Bisma Adijaya, aktor dengan bayaran tertinggi di generasinya, duduk di sofa mahal miliknya—kini terasa seperti singgasana besi panas—menatap layar ponsel dengan ekspresi yang sulit diartikan. Itu bukan ekspresi jijik, bukan juga marah, melainkan campuran antara keputusasaan yang pahit dan rasa absurditas yang konyol. Di hadapannya, Doni, manajernya yang biasanya klimis dan penuh percaya diri, kini tampak seperti pria yang baru saja kehilangan segalanya. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, dan dia terus menggigiti kuku jarinya yang sudah pendek hingga pangkalnya memerah. Doni benar-benar gugup. Bisma tahu betul mengapa. “Jadi, Don,” Bisma memulai, suaranya pelan dan rendah, tetapi membawa otoritas yang dingin. Ia menunjuk email yang terbuka di layar. “Setelah semua koneksi yang lo klaim, semua tawaran endorsement yang katanya udah antre... ini?” Doni menunduk, menghindari tatapan Bisma. “Maaf, Bos. Ini tawaran terbaik. Bahkan, ini satu-satunya tawaran.” Doni menarik napas berat. “Semua brand besar, dari otomotif, fashion, sampai makanan kaleng, mundur teratur. Mereka semua takut sama Regina. Mereka nggak mau ambil risiko image mereka hancur hanya karena bersinggungan sama lo. Dia beneran menutup semua pintu.” Bisma membaca ulang judul email itu untuk yang kesepuluh kalinya: Tawaran Kerjasama: Brand Ambassador Obat Nyamuk Semprot ‘MATI KAU’. Di bawahnya, terlampir detail yang membuat Bisma ingin membenamkan wajahnya ke bantal. “Obat nyamuk, Doni,” ulang Bisma, kata-katanya penuh penekanan. “MATI KAU. Slogan mereka ‘Sekali Semprot, Nyamuk Koid’. Gue Bisma Adijaya. Dalam dua tahun terakhir, gue adalah wajah dari jam tangan Swiss yang harganya bisa buat beli satu unit apartemen di sini. Gue iklan mobil sport yang cuma diproduksi 100 unit di dunia. Parfum gue, harganya setara biaya sekolah anak SD sampai lulus kuliah. Dan sekarang... gue disuruh jadi duta produk yang tagline-nya ‘Koid’?” Doni mengangkat bahu tak berdaya. “Bayarannya, Bos. Itu yang penting. Lima puluh juta. Tunai. Kontan. Tanpa potongan administrasi, tanpa transfer bank yang bisa dilacak Regina. Mereka butuh cepat, kita butuh cepat. Itu bisa buat bayar listrik bulan ini, utang kartu kredit yang udah telat bayar, dan buat beli bahan makanan layak selain mi instan.” Bisma terdiam. Lima puluh juta. Uang yang dulu bahkan tak ia hitung jumlahnya saat memberikan tip pada pelayan di restoran bintang lima. Kini, uang itu adalah garis tipis antara bertahan hidup dan kehancuran total. Regina telah berhasil membuat mereka benar-benar berada di titik nol. Sandra, yang sejak tadi duduk di sofa (di Wilayah Keong, tentu saja, dekat island dapur) sibuk mengetik revisi naskah untuk Gema Visual, kini menutup laptopnya. Ia berjalan santai melintasi garis imajiner di karpet, mendekati Bisma dan Doni. “Ambil aja, Bis.” Bisma menoleh, menatap Sandra dengan mata membelalak tak percaya. “Lu serius? Lu mau suami lu, yang kemarin berciuman heboh di karpet merah, sekarang berakting dikejar nyamuk raksasa di TV?” Sandra menyunggingkan senyum tipis, senyum strategis yang selalu ia tunjukkan saat sedang menyusun plot twist terbaik dalam naskahnya. “Kenapa enggak?” tantang Sandra. “Ini namanya comeback spektakuler. Lihat dari sisi media. Bisma Adijaya, dari bintang film paling elit, jatuh ke jurang kemiskinan dan harus iklan obat nyamuk lokal dengan tagline yang norak. Itu berita emas, Bis. Itu perhatian gratis. Regina berusaha membuat lo tidak relevan, tapi lo malah membuat diri lo jadi meme paling viral tahun ini.” Sandra duduk di sandaran sofa, di samping Bisma. “Lagipula, Regina sedang memblokir semua transfer dana, semua rekening, semua transaksi besar. Tapi dia nggak akan pernah bisa memblokir uang tunai lima puluh juta hasil dari iklan obat nyamuk yang dia anggap sampah. Ini pekerjaan halal, Bos Komodo. Ambil. Kita butuh amunisi.” Argumen Sandra, seperti biasa, mematahkan semua perlawanan logis Bisma. Ia adalah Ratu strategi, mampu melihat kelemahan lawan di tempat yang paling tidak terduga. Bisma mendengus, tapi seringai perlahan muncul di wajahnya. Sandra benar. Ini adalah cara paling konyol, paling merakyat, dan paling efektif untuk mendapatkan uang di bawah radar Regina. “Oke, Doni. Ambil tawaran itu,” kata Bisma mantap. Doni langsung bersorak lega, hampir melompat. “Tapi, gue punya syarat.” “Apa, Bos? Demi lima puluh juta, gue siap ganti nama jadi Doni Koid!” Bisma menunjuk Sandra. “Sandra Gunawan harus jadi sutradaranya. Gue nggak mau iklan ini disutradarai sama orang lain. Kalau gue harus jadi nyamuk, gue mau dia yang nyuruh gue terbang. Gue nggak mau akting canggung kayak cameo di film porno amatir.” Sandra tersentak. “Gue? Sutradara? Gue cuma penulis, Bis!” “Lu yang paling tahu gue. Lu yang paling tahu kelemahan gue,” balas Bisma. “Kalau lo yang nyutradarai, setidaknya rasa malu gue berkurang sedikit.” Doni tertawa terbahak-bahak. “Deal, Bos! Sandra, selamat! Lo sutradara iklan termahal dalam sejarah obat nyamuk!” Dua hari kemudian, Studio Foto Gudang Tua, Jakarta Utara. Jika ada satu hari yang ingin Bisma Adijaya hapus dari riwayat hidupnya, itu adalah hari ini. Studio yang mereka sewa ternyata bukan studio yang layak. Itu adalah gudang tua dengan langit-langit rendah, pendingin ruangan yang mengeluarkan suara bising, dan bau amis yang entah datang dari mana. Di tengah ruangan, sebuah set sederhana didirikan: replika kamar tidur kelas ekonomi dengan tirai jendela lusuh dan kasur pegas yang terlihat jebol. Bisma berdiri di sudut ruangan, mengenakan kostum yang membuatnya terlihat seperti badut yang tersesat. Kostum nyamuk raksasa. Itu adalah kostum beludru hitam dengan garis-garis merah di perut, sepasang sayap tipis dari kawat dan kain kasa, dan yang paling memalukan, sepasang antena lentur yang bergetar setiap kali Bisma bergerak. Wajahnya yang tampan harus dicat hijau neon dengan lingkaran hitam besar di mata. “Bis, lu kelihatan kayak nyamuk habis radiasi!” teriak Doni sambil memotret Bisma dengan ponselnya. “Diam lu, Don!” geram Bisma, suaranya teredam di balik topeng kepala nyamuk. Di belakang monitor kecil, Sandra duduk dengan headphone besar di telinga. Wajahnya serius, memancarkan aura sutradara profesional—padahal ini pertama kalinya ia menyutradarai apa pun, apalagi iklan obat nyamuk. “Oke, Bis. Adegan satu! Nyamuk masuk, mencoba menggigit, dan sadar kalau manusia itu adalah target yang sulit. Ekspresi terkejut, Bis!” perintah Sandra lewat mikrofon. Bisma, si nyamuk raksasa, memasuki set dengan langkah canggung. Ia harus melompat-lompat dengan gerakan seperti serangga yang sedang kebingungan. “Lebih bertenaga, Komodo!” teriak Sandra. “Lo itu nyamuk yang lagi laper berat! Jangan kayak cowok kelar ‘olahraga’!” Bisma tersentak di dalam kostum. Dia tahu apa yang dimaksud Sandra. Dia memejamkan mata, memanggil semua memori rasa frustrasi, kekecewaan, dan amarahnya pada Regina. Rasa-rasa itu membangkitkan energi. Aku adalah nyamuk. Aku adalah Regina. Aku adalah masalah yang harus disemprot! Bisma tiba-tiba melompat tinggi, lalu mendarat dengan gerakan mendesis di dekat bantal. Ia menjulurkan belalainya yang terbuat dari spons dan kawat ke arah leher model—yang sedang berakting tidur—dengan ekspresi mata yang liar. “CUT! Perfect!” teriak Sandra puas. “Itu Bisma yang gue kenal! Vibes predator!” Adegan selanjutnya lebih memalukan. Bisma, sebagai nyamuk, harus berakting panik saat model bangun dan menyemprotkan cairan MATI KAU. “Oke, Bis. Kali ini, lo harus berakting mati dengan dramatis. Kejang-kejang, Bis! Ingat, lo adalah nyawa Bisma Adijaya yang sedang sekarat karena gengsinya disemprot obat nyamuk murahan! Semua emosi harus keluar!” instruksi Sandra, nadanya penuh semangat. Bisma menarik napas. Dia berakting terhuyung-huyung, mencoba terbang menjauh, tetapi gagal. Dia memegang kepalanya yang besar, lalu mulai berputar-putar di tempat. Gerakannya makin lama makin cepat, makin dramatis, hingga akhirnya ia jatuh ke lantai dengan suara gedebuk yang keras. Ia menggerakkan kaki dan sayap kawatnya sebentar, lalu terdiam. Total, sempurna. Kru diam sejenak, lalu terdengar tepuk tangan riuh. Bisma membuka topeng kepalanya. Wajahnya penuh keringat dan cat hijau neon. Sandra berlari menghampirinya, tidak bisa menahan tawa. “Itu akting terbaik lo tahun ini, Bis!” Sandra tertawa terbahak-bahak, lalu mengulurkan botol air dingin. “Gue... nggak percaya... gue ngelakuin ini,” Bisma terengah-engah, menerima botol air itu. “Satu syarat. Video syuting ini harus dibakar. Nggak ada yang boleh punya footage gue jadi nyamuk. Termasuk lu, Doni.” “Siap, Bos! Lo beneran Duta Obat Nyamuk paling total!” seru Doni sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai. Lima puluh juta rupiah. Mereka berhasil kembali ke penthouse tanpa insiden. Matahari sudah terbenam, menyisakan bias senja oranye di cakrawala Jakarta. Uang tunai itu tergeletak di meja marmer, membuat suasana terasa jauh lebih hangat daripada beberapa hari sebelumnya. Bisma baru saja selesai mandi, kelelahan, tetapi diliputi kelegaan yang luar biasa. Ia keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, rambutnya masih basah. Ia mendapati Sandra sedang menyiapkan sup ayam instan—menu kemewahan mereka setelah berhasil menghindari tagihan listrik yang mengancam. “Lo tahu,” kata Bisma, berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya yang lelah di tiang island dapur. “Ini lima puluh juta termurah yang pernah gue dapat. Tapi entah kenapa, ini terasa paling berharga.” “Karena lo beli dengan harga diri lo, bukan dengan kartu kredit,” balas Sandra tanpa menoleh, meniup sup di sendoknya. “Selamat, Komodo. Lu berhasil bayar sewa dan utang delivery makanan.” Mereka saling bertatapan, berbagi senyum kecil. Ada momen keintiman yang singkat di tengah keheningan penthouse yang luas itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka merasa menang, meski hanya kemenangan kecil melawan kesulitan hidup. Namun, kemenangan itu hanya bertahan kurang dari lima menit. Tiba-tiba, ponsel Bisma yang tergeletak di meja bergetar keras. Doni menelepon dengan nama Doni HISTERIS di layar. Bisma mengangkatnya, meletakkan ponsel itu di telinga. “Bos! Jangan balik ke penthouse! Jangan naik lift! Jangan naik tangga! Jangan masuk area parkir basement!” suara Doni terdengar panik, napasnya tersengal-sengal seperti habis maraton. Bisma menjauhkan ponselnya dari telinga, menatap Sandra. Wajahnya langsung menegang. “Don, tenang. Ada apa? Kenapa panik gitu?” “Raka, Bos! Raka dan anak buahnya! Mereka udah di lobi! Mereka mau naik ke penthouse lo!” jerit Doni. “Regina ngamuk banget pas tahu lo berhasil dapet uang tunai. Dia bilang lo nggak akan pernah bisa masuk ke unit lagi. Mereka bawa kunci duplikat dan mau ganti semua kunci pintu penthouse secara ilegal! Dia mau lo diseret keluar! Dia bilang, kalau lo berdua nggak keluar, mereka akan mutus listrik secara ilegal dari pusat kontrol gedung!” Bisma merasakan sengatan dingin menjalari punggungnya. Raka adalah chief security Regina, pria yang tidak peduli hukum dan hanya loyal pada uang ibunya. Kali ini, Regina tidak menggunakan media, dia menggunakan kekuatan fisik dan ancaman pengusiran. “Sial!” umpat Bisma. Ia buru-buru mengambil kaus dan celana training-nya yang terdekat. “Sandra, kita harus keluar dari sini. Sekarang.” “Keluar ke mana? Kita nggak bisa naik ke unit kita, Bis! Regina sudah menutup pintu rumah kita sendiri!” ujar Sandra, wajahnya memucat. “Kita nggak bisa pulang,” kata Bisma, matanya mencari-cari ke seluruh penjuru ruangan. Ia berlari ke walk-in closet, menarik ransel kecil yang berisi laptop dan beberapa dokumen penting ayahnya. Ia memasukkan amplop uang tunai lima puluh juta itu ke bagian terdalam ransel. “Raka nggak peduli hukum, San,” kata Bisma cepat. “Dia akan ganti kunci unit kita, atau mutus listrik secara ilegal. Kalau kita bertahan di sini, kita akan diseret preman itu di depan lobi. Kita harus pergi. Sekarang!” Bisma menarik tangan Sandra yang masih syok. Mereka berlari keluar dari area apartemen. Mereka tidak bisa menggunakan lift atau basement karena Doni bilang area itu sudah dijaga ketat. Mereka harus keluar dari pintu belakang area komersial, menyelinap melewati gerbang kecil yang biasa digunakan oleh staf maintenance. Jantung mereka berdebar kencang, napas mereka memburu. Ini bukan adegan film, ini adalah pelarian yang nyata. Mereka berlari menembus kerumunan pejalan kaki di trotoar. “Pak! Taksi!” teriak Bisma, menyetop taksi biru yang melintas. Mereka masuk ke jok belakang. Bisma menutup pintu dengan keras. “Ke mana, Mas?” tanya supir taksi, menoleh ke belakang dengan bingung. Bisma menatap Sandra. Ia berpikir keras. Ke mana mereka bisa pergi? Hotel mewah? Akan dilacak. Rumah Doni? Akan digerebek. Rumah kerabat? Semua sudah dikendalikan Regina. “Ke Stasiun Gambir,” kata Bisma. Keputusannya terasa tiba-tiba, tetapi mutlak. “Gambir? Kita mau ke mana, Bis?” tanya Sandra, memegang lengan Bisma erat-erat. Bisma memejamkan mata sejenak, teringat pada memoar yang ditulis ayahnya. “Ke tempat yang nggak akan pernah Mama duga. Ke tempat yang dia kubur dalam-dalam dari hidup gue,” jawab Bisma, suaranya bergetar. “Kita ke Jogja. Ke rumah masa kecil Papa. Rumah yang dia beli atas nama orang lain, yang bahkan Mama nggak tahu keberadaannya. Rumah tempat Papa bilang dia pernah bahagia.” Mungkinkah rumah itu juga menyimpan rahasia tentang Arini, ibu kandung Sandra, yang menjadi cinta pertama ayahnya? Bisma tidak tahu. Tapi itu satu-satunya petunjuk yang mereka miliki. Itu satu-satunya tempat yang berada di luar jangkauan kekuasaan Ratu Jakarta. Ini adalah perjudian terbesar mereka. Meninggalkan Jakarta, hanya berbekal ransel, laptop berisi naskah Sandra, dan uang lima puluh juta tunai dari iklan obat nyamuk. Satu jam kemudian, mereka berada di dalam kereta eksekutif yang menuju ke tenggara. Kereta itu melaju kencang, membelah malam Jakarta yang penuh ancaman dan menuju fajar baru di Jawa Tengah. Sandra menyandarkan kepalanya di bahu Bisma, menutup matanya. Ia tidak lagi takut. Ia hanya merasa lelah dan... aman. Tangan Bisma melingkari bahunya, menariknya mendekat. “Kita bakal baik-baik aja, kan, Duta Obat Nyamuk?” bisik Sandra. “Pasti,” Bisma mencium puncak kepala Sandra. “Karena sekarang kita cuma punya satu sama lain. Dan kita punya uang tunai.” Bisma tersenyum kecil di tengah kegelapan. Mereka memang kehilangan rumah, karir, dan rekening. Tapi mereka punya cerita. Dan penulis cerita itu, kini tidur pulas di bahunya. Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Mendadak Kawin-Duta Obat Nyamuk-Bab 43
Penulis
Miss_Eunoia
23 January 2026