Mendadak Kawin-Brand Ambassador-Bab 42

23 January 2026

Pagi itu, dunia internet meledak. Tidak ada berita lain. Seluruh headline media, baik cetak maupun digital, hanya memuat satu topik: Ciuman Bisma Adijaya di Panggung Gala Premiere. Detik.com: Menggemparkan! Bisma Adijaya dan Sandra Gunawan Bikin Gempar, Balas Dendam Paling Romantis di Tahun Ini. Kompas: Melawan Tirani Ibu: Sang Komodo Akhirnya Lindungi Sang Keong, Sinyal Perang Dingin Keluarga Adijaya. LambeTurah: JENG JENG JENG! Emang ya, kalau udah cinta, tai kucing rasa cokelat! Ciuman Hot di Panggung Jadi Kado Nikah! Bisma Adijaya, mengenakan kaus oblong lusuh dan celana boxer, duduk di meja makan penthouse-nya (tepat di Wilayah Komodo), membaca berita dengan senyum puas. "Lihat, San," katanya sambil menyerahkan tabletnya ke seberang garis lakban. "Gue bilang juga apa. Skandal terbaik adalah skandal yang lo ciptakan sendiri." Sandra, yang sedang menyiapkan sereal di Wilayah Keong, mengambil tablet itu. Dia membaca berita-berita tersebut dengan wajah pucat. "Ini nggak lucu, Bis. Regina pasti ngamuk berat," gumam Sandra. "Oh, dia pasti ngamuk. Tapi sekarang dia nggak bisa main di media. Dia nggak bisa bilang lu plagiat atau penyakitan, karena ciuman itu udah nge-reset opini publik," jelas Bisma, kembali menyesap kopi. "Publik sekarang melihat kita sebagai dua sejoli yang cintanya terhalang restu. Kita menang simpati." Namun, kemenangan simpati ini harus dibayar mahal. Doni, manajer Bisma, muncul dari lift pribadi. Wajahnya lesu, rambutnya acak-acakan. "Bos, Sandra, selamat pagi. Gue nggak tau harus bilang selamat atau prihatin," kata Doni, meletakkan setumpuk dokumen di meja makan. "Kenapa, Don? Jangan bilang tawaran kontrak jam tangan gue dicabut semua?" tanya Bisma, mulai cemas. "Dicabut. Semua. Sponsor film Opia juga tarik diri," kata Doni. "Tapi itu bukan yang terburuk. Pagi-pagi tadi, Regina mengirim notifikasi resmi dari firma hukum keluarga. Semua aset Bisma yang dipegang perusahaan... dibekukan." Bisma tertegun. "Dibekukan? Maksud lu rekening gue di Blok B?" "Bukan cuma rekening, Bos. Semua. Saham lu, bonus film lu yang belum cair... semuanya ditahan sebagai 'jaminan atas investasi keluarga' sampai lu 'kembali waras'," jelas Doni, mengusap wajahnya frustrasi. "Regina bilang lu udah ngerusak reputasi keluarga. Ini pembalasan." "Sialan!" Bisma membanting cangkir kopinya (beruntung di Wilayah Komodo). "Gue nggak peduli saham. Gue peduli uang cash," kata Bisma. "Kita perlu uang buat bayar tim legal dan security Sandra. Regina nggak akan berhenti nyerang dia." "Justru itu, Bos," kata Doni, mendorong dokumen di meja. "Gue cuma sempat nyelametin satu hal sebelum pemblokiran total. Mobil lo." Bisma menatap dokumen itu. Itu adalah surat-surat mobil sport edisi terbatas kesayangannya, hadiah dari ayahnya. Mobil yang sangat ia cintai. "Gue jual mobilnya?" Bisma Adijaya, yang mengoleksi mobil, harus menjual salah satu mahkotanya. Itu adalah penghinaan terbesar baginya. "Uangnya masuk ke rekening lu, Bos. Tunai. Lumayan buat modal perang enam bulan ke depan," bujuk Doni. "Gue udah atur sama kolektor. Mereka mau bayar mahal, karena ini mobil lo. Regina nggak akan bisa nyentuh uang cash di rekening pribadi lu." Bisma menarik napas panjang. Dia melihat Sandra, yang sejak tadi diam. "San, gimana menurut lu?" tanya Bisma. Sandra berjalan ke garis lakban, mengambil dokumen itu. Dia melihat foto mobil sport merah yang tampak sangat mahal. "Ini bukan cuma mobil, Bis. Ini harga diri lu," kata Sandra pelan. "Harga diri gue sekarang diukur dari seberapa aman lu, San," potong Bisma. "Gue nggak peduli mobil. Gue cuma butuh lu aman, dan kita punya modal buat fight." Sandra menatap mata Bisma. Dia melihat Bisma Adijaya yang sesungguhnya: seorang pria yang rela mengorbankan segalanya demi melindungi orang yang ia sayangi. Ini jauh lebih keren daripada semua peran superhero yang pernah ia mainkan. Sandra mengangguk. "Jual. Sekarang. Kita butuh uang itu sebelum Regina sadar lu masih punya aset yang belum dia sentuh." "Oke, Don. Jual," putus Bisma, tanpa ragu lagi. Doni menghela napas lega. "Siap, Bos. Malam ini uang cair. Mobil diambil siang ini. Gue janji bakal nyariin lu mobil yang lebih keren kalau kita udah menang." Doni pergi, membawa dokumen mobil itu.


Siang harinya, Sandra sedang memasak sup ayam sederhana di dapur. Bisma duduk di meja makan, membaca naskah film Opia yang sudah direvisi Sandra, ditemani secangkir teh panas. Pemandangan domestik ini terasa aneh di tengah kemewahan penthouse dan drama yang sedang melanda hidup mereka. Tiba-tiba, Bisma menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap Sandra. "San... gue baru sadar," kata Bisma. "Semua yang kita lakukan sekarang... semua rencana, semua pengorbanan... semuanya cuma gara-gara satu hal." "Apa?" tanya Sandra, sambil mengaduk sup. "Wasiat Papa. Kalau Papa gue nggak bilang 'Temukan kebahagiaanmu sendiri' dan 'Jangan biarkan Regina mengambilnya', kita nggak akan sejauh ini," kata Bisma. "Mungkin," kata Sandra. "Tapi wasiat itu cuma memicu, Bis. Keputusan untuk mencium gue di panggung, untuk jual mobil lu... itu keputusan lu. Pilihan lu." Bisma tersenyum. "Oke. Tapi, gue yakin, jawaban dari semua masalah kita ada di wasiat itu. Ada di masa lalu Papa gue." "Masa lalu Ayah gue juga," tambah Sandra. "Papa lu dan Ayah gue kan dekat. Mereka pasti berencana sesuatu." Tiba-tiba, terdengar bunyi ding dong. Interkom berbunyi. Sandra dan Bisma saling pandang. Mereka tidak pesan makanan. Doni sudah pergi. Bisma menekan tombol interkom. "Siapa?" "Pengiriman," terdengar suara dari interkom. Bisma membuka pintu sedikit. Seorang kurir berdiri di sana, membawa sebuah paket amplop cokelat tebal. "Tanda tangan di sini, Mas Bisma," kata kurir itu. Bisma tanda tangan. Kurir itu pergi. Bisma menutup pintu, lalu kembali ke meja makan, membuka amplop itu. Isinya: Tumpukan tagihan. Tagihan listrik, air, maintenance apartemen, kartu kredit Bisma, semuanya dalam nominal yang sangat besar. Dan di atas tumpukan tagihan itu, ada memo kecil, ditulis tangan dengan tulisan Regina yang indah dan tajam: “Selamat atas ciuman yang menghebohkan. Hadiah pernikahanmu: tagihan yang harus kamu bayar sendiri. Mama sudah memblokir semua akses auto-debet dan memutus semua kontrak cleaning service, laundry, dan kateringmu. Mama mau lihat, seberapa lama cinta istrimu bisa membayar listrik penthouse ini. Selamat berjuang! Love, Mama.” Bisma tertegun. Tagihan itu jumlahnya ratusan juta rupiah. Uang hasil penjualan mobil belum cair di rekeningnya. "Dia... dia beneran ngamuk," bisik Bisma, wajahnya pucat. "Dia memutus aliran dana gue secara total." Sandra mengambil tagihan-tagihan itu, membaca nominalnya. Dia menatap Bisma. "Kita baru aja jual mobil... dan uangnya belum cair," kata Sandra, matanya membelalak. "Kita... bangkrut?" "Belum," kata Bisma, tapi suaranya bergetar. "Tapi kalau gue nggak dapat pemasukan dalam dua minggu, listrik di penthouse ini bakal mati." Sandra menatap Bisma, lalu menatap sup ayam buatannya. "Oke," kata Sandra tegas. "Kita kembali ke mode survival. Tapi kali ini, kita harus kreatif, Bis. Kita harus cari uang tanpa diketahui Regina." "Gimana caranya? Gue Bisma Adijaya, San. Gue nggak bisa jadi driver taksi online," Bisma frustrasi. "Lu Bisma Adijaya, aktor. Bukan orang kaya manja lagi," koreksi Sandra. "Lu bisa akting jadi orang lain. Kita cari pekerjaan yang nggak elit, yang nggak dilirik Mama lu, tapi uangnya tunai." Sandra tersenyum. Senyum yang menyimpan rencana jahat. "Gue punya ide. Tapi lu harus mau nurunin gengsi lu serendah-rendahnya." Bisma menatap Sandra, rasa takutnya bercampur dengan rasa penasaran. "Ide apa?" "Lu jadi talent film indie gue. Bayarannya nasi bungkus," kata Sandra. "Atau... lu jadi brand ambassador." "Brand ambassador apa?" "Gue baru aja dapet tawaran endorse dari produk yang Regina nggak akan pernah sentuh," kata Sandra, menyeringai. Bisma menatapnya curiga. "Apa itu?"