Mendadak Kawin-Masa Lalu-Bab 40

23 January 2026

Sandra duduk bersila di sofa ruang tengah Penthouse yang luas, memangku laptopnya yang menyala menampilkan deretan email hukum yang membingungkan. Namun, matanya tidak tertuju pada layar. Pikirannya melayang pada surat somasi dari Singapura yang tergeletak di meja kopi seperti vonis mati. Bisma sedang di ruang kerjanya yang tertutup kaca, menelepon "mantan pacar"-nya yang pengacara itu. Sandra bisa melihat punggung Bisma yang tegang, tangan yang sesekali mengusap rambutnya frustrasi, dan gerakan mondar-mandir yang gelisah. Meskipun dia tahu ini demi kebaikan bersama, rasa cemburu yang tipis menyengat hati Sandra. Dia menepisnya cepat-cepat. ‘Kita lagi perang, San. Nggak ada waktu buat cemburu sama masa lalu.’ Untuk mengalihkan perhatian, Sandra kembali membuka album foto tua bersampul kulit yang dia temukan di brankas rahasia Regina waktu itu (saat dia menyelinap masuk ke ruang kerja Regina di Bab sebelumnya). Album foto yang berisi kenangan masa kecil Bisma, yang hampir dibakar oleh Bisma sendiri. Dia membalik halaman demi halaman. Foto Bisma bayi yang gemuk. Foto Bisma belajar jalan dituntun Regina yang masih muda dan tersenyum tulus. Foto Bisma menangis karena es krimnya jatuh. Sandra tersenyum tipis. Di balik monster yang dia kenal sekarang, Regina pernah menjadi ibu. Lalu, dia sampai di halaman tengah. Ada sebuah foto tua yang terselip di sana, seolah disembunyikan di antara dua halaman yang merekat. Foto hitam putih yang sudah menguning, pinggirannya sedikit robek. Di foto itu, terlihat seorang pria muda yang sangat mirip dengan Bisma—pasti Ayahnya, Hermawan Adijaya—sedang berdiri di sebuah taman bunga. Dia tidak sendirian. Dia sedang merangkul seorang wanita muda yang cantik dengan rambut hitam panjang terurai dan senyum yang teduh, mengenakan dress sederhana bermotif bunga. Wanita itu bukan Regina. Sandra mendekatkan album itu ke wajahnya. Matanya menyipit. Jantungnya berdegup kencang. Wajah wanita itu... terasa familiar. Sangat familiar. Senyum itu. Mata yang sedikit sayu itu. Cara dia memiringkan kepala. Sandra menahan napas. “Ibu...?” bisik Sandra, suaranya tercekat. Wanita di foto itu adalah Arini, ibunya Sandra. Ibunya waktu masih muda, mungkin seusia Sandra sekarang. Jauh sebelum Sandra lahir. Jauh sebelum Ayahnya, Gunawan, ada di gambar. Sandra membalik foto itu dengan tangan gemetar. Di belakangnya, ada tulisan tangan tegak bersambung yang khas. Tulisan tangan Ayah Bisma (yang pernah dia lihat di berkas perusahaan). “Untuk Arini-ku. Cinta pertamaku. Maafkan aku yang pengecut ini. Aku mencintaimu, dulu, sekarang, dan selamanya.” - Hermawan, 1990. Dunia Sandra seakan runtuh. Ruangan penthouse yang dingin itu mendadak terasa sesak. Dia teringat flashback Regina (Bab 39 di outline awal yang diceritakan lewat perspektif Regina). Regina yang membenci Arini. Regina yang pernah berteriak saat melabrak Sandra di kosan: “Kamu persis ibumu! Penggoda!” Selama ini, Sandra mengira itu hanya paranoid Regina. Dia mengira Regina hanya cemburu buta pada wanita mana saja yang dekat dengan suaminya. Ternyata... itu benar. Ayah Bisma dan Ibu Sandra... pernah saling mencintai? Sandra teringat cerita ibunya dulu, saat ibunya sedang menyisir rambut Sandra kecil. “Ibu pernah mencintai seseorang yang salah, San. Seseorang yang dunianya terlalu tinggi buat Ibu. Dia pangeran di menara gading. Tapi akhirnya, Ibu sadar, cinta itu nggak cukup kalau cuma bikin sakit. Ibu memilih Ayahmu yang sederhana, tapi rumahnya nyata.” Jadi... pangeran di menara gading itu adalah Hermawan Adijaya? Ayah dari suami kontraknya sendiri? “San? Kenapa bengong? Muka lu pucet banget.” Suara Bisma menyentakkan Sandra. Bisma keluar dari ruang kerja, wajahnya terlihat sedikit lega tapi masih lelah. “Clara—pengacara gue—bilang klaim Regina lemah karena hak cipta itu tercatat atas nama lu pribadi sebelum gue masuk manajemen. Tapi kita tetep harus...” Bisma berhenti bicara saat melihat air mata mengalir di pipi Sandra. Dia melihat tangan Sandra yang gemetar memegang selembar foto. “San? Lu kenapa? Sakit lagi? Perut lu?” Bisma langsung mendekat, berlutut di depan sofa, memegang lutut Sandra. Sandra tidak menjawab. Lidahnya kelu. Dia hanya mengangkat foto tua itu, menunjukkannya pada Bisma. “Liat ini, Bis,” suara Sandra bergetar hebat. Bisma mengambil foto itu. Dia melihat ayahnya yang tersenyum lebar—senyum yang jarang sekali Bisma lihat semasa hidup ayahnya. Dia melihat wanita di sampingnya. “Siapa ini? Bukan Mama...” gumam Bisma. “Itu Ibu gue, Bis,” kata Sandra, air matanya menetes jatuh ke tangan Bisma. “Itu Arini.” Bisma menatap foto itu, lalu menatap wajah Sandra. Dia melihat kemiripan yang tak terbantahkan. Mata yang sama. Senyum yang sama. “Jadi...” Bisma menelan ludah, tenggorokannya kering. “Jadi bener kata Mama? Bokap gue... sama Nyokap lu...?” “Mereka pacaran. Atau mungkin lebih,” kata Sandra serak. “Dan tulisan di belakangnya...” Bisma membalik foto itu. Membaca tulisan ayahnya. Cinta pertamaku. Bisma terduduk di lantai, bersandar pada kaki meja. Kakinya lemas. “Pantesan...” bisik Bisma. “Pantesan Mama benci banget sama lu. Pantesan dia bilang lu anak Arini dengan nada jijik seolah lu kotoran. Dia bukan benci lu karena lu miskin, San. Dia benci lu karena lu adalah bukti hidup dari wanita yang dicintai suaminya sampai mati.” “Tapi Ibu gue nggak pernah ganggu keluarga lu!” bela Sandra, suaranya naik. “Ibu gue nikah sama Ayah gue! Mereka bahagia! Kenapa Regina masih dendam? Kenapa dia harus hancurin Ayah gue?!” “Karena Mama nggak pernah bahagia,” jawab Bisma getir. Dia menatap langit-langit penthouse. “Mama tahu Bokap nggak pernah cinta sama dia. Bokap nikah sama Mama karena bisnis, karena paksaan Kakek. Dan seumur hidupnya... Mama hidup di bawah bayang-bayang Ibumu. Dia cemburu, San. Cemburu yang jadi racun.” Bisma menatap foto ayahnya lagi. “Gue nggak pernah liat Bokap senyum kayak gini sama Mama. Nggak pernah.” “Dan sekarang,” lanjut Sandra, menatap Bisma dengan tatapan nanar, “sejarah terulang. Anak Hermawan... nikah sama anak Arini.” Mereka saling pandang. Takdir ini terasa seperti lelucon kejam. “Apa kita dikutuk, Bis?” tanya Sandra lirih. “Apa kita bakal berakhir kayak mereka? Saling cinta tapi nggak bisa bareng? Atau... saling nyakitin?” Bisma menggeleng kuat. Dia bangkit, duduk di sebelah Sandra di sofa. Dia menggenggam tangan Sandra erat-erat. “Nggak,” kata Bisma tegas. “Bedanya, Bokap gue pengecut. Dia ninggalin Ibumu karena takut kehilangan harta atau kekuasaan. Dia nurut sama orang tuanya.” Bisma menatap mata Sandra dalam-dalam. “Tapi gue... gue bukan Bokap gue. Gue nggak akan jadi pengecut kayak dia. Gue udah lepasin harta gue, San. Gue udah lepasin nama besar Adijaya. Gue pilih lu. Gue pilih kita. Gue mau nebus kesalahan Bokap gue.” Air mata Sandra semakin deras. “Tapi Bis... ini berat banget. Regina... dia nggak akan berhenti. Dia bakal ngerasa lu mengulang pengkhianatan Ayah lu. Dia bakal liat Ibu gue di diri gue setiap kali dia liat kita.” “Biarin,” kata Bisma keras kepala. “Biarin dia liat. Biarin dia sadar kalau cinta nggak bisa dipaksa, dan nggak bisa dibeli. Gue mau tunjukin ke dia, dan ke almarhum Bokap gue, kalau gue bisa memperjuangkan wanita yang gue cinta. Sesuatu yang gagal dia lakuin.” Bisma memeluk Sandra erat. Sandra membenamkan wajahnya di dada Bisma, mendengarkan detak jantungnya yang cepat. “Kita bukan mereka, San. Kita Bisma dan Sandra. Kita penulis cerita kita sendiri. Happy ending atau sad ending, kita yang tentuin. Bukan Regina.” Sandra merasa takut, tapi pelukan Bisma memberinya kekuatan yang aneh. Masa lalu orang tua mereka mungkin penuh luka dan perpisahan. Tapi masa depan mereka... ada di tangan mereka sendiri. Tiba-tiba, ponsel Bisma berbunyi lagi. Pesan dari Clara. Clara: Bis, gue udah cek berkas tuntutan dari Singapura. Ada celah. Regina pake perusahaan cangkang yang legalitasnya meragukan buat klaim hak cipta itu. Tapi lu harus ke Singapura. Kita harus hadapin mereka di pengadilan arbitrase sana. Lu harus tanda tangan di depan notaris Singapura. Lu siap terbang besok? Bisma melepaskan pelukannya, menatap layar ponsel, lalu menatap Sandra. “Kita harus ke Singapura, San,” kata Bisma. “Ke kandang macan?” tanya Sandra, menghapus air matanya. “Pusat bisnis Regina ada di sana.” “Iya. Kita lawan Regina di markas besarnya. Kita bawa bukti ini,” Bisma mengangkat foto tua itu. “Bukan buat pengadilan, tapi buat Regina. Kita tunjukkin kalau kita tahu semuanya. Bahwa ini bukan soal bisnis, tapi soal dendam pribadi.” Sandra menghela napas panjang, lalu mengangguk mantap. “Oke. Ayo kita ke Singapura. Gue nggak mau lari lagi. Kita selesaiin ini.” Bisma tersenyum, mengusap pipi Sandra. “Sekalian... gue mau ajak lu jalan-jalan. Kita honeymoon colongan.” “Dalam mimpi lu,” cibir Sandra, meski bibirnya tersenyum. “Gue mau makan Chicken Rice sama Laksa.” “Dasar Keong. Makan mulu. Yaudah, packing. Bawa baju yang bagus. Kita bakal ketemu pengacara elit.” Perang belum selesai. Tapi sekarang, mereka tahu akarnya. Mereka tahu luka di hati Regina. Dan dengan pengetahuan itu, mereka siap mencabutnya sampai tuntas.