribu rupiah. Sandra berhenti mengunyah. Dia menatap cincin plastik itu. “Ini apa?” “Cincin kawin,” jawab Bisma santai. “Cincin kawin kita yang asli kan ilang entah ke mana pas di desa. Dan gue belum sempet beli yang baru karena duit gue baru cair.” Bisma meraih tangan kiri Sandra yang berminyak bekas gule. Dia membersihkannya dengan tisu basah. Lalu, di tengah hiruk-pikuk Blok M, diiringi suara knalpot bajaj dan lagu pengamen, Bisma memasangkan cincin plastik itu di jari manis Sandra. “Sandra Gunawan,” kata Bisma, menatap mata Sandra serius. “Dengan cincin plastik ini... yang warnanya norak dan mungkin bakal luntur kena air... gue janji.” “Janji apa?” suara Sandra bergetar menahan tawa dan haru. “Janji bakal jadi suami yang nggak cuma modal tampang. Suami yang bakal masakin lu mi instan kalau lu laper tengah malem. Suami yang bakal nyuciin baju lu kalau mesin cucinya meledak lagi. Dan suami yang bakal ngelawan satu dunia—termasuk Ibu gue sendiri—buat ngelindungin lu.” Air mata Sandra menetes. Ini adalah lamaran paling konyol, paling murah, tapi paling romantis yang pernah dia terima. “Lu... lu beneran Komodo gila,” isak Sandra. “Terima nggak?” “Terima lah! Sayang duit lima ribunya!” Bisma tertawa, lalu mencium tangan Sandra yang kini berhias cincin plastik. “Mulai hari ini, mahkota lu bukan emas. Tapi plastik. Tapi gue jamin, ini lebih awet daripada karir gue.” Mereka berpelukan di pinggir jalan, tidak peduli pada tatapan aneh orang-orang yang lewat.
Namun, kebahagiaan itu, seperti biasa, selalu dibuntuti oleh bayangan gelap. Saat mereka pulang ke Penthouse sore harinya, dengan hati yang penuh dan perut yang kenyang, sebuah kejutan tidak menyenangkan sudah menunggu di lobi apartemen. Bukan wartawan. Bukan Regina. Tapi sebuah amplop resmi yang dititipkan di resepsionis. Kop suratnya berasal dari sebuah firma hukum internasional di Singapura. Bisma membuka amplop itu di dalam lift. Wajahnya yang tadi berseri-seri perlahan berubah menjadi batu. “Apa itu, Bis?” tanya Sandra, melihat perubahan ekspresi suaminya. Bisma menyerahkan surat itu pada Sandra. PERINGATAN HUKUM: SENGKETA HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL. KLAIM KEPEMIKAN ATAS FILM "OPIA". PENGGUGAT: GLOBAL CINEASIA (SUBSIDIARY OF KENCANA GROUP SINGAPORE). Isinya menyatakan bahwa naskah film OPIA diklaim sebagai aset intelektual yang dikembangkan di bawah payung Kencana Group (perusahaan Regina), dan oleh karena itu, Sandra Gunawan tidak memiliki hak penuh atas naskah tersebut. Mereka menuntut penghentian distribusi film dan pembekuan semua royalti sampai sengketa selesai. Sandra membaca surat itu dengan tangan gemetar. “Dia... dia nuntut hak cipta naskah gue?” bisik Sandra, tidak percaya. “Tapi gue nulis ini sendiri! Di kamar kos gue! Jauh sebelum gue kenal Kencana Group!” “Dia nggak peduli sama kebenaran, San,” kata Bisma dingin. Matanya menatap angka lantai lift yang terus naik. “Dia pake celah hukum. Dia mau nahan film ini. Dia mau bikin kita nggak punya pemasukan.” Bisma meremas kertas itu. “Mahkota punya harga,” gumam Bisma, mengulang pesan Regina. “Dia beneran mau ngambil mahkota itu dengan cara lain.” Pintu lift terbuka di lantai 50. Bisma melangkah keluar, wajahnya keras. Dia tidak lagi terlihat seperti pria yang tadi tertawa makan gultik. Dia kembali menjadi Komodo yang siap berperang. “Masuk, San,” perintah Bisma. “Kita mau ngapain?” tanya Sandra takut. “Kita nggak bisa ngelawan hukum Singapura pake pengacara lokal biasa,” kata Bisma. Dia berjalan ke ruang kerjanya. “Kita butuh bantuan. Dan gue tau siapa yang harus gue hubungi.” “Siapa?” “Mantan pacar gue,” jawab Bisma tanpa menoleh. Sandra membeku di tempat. “Hah?!” “Dia pengacara hak cipta terbaik di Asia. Dan dia satu-satunya orang yang lebih benci sama Mama gue daripada kita.” Bisma menyalakan laptopnya. Sandra berdiri di belakangnya, cemburu, takut, tapi juga sadar bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Perang melawan Regina baru saja naik level. Dan kali ini, masa lalu Bisma yang lain akan ikut terseret masuk ke dalam Kandang Komodo.