"Memasuki Zona Buta. GPS dinonaktifkan. Selamat datang di Introspeksi."
Kalimat itu tidak terdengar lewat speaker ponsel, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepala Aris, merembes lewat pori-pori otak layaknya tetesan air raksa dingin. Tidak ada angin yang menampar wajahnya. Tidak ada sensasi perut yang tertinggal di ketinggian seperti saat naik* roller coaster. *
Yang ada hanya ketiadaan.
Aris melayang atau mungkin jatuh. Sangat sulit membedakannya di sini, saat ia terperangkap dalam vakum pekat yang menyerap segala bentuk cahaya. Kegelapan di sini bukan sekadar absennya sinar; ini adalah kegelapan yang hidup, sebuah entitas cair yang menekan bola matanya hingga terasa ingin meletus. Rasa sakit di lutut kirinya yang cedera membangkang tadi kini terasa tumpul, seolah syaraf-syarafnya pun menyerah menghadapi dominasi ruang hampa ini. Bahunya yang terkilir berdenyut pelan, satu-satunya metronom yang menandakan jantungnya masih memompa darah, bukan oli bekas.
Ia mendekap ponsel retaknya erat-erat di dada. Layar benda itu adalah satu-satunya sumber iluminasi, memancarkan pendar biru pucat yang menyedihkan, mirip nyala lilin di tengah badai topan. Di layar, feed CCTV ICU itu masih menyala, namun gambarnya statis dan bersemut hitam-putih. Tidak ada grafik detak jantung. Tidak ada gerakan dada ibunya yang naik-turun. Hanya white noise visual yang mengerikan.
"Bangsat," umpat Aris, suaranya terdengar kerdil, langsung ditelan senyap. Di Zona Buta, suara tidak merambat. Kata-kata itu mati tepat saat keluar dari bibir.
Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar hebat, bukan getaran notifikasi biasa, tapi kejang mekanis seolah perangkat itu sedang sekarat. Layar berkedip liar, menampilkan deretan kode biner yang morat-marit sebelum kembali menampilkan teks dengan font merah darah yang menyakitkan mata.
SYSTEM ERROR: PENYANGKALAN TERDETEKSI. MEMUAT ARSIP: JEJAK KARBON EGO.
Kegelapan di sekeliling Aris mulai bergeser. Teksturnya berubah. Bukan lagi ruang hampa, melainkan... aspal?
Ya, aspal.
Aris terbelalak saat kegelapan di bawah kakinya (yang entah di mana pijakannya) perlahan memadat menjadi tekstur jalanan Jakarta yang basah. Hitam, berminyak, dan berbau sisa hujan bercampur bensin. Namun, ini bukan jalanan biasa. Aspal ini bergerak, menggeliat seperti kulit ular raksasa yang sedang berganti rupa. Di setiap pori-pori aspal itu, Aris melihat wajah-wajah.
Ribuan wajah.
Ada wajah Rio, bocah penjual tisu di Slipi, yang tercetak rata di permukaan jalan seolah baru saja dilindas ban truk, matanya menatap kosong ke arah Aris. Ada wajah Pak Mulyono, keriput dan lelah, yang bibirnya bergerak-gerak tanpa suara merapalkan doa yang dulu sering Aris tertawakan. Ada wajah Sarah, dengan air mata yang telah berubah menjadi genangan oli hitam.
"Gue nggak mau lihat ini..." bisik Aris, memejamkan mata rapat-rapat. Tapi kelopak matanya transparan di sini. Bayangan itu menembus masuk, memaksanya menonton.
Ting!
Suara notifikasi itu terdengar lagi, kali ini tajam seperti jarum menusuk gendang telinga.
SALDO SAAT INI: -999.999 (BANGKRUT MORAL). PERINTAH SISTEM: BAYAR UTANGMU DENGAN KULIT ASLI.
Hutang. Kata itu selalu menjadi hantu bagi Aris. Dulu utang uang, utang cicilan motor, utang gengsi. Sekarang, semesta menagih utang yang jauh lebih fundamental.
Tubuh Aris tersentak hebat. Jaket ojol hijau-hitam kebanggaan, seragam tempur yang selama ini ia pakai untuk membelah kemacetan, zirah yang melindunginya dari panas dan hujan, sekaligus topeng yang ia pakai untuk menyembunyikan rasa rendah dirinya, tiba-tiba terasa menyusut.
Kain sintetis itu mengencang, mencekik leher, menekan dada hingga tulang rusuknya berderit. Jaket itu tidak lagi terasa seperti pakaian, melainkan seperti kulit kedua yang mulai mengering dan menyatu dengan daging. Aris mencoba menarik ritsletingnya, tapi macet. Logam penariknya panas membara, membakar ujung jarinya.
"Akhhh!" Aris mengerang tanpa suara, rasa perih menyengat kulit lehernya. Jaket ini mencoba membunuhnya. Atau lebih tepatnya, jaket ini mencoba menjadi dia. Identitas "Driver Ojol Ambisius" itu sedang mencoba menelan sisa-sisa kemanusiaan Aris Prasetya.
Ingatannya melayang pada struk basah yang masih ia genggam di tangan kiri, remuk dan lembap oleh keringat dingin. LEPASKAN TOPENGMU, ATAU JADILAH BAGIAN DARI TANAH.
Monster Tanah di atas sana ingin menguburnya secara harfiah. Tapi sistem ini ingin menguburnya secara identitas. Jika ia mati dengan jaket ini masih melekat, ia hanya akan menjadi satu lagi hantu penasaran di pinggir jalan, sekadar statistik kecelakaan lalu lintas yang dilupakan esok hari.
Ia harus melepasnya.
Dengan sisa tenaga yang dipacu adrenalin panik, Aris mencengkeram kerah jaketnya. Kain itu lengket, seolah direkatkan dengan lem super ke kulit dadanya.
"Lepas, bangsat! LEPAS!" teriak Aris dalam hati.
Ia menarik paksa. Terdengar bunyi krek yang basah. Bukan bunyi kain robek, tapi bunyi kulit yang terkelupas. Perih yang luar biasa menyambar sekujur punggung dan dadanya. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. Lapisan dalam jaket itu ternyata telah tumbuh akar-akar halus yang menancap ke pori-porinya, menghisap keringat dan darahnya sebagai bahan bakar. Selama ini, ambisinya lah yang memakan dirinya sendiri.
Aris menggertakkan gigi, mengabaikan rasa sakit di lututnya yang kini terasa tak seberapa dibandingkan siksaan di kulit punggungnya. Ia menarik lebih keras, air mata menetes bukan karena sedih, tapi karena respon fisiologis tubuh terhadap rasa sakit yang ekstrem.
Sret!
Lengan kanan terlepas. Darah segar merembes dari bahunya, tapi ia tidak peduli. Sret!
Lengan kiri menyusul. Ia mengibaskan jaket itu dari tubuhnya seolah membuang bara api. Jaket hijau yang koyak dan bernoda darah itu melayang menjauh di ruang hampa, lalu perlahan terbakar menjadi abu hitam, lenyap ditelan kegelapan.
Aris kini terombang-ambing, bertelanjang dada, menggigil bukan karena dingin, tapi karena kerentanan yang absolut. Ia merasa telanjang dalam arti yang paling purba. Tidak ada lagi label "Mitra Juara", tidak ada lagi "Bintang Lima", tidak ada lagi tameng untuk bersembunyi.
Hanya Aris. Manusia cacat dengan dosa segunung.
Saat jaket itu lepas, sensasi jatuh itu berhenti mendadak. Bukan karena ia mendarat, tapi karena gravitasi seolah kehilangan minat padanya. Ia kini mengapung, stabil. Layar ponselnya kembali jernih, semut-semut statis di feed CCTV menghilang, menampilkan gambar ruang ICU yang tajam.
Di layar kecil itu, Aris melihat grafik detak jantung ibunya. Lemah. Sangat lemah. Tapi ada. Garis hijau itu melonjak kecil, berjuang melawan garis lurus kematian.
"Bu..." Aris terisak, kali ini suaranya terdengar. Lirih, parau, tapi nyata. Zona Buta telah mengizinkannya bersuara kembali setelah ia melepas atribut kepalsuannya.
Namun, momen kelegaan itu tidak bertahan lama. Dari kegelapan di bawah kakinya—tempat di mana aspal berwajah tadi berada—muncul suara gemuruh rendah. Bukan suara mesin, bukan suara monster. Itu suara tumpukan benda keras yang saling beradu.
Aris menunduk, mengarahkan senter ponselnya ke bawah. Cahaya itu menembus kabut hitam, mengungkapkan apa yang menantinya di dasar jurang introspeksi ini.
Ia tidak melayang di atas tanah. Ia melayang tepat di atas gunungan bangkai motor.
Ribuan, mungkin jutaan kerangka sepeda motor bertumpuk membentuk bukit-bukit curam yang tajam dan berkarat. Spion pecah, setang bengkok, velg penyok—semuanya adalah sisa-sisa kendaraan yang pernah dikendarai oleh orang-orang sepertinya. Orang-orang yang berlari mengejar angka sampai lupa cara berhenti. Ini adalah Kuburan Ambisi.
Dan di tengah gunungan besi tua itu, Aris melihat sesuatu yang membuatnya lupa cara bernapas.
Sebuah jok motor yang familiar. Honda Beat lawas dengan stiker "Keluarga Sakinah" yang sudah pudar warnanya. Itu motor pertamanya. Motor yang ia jual demi modal judi slot tiga tahun lalu, motor yang dulu sering dipakai ibunya untuk mengantarnya sekolah.
Di atas jok motor itu, duduk sesosok tubuh. Bukan hantu, bukan monster.
Sosok itu mengenakan kemeja flanel lusuh yang dulu sering dipakai Aris saat masih bekerja kantoran. Sosok itu menunduk, sibuk menghitung tumpukan koin receh yang berlumuran darah.
Saat Aris melayang semakin rendah, sosok itu mendongak. Wajahnya adalah wajah Aris, tapi versi yang lebih muda, lebih bersih, namun matanya... matanya kosong, hitam total tanpa pupil, persis seperti lubang kamera ponsel yang menatap tanpa jiwa.
Sosok "Aris Masa Lalu" itu tersenyum, senyum korporat yang palsu dan menjijikkan. Ia mengangkat segenggam koin darah ke arah Aris.
"Halo, Pak," sapa sosok itu dengan nada ramah yang dibuat-buat, nada yang sama yang dipakai Aris saat menjilat atasan di kantor dulu. "Saldo Bapak tidak cukup untuk mendarat di sini. Mau top-up pakai nyawa siapa lagi hari ini? Ibu masih ada stok sedikit, lho."
Aris merasakan darahnya mendidih, lebih panas dari sebelumnya. Rasa sakit di lutut dan bahunya meledak kembali saat kakinya akhirnya menyentuh tumpukan besi tua itu dengan kasar. Besi berkarat menggores kulit telanjang kakinya. Ia jatuh terduduk di atas knalpot penyok, berhadapan langsung dengan memori hidupnya yang paling munafik.
"Gue nggak mau top-up," geram Aris, ludahnya bercampur darah asin. Ia mencoba bangkit, tapi lutut kirinya menolak bekerja sama, memaksanya merangkak di atas lautan besi tajam. "Gue mau pulang."
Sosok Aris Masa Lalu tertawa renyah, suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. Ia berdiri, tubuhnya terlihat bersih tanpa luka, kontras dengan Aris yang babak belur.
"Pulang? Rumah yang mana, Ris?" Sosok itu melangkah maju, menendang ponsel Aris hingga terpelanting jatuh ke celah tumpukan besi. Layar ponsel itu mendarat telungkup, tapi cahayanya masih memancar dari sela-sela rongsokan, menciptakan bayangan panjang yang mengerikan.
"Lo nggak punya rumah," bisik sosok itu, kini berjongkok tepat di depan wajah Aris, bau parfum murah yang dulu sering Aris pakai menusuk hidung. "Rumah lo cuma di aplikasi. Dan sekarang... server lagi down."
Aris meraba sekeliling, tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan berat. Sebuah spion motor yang patah, ujung tangkainya runcing seperti belati.
Ini bukan pertarungan fisik. Ini eksorsisme diri sendiri. Dan Aris tahu, untuk keluar dari Introspeksi ini, ia harus membunuh bagian dari dirinya yang paling ia benci. Bagian yang sekarang tersenyum manis di depannya sambil menawarkan transaksi neraka.
Dari celah tumpukan besi di bawah mereka, suara "bip" monitor EKG terdengar lagi, kali ini lebih cepat, lebih panik.
Bip... Bip... Bip...
Waktu bukan lagi uang. Waktu adalah darah. Dan Aris harus menumpahkan darah yang tepat sebelum detak itu berhenti selamanya.