Horor #horor #ojol

Kanibalisme Ego

Penulis djoedo
23 January 2026

Aris menerjang. Bukan dengan teknik bela diri yang terukur, melainkan dengan keputusasaan seekor binatang yang terpojok di rumah jagal. Spion patah di genggamannya mengayun liar, menyabet udara yang berbau bensin basi dan darah kering. Kakinya yang cedera menjeritkan protes setiap kali tumitnya menghantam tumpukan besi tua, mengirimkan sengatan nyeri yang merambat naik hingga ke pangkal paha, namun adrenalin telah mengambil alih kemudi kesadaran.

"Mati lu! Mati!" Aris berteriak, suaranya parau, pecah di antara isak tangis dan amarah.

Sosok di hadapannya - Aris Masa Lalu - tidak bergeming. Ia berdiri santai di atas gunungan rangka Honda Beat yang telah menjadi fosil karat, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang bersih tanpa noda. Keadaannya kontras dengan tubuh Aris yang telanjang dada, berlumuran darah, dan dikuliti oleh dosa-dosanya sendiri. Saat ujung tajam spion itu tinggal satu inci dari lehernya, Aris Masa Lalu hanya memiringkan kepala sedikit ke kiri. Gerakan itu terlalu cepat, tidak manusiawi. Seperti anomali pada layar ponsel yang rusak.

Serangan Aris meleset, hanya membelah udara kosong. Momentum itu membuat tubuhnya yang babak belur terhuyung ke depan. Lutut kirinya yang cedera menyerah, menekuk paksa, membuatnya jatuh berlutut di atas hamparan knalpot tajam. Kulit lututnya robek lagi, darah segar merembes mencampur dengan karat, menciptakan pola merah kecokelatan yang menjijikkan.

"Munafik," cemooh Aris Masa Lalu. Suaranya bukan suara hantu. Itu adalah suara Aris sendiri, versi suara yang ia gunakan saat memaki Rio di lampu merah, versi suara yang ia pakai untuk membohongi Suster Ningsih. Dingin. Logis. Tanpa hati. "Lu mau bunuh gue pake sampah? Gue ini yang bikin lu hidup, Ris. Gue yang ngotot ngejar tupo pas lu cuma mau tidur. Gue yang mutusin buat ninggalin Sarah biar lu bisa fokus kerja. Gue adalah ambisi lu."

"Lu bukan ambisi..." Aris mendesis, mencoba bangkit meski punggungnya terasa seperti disiram air keras. Angin di "Kuburan Ambisi" ini membawa garam, menyengat daging merah yang terekspos di punggungnya bekas jaket ojol yang terkelupas. "Lu cuma parasit. Lu yang bikin gue buta."

"Dan sekarang lu ada di Zona Buta. Ironis, kan?" Sosok itu tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan rem tromol yang habis kampasnya.

Bunyi bip dari monitor EKG imajiner yang terhubung ke jantung Ibu terdengar lagi. Bip... bip... bip... Temponya semakin cepat, tidak beraturan. Setiap detak adalah palu godam yang menghantam sisa kewarasan Aris. Ia tahu, secara naluriah dan supranatural, bahwa ritme itu adalah jam pasir yang sedang pecah.

Aris memaksakan diri berdiri. Ia tidak bisa membiarkan logika iblis ini meracuninya lagi. Ia mencengkeram spion patah itu lebih erat hingga telapak tangannya berdarah. Ia tidak butuh strategi. Ia butuh pembunuhan.

Ia menyerang lagi, kali ini menabrakkan tubuhnya ke arah sosok itu. Mereka berguling menuruni bukit sampah logam. Rasanya seperti digiling dalam mesin cuci yang penuh silet. Bahu Aris yang terkilir menghantam blok mesin tua, membuatnya menjerit tertahan. Namun, ia berhasil menindih Aris Masa Lalu.

"Bayar utang lu!" Aris mengangkat pecahan kaca itu tinggi-tinggi, siap menghunjamkannya ke mata hitam tanpa pupil milik masa lalunya.

Tapi tangan Aris Masa Lalu menangkap pergelangan tangan Aris dengan kekuatan hidrolik. Cengkeramannya sedingin es, namun membakar kulit. Wajah bersih itu tersenyum, menampilkan deretan gigi yang terlalu putih, terlalu rapi, dan sedikit terlalu banyak untuk mulut manusia.

"Lu mau bayar pake apa, Bos?" bisik Aris Masa Lalu, wajahnya mendekat hingga Aris bisa mencium aroma parfum murah yang dulu sering ia pakai, aroma penyangkalannya. "Saldo lu minus. Moral lu bangkrut. Lu pikir dengan ngebunuh gue, Ibu bakal sembuh? Lu pikir Tuhan menerima taubat dari bajingan yang baru inget doa pas udah kepepet?"

Dengan sentakan kasar, Aris Masa Lalu membalikkan posisi. Kini Aris yang terlentang di atas tumpukan shockbreaker dan rantai motor berkarat. Punggungnya yang tanpa kulit bergesekan langsung dengan logam kotor itu. Rasa sakitnya bukan lagi di level fisik; itu adalah penderitaan saraf yang menjeritkan trauma. Aris melolong, suaranya hilang ditelan luasnya kegelapan Zona Buta.

"Sakit?" tanya sosok itu santai, menekan lututnya ke dada Aris, tepat di ulu hati. Napas Aris tercekat. "Ini belum seberapa dibanding sakitnya Sarah nunggu lu di stasiun. Belum seberapa dibanding malunya Pak Mulyono pas lu ketawain prinsip hidupnya. Lu mau ngerasain sakit? Nih, gue kasih diskon."

Aris Masa Lalu menekan ibu jarinya ke bahu Aris yang terkilir, memutarnya dengan presisi sadis. Tulang berbunyi krak.

Pandangan Aris memutih. Dunia berputar. Di antara rasa sakit yang meledak-ledak, ia melihat struk basah di tangan kirinya—benda yang entah bagaimana masih ia genggam erat seperti jimat. Tinta pada struk itu luntur, menetes seperti darah hitam, mengubah tulisan di sana.

ITEM: EGOISME (3 TAHUN). HARGA: SATU NYAWA IBU. STATUS: SEDANG DIPROSES... ** "JANGAN!" Aris meraung, tenaganya muncul entah dari mana. Ia menendang selangkangan sosok itu sekuat tenaga.

Upaya itu berhasil. Aris Masa Lalu terhuyung mundur, wajahnya menunjukkan ekspresi kaget, satu-satunya emosi jujur yang ia tunjukkan sejak tadi. Aris berguling menjauh, terbatuk-batuk, memuntahkan cairan empedu bercampur darah.

Ia merangkak menjauh, mencoba mencari tempat berlindung di balik bangkai bajaj oranye yang penyok. Napasnya memburu. Telinganya berdengung, namun di balik dengungan itu, suara EKG Ibu terdengar semakin lemah. Bip......... bip......... Jarak antar detak semakin jauh.

"Ibu..." bisik Aris, air matanya menetes jatuh ke aspal imajiner yang kini mulai berubah tekstur.

Lantai "Kuburan Ambisi" ini tidak lagi padat. Aspal dan logam itu mulai melunak, berubah menjadi lumpur hitam yang pekat dan berbau anyir. Aris menyadari dengan ngeri bahwa "lumpur" itu bergerak. Ribuan tangan-tangan kecil, hitam dan berminyak, mulai muncul dari permukaan, mencoba meraih kakinya. Itu bukan tangan setan atau jin. Itu adalah manifestasi dari setiap 'cancel' orderan, setiap sumpah serapah, setiap momen ia mengabaikan kemanusiaan demi mengejar insentif.

Aris Masa Lalu berdiri lagi, tidak jauh dari sana. Ia merapikan kemeja flanelnya yang sedikit kusut. Matanya yang hitam total menatap Aris dengan rasa kasihan yang merendahkan.

"Lu nggak bisa lari dari jejak-jejak dosa lu sendiri, Ris," katanya sambil berjalan mendekat. Langkah kakinya tidak tenggelam dalam lumpur dosa itu. Ia justru berjalan di atasnya seolah ia adalah rajanya. "Gue adalah raja di tempat ini. Ini kerajaan yang lu bangun buat gue setiap kali lu bohong. Setiap kali lu curang pake GPS palsu. Setiap kali lu bilang 'OTW' padahal lu masih makan di Warteg."

Aris mundur, punggungnya menabrak sesuatu yang keras. Ia menoleh. Itu bukan bangkai motor. Itu adalah sebuah cermin raksasa yang retak seribu, berdiri tegak di tengah kehampaan. Di dalam cermin itu, Aris tidak melihat bayangannya sendiri. Ia melihat Ibunya, terbaring di ranjang ICU, dikelilingi oleh mesin-mesin yang berkedip merah.

Suster Ningsih - dalam wujud manusia normal, bukan monster. Dia sedang melakukan kompresi dada. CPR.

"Ibu henti jantung!" teriak Suster Ningsih dalam pantulan cermin itu. Suaranya bergema, menembus dimensi, menghantam telinga Aris lebih keras dari tamparan apapun.

"Liat?" Aris Masa Lalu menunjuk ke cermin. "Detik ini, jantung Ibu lu berhenti. Dan lu masih di sini, main gulat sama bayangan lu sendiri. Lu gagal, Ris. Lu gagal jadi anak, lu gagal jadi pacar, lu gagal jadi manusia."

Aris menatap cermin itu dengan mata terbelalak. Waktu seakan berhenti. Rasa sakit di tubuhnya mendadak hilang, digantikan oleh kehampaan yang dingin dan absolut. Ibunya sedang sekarat. Bukan metafora. Ibunya benar-benar sedang meregang nyawa di dunia nyata sementara ia terjebak di neraka psikologis ini.

"Apa yang harus gue lakuin?" Aris bertanya, suaranya kecil, hancur. Ia tidak lagi bicara pada musuhnya. Ia bicara pada semesta.

Aris Masa Lalu tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangannya. "Sini. Gabung sama gue lagi. Kita lupain semua omong kosong soal 'hati nurani' ini. Kita balik jadi Aris yang dulu. Yang dingin. Yang kuat. Yang nggak peduli. Kalau lu jadi gue, rasa sakit itu bakal ilang. Gue janji."

Tawaran itu menggoda. Sangat menggoda. Menjadi mati rasa. Tidak perlu merasakan pedihnya kulit yang terkelupas atau nyeri di hati melihat Ibu sekarat. Hanya menjadi mesin pencari uang. Robot ojol tanpa jiwa.

Tangan Aris gemetar, perlahan terangkat menyambut uluran tangan masa lalunya.

Namun, matanya menangkap sesuatu di tanah, beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Ponsel retaknya.

Ponsel yang tadinya mati setelah ditendang, kini menyala kembali dengan cahaya yang menyilaukan di tengah kegelapan Zona Buta. Bukan layar error, bukan juga notifikasi sistem. Layar itu menampilkan sebuah incoming call.

Getarannya membuat tumpukan besi di sekitarnya bergemerincing.

Nama yang tertera di layar bukanlah "IBU", bukan "SARAH", dan bukan juga nomor tak dikenal.

Nama di layar itu berkedip dengan font merah darah: PENGEMUDI CADANGAN (SEDANG MENUJU LOKASI)

Aris tertegun. Ia tidak pernah menyimpan kontak dengan nama itu.

Aris Masa Lalu juga melihatnya. Untuk pertama kalinya, senyum arogan itu lenyap. Wajahnya berubah menjadi topeng ketakutan murni. Matanya yang hitam total membesar. Ia mundur selangkah, seolah ponsel itu adalah bom waktu.

"Jangan diangkat," desis Aris Masa Lalu, suaranya tidak lagi tenang, melainkan panik. "Ris, dengerin gue! Jangan sentuh HP itu! Lu nggak tau siapa yang bakal dateng kalau lu jawab panggilan itu!"

Aris menatap tangannya yang masih memegang spion patah, lalu menatap ponsel yang bergetar hebat di antara lumpur hitam, dan terakhir menatap wajah ketakutan dari versi dirinya yang paling ia benci. Jika iblis dalam dirinya takut pada panggilan itu, maka mungkin... hanya mungkin... itu adalah satu-satunya jalan keluar. Atau jalan menuju neraka yang lebih dalam.

Bip. Bip. Bip. Suara EKG Ibu di cermin mulai melambat lagi, seiring dengan dering telepon yang semakin keras.

Aris tidak menyambut tangan masa lalunya. Ia membanting tubuhnya ke samping, mengabaikan rasa sakit yang merobek syarafnya, dan meluncur ke arah ponsel itu.

"JANGAN!!!" Aris Masa Lalu berteriak, melompat untuk mencegahnya.

Terlambat. Jari Aris yang penuh darah menyapu layar retak itu ke kanan.

KLIK.

Sambungan terhubung. Hening sejenak. Lalu, sebuah suara berat, serak, dan berbau tanah kuburan terdengar dari speaker, menggema ke seluruh penjuru Zona Buta, menghentikan gerakan lumpur dan membekukan Aris Masa Lalu di tempatnya.

"Orderan diterima," suara itu berkata. "Tapi penumpangnya bukan Ibu kamu, Aris. Penumpangnya adalah kamu."

Lantai di bawah Aris runtuh seketika. Bukan jatuh ke bawah, melainkan terhisap ke dalam speaker ponselnya sendiri. Dunia berputar balik, dan kegelapan menelannya bulat-bulat, menyisakan Aris Masa Lalu yang menjerit sendirian di Kuburan Ambisi.