Mendadak Kawin-Happy Ending-Bab 49

23 January 2026

Jakarta, keesokan harinya. Suasana di depan Mansion Adijaya di Menteng seperti pasar malam. Ratusan wartawan, polisi, dan warga yang penasaran berkerumun. Garis polisi warna kuning sudah terpasang melintang di gerbang emas yang angkuh itu. Di dalam rumah, Regina Adijaya duduk di sofa ruang tamunya yang megah. Dia mengenakan gaun sutra terbaiknya, makeup sempurna, dan perhiasan lengkap. Dia tidak lari. Ratu tidak lari. Dia menonton TV layar datar di depannya. Berita tentang dirinya ada di semua saluran. Bukti-bukti yang diunggah Bisma terpampang jelas. Tanda tangannya di dokumen penggelapan dana. Rekaman suara yang entah bagaimana Bisma dapatkan (mungkin dari file lama ayahnya). “Anak bodoh,” gumam Regina, menyesap tehnya yang sudah dingin. “Dia menghancurkan warisannya sendiri demi perempuan itu.” Tapi di balik ketenangannya, tangan Regina gemetar. Dia kalah. Dia kalah bukan karena bisnis. Dia kalah karena dia meremehkan kekuatan cinta yang dia anggap lemah. Cinta Hermawan pada Arini. Dan sekarang, cinta Bisma pada Sandra. Cinta yang dia coba bunuh, justru tumbuh menjadi monster yang memakannya. Pintu depan didobrak. Sekelompok polisi berseragam masuk, dipimpin oleh seorang komisaris. “Ibu Regina Adijaya,” kata polisi itu tegas. “Anda ditahan atas dugaan korupsi, penggelapan dana, dan pemalsuan dokumen yang menyebabkan kematian Saudara Gunawan Sutiyoso.” Regina meletakkan cangkirnya perlahan. Ting. Dia berdiri. Mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Jangan sentuh saya,” kata Regina dingin saat polisi hendak memegang lengannya. “Saya bisa jalan sendiri.” Dia berjalan keluar dengan langkah anggun. Di luar, kilatan kamera membutakan mata. Sorakan cemoohan terdengar dari kerumunan. “Koruptor!” “Pembunuh!” “Penyihir!” Regina tidak menunduk. Dia menatap lurus ke depan. Tapi di dalam hatinya, istana kacanya sudah hancur berkeping-keping.


Dua hari kemudian. Kantor Polisi Polda Metro Jaya. Bisma dan Sandra duduk di ruang tunggu. Mereka sudah bersih, sudah ganti baju, tapi kelelahan masih tercetak jelas di wajah mereka. Sandra mengenakan dress hamil yang longgar, Bisma mengenakan kemeja putih sederhana. Mereka baru saja selesai memberikan keterangan sebagai saksi pelapor. Pintu ruang interogasi terbuka. Regina keluar, dikawal dua polwan. Dia sudah memakai rompi tahanan oranye. Rambutnya tidak lagi disasak sempurna, ada uban yang terlihat. Wajahnya tanpa makeup terlihat tua dan lelah. Langkah Regina terhenti saat melihat Bisma dan Sandra. Bisma berdiri. Dia menatap ibunya. Regina menatap putranya. “Puas kamu?” tanya Regina, suaranya serak. “Nggak, Ma,” jawab Bisma pelan. “Aku nggak puas. Aku sedih.” “Sedih karena hartamu hilang?” “Sedih karena Mama kehilangan aku,” kata Bisma. “Mama punya segalanya, tapi Mama milih buat hidup dalam dendam sama orang yang udah mati (Arini). Mama sia-siain hidup Mama sendiri.” Regina terdiam. Matanya beralih ke Sandra. Ke perut Sandra yang membuncit. “Jaga dia,” kata Regina tiba-tiba. Sandra kaget. “Ma?” “Bukan kamu,” kata Regina ketus, tapi matanya basah. “Cucu saya. Dia satu-satunya Adijaya yang tersisa yang nggak berkhianat sama saya.” Itu adalah kalimat paling ‘kasih sayang’ yang bisa diucapkan Regina. “Aku bakal jaga dia, Ma. Jauh lebih baik dari cara Mama jaga aku,” kata Bisma. Regina tersenyum miris. “Semoga kamu benar.” Polisi membawa Regina pergi. Bisma menatap punggung ibunya yang menjauh, menghilang di balik pintu sel. Dia menghela napas panjang, melepaskan beban lima tahun terakhir. Dia berbalik, menatap Sandra. “Selesai,” kata Bisma. Sandra tersenyum, air mata haru mengalir di pipinya. “Selesai, Komodo. Kita menang.” “Kita pulang?” tanya Bisma. “Pulang ke mana? Penthouse udah disita buat barang bukti,” kata Sandra. Bisma tersenyum. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci kuno yang berkarat. “Inget rumah Papa di Jogja? Rumah Beringin itu?” “Iya?” “Sertifikatnya atas nama Papa pribadi, dan diwasiatkan ke gue. Polisi bilang rumah itu nggak kena sita karena dibeli sebelum Papa nikah sama Mama. Itu rumah kita sekarang.” Sandra melongo. “Lu mau tinggal di Jogja? Di rumah hantu itu?” “Kita renovasi. Kita bikin jadi rumah impian lu. Yang ada ayunannya. Yang jauh dari drama Jakarta.” Sandra memeluk Bisma erat-erat. “Ayo pulang, Mas Bisma.”


Satu Tahun Kemudian. Suara tawa bayi menggema di halaman rumah tua yang kini telah berubah wajah. Rumah Beringin di Bantul itu tidak lagi angker. Dindingnya dicat putih bersih, jendela-jendelanya terbuka lebar membiarkan sinar matahari masuk. Di halaman depan, rumput liar sudah diganti dengan taman bunga yang asri. Dan di bawah pohon beringin putih yang besar itu, tergantung sebuah ayunan kayu yang kokoh, dicat warna kuning cerah (permintaan Sandra). Bisma Adijaya, mantan aktor termahal ibukota, kini tampil beda. Dia mengenakan kaos oblong santai dan celana pendek, sedang berlutut di rumput sambil memegang sendok berisi bubur wortel. “Ayo, Jagoan... pesawat masuk garasi... ngenggg...” Di hadapannya, duduk seorang bayi laki-laki berusia enam bulan yang gembul, bermata bulat besar, dan memiliki rambut tebal seperti ayahnya. Bumi. Itu namanya. Bumi Gunawan Adijaya. “Aaaam...” Bumi membuka mulutnya, melahap bubur itu, lalu tertawa hingga buburnya muncrat ke wajah Bisma. “Pinter!” puji Bisma, mengelap wajahnya sendiri dengan pasrah. “Kamu persis Mamamu, barbar kalau makan.” “Siapa yang barbar?!” Sandra keluar dari pintu depan, membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng. Dia terlihat segar, rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya berseri-seri tanpa beban. Dia bukan lagi Sandra yang ketakutan. Dia adalah Sandra, penulis naskah yang kini bekerja remote dari Jogja, dan ibu dari Bumi. “Kamu lah. Liat nih anakmu, makannya belepotan kayak kamu makan pecel lele dulu,” ledek Bisma. Sandra tertawa, meletakkan nampan di meja taman. Dia mengambil Bumi dari kursi bayinya, menggendongnya dan mencium pipi gembulnya. “Anak Mama pinter. Jangan dengerin Papa, Papa itu Komodo,” kata Sandra. Bisma berdiri, merangkul pinggang Sandra dan mencium pipi istrinya. “Komodo yang udah jinak,” koreksi Bisma. Mereka duduk di ayunan kayu di bawah pohon beringin. Bertiga. Ayunan itu berderit pelan, irama yang menenangkan. “Lu kangen Jakarta nggak, Bis?” tanya Sandra tiba-tiba, menyandarkan kepalanya di bahu Bisma. Bisma menatap langit sore Jogja yang berwarna ungu. Dia memikirkan karirnya yang dia tinggalkan. Tawaran film yang masih sesekali datang tapi dia tolak. “Jujur?” tanya Bisma. “Jujur.” “Kangen dikit. Kangen duitnya,” canda Bisma. Sandra mencubit perutnya. “Becanda, elah,” Bisma tertawa. “Nggak, San. Gue nggak kangen. Di sana gue punya segalanya tapi gue kosong. Di sini... gue cuma punya rumah tua ini, motor butut, sama tabungan yang pas-pasan... tapi gue penuh. Hati gue penuh.” Bisma menatap Bumi yang sedang memainkan kancing kemejanya. “Gue punya peran terbaik gue di sini. Jadi Bapak. Jadi Suami.” Sandra tersenyum haru. “Gue juga. Gue seneng kita di sini. Jauh dari Raka, jauh dari Nadine.” Ngomong-ngomong soal mereka... Nadine akhirnya kehilangan karirnya. Skandal fitnahnya terbongkar, dan dia di-blacklist dari semua stasiun TV. Kabarnya dia sekarang jualan skincare online dengan followers yang isinya haters. Dan Regina... “Minggu depan jadwal jenguk Mama,” kata Bisma pelan. Regina divonis 15 tahun penjara. Asetnya disita negara. Dia sendirian. Tapi bulan lalu, saat Bisma dan Sandra datang membawa foto Bumi, Regina menangis. Untuk pertama kalinya, dia tidak bicara soal harta. Dia cuma bilang, “Dia mirip Hermawan.” “Kita pergi,” kata Sandra. “Bumi udah bisa diajak jalan jauh. Mama pasti seneng liat cucunya udah bisa duduk.” Bisma menatap Sandra. Istrinya ini... hatinya seluas samudra. Memaafkan wanita yang pernah mencoba menghancurkan hidupnya. “Makasih, San,” bisik Bisma. “Makasih udah ngasih gue rumah.” “Sama-sama, Komodo.” Mereka berciuman di bawah naungan pohon beringin, disaksikan oleh matahari terbenam dan celoteh bayi mereka. Kisah mereka dimulai dengan kesalahan di sebuah pondok gelap. Dilanjutkan dengan pernikahan paksa yang penuh kebencian. Dihantam badai fitnah dan dendam masa lalu. Tapi hari ini, di sini, cerita itu berakhir dengan cara yang paling sederhana dan paling indah. Mereka bertahan. Mereka saling menyembuhkan. Dan mereka... bahagia.