Mendadak Kawin-Pangeran Kodok Di Bak Truk-Bab 47

23 January 2026

Jalanan aspal di pinggiran Kabupaten Bantul terasa panas menyengat di telapak kaki Bisma yang hanya beralaskan sandal jepit tipis. Kaus oversized abu-abunya yang dulu ia banggakan sebagai simbol kesederhanaan, kini basah kuyup, berlumpur, dan sobek di bagian bahu akibat tersangkut ranting di hutan bambu tadi. Di sampingnya, Sandra berjalan tertatih. Sepatu kets putihnya sudah berubah warna menjadi cokelat tanah. Wajahnya cemong, rambutnya lepek, tapi matanya menyala dengan tekad yang membuat Bisma merinding kagum. Mereka baru saja keluar dari area perkebunan warga, menjauh sejauh mungkin dari "Rumah Beringin" yang kini dikuasai polisi dan anak buah Regina. “Kita harus ke mana, Bis?” tanya Sandra, suaranya serak karena haus. “Kita nggak punya HP (dimatikan biar nggak dilacak), nggak punya duit cash, dan tampang kita kayak gembel yang abis digebukin warga.” Bisma menoleh, menatap istrinya. Dia ingin menangis melihat keadaan Sandra. Putri dari Gunawan Sutiyoso, penulis berbakat, kini harus lari-larian di sawah karena menikah dengannya. “Kita pulang ke Jakarta,” kata Bisma mantap, sambil menepuk ransel di dadanya yang berisi kaleng biskuit berharga itu. “Kita bawa bukti ini ke Clara. Kita jatuhkan bom nuklir ini di depan muka Mama.” “Pake apa? Jalan kaki?” “Nebeng,” jawab Bisma. “Nebeng? Siapa yang mau ngasih tumpangan ke dua orang mencurigakan kayak kita?” “Liat muka gue,” kata Bisma, mencoba membersihkan lumpur di pipinya. “Gue Bisma Adijaya. Muka gue ini tiket VIP.” “Muka lu sekarang kayak maling ayam yang gagal kabur, Bis,” cibir Sandra. Mereka sampai di pinggir jalan raya lintas provinsi. Truk-truk besar dan bus malam mulai berlalu-lalang. Bisma mencoba menyetop mobil pribadi. Sebuah Avanza melambat, sopirnya melihat penampilan Bisma yang berantakan, lalu tancap gas lagi karena takut. “Sialan,” umpat Bisma. “Dikira begal kali gue.” “Coba truk,” saran Sandra. “Sopir truk biasanya lebih solid.” Sebuah truk ekspedisi berwarna kuning dengan bak terbuka (truk cabai) melaju pelan dari arah tikungan. Di kaca depannya tertulis stiker besar: "PULANG MALU TAK PULANG RINDU". Bisma melambaikan tangannya tinggi-tinggi. “PAK! KIRI PAK! NEBENG!” Truk itu berhenti. Sopirnya, seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan handuk melingkar di leher, melongok keluar jendela. “Kenapa, Mas? Mogok?” “Pak, tolong kami,” kata Bisma, memasang wajah memelas terbaiknya (kemampuan akting level FFI dikeluarkan semua). “Kami... kami habis kecopetan pas touring. Dompet, HP, semua ilang. Istri saya lagi hamil muda, Pak. Kami harus balik ke Jakarta.” Sopir itu menatap Sandra. Melihat wajah pucat dan perut Sandra yang memang sedikit buncit (hamil 3 bulan). Rasa iba muncul di wajahnya. “Waduh, kasian amat. Ya udah, naik. Tapi di depan cuma muat satu orang. Satunya harus di bak belakang sama karung cabai.” Bisma menatap Sandra. “Lu di depan, San. Biar kena AC.” “Nggak,” tolak Sandra. “Gue nggak mau pisah sama lu. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Kita di belakang aja berdua.” “San, di belakang panas, bau cabai...” “Biarin. Asal sama lu,” kata Sandra keras kepala. Akhirnya, Bisma dan Sandra memanjat naik ke atas tumpukan karung cabai di bak terbuka truk itu. Mereka mencari posisi yang nyaman di antara karung-karung pedas itu, bersandar pada dinding bak truk. Truk mulai melaju. Angin sore menerpa wajah mereka kencang. “Gila,” teriak Bisma melawan suara angin. “Gue naik truk cabai! Kalau fans gue liat, karir gue tamat dua kali!” Sandra tertawa lepas. Rambutnya berkibar-kibar. “Nikmatin aja, Komodo! Ini namanya road trip romantis!” Bisma menatap Sandra yang tertawa di tengah kesusahan. Hatinya menghangat. Dia merangkul bahu Sandra, melindunginya dari angin. “Maafin gue, San,” bisik Bisma di telinga Sandra. “Buat apa lagi?” “Buat ini. Buat semuanya. Harusnya gue bawa lu naik First Class, bukan naik truk cabai.” “Gue lebih suka ini,” jawab Sandra jujur. Dia menyandarkan kepalanya di dada Bisma. “Di First Class, kita jauh-jauhan. Di sini, gue bisa denger detak jantung lu.” Mereka duduk berpelukan di atas truk yang melaju kencang di Jalur Pantura. Langit berubah menjadi oranye, lalu ungu, lalu gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan. Di bawah hamparan langit malam, di atas tumpukan cabai rawit, Bisma membuka sedikit ranselnya. Dia meraba buku harian ayahnya. “Pa,” batin Bisma. “Bisma lagi bawa pulang cinta sejati Papa. Bisma nggak akan biarin sejarah terulang.”


Tengah malam, truk berhenti di sebuah Rest Area di daerah Cirebon. “Mas, Mbak, saya mau makan dulu. Kalian mau turun?” tanya Pak Sopir. “Boleh, Pak. Kami juga mau ke toilet,” kata Bisma. Mereka turun. Badan mereka kaku semua. Baunya... astaga, mereka berbau seperti sambal berjalan. Bisma merogoh saku celananya. Masih ada uang receh sisa kembalian beli bensin motor kemarin. Cukup untuk beli dua botol air mineral dan roti. Mereka duduk di bangku beton depan minimarket, makan roti tawar dengan lahap seolah itu steak Wagyu. Di dalam minimarket, ada sebuah TV yang menyala. Menampilkan berita tengah malam. Bisma tidak sengaja menoleh. Dan dia tersedak rotinya. Di layar TV, wajah Regina terpampang besar. Dia sedang melakukan konferensi pers. Wajahnya terlihat sedih, air mata buaya mengalir di pipinya. HEADLINE: REGINA ADIJAYA MENANGIS, PUTRANYA DICULIK. “...Anak saya, Bisma, sedang tidak stabil jiwanya,” ucap Regina di TV, suaranya bergetar dramatis. “Dia dipengaruhi oleh obat-obatan terlarang yang diberikan oleh wanita itu... Sandra Gunawan. Wanita itu menculik anak saya, membawanya lari, dan memutus komunikasi dengan keluarga.” Orang-orang di Rest Area mulai menonton. “Saya sudah melaporkan Sandra Gunawan ke polisi atas tuduhan penculikan dan penyalahgunaan narkoba. Saya mohon... siapapun yang melihat Bisma, tolong hubungi polisi. Dia butuh pertolongan medis. Dia berbahaya bagi dirinya sendiri.” Sandra menutup mulutnya. Roti di tangannya jatuh. “Dia... dia bilang lu gila?” bisik Sandra horor. “Dan dia nuduh gue... narkoba?” Bisma menatap layar TV dengan tatapan dingin yang mematikan. Regina tidak hanya ingin memisahkan mereka. Regina ingin memusnahkan Sandra. Tuduhan narkoba itu serius. Jika Sandra tertangkap, dia bisa dipenjara bertahun-tahun tanpa pengadilan yang adil karena "bukti" bisa direkayasa Regina. Dan dengan mencap Bisma "tidak stabil", Regina secara hukum bisa mengambil alih perwalian Bisma. Bisma akan dikurung di rehabilitasi, dibungkam selamanya. “Dia main Opsi Nuklir,” desis Bisma. Beberapa orang di Rest Area mulai berbisik-bisik, menunjuk ke arah Bisma. Meskipun Bisma kotor dan bau, wajahnya masih bisa dikenali. “Eh, itu bukannya Bisma?” “Iya, mirip! Itu ceweknya juga mirip buronan di TV!” Bisma sadar mereka dalam bahaya. “San, lari,” bisik Bisma. “Apa?” “Jalan pelan-pelan ke arah truk. Jangan lari dulu. Pas udah deket, baru lari.” Mereka berdiri. Berjalan santai menuju truk Pak Sopir yang masih parkir. Tapi seseorang berteriak. “WOY! ITU BISMA ADIJAYA! YANG KABUR ITU!” Kepanikan pecah. Beberapa orang mulai mengeluarkan HP, merekam. Ada yang mencoba mendekat. “LARI!” teriak Bisma. Dia menarik tangan Sandra. Mereka berlari kencang menuju truk. “PAK! PAK SOPIR! JALAN PAK! ADA BEGAL!” bohong Bisma sambil menggedor pintu truk. Pak Sopir yang baru selesai makan kaget, langsung loncat ke kursi kemudi. “Mana begal?!” “Itu di belakang! Rame! Jalan Pak! Buruan!” Bisma mengangkat Sandra naik ke bak truk, lalu dia melompat naik tepat saat truk itu mulai berjalan. Orang-orang mengejar sampai ke pintu keluar Rest Area, tapi truk cabai itu sudah melaju kencang masuk ke jalan tol. Di atas bak truk, Sandra gemetar hebat. Dia memeluk lututnya, menangis histeris. “Gue dituduh narkoba, Bis... Gue bakal dipenjara... Anak gue bakal lahir di penjara...” Bisma merangkak mendekat, mendekap Sandra erat-erat. “Nggak akan. Gue nggak akan biarin itu terjadi.” “Tapi semua orang percaya Regina! Liat berita tadi! Kita buronan nasional sekarang!” Bisma menangkup wajah Sandra. Dia menatap mata istrinya yang penuh ketakutan. “Dengerin gue. Regina bikin kesalahan fatal.” “Kesalahan apa?! Dia menang!” “Dia nuduh gue gila. Dia nuduh lu narkoba. Itu tuduhan yang butuh bukti medis,” kata Bisma, otaknya berputar cepat menyusun strategi balasan. “Dia pikir kita bakal sembunyi ketakutan. Dia pikir kita bakal nyerah.” Bisma mengambil kaleng biskuit dari dalam ranselnya. “Tapi kita punya ini. Kita punya bukti kejahatan dia yang sebenernya. Penggelapan dana. Pemalsuan dokumen. Fitnah yang bikin Ayah lu mati.” Bisma menatap kegelapan jalan tol. Jakarta sudah dekat. “Kita nggak akan sembunyi lagi, San. Begitu sampe Jakarta, kita nggak akan ke rumah Clara. Kita nggak akan ke tempat aman.” “Terus ke mana?” “Kita ke tempat di mana Regina nggak bisa nyentuh kita.” “Di mana itu?” “Di depan kamera. Di depan jutaan orang. Kita bakal nyerahin diri,” kata Bisma gila. “APA?!” “Kita nyerahin diri ke media. Bukan ke polisi,” koreksi Bisma. “Kita bakal Live. Kita bakal buka kaleng ini di depan seluruh Indonesia. Sebelum polisi suruhan Regina nangkep kita, kita bakal telanjangin dia duluan.” Sandra menatap Bisma. Ide itu gila. Bunuh diri karir. Tapi... itu satu-satunya cara untuk selamat. “Lu siap jadi artis paling kontroversial abad ini?” tanya Bisma, menyeringai di tengah kegelapan. Sandra menghapus air matanya. Dia melihat keberanian di mata suaminya. “Gue siap,” jawab Sandra. “Ayo kita bikin pertunjukan terakhir.”