Mendadak Kawin-Jejak Kenangan Di Kota Gudeg-Bab 45

23 January 2026

Bisma dan Sandra turun di depan Pasar Giwangan dengan napas memburu. Mereka baru saja berhasil mengecoh mobil SUV hitam yang mengikuti mereka dari stasiun. Bisma, dengan ide gilanya, meminta sopir taksi online untuk berhenti mendadak di depan pasar yang ramai, lalu mereka melompat keluar dan berbaur dengan kerumunan pedagang dan pembeli. "Gila... jantung gue mau copot," Sandra memegang dadanya, bersandar di tiang listrik yang penuh stiker kampanye. Bisma mengatur napasnya. Topi bucket-nya sudah miring, dan maskernya basah oleh keringat. "Setidaknya kita lolos. Sementara." "Terus sekarang gimana? Kita nggak bisa naik taksi online lagi. Mereka pasti ngelacak kita lewat aplikasi," kata Sandra panik. "Kita naik angkutan umum," putus Bisma. "Bus. Trans Jogja. Atau apalah yang lewat sini." Mereka berjalan menuju halte bus terdekat. Bisma menggenggam tangan Sandra erat, matanya waspada melihat setiap mobil hitam yang lewat. Dia bukan lagi Bisma Adijaya sang aktor. Dia adalah Bisma, suami yang sedang melindungi istrinya dari bahaya. Perjalanan dengan bus Trans Jogja menuju Bantul terasa panjang dan melelahkan. Bisma harus berdiri karena bus penuh, melindungi Sandra yang duduk terjepit di antara ibu-ibu pembawa sayur. "Maaf ya, Bu. Istri saya lagi hamil muda, jadi agak mual," kata Bisma sopan saat Sandra terlihat pucat karena guncangan bus. Ibu-ibu di sebelahnya tersenyum ramah. "Oh, pantesan pucet. Sabar ya, Mas. Istri hamil emang harus dijaga." Sandra menatap Bisma. Istri saya. Kata-kata itu meluncur begitu alami dari mulut Bisma sekarang. Tidak ada keraguan, tidak ada gengsi. Akhirnya, mereka sampai di sebuah desa kecil di Bantul. Rumah Nenek Sandra, Mbah Uti, adalah sebuah rumah joglo tua yang asri, dikelilingi pohon-pohon mangga dan rambutan. Halamannya luas namun tidak terawat, dengan rumput liar yang mulai meninggi. "Mbah!" panggil Sandra saat mereka memasuki halaman. Seorang wanita tua dengan kebaya lusuh dan rambut putih yang disanggul keluar dari pintu depan. Dia menyipitkan mata, lalu wajahnya berbinar. "Nduk Sandra! Astaga, Cucu Mbah pulang!" Mbah Uti memeluk Sandra erat-erat. "Kok kurusan? Katanya jadi artis di Jakarta?" "Penulis, Mbah. Bukan artis," koreksi Sandra sambil tertawa kecil. Mbah Uti melepaskan pelukannya, lalu menatap Bisma yang berdiri canggung di belakang Sandra dengan ransel besar. "Lha, ini siapa? Ganteng banget. Artis sinetron ya?" tanya Mbah Uti. Bisma tersenyum kikuk. Dia melepas topinya, menyalami tangan Mbah Uti dan menciumnya dengan takzim. "Saya Bisma, Mbah. Suaminya Sandra." Mata Mbah Uti membelalak. Dia menatap Sandra, lalu Bisma, lalu Sandra lagi. "Suami? Kapan nikahnya? Kok Mbah nggak diundang?" "Nikah siri dulu, Mbah. Nanti resepsinya nyusul kalau udah ada rejeki," jawab Sandra cepat, mengarang alasan. "Kami lagi... lagi dikejar deadline nulis, jadi butuh tempat tenang. Boleh nginep di sini kan, Mbah?" "Oalah, boleh banget! Rumah Mbah kan rumah kalian juga. Masuk, masuk! Mbah masakin lodeh." Bisma dan Sandra masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Lantainya tegel dingin, dindingnya penuh foto-foto keluarga lama. Bisma merasa... damai. "Ini rumah masa kecil lu?" tanya Bisma, meletakkan ranselnya di kamar tamu yang berdebu. "Iya. Dulu gue sering main di sini pas liburan sekolah," jawab Sandra, membuka jendela kayu agar udara masuk. "Sederhana banget, ya? Beda sama penthouse lu." "Lebih nyaman ini," kata Bisma jujur. "Di sini nggak ada kamera CCTV yang ngintip gue tidur." Sore harinya, setelah makan lodeh buatan Mbah Uti yang pedas namun nikmat, Bisma dan Sandra duduk di lincak (bangku bambu) di teras depan. Mereka menikmati teh manis hangat sambil melihat matahari terbenam di balik sawah. "San," kata Bisma. "Hm?" "Kita harus mulai nyari rumah itu besok. Rumah Papa." "Iya. Tapi kita nggak punya petunjuk alamatnya. Cuma 'Rumah dengan pohon beringin putih di Bantul'," kata Sandra. "Bantul itu luas, Bis." "Gue inget Papa pernah bilang, rumah itu deket sama makam raja-raja," kata Bisma, mencoba menggali ingatannya. "Imogiri?" "Makam Raja-Raja Imogiri?" Sandra berpikir. "Itu deket sini. Besok kita bisa sewa motor tetangga buat keliling." "Oke. Kita mulai besok." Malam itu, mereka tidur di satu kamar, di atas kasur kapuk yang keras namun hangat. Tidak ada AC, hanya suara jangkrik dan angin malam. Bisma memeluk Sandra dari belakang. "San," bisik Bisma. "Apa?" "Makasih udah bawa gue ke sini. Gue baru sadar, gue nggak pernah ngerasain punya Nenek yang kayak gini. Nenek gue dari pihak Mama... dia lebih galak dari Mama." Sandra tersenyum dalam gelap. Dia memegang tangan Bisma yang melingkar di perutnya. "Sama-sama, Komodo. Sekarang tidur. Besok kita jadi detektif." Keesokan paginya, petualangan mereka dimulai. Mereka menyewa motor bebek tua milik tetangga Mbah Uti. Bisma yang menyetir, Sandra membonceng sambil memegang peta manual (karena mereka takut menyalakan GPS di ponsel). Mereka menyusuri jalanan desa di sekitar Imogiri. Bertanya pada warga tentang "rumah dengan pohon beringin putih". Banyak yang menggeleng. "Pohon beringin banyak, Mas. Tapi yang putih? Wah, jarang," kata seorang pedagang angkringan. Mereka hampir putus asa. Matahari sudah tinggi, panas menyengat. Saat mereka istirahat di pinggir jalan, seorang kakek tua yang sedang mencari rumput mendekat. "Mas, Mbak, nyari apa to?" tanya kakek itu dalam bahasa Jawa halus. "Nyari rumah, Mbah. Rumah tua yang ada pohon beringin putihnya," jawab Sandra sopan. Kakek itu terdiam sejenak, menatap Bisma lekat-lekat. "Mirip..." gumam kakek itu. "Mirip siapa, Mbah?" tanya Bisma. "Mirip Pak Hermawan," kata kakek itu. Jantung Bisma berhenti berdetak. "Mbah kenal Pak Hermawan?" tanya Bisma cepat. "Kenal. Dulu saya yang ngerawat kebunnya. Rumahnya ada di atas bukit sana, di ujung jalan setapak itu. Tapi sudah lama kosong. Angker katanya." Bisma dan Sandra saling berpandangan. Mereka menemukannya. "Terima kasih, Mbah!" seru Bisma. Dia memberikan sisa uang recehnya pada kakek itu, lalu memacu motornya menuju bukit yang ditunjuk. Jalannya menanjak, berbatu, dan sempit. Motor bebek tua itu meraung-raung keberatan beban. "Ayo, Si Merah! Jangan mogok sekarang!" dukung Sandra, menepuk-nepuk motor. Akhirnya, mereka sampai di sebuah gerbang besi tua yang berkarat, tertutup tanaman merambat. Di balik gerbang itu, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang anggun namun terbengkalai. Cat putihnya mengelupas, jendelanya tertutup debu. Dan di halaman depannya... berdiri sebuah pohon beringin besar dengan batang berwarna keputihan yang unik. "Ini dia," bisik Bisma. "Rumah Papa." Mereka turun dari motor. Bisma mencoba membuka gembok gerbang. Terkunci rapat. "Gimana cara masuknya?" tanya Sandra. "Panjat," jawab Bisma. Mereka memanjat pagar dengan susah payah. Bisma membantu Sandra turun. Mereka berjalan menuju pintu depan. Terkunci. Bisma mencoba mendobraknya, tapi kayunya terlalu kuat. "Lewat jendela," saran Sandra. Mereka mengitari rumah, mencari jendela yang tidak terkunci. Akhirnya, mereka menemukan satu jendela di belakang rumah yang engselnya sudah rusak. Bisma mencungkilnya dengan obeng yang dia pinjam dari motor. Terbuka. Mereka memanjat masuk. Di dalam, udara terasa pengap dan berdebu. Cahaya matahari masuk lewat celah-celah jendela, menerangi perabotan yang ditutupi kain putih. "Papa..." panggil Bisma pelan. Suaranya menggema di ruangan kosong itu. Mereka menjelajahi rumah itu. Ruang tamu, ruang makan, dapur. Semuanya seperti ditinggalkan begitu saja bertahun-tahun yang lalu. Lalu, mereka menemukan sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat di lantai dua. Bisma memutar gagangnya. Tidak terkunci. Dia membukanya. Itu adalah sebuah studio lukis. Di tengah ruangan, berdiri sebuah kanvas besar yang tertutup kain. Di sekelilingnya, berserakan cat minyak yang sudah kering, kuas-kuas tua, dan sketsa-sketsa di lantai. Bisma berjalan mendekati kanvas itu. Jantungnya berdegup kencang. "Ini lukisannya," bisik Bisma. "Lukisan yang nggak pernah selesai." Dia menarik kain penutupnya. Debu beterbangan. Dan di balik kain itu... terpampang sebuah lukisan setengah jadi. Lukisan seorang wanita. Wanita itu sedang duduk di ayunan, di bawah pohon beringin putih, tersenyum ke arah pelukisnya. Wanita itu... adalah Arini. Ibu Sandra. Wajahnya dilukis dengan detail yang luar biasa, penuh cinta. Matanya hidup. Senyumnya hangat. Di sudut kanan bawah kanvas, ada tulisan kecil: “Untuk cintaku yang tak sampai. H & A.” Sandra menutup mulutnya, menangis. "Itu Ibu..." isak Sandra. "Itu Ibu gue, Bis." Bisma menatap lukisan itu. Dia melihat cinta ayahnya yang tulus tertuang di setiap goresan kuas. Cinta yang tidak bisa dia berikan pada Regina. Cinta yang dia sembunyikan di rumah rahasia ini. "Maafin Papa, Ma," bisik Bisma. "Papa nggak jahat. Papa cuma... manusia yang jatuh cinta." Tiba-tiba, Bisma melihat sesuatu di meja kecil di samping kanvas. Sebuah buku catatan kulit tebal. Dia mengambilnya. Buku harian. Bisma membukanya. Halaman pertama: “Jika Regina menemukan ini, semuanya akan hancur. Tapi aku harus menulisnya. Aku harus meninggalkan jejak kebenaran untuk putraku, Bisma. Agar dia tahu, ayahnya bukan robot perusahaan.” Bisma membalik halaman demi halaman. Isinya adalah curahan hati Hermawan. Tentang pernikahannya yang tidak bahagia. Tentang tekanan bisnis. Tentang pertemuannya kembali dengan Arini. Dan... tentang sebuah rahasia besar. Di halaman terakhir, tertulis: “Regina melakukan sesuatu yang mengerikan. Dia memalsukan tanda tangan Gunawan (suami Arini) di dokumen penggelapan dana. Dia menjebak Gunawan agar terlihat seperti koruptor, untuk menyingkirkan Arini dari hidupku. Aku menemukan buktinya. Aku menyimpannya di brankas bank di Singapura. Kuncinya ada di kalung liontin yang aku berikan pada Bisma saat ulang tahun ke-17.” Bisma meraba lehernya. Dia tidak memakai kalung itu. Kalung itu... ada di kotak perhiasan di penthouse Jakarta! "San!" seru Bisma. "Kita harus balik ke Jakarta! Buktinya ada di penthouse!" "Apa? Bukti apa?" "Kalung gue! Di dalemnya ada kunci brankas yang nyimpen bukti kejahatan Regina!" Tapi sebelum mereka bisa bergerak, terdengar suara sirine polisi dari luar gerbang. "WIU WIU WIU!" Bisma dan Sandra berlari ke jendela. Di luar, tiga mobil polisi dan sebuah mobil sedan hitam mewah sudah mengepung rumah itu. Dari mobil sedan hitam, keluar seorang pria dengan jas rapi. Raka. Dan di sampingnya... Regina. Regina menatap ke arah jendela lantai dua, tempat Bisma dan Sandra mengintip. Dia tersenyum dingin, lalu mengangkat ponselnya ke telinga. Ponsel Bisma berdering. "Halo, Ma," jawab Bisma, gemetar. "Turun, Bisma. Permainan selesai. Mama sudah lapor polisi kalau ada penyusup di properti pribadi Mama." Regina telah membeli rumah ini secara diam-diam seminggu yang lalu, setelah melacak jejak suaminya. Dia menjebak mereka. "Mama nggak bisa nangkep kita! Kita punya bukti!" "Bukti apa? Lukisan tua? Buku harian orang mati?" Regina tertawa. "Mama yang punya sertifikat rumah ini sekarang. Kalian masuk tanpa izin. Itu pidana, Sayang." "Dan Sandra... dia akan membusuk di penjara karena membawa kabur anak saya dan masuk tanpa izin." Bisma menatap Sandra. Mereka terkepung. "Kita nggak bisa nyerah, San," kata Bisma. "Kita harus nyelamatin buku harian ini." Bisma memasukkan buku harian itu ke dalam bajunya. "Kita lompat lewat belakang," kata Bisma. "Ada hutan di belakang bukit. Kita lari." "Lompat?! Itu tinggi, Bis!" "Pilih mana? Penjara atau patah kaki?" Sandra menatap mata Bisma. "Patah kaki." Mereka berlari ke jendela belakang, membukanya, dan melompat ke atap seng di bawahnya, lalu terjun ke semak-semak, menghilang ke dalam hutan jati, sementara polisi mendobrak pintu depan. Pelarian mereka belum berakhir. Justru semakin gila.