Bau khas kereta malam—campuran aroma pengharum ruangan lemon sintetik, karpet kusam, dan samar-samar aroma mi instan dari gerbong restorasi—menyambut Bisma dan Sandra. Mereka duduk di kursi kelas eksekutif yang, meskipun nyaman bagi orang awam, terasa seperti kotak sarden bagi Bisma Adijaya yang terbiasa merentangkan kakinya di kabin First Class. Kereta Argo Dwipangga itu melaju menembus gelapnya malam, meninggalkan kelap-kelip lampu Jakarta yang penuh intrik di belakang. “Kaki gue mentok, San. Sumpah, ini pelanggaran HAM,” gumam Bisma, mencoba menggeser kakinya yang panjang ke kanan dan ke kiri, namun terhalang sandaran kursi penumpang di depannya yang direbahkan maksimal. Sandra, yang duduk di dekat jendela, menoleh sambil menahan senyum. Dia melihat Bisma yang mengenakan topi bucket ditarik rendah dan masker hitam, terlihat seperti buronan elit yang salah gaul. “Tahan, Komodo,” bisik Sandra. “Anggap aja ini wahana roller coaster durasi delapan jam. Lagian, tiket ini dibayar pake duit hasil keringet lu jadi nyamuk. Harusnya lu bangga.” Bisma mendengus, melipat tangannya di dada. “Gue bangga. Tapi pinggang gue nggak. Ini kursi apa papan penggilasan?” Sandra tertawa kecil. Dia merogoh tas kain yang dibawanya, mengeluarkan dua bungkus nasi Padang yang sempat mereka beli di stasiun sebelum naik. “Nih. Makan dulu. Lu butuh energi buat ngeluh sepanjang jalan,” kata Sandra, menyerahkan satu bungkus. Bisma menatap bungkusan kertas minyak itu. “Nasi Padang? Di kereta? Nggak bau?” “Semua orang di gerbong ini makan Pop Mie, Bis. Bau rendang lu bakal dianggap parfum surga. Udah makan aja. Gue tau lu laper.” Bisma menerima bungkusan itu. Dia membukanya hati-hati. Aroma kuah gulai dan rendang langsung menyeruak, membuat perutnya berbunyi nyaring sebagai tanda persetujuan. “Selamat makan, Istriku yang barbar,” gumam Bisma, mulai menyendok nasi dengan sendok plastik. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, diiringi suara roda kereta yang beradu dengan rel. Gajlug-gajlug. Gajlug-gajlug. Irama yang monoton namun menenangkan. “San,” panggil Bisma setelah menelan suapan terakhirnya. Dia membersihkan mulutnya dengan tisu, lalu menatap Sandra lekat-lekat. “Hm?” Sandra sedang sibuk melipat kertas pembungkus nasinya menjadi kecil dan rapi. “Kenapa lu yakin banget kita harus ke Jogja?” tanya Bisma. “Maksud gue... gue tau Papa punya aset di sana. Tapi apa lu yakin itu kuncinya? Bukan cuma... rumah kosong?” Sandra menghela napas. Dia memutar tubuhnya sedikit menghadap Bisma. “Gue nggak tau pasti, Bis. Tapi gue inget cerita Ibu gue,” kata Sandra pelan. Matanya menerawang, menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang gelap. “Ibu pernah bilang, tempat paling bahagia dia sama... ‘seseorang’... itu di Jogja. Di sebuah rumah yang ada pohon beringin putihnya.” Bisma tertegun. “Pohon beringin putih?” “Iya. Itu spesifik banget. Dan di berkas-berkas Ayah lu yang gue baca sekilas waktu di penthouse...” Sandra menunjuk ransel Bisma yang ditaruh di bagasi atas. “Ada satu sertifikat tanah di daerah Bantul. Deskripsinya ada kata ‘Beringin’. Gue rasa itu bukan kebetulan.” Bisma menyandarkan kepalanya ke kursi. Ayahnya. Ibunya Sandra. Kisah cinta yang terkubur puluhan tahun. “Jadi kita mau nyari jejak perselingkuhan Bokap gue?” tanya Bisma getir. “Bukan perselingkuhan, Bis. Tapi kebenaran,” koreksi Sandra. “Regina memalsukan sejarah. Dia bikin narasi kalau Ayah lu dan Ibu gue jahat. Kita perlu bukti kalau cinta mereka itu nyata, dan Regina-lah yang memisahkan mereka dengan cara kotor. Kalau kita nemu bukti itu... kita bisa hancurin legitimasi moral Regina.” “Dan mungkin... gue bisa berdamai sama memori Papa,” tambah Bisma lirih. Sandra mengangguk. Dia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Bisma di atas sandaran tangan. “Kita pasti nemu sesuatu. Gue yakin.” Bisma menatap tautan tangan mereka. Hangat. “Makasih, San,” bisik Bisma. “Buat apa?” “Buat nggak ninggalin gue. Padahal gue udah seret lu jadi buronan miskin.” Sandra tersenyum. “Sama-sama. Lagian, jadi buronan sama lu seru juga. Kayak film aksi, tapi budget kateringnya nasi bungkus.” Bisma tertawa.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Lampu kabin kereta sudah dipadamkan, menyisakan lampu tidur yang remang-remang. Sebagian besar penumpang sudah terlelap. Bisma masih terjaga. Matanya berat, tapi posisinya yang tidak nyaman membuatnya sulit tidur. Dia melirik Sandra. Sandra sudah tidur. Kepalanya terkulai ke arah jendela, membentur kaca setiap kali kereta berguncang. Duk. Sandra mengernyit dalam tidurnya, tapi tidak bangun. Duk. Bisma meringis melihatnya. ‘Pasti sakit tuh,’ batinnya. Dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati, Bisma mengulurkan tangannya. Dia menahan kepala Sandra sebelum membentur kaca lagi. Lalu, dengan lembut, dia menarik bahu Sandra. Menggeser tubuh wanita itu agar miring ke arahnya. Dia merebahkan kepala Sandra di bahunya. Sandra menggumam pelan, mencari posisi nyaman. Hidungnya menyusup ke leher Bisma. Tangannya secara tidak sadar memeluk lengan Bisma. Bisma menahan napas. Tubuhnya kaku sejenak, takut gerakan sekecil apapun akan membangunkan Sandra. Aroma sampo Sandra tercium jelas. Aroma yang menenangkan di tengah kekacauan ini. Bisma menghela napas panjang, rileks. Dia menyandarkan kepalanya di atas kepala Sandra. Tangannya yang bebas bergerak, menaikkan selimut tipis kereta (yang baunya agak apek tapi lumayanlah) untuk menutupi tubuh Sandra. “Tidur yang nyenyak, Keong,” bisik Bisma. Di tengah guncangan kereta ekonomi yang berisik, Bisma merasa... damai. Dia tidak punya penthouse, tidak punya mobil, tidak punya karir. Tapi dia punya beban di bahunya ini. Beban yang terasa sangat pas. Bisma memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia tertidur lelap.
“Mas... Mbak... Bangun. Sudah sampai Tugu.” Suara kondektur membangunkan mereka. Bisma tersentak bangun. Lehernya sakit, bahunya kram berat karena menahan beban kepala Sandra selama lima jam. Dia melihat Sandra masih tidur pulas di bahunya, air liur menetes sedikit di jaket Bisma. Bisma tersenyum. Dia menepuk pipi Sandra pelan. “San, bangun. Udah sampe. Jangan ngiler di jaket gue, ini limited edition walaupun udah kucel.” Sandra membuka mata, mengerjap bingung. Dia melihat wajah Bisma yang sangat dekat. Lalu dia sadar posisinya. “Hah?!” Sandra langsung duduk tegak, mengusap mulutnya. “Gue... gue ngiler?” “Banjir. Bisa buat ngisi waduk,” ledek Bisma sambil meregangkan bahunya yang kaku. “Aduh... bahu gue mati rasa. Tanggung jawab lu.” Wajah Sandra memerah. “Maaf... gue nggak sadar.” “Udah, ayo turun. Sebelum kita kebawa balik ke Jakarta.” Mereka turun dari kereta, disambut udara pagi Yogyakarta yang sejuk dan aroma gudeg yang samar-samar. Stasiun Tugu ramai oleh penumpang pagi. Bisma segera menarik topinya rendah-rendah, menaikkan masker. Paranoia-nya kembali. “Lewat mana? Jangan lewat pintu utama, banyak orang,” bisik Bisma. “Santai, Artis. Di sini orang nggak terlalu peduli,” kata Sandra, tapi dia tetap menuntun Bisma lewat pintu selatan yang lebih sepi. Mereka berdiri di pinggir jalan Pasar Kembang, dengan koper dan ransel. “Sekarang ke mana?” tanya Bisma. “Kita nggak bisa check-in hotel pake nama asli. KTP gue pasti ke- detect sama sistem Regina.” “Kita nggak ke hotel,” kata Sandra mantap. Dia mengeluarkan ponselnya, memesan taksi online. “Kita ke Bantul. Ke rumah Nenek gue.” Bisma melongo. “Nenek lu? Lu punya Nenek di sini?” “Punya. Mbah Uti. Dia satu-satunya keluarga gue yang tersisa. Dia nggak punya TV kabel, nggak punya internet, dan nggak peduli sama gosip artis. Tempat paling aman buat sembunyi.” “Tapi... gimana gue jelasin siapa gue?” tanya Bisma panik. “Halo Mbah, saya Bisma, suami cucu Mbah yang nikahnya kecelakaan?” “Bilang aja lu suami gue. Titik. Mbah Uti udah pikun dikit, dia nggak bakal nanya detail. Yang penting lu sopan, cium tangan, danabisin makanannya.” Mobil pesanan mereka datang. Mereka masuk. Perjalanan ke Bantul memakan waktu 45 menit. Pemandangan gedung berganti menjadi sawah dan rumah-rumah joglo. Bisma menatap keluar jendela. Perasaan asing menyergapnya. Dia, Bisma Adijaya, anak Jakarta Selatan yang hidupnya di mall dan club, sekarang sedang menuju desa di Bantul untuk tinggal di rumah nenek-nenek. “Gue ngerasa kayak di film petualangan,” gumam Bisma. “Petualangan Si Bolang,” sahut Sandra. Ponsel Bisma di saku celananya bergetar. Bisma mengira itu Doni. Dia mengambilnya dengan santai. Pesan masuk. Dari nomor tidak dikenal. Bisma membukanya. Darahnya membeku seketika. Wajahnya yang tadi mulai rileks, kini pucat pasi seperti kertas. “Bis? Kenapa?” tanya Sandra, melihat perubahan drastis di wajah suaminya. Bisma tidak menjawab. Tangannya gemetar saat dia menyodorkan ponsel itu ke Sandra. Di layar, terpampang sebuah foto. Foto itu diambil dari jarak agak jauh, tapi sangat jelas. Foto Bisma dan Sandra yang sedang tidur di dalam kereta tadi malam. Kepala Sandra di bahu Bisma. Kepala Bisma di atas kepala Sandra. Angle-nya diambil dari kursi di seberang lorong. Dan di bawah foto itu, ada pesan teks:
“Tidur yang nyenyak, Romeo & Juliet? Manis sekali. Sayang posisinya kurang nyaman ya? Nanti di sel penjara mungkin lebih sempit. Selamat datang di Jogja. Nikmati liburan singkat kalian sebelum Mama menjemput. PS: Jangan lupa oleh-oleh bakpianya. — Love, Mama.”
Sandra menutup mulutnya, menahan jeritan. “Dia... dia ada di kereta?” bisik Sandra horor. “Bukan dia,” kata Bisma, suaranya dingin dan tajam. Matanya menyisir jalanan di belakang mobil mereka lewat spion. “Tapi mata-matanya. Orang suruhannya.” Bisma menoleh ke belakang. Ada sebuah mobil SUV hitam yang berjarak dua mobil di belakang mereka. Kaca mobil itu gelap. “Kita diikuti,” kata Bisma. “Dari Jakarta?” “Mungkin dari stasiun. Atau bahkan dia satu gerbong sama kita semalem.” Bisma meremas ponselnya. “Regina nggak main-main. Dia bener-bener ngeburu kita.” “Terus gimana? Kalau kita ke rumah Mbah Uti, kita malah bahayain Mbah!” Sandra panik. “Nggak,” kata Bisma. Otaknya bekerja cepat. Mode survival-nya aktif. “Kalau kita berhenti atau putar balik, mereka bakal curiga. Kita harus cari cara buat ngilangin jejak sebelum sampe Bantul.” Bisma mencondongkan tubuh ke depan, menepuk bahu sopir taksi online. “Pak,” kata Bisma dengan nada mendesak. “Bisa tolong belok ke pasar yang rame? Istri saya... mual. Butuh toilet umum yang rame.” “Oh, bisa Mas. Di depan ada Pasar Giwangan,” jawab sopir. Bisma menatap Sandra. Dia menggenggam tangan istrinya erat-erat. “Siap lari lagi, San?” Sandra menatap mata Bisma. Ketakutan ada di sana, tapi keberanian Bisma menular padanya. “Siap, Komodo.”