Suara ranting patah dan napas yang memburu memecah keheningan hutan bambu di pinggiran Bantul. Langit sore yang mendung membuat suasana di bawah rimbunnya pohon bambu terasa seperti senja yang prematur. Bisma dan Sandra berlari tanpa menoleh ke belakang. Kaki mereka yang hanya beralaskan sandal jepit (dan sepatu kets Sandra yang sudah kotor tanah) terbenam di lumpur basah sisa hujan. Suara sirine polisi dari arah rumah tua itu perlahan menjauh, namun rasa takut masih mengejar mereka sedekat bayangan. “Bis... berenti... gue nggak kuat...” Sandra terengah-engah, memegangi perut sampingnya yang kram. Kakinya tersandung akar pohon, membuatnya nyaris tersungkur kalau saja tangan Bisma tidak dengan sigap menahannya. Bisma menarik Sandra ke balik rumpun bambu yang lebat, bersembunyi di cekungan tanah yang agak tersembunyi. Dia mendekap mulut Sandra dan mulutnya sendiri, menajamkan telinga. Hening. Hanya suara gemericik air sungai di kejauhan dan suara jangkrik. Tidak ada derap langkah pengejar. “Mereka nggak ngejar ke sini,” bisik Bisma, melepaskan pelukannya. Dia menyandarkan punggungnya ke tanah yang lembap, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat membanjiri wajahnya yang kotor, melunturkan sisa-sisa kegantengan aktor papan atasnya. “Kita... kita buronan, Bis,” kata Sandra, suaranya bergetar antara tawa histeris dan tangis. Dia menatap lumpur di kakinya. “Gue penulis best seller, lu aktor termahal, dan sekarang kita ngumpet di kebon orang kayak maling ayam.” Bisma tertawa kecil, tawa yang kering. Dia mengangkat kaleng biskuit Khong Guan berkarat yang sejak tadi dia dekap erat di dadanya seperti nyawa cadangan. “Tapi kita maling yang sukses, San. Kita dapet ini.” Sandra menatap kaleng itu. “Lu yakin isinya bukan rengginang apek?” “Kalau ini rengginang, gue bakal makan sambil nangis,” canda Bisma. Wajahnya kemudian berubah serius. “Tapi Mbok Nah bilang ini kunci jawabannya. Ini peninggalan Papa.” Bisma duduk tegak. Dia membersihkan tanah dari tutup kaleng itu. Sandra bergeser mendekat, bahu mereka bersentuhan. Di tengah hutan antah berantah ini, kaleng berkarat itu adalah satu-satunya harapan mereka untuk membalikkan keadaan. “Buka, Bis,” bisik Sandra. Bisma menarik tutup kaleng itu. Krek. Suara karat beradu. Terbuka. Aroma kertas tua menguar. Di dalamnya, tersusun rapi tumpukan amplop surat yang sudah menguning, diikat dengan tali rafia merah, dan sebuah buku harian bersampul kulit hitam yang kulitnya sudah mulai mengelupas. Bisma mengambil buku harian itu. Tangannya gemetar. “Ini tulisan Papa,” kata Bisma pelan, mengusap sampulnya. Dia membukanya. Halaman pertama. ‘Untuk Putraku, Bisma. Jika kamu membaca ini, artinya Papa sudah tidak ada. Dan artinya, kamu sudah menemukan jalanmu ke rumah ini—rumah yang Papa bangun dari sisa-sisa mimpi yang Papa hancurkan sendiri.’ Bisma menelan ludah. Dia membaca dengan suara pelan, Sandra ikut membaca dari sampingnya. Halaman demi halaman buku harian itu menceritakan kisah Hermawan Adijaya. Bukan sebagai pengusaha sukses yang dingin, tapi sebagai pria yang terjebak. Hermawan menceritakan bagaimana dia dipaksa menikahi Regina demi menyelamatkan perusahaan kakek Bisma yang hampir bangkrut. Dia menceritakan bagaimana dia harus meninggalkan Arini, wanita yang dia cintai, dengan janji palsu bahwa dia akan kembali—janji yang tidak pernah bisa dia tepati. ‘Papa pengecut, Bis. Papa memilih tugas daripada cinta. Dan itu adalah dosa terbesar Papa.’ Tapi kejutan sesungguhnya ada di bagian tengah buku itu. Tanggalnya sesuai dengan lima tahun lalu. Saat Ayah Sandra dipecat. ‘Hari ini Gunawan datang padaku. Dia membawa bukti. Bukti bahwa Regina telah menggelapkan dana perusahaan untuk mendanai gaya hidupnya dan menyuap pejabat agar memuluskan proyek ilegalnya. Gunawan, orang yang paling jujur di perusahaan ini, memberanikan diri melaporkan istri bosnya sendiri.’ Mata Sandra membelalak. Dia menutup mulutnya. “Ayah gue... Ayah gue ngelaporin Regina?” Bisma melanjutkan membaca dengan napas tertahan. ‘Aku bodoh. Aku mengonfrontasi Regina malam itu juga. Aku mengancam akan menceraikannya dan memenjarakannya. Tapi Regina... dia tersenyum. Dia bilang, jika aku melakukannya, dia akan menghancurkanmu, Bisma. Dia mengancam akan membawa Bisma pergi dan menghancurkan karir Bisma yang baru dibangun.’ ‘Demi melindungimu, Papa diam. Tapi Regina tidak diam. Dia memutarbalikkan fakta. Dia menggunakan bukti yang dibawa Gunawan, memalsukan tanda tangannya, dan menuduh Gunawan-lah yang korupsi. Dia menggunakan kekuasaannya untuk memecat Gunawan dan memastikan tidak ada yang percaya padanya.’ ‘Gunawan hancur karena Papa tidak berani melawan Regina. Arini menderita karena Papa. Dan sekarang, Papa hidup dengan darah di tangan Papa. Papa membunuh sahabat Papa sendiri secara perlahan.’ Bisma menutup buku itu dengan kasar. Napasnya memburu kencang. Air mata kemarahan dan kekecewaan jatuh membasahi celana jeans-nya. “Bangsat...” desis Bisma. “Dia... dia ngorbanin Ayah lu... cuma buat ngelindungin gue?” Sandra terisak. Dia memeluk lututnya, menangis sejadi-jadinya. Selama ini dia mengira ayahnya lemah. Ternyata ayahnya adalah pahlawan yang dikhianati oleh sistem. Ayahnya mencoba melakukan hal yang benar, dan dia dihancurkan karenanya. “Ayah gue nggak salah, Bis... Ayah gue bener...” isak Sandra. “Ayah lu orang baik, San. Bokap gue yang pengecut,” kata Bisma, suaranya pecah. “Bokap gue tau semuanya. Dia tau Regina ngefitnah Ayah lu. Tapi dia diem aja. Dia biarin Ayah lu mati kena serangan jantung... demi gue? Demi karir gue?” Bisma merasa jijik pada dirinya sendiri. Karir yang dia banggakan, kemewahan yang dia nikmati... semuanya dibangun di atas mayat Ayah Sandra. “Gue benci dia,” bisik Bisma. “Gue benci Bokap gue. Gue benci Nyokap gue. Mereka berdua monster.” Sandra menghapus air matanya. Dia melihat Bisma yang mulai hancur. Dia tahu, ini bukan saatnya menyalahkan orang mati. Sandra memegang wajah Bisma, memaksanya menatap matanya. “Bis, dengerin gue. Bokap lu emang salah karena diem. Tapi dia ninggalin ini,” Sandra menunjuk kaleng itu. “Dia ninggalin bukti. Liat itu.” Sandra mengambil tumpukan amplop yang diikat tali rafia. Dia membukanya. Di dalamnya ada salinan rekening koran asli. Bukti transfer dari rekening perusahaan ke rekening pribadi Regina. Dan surat pernyataan asli Gunawan yang belum sempat dimusnahkan Regina—disimpan oleh Hermawan sebagai jaminan dosa. “Ini bukti, Bis!” kata Sandra, tangannya gemetar memegang kertas-kertas itu. “Ini bukti otentik kalau Regina yang korupsi. Kalau Regina yang memfitnah. Bokap lu nyimpen ini buat kita. Buat saat ini.” Bisma menatap kertas-kertas itu. Bukti kejahatan ibunya. “Kita bisa penjarain dia, San,” kata Bisma dingin. “Dengan ini... kita bisa bikin dia busuk di penjara seumur hidup.” “Dan kita bisa bersihin nama Ayah gue,” tambah Sandra. Mereka saling pandang. Di tengah hutan bambu yang gelap, dengan lumpur di kaki dan keringat di badan, mereka memegang kunci kehancuran Ratu Jakarta. Tapi tiba-tiba, suara gonggongan anjing terdengar dari arah sungai. “Guk! Guk! Guk!” Bisma menoleh. “Anjing pelacak?” “Polisi?” tanya Sandra panik. “Atau Raka. Raka suka pake cara kotor,” kata Bisma. Dia segera memasukkan kembali semua bukti ke dalam kaleng, menutupnya rapat-rapat, lalu memasukkannya ke dalam ranselnya. “Kita harus gerak. Sekarang,” perintah Bisma. “Ke mana? Kita nggak bisa balik ke jalan utama.” “Sungai,” kata Bisma, menunjuk ke arah suara air. “Kita ikutin aliran sungai. Biasanya sungai di desa ini tembus ke jalan raya di kecamatan sebelah. Di sana kita bisa cari bus atau truk.” “Nyebrang sungai?” Sandra menatap sneakers-nya yang sudah hancur. “Iya. Kecuali lu mau nunggu Raka dateng dan ngambil bukti ini,” kata Bisma, mengulurkan tangannya. “Ayo, Nyonya Komodo. Petualangan belum selesai.” Sandra menyambut tangan itu. Mereka turun ke bibir sungai yang berbatu. Airnya dingin, setinggi lutut. Arusnya lumayan deras karena hujan semalam. “Pegang tangan gue kenceng-kenceng. Batunya licin,” instruksi Bisma. Mereka mulai menyeberang. Air dingin menusuk tulang. Di tengah sungai, Sandra terpeleset. “Ah!” “San!” Bisma menangkap pinggang Sandra sebelum istrinya itu tercebur. Dia menarik Sandra menempel ke badannya. Wajah mereka berdekatan. Basah, kotor, ketakutan, tapi... hidup. “Lu berat juga ya kalau basah,” canda Bisma, mencoba mengurangi ketegangan, meski matanya waspada melihat ke tepian. “Diem lu. Fokus jalan,” balas Sandra, tapi dia mengeratkan pegangannya di bahu Bisma. Mereka berhasil menyeberang, naik ke tepian seberang, dan masuk kembali ke rimbunnya perkebunan warga. Saat mereka beristirahat sebentar di balik pohon pisang, Bisma mengeluarkan ponselnya yang dia matikan sejak tadi. Dia menyalakannya sebentar untuk cek posisi. Sinyal masuk. Dan sebuah notifikasi berita online muncul di layar kuncinya. BREAKING NEWS: Aktor Bisma Adijaya Dilaporkan Hilang. Regina Adijaya Gelar Konferensi Pers: “Anak Saya Diculik dan Dicuci Otaknya oleh Penulis Gila Itu.” Bisma tertawa sinis membaca judul itu. “Dicuci otak,” gumam Bisma. Dia memperlihatkan layar itu ke Sandra. “Dia pinter,” kata Sandra. “Dia bikin narasi kalau lu korban, dan gue penjahatnya. Biar kalau polisi nemuin kita, mereka bakal 'nyelamatin' lu dan nangkep gue.” “Biarkan dia ngomong,” kata Bisma, matanya berkilat tajam. “Semakin tinggi dia terbang dengan kebohongannya... semakin sakit jatuhnya nanti.” Bisma menepuk ranselnya yang berisi bukti. “Kita balik ke Jakarta, San. Kita bawa 'oleh-oleh' ini buat Mama. Kita kasih dia ending yang nggak akan pernah dia lupa.” “Naik apa?” tanya Sandra. “Kita nggak punya duit lagi. Sisa uang iklan obat nyamuk udah abis buat sewa motor dan makan.” Bisma merogoh saku celananya yang basah. Dia mengeluarkan dompetnya. Kosong. Kartu kredit masih diblokir. Dia menatap Sandra. Lalu dia menatap jam tangan Rolex di pergelangan tangannya. Oh, tunggu. Dia sudah menjual jam tangannya di Jakarta (Bab 34). “Kita nggak punya apa-apa lagi buat dijual,” kata Bisma. Sandra tersenyum miring. Dia membuka jaket denimnya. Di lehernya, tergantung sebuah kalung emas putih dengan liontin kecil. Kalung pemberian ibunya sebelum meninggal. “Gue masih punya ini,” kata Sandra, memegang kalung itu. “Ini cukup buat tiket bus ekonomi ke Jakarta.” “San... itu punya Nyokap lu...” “Ibu gue pasti setuju kalung ini dipake buat ngehancurin orang yang udah bikin hidup dia menderita,” kata Sandra mantap. Dia melepaskan kalung itu. “Ayo cari toko emas di kecamatan. Kita pulang. Kita perang.” Bisma menatap Sandra dengan kekaguman yang membuncah. Di matanya, Sandra yang kotor, basah, dan bau sungai ini terlihat seribu kali lebih berharga daripada semua wanita berlian di pesta ibunya. “Ayo,” kata Bisma. “Kita pulang.” Mereka berjalan menembus kebun pisang, dua buronan yang tidak punya apa-apa selain baju di badan dan sebuah kaleng biskuit berkarat yang berisi bom waktu.
Mendadak Kawin-Surat Dari Kubur-Bab 46
Penulis
Miss_Eunoia
23 January 2026