“Dengkul gue mentok, San. Sumpah, ini penyiksaan HAM.” Bisma menggeliat tidak nyaman di kursinya. Kakinya yang panjang tertekuk canggung, menabrak sandaran kursi di depannya. Wajahnya tertutup masker medis dan topi bucket yang ditarik rendah, tapi Sandra bisa melihat penderitaan di matanya. Mereka sedang berada di dalam pesawat. Kelas Ekonomi. Bisma Adijaya, aktor yang biasanya terbang dengan Private Jet atau minimal First Class dengan sampanye di tangan, kini terjepit di kursi 24B, diapit oleh Sandra di dekat jendela (24A) dan seorang bapak-bapak yang sedang tidur mendengkur di kursi lorong (24C). “Tahan, Komodo,” bisik Sandra tanpa menoleh dari jendela, menikmati pemandangan awan. “Tiket ke Singapura lagi mahal. Kita harus hemat buat bayar biaya pengadilan nanti. Lu mau menang lawan Regina atau mau duduk enak?” “Gue mau dua-duanya,” gerutu Bisma, mencoba mencari posisi nyaman yang mustahil. “Gue berasa ikan sarden dipress. Mana baunya gado-gado lagi.” (Bapak di sebelahnya baru saja makan bekal sebelum tidur). Sandra menoleh, menahan tawa melihat suaminya yang merana. Dia mengulurkan tangan, menepuk paha Bisma. “Anggep aja ini pendalaman karakter. Siapa tau film lu selanjutnya jadi TKI sukses yang pulang kampung.” “Lucu lu,” cibir Bisma, tapi tangannya langsung menyambar tangan Sandra dan menggenggamnya erat di atas sandaran tangan. “Jangan dilepas. Gue claustrophobia kalau sempit gini.” “Manja.” “Biarin. Istri gue ini.” Pesawat mulai berguncang pelan. Tanda sabuk pengaman menyala. Pilot mengumumkan adanya cuaca buruk di sekitar Laut Jawa. Bisma langsung menegang. Cengkeramannya di tangan Sandra menguat. Wajahnya memucat di balik masker. Sandra tahu, di balik arogansinya, Bisma benci terbang. Apalagi dengan guncangan. “Bis, liat gue,” kata Sandra lembut. Bisma menoleh, matanya panik. “Tarik napas. Buang. Itu cuma awan yang lagi high-five sama sayap pesawat,” kata Sandra asal, mencoba melucu. Bisma tidak tertawa, tapi dia menuruti instruksi napas Sandra. Dia menatap mata Sandra lekat-lekat, menjadikan manik mata cokelat istrinya sebagai jangkar agar tidak hanyut dalam kepanikan. “Kalau kita jatuh...” bisik Bisma. “Kita nggak bakal jatuh,” potong Sandra tegas. “Kita belum ngalahin Regina. Kita belum punya rumah yang ada ayunannya. Kita belum ngasih adik buat Kacang Polong.” Bisma tertegun. Adik buat Kacang Polong? Turbulensi mereda. Pesawat kembali tenang. Bisma melepaskan napas panjang. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Sandra. “Lu barusan ngode minta anak lagi?” godanya, suaranya kembali tengil. Wajah Sandra memerah padam. “Itu... itu cuma motivasi biar lu nggak panik! Jangan geer!” “Gue catet ya. Masuk wishlist tahun depan,” bisik Bisma, lalu mencium pelipis Sandra sekilas, membuat ibu-ibu di barisan belakang berbisik, “Ih, so sweet banget mas-masnya.” Sandra tersenyum malu, memandang ke luar jendela lagi. Di ketinggian 30.000 kaki, di kursi sempit kelas ekonomi, Sandra merasa lebih aman daripada di istana manapun.
Changi Airport, Singapura. Mereka mendarat dengan selamat. Bisma langsung menegakkan badannya, membunyikan tulang punggungnya yang kaku. “Akhirnya. Oksigen orang kaya,” kata Bisma saat mereka melangkah keluar garbarata menuju terminal kedatangan yang mewah dan berkarpet tebal. “Jangan norak. Kita di sini buat kerja, bukan liburan,” ingat Sandra, menyeret koper kabin mereka. Mereka berjalan menuju Arrival Hall. Bisma berjalan cepat, langkah kakinya lebar, membuat Sandra harus sedikit berlari kecil menyamainya. “Pelan-pelan, Bis! Siapa yang ngejar sih?” “Clara. Dia udah nunggu,” kata Bisma, mengecek jam tangannya. “Clara?” “Pengacara kita. Mantan gue.” Langkah Sandra terhenti sejenak. Mantan. Kata itu berdengung tidak enak di telinganya. Selama persiapan keberangkatan, dia terlalu sibuk mengurus dokumen sampai lupa mempersiapkan mental untuk bertemu masa lalu Bisma. “Dia... dia tau kita udah nikah?” tanya Sandra. “Tau. Dia profesional kok,” jawab Bisma enteng, lalu melambaikan tangan ke arah kerumunan penjemput. “Nah, itu dia!” Sandra mengikuti arah pandang Bisma. Dan hatinya mencelos. Berdiri di sana, bersandar elegan di pagar pembatas, adalah seorang wanita yang tampak seperti baru keluar dari majalah Vogue. Tinggi, langsing, mengenakan blazer putih yang membalut tubuhnya dengan sempurna, celana panjang high-waist, dan sepatu hak tinggi merah menyala. Rambutnya dipotong bob tajam, wajahnya cantik dengan riasan flawless. Itu Clara. Sandra menunduk melihat penampilannya sendiri: jeans belel, sneakers kotor, kaos longgar, dan jaket denim kedodoran. Dia merasa seperti butiran debu di samping berlian. “Bisma!” sapa Clara, suaranya renyah dan berkelas. Dia melangkah maju, memeluk Bisma—cipika-cipiki yang terlihat sangat natural dan akrab. Aroma parfum mahal Chanel langsung menguar. “Hei, Cla. Thanks udah jemput,” kata Bisma, tersenyum lebar. Senyum yang... akrab. Clara melepaskan pelukannya, lalu matanya beralih ke Sandra yang berdiri kaku di belakang Bisma. Tatapan Clara menyapu Sandra dari atas ke bawah dalam sedetik—tatapan analitis seorang pengacara (atau sesama wanita yang menilai saingan). “Dan ini pasti Sandra,” kata Clara, mengulurkan tangan yang terawat sempurna. “Istri kontrak yang bikin satu Indonesia heboh. Nice to meet you. Saya Clara. Mantan pacar Bisma yang paling pinter.” Sandra menyambut tangan itu. Cengkeramannya kuat. “Sandra,” jawab Sandra singkat. “Istri Bisma. Titik.” Clara tertawa kecil, seolah Sandra baru saja membuat lelucon lucu. “Feisty. Gue suka. Pantesan Bisma betah. Biasanya dia cuma tahan sama model yang kerjanya ngangguk-ngangguk.” “Ayo jalan. Mobil gue di depan,” ajak Clara, memimpin jalan dengan langkah percaya diri. Bisma mengikuti Clara, mengobrol seru tentang kasus hukum. “Jadi celahnya di mana, Cla? Perusahaan cangkang itu?” “Iya. Gue udah cek registry di sini. Perusahaan itu sebenernya nggak punya aset fisik. Cuma alamat virtual. Gue bisa buktiin kalau klaim hak cipta mereka cacat prosedur...” Mereka bicara dalam bahasa hukum dan bisnis yang cepat, diselingi bahasa Inggris yang fasih. Sandra berjalan di belakang mereka, menyeret koper, merasa seperti asisten yang tidak dianggap. Dia melihat punggung Bisma. Melihat betapa serasinya Bisma berjalan di samping Clara. Mereka satu level. Satu dunia. Dunia yang dulu membuat Bisma merasa nyaman. ‘Inget, San. Dia milih lu. Dia milih sate kere,’ batin Sandra, berusaha menguatkan diri. Tapi rasa insecure itu seperti rayap, menggerogoti perlahan.
Hotel Boutique, Bugis Area. Karena budget terbatas (dan karena Bisma menolak dibayari Clara), mereka menginap di hotel butik kecil di daerah Bugis. Tidak mewah, tapi artistik dan bersih. Clara menurunkan mereka di lobi. “Gue harus balik ke kantor buat nyiapin berkas besok. Sidang mediasi pertama jam 10 pagi. Jangan telat,” kata Clara. Dia menatap Bisma. “Malam ini lu free? Gue mau ajak makan Chili Crab di tempat biasa kita dulu. Buat... reuni?” Sandra menahan napas. Dia menunggu jawaban Bisma. Bisma menoleh ke Sandra. Dia melihat wajah lelah istrinya. Dia melihat tangan Sandra yang meremas pegangan koper. “Sorry, Cla,” kata Bisma, merangkul bahu Sandra. “Gue harus nemenin bini gue. Dia belum pernah ke Singapura. Gue mau ajak dia jalan-jalan cari makan murah. Sekalian... honeymoon tipis-tipis.” Wajah Clara berubah sedikit, ada kilatan kecewa, tapi dia menutupinya dengan senyum profesional. “Oke. Have fun, lovebirds,” kata Clara, lalu masuk ke mobil mewahnya dan melaju pergi. Sandra menghela napas lega. Bahunya turun. “Kenapa nggak pergi?” tanya Sandra, pura-pura cuek saat mereka masuk ke lobi. “Kan Chili Crab enak.” “Mahal,” jawab Bisma. “Lagian gue udah janji mau makan Chicken Rice sama lu.” Bisma menatap Sandra, menyadari perubahan mood istrinya. “Lu cemburu ya?” goda Bisma saat mereka menunggu lift. “Dih! Siapa yang cemburu? Gue cuma... minder,” gumam Sandra jujur. “Dia cantik. Pinter. Kaya. Sepatu dia aja bisa buat beli harga diri gue.” Bisma tertawa, menarik hidung Sandra. “Aduh, Keong. Lu lupa?” “Lupa apa?” “Gue ninggalin penthouse, mobil sport, dan kekayaan gue buat siapa? Buat Clara? Nggak. Buat lu.” Bisma menangkup wajah Sandra. “Clara emang masa lalu gue. Tapi lu... lu masa depan gue. Lu yang bikin gue ngerasa idup. Dia cuma bikin gue ngerasa pinter.” Pipi Sandra memerah. “Gombal lagi.” “Serius. Udah ah, ayo naik. Gue mau mandi. Badan gue rasanya kayak abis digeprek di kursi pesawat.”
Mereka masuk ke kamar hotel. Kamarnya kecil. Sangat kecil. Khas hotel butik di Singapura di mana lahan sangat mahal. Hanya ada satu tempat tidur Queen Size yang mepet ke dinding. Kamar mandinya berdinding kaca buram (yang bayangannya masih kelihatan). “Sempit banget,” komentar Bisma, melempar tasnya. “Sesuai budget,” kata Sandra. Dia duduk di tepi kasur. Empuk. Bisma membuka koper, mengambil handuk. “Gue mandi duluan ya. Lu jangan ngintip. Kaca kamar mandinya bahaya nih,” kata Bisma. Sandra melihat ke arah kamar mandi. Benar saja. Saat Bisma masuk dan menyalakan lampu, siluet tubuhnya terlihat jelas. Sandra buru-buru membalikkan badan, menghadap tembok. Jantungnya berdegup kencang lagi. Situasi ini... terlalu intim. Di negara asing, di kamar sempit, hanya berdua. Setelah Bisma selesai (dan keluar hanya dengan handuk di pinggang karena lupa bawa baju ganti ke dalam), Sandra langsung lari masuk kamar mandi dengan wajah merah padam. “Gantian! Jangan liat!” Bisma terkekeh, memakai bajunya. Dia menyalakan TV, menonton berita lokal. Selesai mandi, mereka bersiap keluar cari makan. Malam di Singapura sudah turun. Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan Bugis yang ramai. Lampion warna-warni, bau durian, dan keramaian turis. Mereka menemukan hawker center (pujasera). Bisma memesan dua piring Hainanese Chicken Rice dan es teh tarik. Mereka makan di meja bundar yang kotor, berbagi tempat dengan paman-paman lokal yang sedang baca koran. “Enak?” tanya Bisma. “Enak banget. Nasinya gurih,” kata Sandra lahap. “Liat kan? Makan di sini lebih seru daripada Chili Crab sama pengacara kaku itu,” kata Bisma. Tiba-tiba, ponsel Bisma bergetar. Pesan masuk. Bukan dari Clara. Bukan dari Doni. Dari nomor tidak dikenal. Kode negara Singapura (+65). Bisma membukanya. Sebuah foto. Foto mereka berdua. Sedang makan di hawker center itu. Real time. Diambil dari angle atas, mungkin dari lantai dua gedung seberang. Dan pesannya: “Selamat datang di wilayah kekuasaanku, Bisma. Nikmati makan malam terakhirmu dengan tenang. Besok... kita bermain.” - R. Bisma membeku. Sendoknya terjatuh. Regina. Regina ada di sini. Di Singapura. “Bis? Kenapa?” tanya Sandra, melihat wajah Bisma yang memucat. Bisma menoleh ke sekeliling, mencari mata-mata. Orang-orang berlalu lalang. Siapa saja bisa jadi suruhan Regina. “Kita nggak aman,” bisik Bisma. “Dia tau kita di sini.” Bisma menunjukkan pesan itu pada Sandra. Sandra membaca pesan itu. Nafsu makannya hilang seketika. “Dia... dia ngikutin kita sampai ke sini?” “Ini kandang dia, San. Kantor pusat bisnis gelapnya ada di sini,” kata Bisma. “Gue lupa... di Jakarta dia mungkin terpojok hukum. Tapi di sini... dia punya kuasa yang beda.” Bisma berdiri, menarik tangan Sandra. “Ayo balik ke hotel. Kita nggak boleh keluyuran.” Mereka berjalan cepat kembali ke hotel, meninggalkan nasi ayam yang belum habis. Rasa takut kembali menyergap. Bayangan Regina seolah ada di setiap sudut jalanan Singapura yang gelap. Sesampainya di kamar hotel, Bisma langsung mengunci pintu, memasang rantai pengaman, dan bahkan menggeser kursi untuk mengganjal pintu. “Lu tidur,” perintah Bisma. “Gue jaga.” “Bis... lu juga butuh istirahat buat sidang besok,” kata Sandra cemas. “Gue nggak bisa tidur. Gue harus baca ulang berkas dari Clara. Gue harus pastiin kita menang besok. Kalau kita kalah di pengadilan... kita nggak bisa pulang ke Indonesia.” Bisma duduk di kursi kecil di sudut kamar, menyalakan lampu baca. Dia membuka berkas-berkas hukum, wajahnya serius dan tegang. Sandra berbaring di kasur, menarik selimut. Dia menatap punggung Bisma. Punggung yang memikul beban berat. Beban masa lalu ayahnya, beban kejahatan ibunya, dan beban masa depan mereka. Sandra tidak bisa tidur. Dia bangun, berjalan ke arah Bisma. Dia memeluk leher Bisma dari belakang. “Jangan sendirian, Bis,” bisik Sandra. Bisma memegang tangan Sandra di dadanya. “Gue takut, San,” aku Bisma pelan. “Gue takut gue gagal lindungin lu di sini. Ini bukan Jakarta. Gue nggak punya Doni, nggak punya media.” “Lu punya kebenaran,” kata Sandra. “Dan lu punya gue. Kita hadapin besok. Sama-sama.” Bisma menoleh, mencium tangan Sandra. “Sama-sama.” Malam itu, di kamar sempit di negeri orang, di bawah ancaman Ratu yang mengintai, mereka tidur berpelukan. Bukan karena dingin AC, tapi karena mereka saling membutuhkan lebih dari sebelumnya. Besok adalah hari penghakiman. Dan Regina sudah menyiapkan panggungnya.