Kalimat itu menggantung di udara, berat, racun yang mencekik paru-paru. Hening sesaat, lalu pecah. Desingan angin memekakkan telinga. Bayangan itu—kembaran Aris berjaket ojol namun beraroma kematian pekat—menerjang.
Tanpa aba-aba. Tanpa keraguan.
Gerakannya bukan lari manusia. Tubuhnya tersentak-sentak, patah-patah seperti tayangan video rusak, tidak wajar, namun mengerikan cepatnya.
Aris melempar tubuh ke samping. Lututnya menjerit, sisa pendaratan kasar dari dimensi sebelumnya masih berdenyut hebat. Naluri jalanan mengambil alih. Ia berguling di atas rumput basah yang bau tanah kuburan campur amis darah, nyaris dicium lempengan nisan yang diayunkan kembarannya.
BRAKK!
Nisan marmer menghantam titik kepalanya berada sedetik lalu. Tanah muncrat. Lumpur hitam memercik, dingin membekukan kulit. Aris terengah. Tulang keringnya serasa ditancap paku panas. Namun, rasa takut mati- kematian yang sebearnya, bukan sekadar metafora saldo nol - membuat adrenalinnya mendidih.
"Lambat," ejek sosok itu. Suaranya gema parau Aris sendiri, nada kasar yang biasa ia pakai memaki pengendara lain di macetnya Kuningan. "Persis waktu lu telat jemput obat Ibu. Lupa?"
Aris menggeram. Ia menyambar segenggam tanah basah, melemparnya ke helm full-face lawannya. Usaha menyedihkan. Lumpur itu hanya menempel di kaca helm gelap - sebuah lubang hitam yang menelan cahaya.
Sosok itu tak bergeming. Ia memiringkan kepala, meneliti serangga sekarat. Di balik kaca helm, pusaran hitam berputar. Aris mual. Itu bukan kegelapan, itu memori. Aris melihat dirinya di warung kopi, mematikan panggilan telepon rumah sakit demi menyelesaikan level game. Adegan itu berulang, menyakitkan mata.
"Lu liat?" desis bayangan itu, melangkah santai. Aris merangkak mundur. "Itu tuhan lu, Ris. Poin. Level. Gengsi. Sementara Ibu lu nahan sakit sendirian di bangsal kelas tiga."
Aris meraung. Penyangkalan bercampur frustrasi. Ia memaksa berdiri meski dunia berputar. Tangan kanannya meraba saku jaket, mencari senjata. Jari-jarinya menyentuh ponsel retak. Layar menyala, menampilkan notifikasi pop-up merah darah:
PERINGATAN SISTEM: EGO PENGEMUDI MELEBIHI BATAS. PENANGGUHAN AKUN KEHIDUPAN SEDANG DIPROSES.
"Bacot lu!" Aris menerjang. Melupakan nyeri kaki, tinjunya melayang ke dada bayangan itu.
Hantamannya mendarat. Tapi salah. Rasanya sangat salah.
Bukan daging atau tulang, melainkan adonan semen basah yang dingin dan lengket. Tangan Aris terbenam. Dingin mematikan menjalar cepat dari kepalan hingga bahu, membekukan saraf seketika.
Sosok itu tertawa. Kering, seperti kerupuk diremas. Dengan santai, ia mencengkeram pergelangan Aris yang terjebak, lalu memelintirnya. Kekuatan yang mustahil.
Aris menjerit. Sendi bahunya serasa ditarik paksa dari mangkuknya. Ia terlempar seperti boneka kain rombeng, melayang melewati dua gundukan tanah, lalu...
BUKKK!
Punggungnya menghantam nisan granit. Napasnya hilang seketika. Paru-parunya kempis, menolak menarik udara busuk tempat itu. Ia merosot. Darah campur liur menetes ke celana jins dekilnya.
Di depan mata, tulisan nisan tempatnya bersandar berubah. Ukiran nama lama memudar, digantikan huruf emas redup:
ARIS PRASETYO WAFAT: DIKUNCI OLEH AMBISI “Lebih takut miskin daripada takut durhaka.”
Aris menatap nanar. Setiap kata adalah vonis. Lehernya kaku. Rasa sakit fisik bergeser menjadi nyeri di ulu hati, rasa sakit yang sama saat melihat wajah kecewa Sarah tiga tahun lalu.
Sosok bayangan itu tak menyerang. Ia berdiri tegak di tengah hujan kelabu. Langit ikut berduka atas kekosongan jiwa Aris. Ia berjalan ke arah Honda Beat Aris yang tergeletak. Motor itu, sekutu mencari nafkah, kini tampak menyedihkan. Knalpotnya berasap tipis, napas terakhir binatang sekarat.
"Motor butut ini..." Sosok itu menendang ban depan. "Saksi bisu lu jadi bajingan, Ris. Berapa kali lu ngebut, nyipratin pejalan kaki demi satu menit? Berapa kali lu klaksonin lansia yang nyebrang lambat?"
Ia membungkuk, mengangkat motor seratus kilogram itu dengan satu tangan, seringan mengangkat gabus styrofoam. Ia duduk.
Seketika, mesin menderu hidup. Tapi bukan suara 110cc biasa. Ini raungan rendah, geraman hewan buas kelaparan. Lampu depan menyala, bukan putih, tapi merah pekat sorot mata inframerah.
Aris menyeret tubuh dengan sisa tenaga tangan kiri. Kakinya mati rasa. Ia merayap di lumpur, meninggalkan jejak panjang di antara nisan-nisan yang rapat bak gigi hiu.
"Jangan lari, Bro," ujar sosok itu. Tangannya memutar gas. Raungan mesin memekakkan telinga, menggetarkan tanah hingga cacing tanah panik keluar ke permukaan. "Kita selesaikan di sini. Misi lu simpel: kalahkan diri sendiri. Masalahnya, lu gak pernah bisa ngalahin gue. Gue ketakutan lu. Gue rasa minder yang lu tutupin pake arogansi."
Rem dilepas. Motor melesat.
Aris berguling ke samping tepat saat roda depan menghancurkan nisan sandarannya. Pecahan batu menggores pipi. Darah segar mengalir campur hujan. Motor itu bermanuver tajam, bannya mencakar tanah hingga membuat parit kecil. Sosok itu kembali memutar gas.
Aris tahu fisiknya habis. Ia meraba saku celana, menarik struk basah dari laci mayat sebelumnya. Kertas itu lembek, nyaris hancur. Di bawah kilatan petir ungu, tulisan baru muncul:
BARANG DIBUTUHKAN: CERMIN KEJUJURAN. SALDO ANDA: NIHIL.
"Sialan!" Aris meremas kertas itu. Tanpa senjata, tanpa bantuan. Sendirian di arena gladiator psikologis.
Deru motor mendekat. Aris tidak menghindar. Ia terpojok di pagar besi tua, bibir jurang kegelapan tanpa dasar.
Sosok itu berhenti dua meter di depannya. Lampu merah menyilaukan wajah Aris. Mesin menderu stasioner, suara blayer yang mengintimidasi. Ia turun, mencengkeram kerah Aris, mengangkatnya hingga kaki Aris menggantung. Wajah kosong itu berjarak sesentimeter. Hawa dingin menusuk, bau formalin dan bunga kantil layu.
"Lu tau kenapa hubungan sama Sarah gagal?" bisiknya, langsung ke dalam otak Aris. "Bukan karena lu miskin. Bukan karena lu cuma ojol. Tapi karena lu pengecut yang berlindung di balik alasan 'kerja keras'. Lu takut gagal, jadi lu gak pernah bener-bener ada buat dia. Lu cuma ada buat diri lu sendiri."
Aris ingin meludah, tapi lidahnya kelu. Itu kebenaran. Setiap kata adalah belati yang menusuk nurani. Air mata malu menggenang, menghancurkan pertahanan terakhirnya.
"Bunuh aja gue," lirih Aris parau. "Habisin. Gue emang sampah."
Hening sejenak. Pusaran hitam melambat. Pengakuan itu tak terantisipasi. Namun, detik berikutnya, tawa itu meledak lagi. Lebih keras. Lebih kejam.
"Bunuh lu? Gampang," ia menghempaskan Aris kembali ke lumpur. "Tapi itu hadiah. Mati itu istirahat. Dan lu... lu belum bayar tagihan lu, Ris. Bunganya numpuk."
Ia menunjuk langit gelap. "Denger?"
Aris menajamkan telinga. Di kejauhan, sela guruh, terdengar sirine ambulans. Suara yang sangat familier. Suara yang membawa Ibunya seminggu lalu. Tapi suaranya terdistorsi, melambat, seperti sirine kehabisan baterai atau kehabisan harapan.
"Waktu lu di dunia nyata menipis," ujar sosok itu, naik kembali ke motor. "Jantung Ibu lu lagi dipacu sekarang. Dan lu masih main-main di kuburan kenangan lu sendiri."
Jantung Aris serasa berhenti. "Ibu..."
"Kejar gue," tantang sosok itu, memutar gas dalam-dalam. Roda belakang berputar gila, melontarkan lumpur ke arah Aris. "Kalo lu bisa nangkep gue sebelum Gerbang Keluar, mungkin... cuma mungkin... lu masih punya kesempatan minta maaf sama Ibu sebelum dia jadi hantu kayak gue."
Tanpa menunggu, sosok itu melesat. Menabrak nisan, melompati gundukan, menuju titik cahaya samar di ujung terjauh di mulut gua raksasa.
Aris ditinggal sendirian. Sakit di sekujur tubuh, teror mencekik leher. Tapi menyerah bukan opsi. Ini soal Ibu.
Dengan sisa tenaga, Aris memungut patahan besi pagar sebagai tongkat. Matanya mengunci jejak ban motor yang menyala kemerahan di tanah. Hujan makin gila, seolah hendak menenggelamkan Jakarta dan dosa-dosa Aris bersamanya. Aris meludah, membuang rasa asin darah.
"Tunggu gue, Bangsat," desisnya.
Ia mulai melangkah, pincang, mengejar bayangannya sendiri. Namun, di balik nisan besar sebelah kirinya, sepasang mata merah lain menyala dalam diam. Mengawasi lapar. Sesuatu yang lain ada di sini. Bukan bagian dirinya, melainkan penjaga asli yang merasa terganggu.
Tanah di bawah kaki Aris bergetar halus. Bukan gempa. Sesuatu yang besar sedang menggeliat naik dari kedalaman perut bumi.