Udara malam itu terasa dingin menusuk tulang, sisa guyuran hujan deras yang baru saja reda dua jam lalu. Adelia, dengan rambutnya yang disanggul rapi, mengamati Naufal yang sedang bersiap-siap. Putra sulungnya, yang sudah bukan lagi anak remaja—seorang lelaki muda berusia 25 tahun menunjukkan gelisah yang begitu kentara di wajahnya.
Gelisah itu, bagi Adelia, mengingatkannya pada masa remajanya sendiri, masa-masa di mana rahasia dan kegelisahan bercampur aduk dalam satu perasaan yang sulit diungkapkan. Ada sesuatu yang disembunyikan Naufal, itu yang Adelia rasakan. Ia memperhatikan setiap detail, dari cara Naufal mengikat tali sepatunya hingga cara ia mengusap rambutnya yang sedikit basah. Ada sesuatu yang berbeda malam ini.
"Sinta siapa, Nak?" tanya Adelia, suaranya tenang dan tajam, menusuk keheningan malam. Pertanyaan itu dilontarkan tanpa basa-basi, langsung ke inti permasalahan yang sudah ia curigai. Ia sudah mencium gelagat aneh sejak Akhzam bercerita tentang hadiah robot transformer yang mahal dari seorang gadis bernama Sinta.
Naufal, yang tengah mengenakan jaket tebal, berhenti sejenak. Ia menoleh, tatapannya bertemu dengan tatapan ibunya. Sebuah ekspresi rumit tergambar di wajahnya: keraguan, kegelisahan, dan sedikit rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan. Ia menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat gugup.
"Adek yang cerita?" tanyanya, mencoba mengulur waktu. Ia butuh waktu untuk merangkai kata-kata, untuk mencari cara menjelaskan tanpa harus langsung mengungkap semuanya. Ia belum siap menghadapi reaksi ibunya tentang hubungan cintanya dengan Sinta.
"Ya, dia cerita Sinta memberi hadiah robot transformer. Robot mahal itu, Fal. Tidak mungkin sembarangan orang memberi hadiah semahal itu tanpa alasan," jawab Adelia, suaranya tegas, tanpa sedikitpun keraguan. Ia tidak akan membiarkan anaknya terjebak dalam situasi yang mencurigakan, apalagi melibatkan hadiah semahal itu. Ia tahu, Naufal bukanlah anak yang gegabah.
Keheningan menyelimuti mereka, hanya diiringi suara jangkrik yang bercicitan di luar. Naufal menghela napas panjang, berat. Ia sudah mempertimbangkan berbagai skenario, berbagai kemungkinan reaksi ibunya, dan tetap saja sulit untuk menceritakan semuanya.
Hubungannya dengan Sinta sudah berjalan lebih dari 6 bulan, dan ia belum pernah memberitahu Adelia. Ketakutan akan reaksi ibunya, ketakutan akan kecewaannya, menghantuinya selama ini. Ia takut kehilangan kepercayaan ibunya.
Naufal duduk di samping Adelia, mendekatkan diri seolah mencari perlindungan dan kekuatan. Ia mencoba mengumpulkan keberanian, keberanian yang selama ini ia pendam. "Sinta itu pacar Abang. Baru datang sore tadi," akunya, suaranya masih sedikit bergetar, menunjukkan betapa gugupnya ia saat ini. Ia menatap ibunya dengan penuh harap.
Adelia terdiam sejenak, mencerna informasi yang baru saja diterimanya. Ia tidak marah, setidaknya belum. Namun, ia merasa terkejut dan sedikit kecewa. Ia tidak menyangka anaknya, yang sudah berusia 25 tahun, masih merahasiakan hubungannya dengan seorang wanita.
Lebih dari sekadar terkejut, ada sedikit rasa khawatir yang mulai muncul. Usianya yang sudah 25 tahun dan sikap merahasiakannya menimbulkan kecurigaan yang lebih dalam. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan asmara biasa, itu yang Adelia rasakan. Ia mencoba memahami sudut pandang anaknya.
"Kamu mau keluar menemui dia?" tanya Adelia, suaranya lembut dan tetap waspada, menunjukkan bahwa ia masih mengamati situasi. Ia ingin memastikan bahwa Naufal tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya.
"Ya," jawab Naufal singkat, menunggu reaksi ibunya. Jawaban singkat itu menunjukkan betapa ia ingin segera menemui Sinta. Ia terlihat gelisah, mondar-mandir di tempat.
"Ok." Adelia mengangguk pelan, mencoba untuk tetap tenang. Ia harus bersikap bijak, tidak gegabah. Ia harus memahami situasi dan mencari solusi terbaik. Ia ingin memberikan dukungan, bukan hukuman.
"Maaf, belum sempat cerita ke Mama. Masih mencari waktu yang tepat untuk bicara, ketika tiba-tiba Sinta telepon kalau sudah tiba di sini," jelas Naufal, menunjukkan penyesalannya. Ia mencoba menjelaskan alasannya merahasiakan hubungan tersebut. Ia terlihat sungguh-sungguh menyesal.
"Bukan anak daerah kita?" tebak Adelia, suaranya terdengar sedikit curiga. Dugaannya semakin kuat bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan asmara biasa. Ia ingin memastikan latar belakang Sinta.
"Ya," jawab Naufal singkat, mengakui tebakan ibunya. Ia tahu, ibunya sangat jeli dan peka.
"Kuliah atau sudah kerja?" tanya Adelia, melanjutkan interogasinya. Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang Sinta.
"Masih kuliah semester terakhir," jawab Naufal.
"Seumuran?" tanya Adelia, suaranya sedikit lebih tajam. Ia ingin memastikan beberapa hal penting.
"Iya," jawab Naufal, menunggu pertanyaan selanjutnya dari ibunya. Ia tahu, pertanyaan-pertanyaan ibunya menunjukkan kecurigaan yang lebih dalam.
"Kenal di mana?" tanya Adelia, pertanyaan terakhirnya yang menyelidiki lebih jauh.
"Sudah lama. Sejak aku masih pendidikan. Kami bertemu di sebuah Mall ketika aku sedang pesiar bersama teman-teman, tapi kami baru jadian 6 bulan ini. Aku belum cerita ke Mama karena Sinta kan juga tidak di sini," jelas Naufal, menjelaskan kronologi pertemuannya dengan Sinta. Ia berusaha menjelaskan semuanya secara detail.
Adelia tersenyum, sebuah senyum yang sulit diartikan. Wangi parfum yang dikenakan Naufal, aroma yang familiar dan sedikit asing, seakan memenuhi ruangan itu. Ponsel Naufal berdering. Ia meraih ponselnya.
"Sinta mungkin menelponmu. Pasti sudah menunggu," kata Adelia, merapikan jaket Naufal. Ia mencoba bersikap tenang dan mendukung. "Hati-hati ya?"
"Ya Ma. Aku pergi Ma," pamit Naufal. Ia terlihat lega karena ibunya tidak marah.
Adelia melihat Naufal meninggalkan rumah. Ia tersenyum, dan ada sedikit keraguan di matanya. "Cepatnya waktu berlalu, Nak. Sudah sedewasa itu kamu ternyata," gumam Adelia. Ia menyadari bahwa anaknya sudah dewasa dan mampu mengambil keputusan sendiri.
Naufal berjalan menuju mobilnya, menjawab panggilan telepon. "Halo, Aretha? Ya, aku mau jalan keluar. Ada masalah apa? Baiklah, aku ke TKP," Suara Naufal terdengar sedikit tegang.
Begitu telepon Aretha ditutup, ia segera mencari nama Sinta di kontak teleponnya, segera menghubungi wanita itu.
"Hallo." Suara Sinta.
"Nta, aku mungkin sedikit terlambat."
"Kenapa? Ini sudah hampir jam delapan. Tadi kamu bilang habis isya menjemputku."
"Ada sedikit pekerjaan. Sabar ya? Sebentar saja. Tim ku telepon, katanya."
"Ah kamu ini! Tidak bisakah tim kamu bergerak tanpa kamu??" potong Sinta, nadanya terkesan jengkel.
"Sebentar saja kok, sayang. Selesainya aku langsung menjemput kamu."
"Bilang saja kalau di tim ada Aretha yang baru saja pemulihan kesehatan. Kamu khawatir terjadi sesuatu dengan dia kan?"
"Bukan begitu. Ayolah, masa cemburu dengan anggotaku? Bukan aku sendiri loh yang masih lajang di tim kami?"
"Terserahlah! Aku ke mall dekat sini saja! Kamu mau nyusul atau tidak, terserah!" Sinta menutup telepon, terlihat ada rasa kecewa bercampur amarah di dalamnya.
Naufal menghela napas. Ia mengirimkan sebuah pesan ke nomor Sinta.
"Maaf."