Mendadak Kawin-Panggung Terakhir Di Warung Kopi-Bab 48

23 January 2026

Napas Sandra terdengar berat, berpacu dengan suara jangkrik yang mulai bersahutan di pinggiran hutan jati. Kakinya yang lecet di dalam sepatu kets yang basah kuyup terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Dia terpeleset lagi di atas tanah licin, hampir jatuh kalau saja Bisma tidak menahan lengannya dengan sisa tenaga terakhirnya. “Kita... kita harus berhenti, Bis,” desah Sandra, menyandarkan tubuhnya ke batang pohon jati besar. Wajahnya pucat pasi, rambutnya lengket oleh keringat dan air sungai. “Kacang Polong... dia butuh istirahat.” Bisma menatap istrinya dengan hati hancur. Dia melihat Sandra memegangi perutnya yang sedikit membuncit. Rasa bersalah kembali menghantamnya. Dia membawa wanita hamil ini ke dalam pelarian gila, menyeberangi sungai, dan dikejar-kejar seperti kriminal. Hatinya perlahan teriris. Dia merasa gagal sebagai seorang pemimpin, seorang suami dan seorang ayah. “Oke. Kita istirahat,” kata Bisma, suaranya serak. Dia melihat sekeliling. Hutan mulai menipis. Di kejauhan, terlihat cahaya lampu bohlam kuning yang samar. “Ada kampung di depan. Kita cari tempat berteduh.” Mereka berjalan tertatih-tatih menuju cahaya itu. Ternyata, itu adalah sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan desa. Warung yang hanya terbuat dari bambu, dengan beberapa bapak-bapak sedang merokok dan minum kopi jos. Bisma merapatkan jaketnya, menutupi wajahnya dengan masker yang sudah kotor. Sandra menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik rambut. Mereka terlihat seperti dua pengembara yang tersesat dan kalah. “Misi, Pak... boleh numpang duduk?” tanya Bisma sopan pada pemilik warung. “Monggo, Mas, Mbak. Kehujanan to?” tanya bapak itu ramah, melihat pakaian mereka yang basah dan berlumpur. “Iya, Pak. Motor kami mogok, jatoh ke parit,” bohong Bisma lancar. “Boleh pesen teh anget dua?” “Boleh. Duduk dulu.” Mereka duduk di bangku panjang pojok yang agak gelap. Bisma meletakkan ranselnya di pangkuan, memeluknya erat. Di dalamnya ada kaleng biskuit berisi bom waktu yang bisa menghancurkan ibunya. Dia memijat pelan punggung Sandra, berusaha memberikan sentuhan peluruh penat dan tegang di tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. Sandra meminum teh hangatnya dengan tangan gemetar. “Terus sekarang gimana? Raka pasti lagi nyisir jalanan. Kita nggak bisa ke stasiun, nggak bisa ke terminal. Kita terjebak, Bis.” Bisma menatap Sandra, lalu menatap kaleng di dalam tasnya. “Kita nggak bisa bawa fisik bukti ini ke Jakarta, San,” kata Bisma pelan. “Risikonya terlalu gede. Kalau Raka nangkep kita di jalan, dia bakal rampas ini. Dan bukti ini bakal ilang selamanya.” “Terus?” Bisma mengeluarkan ponselnya. Baterainya tinggal 10%. Kritis. “Kita ledakkan bomnya dari sini,” kata Bisma. Matanya menyala dengan tekad yang dingin. “Sekarang. Malam ini juga.” “Maksud lu?” “Kita upload semuanya. Gue bakal foto semua dokumen ini. Gue bakal rekam video penjelasan. Dan gue kirim ke Clara, ke media, ke Instagram gue. Gue bakal bikin ini viral sebelum Raka sempet nyentuh kita.” Sandra menatap Bisma. Itu langkah bunuh diri bagi reputasi keluarga Adijaya. Itu akan menghancurkan warisan ayahnya juga. “Lu yakin, Bis? Ini bakal jadi skandal terbesar. Nama bokap lu juga bakal kebawa.” “Nama bokap gue udah rusak gara-gara kebohongan Mama,” jawab Bisma tegas. “Satu-satunya cara bersihin nama dia—dan nama Ayah lu—adalah dengan ngebongkar nanah yang ada di dalemnya.” Bisma mengeluarkan dokumen-dokumen dari kaleng biskuit itu. Di bawah cahaya remang warung kopi, dia mulai memotret satu per satu. Surat pengakuan Hermawan. Bukti transfer ilegal Regina. Surat asli Gunawan yang dipalsukan. “Baterai gue abis,” kata Sandra panik. “Pake punya gue. Masih ada dikit,” kata Bisma. Dia membuka Instagram-nya. Jari-jarinya bergerak cepat. Dia tidak mengedit. Dia tidak memfilter. Dia mengunggah foto-foto itu dalam bentuk carousel (slide). Dan dia merekam satu video singkat. Di video itu, Bisma tidak terlihat seperti aktor tampan. Dia terlihat kotor, lelah, dan marah. “Nama gue Bisma Adijaya. Dan ini adalah kebenaran tentang keluarga gue. Tentang Regina Adijaya yang kalian kenal sebagai pengusaha sukses. Dia bukan pengusaha. Dia pencuri. Dia memfitnah Gunawan Sutiyoso, ayah dari istri gue, sampai meninggal, demi menutupi korupsinya sendiri. Ini buktinya.” “Ma, kalau Mama nonton ini... permainan selesai. Mama boleh kirim Raka, Mama boleh kirim polisi. Tapi kebenaran udah keluar. Mama nggak bisa bunuh kebenaran.” Klik. Post. “Selesai,” bisik Bisma, meletakkan ponselnya yang langsung mati kehabisan baterai. Hening sejenak. Lalu, tiba-tiba, HP bapak-bapak di warung kopi itu berbunyi notifikasi. Satu per satu. “Lho? Ini Mas Bisma artis itu ya?” seru salah satu bapak. “Kok posting ginian?” “Eh, Mas! Itu Mas Bisma kan?” Bapak penjual kopi menunjuk Bisma. Bisma membuka maskernya. Dia tersenyum lelah. “Iya, Pak. Itu saya.” Dalam hitungan menit, warung kopi kecil itu heboh. Tapi bukan heboh minta foto. Mereka heboh melihat berita yang baru saja meledak di internet. “Astagfirullah... jahat bener ibunya...” gumam bapak-bapak itu membaca dokumen yang diunggah Bisma (yang kini sudah disebar ulang oleh jutaan orang). Di luar, suara ban mobil berdecit terdengar. Sebuah Alphard hitam berhenti di depan warung. Raka dan tiga orang berbadan tegap turun. Wajah mereka panik dan marah. Mereka melacak sinyal GPS terakhir Bisma saat mengunggah. “Itu dia!” tunjuk Raka. Bisma berdiri. Dia menarik Sandra ke belakang punggungnya. “Jangan takut,” bisik Bisma. Raka masuk ke warung dengan wajah garang. “Bisma! Ikut kami sekarang! Serahkan tas itu!” Bisma tidak bergerak. Dia malah tertawa. “Telat, Rak,” kata Bisma santai. “Coba cek HP lu.” Raka mengernyit. Dia mengeluarkan ponselnya. Notifikasi berita online membanjiri layarnya. SKANDAL ADIJAYA: BISMA BONGKAR BUKTI KORUPSI IBUNYA SENDIRI! POLISI BERGERAK MENUJU KEDIAMAN REGINA ADIJAYA. PUBLIK MARAH: KEMBALIKAN NAMA BAIK GUNAWAN SUTIYOSO! Wajah Raka pucat pasi. “Lu... lu gila...” desis Raka. “Gue cuma anak yang lagi ngebela bapak mertuanya,” jawab Bisma. Warga di warung kopi itu, yang sudah paham situasinya, berdiri serempak. Bapak-bapak petani, tukang ojek, penjual kopi, mereka semua berdiri mengelilingi Bisma dan Sandra. Menjadi pagar betis. “Mas Raka, atau siapapun nama sampeyan,” kata pemilik warung sambil memegang centong nasi. “Mending pergi. Ini kampung kami. Mas Bisma tamu kami. Jangan macem-macem atau kami teriak maling.” Raka melihat sekeliling. Dia kalah jumlah. Dan yang lebih penting, bosnya—Regina—sebentar lagi akan tamat. Dia tidak punya alasan lagi untuk setia. Raka mendengus, lalu berbalik pergi. Bisma lemas. Dia jatuh terduduk di bangku panjang. Sandra memeluknya erat. “Kita menang, Bis. Kita menang.” Malam itu, di warung kopi pinggir jalan, Bisma dan Sandra tidak tidur di kasur empuk. Tapi mereka tidur dengan perasaan paling lega yang pernah mereka rasakan seumur hidup.