Sensasi itu bukan jatuh, melainkan terhapus.
Tidak ada angin yang bersiul di telinga, tidak ada gaya gravitasi yang menghantam ulu hati. Saat Aris tersedot masuk ke dalam speaker ponsel yang retak itu, realitasnya terurai. Tulang-tulangnya yang patah di Kuburan Ambisi tidak sembuh, melainkan dikonversi menjadi data yang rusak—sebuah glitch anatomi yang menyakitkan. Rasanya seperti ditarik paksa melewati lubang jarum; daging, memori, dan dosa dipadatkan menjadi satu frekuensi statis yang menjerit.
Kegelapan yang menelannya bukan hitam yang kosong. Itu adalah hitam yang padat. Hitam yang berbau oli terbakar dan plastik meleleh.
Lalu, sentakan itu datang.
GEDEBUKKK
Aris terhempas dengan keras. Bukan ke tanah, bukan ke aspal, tapi ke atas jok kulit imitasi yang licin dan dingin. Bau itu langsung menyerbu hidungnya, kombinasi memualkan dari pewangi mobil aroma jeruk nipis murah, keringat basi yang mengendap bertahun-tahun di serat kain, dan aroma logam tajam seperti darah yang mengering di ruang AC.
Ia terbatuk, memuntahkan cairan hitam pekat, sisa-sisa lumpur dari Kuburan Ambisi yang sempat masuk ke kerongkongannya. Tubuhnya gemetar hebat. Rasa sakit di lututnya yang hancur kembali menyala dengan intensitas baru, seolah saraf-sarafnya baru saja disambungkan ulang dengan kabel listrik telanjang.
"Argh... bangsat..." erangnya, suaranya parau, terserap oleh interior yang kedap suara.
Aris mencoba duduk, namun bahunya yang terkilir menolak bekerja sama. Dengan sisa tenaga, ia menyeret punggungnya menyandar ke pintu mobil. Ia berada di kursi belakang sebuah sedan tua. Jendela di sampingnya gelap gulita, dilapisi kaca film yang begitu tebal hingga tak ada cahaya dari luar yang mampu menembus. Di tangannya, pecahan kaca spion itu masih tergenggam erat, kini berlumuran lendir hitam dan darah segarnya sendiri.
Di depannya, terpisah oleh sekat partisi mika buram yang penuh goresan, seperti yang sering dipasang taksi online saat pandemi duduklah sosok itu.
Si Pengemudi Cadangan.
Sosok itu tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan, kedua tangannya mencengkeram setir yang dibungkus sarung kulit retak-retak. Aris tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang sandaran kepala dan partisi yang kotor, tapi ia bisa melihat punggungnya. Punggung itu mengenakan jaket yang dijahit kasar dari potongan-potongan jaket ojol berbeda warna, hijau, oranye, kuning, membentuk kolase seragam yang mengerikan. Di bagian tengkuknya, kabel-kabel hitam menyembul keluar dari kulit, merambat naik dan menyatu dengan langit-langit mobil.
"Ke mana..." Aris mencoba bicara, tapi tenggorokannya terasa seperti parutan kelapa. Ia menelan ludah yang bercampur darah. "Lo bawa gue ke mana, Anjing?"
Tidak ada jawaban verbal. Hanya suara bip pendek dari dasbor depan, diikuti suara mekanis yang datar, tanpa intonasi, mirip suara Google Assistant yang baterainya hampir habis.
"Sesuai aplikasi. Titik jemput: Zona Buta. Titik antar: [DATA TIDAK DITEMUKAN]. Perkiraan waktu tiba: Tergantung saldo amal."
Aris memukul kaca partisi itu dengan tangan sehatnya. "Gue nggak butuh teka-teki, Bangsat! Putar balik! Ibu gue... Ibu gue lagi sekarat!"
Ia mengangkat pecahan kaca spion di tangannya yang gemetar. Refleksi di pecahan itu masih menampilkan citra yang sama, namun kini kualitas gambarnya berbintik seperti siaran TV analog yang kehilangan sinyal. Di sana, di dalam pecahan kaca, Suster Ningsih masih memompa dada ibunya. Tubuh wanita tua itu menyentak setiap kali tekanan diberikan. Grafik EKG di monitor - yang masih terlihat di sudut pecahan cermin - hanya berupa garis yang nyaris datar dengan bip lemah yang sesekali muncul putus-putus.
"Ibu..." bisik Aris, air mata bercampur debu mengalir di pipinya yang bopeng.
Mobil itu mulai bergerak. Tidak ada suara mesin pembakaran, hanya dengungan rendah yang membuat gigi Aris ngilu, seolah kendaraan ini ditenagai oleh jeritan frekuensi rendah. Aris menoleh ke jendela samping. Ia menggosok kaca film yang gelap itu dengan sikunya, berharap melihat jalanan Jakarta, berharap melihat lampu merah Slipi atau macetnya Casablanca.
Apa yang dilihatnya membuat darahnya membeku.
Di luar sana bukan aspal. Mereka melaju di dalam sebuah arteri raksasa. Dinding-dinding terowongan itu berdenyut, terbuat dari daging merah basah yang dililit ribuan kabel serat optik yang berpendar biru redup. Di sela-sela daging itu, tertanam bangkai-bangkai motor, helm yang pecah, dan jaket-jaket pengemudi yang sudah membusuk, seolah-olah infrastruktur jalan ini dibangun di atas mayat mereka yang gagal mencapai target.
Kendaraan ini melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, namun Aris tidak merasakan guncangan. Ia merasa seperti paket barang yang sedang disortir di ban berjalan raksasa.
"Woy! Berhenti!" teriak Aris lagi, kali ini lebih putus asa. Ia mencoba membuka pintu, tapi tuasnya patah di tangannya. Mekanisme child lock diaktifkan dari pusat. "Lo budek?! Gue bilang berhenti!"
Sosok di depan itu bergeming. Namun, spion tengah di dalam mobil itu perlahan berputar sendiri, mengarah tepat ke wajah Aris. Di dalam pantulan spion itu, bukan wajah Aris yang terlihat. Melainkan sepasang mata merah yang menyala dari kegelapan, mata yang sama yang mengawasinya di pemakaman.
"Penumpang dilarang membuat kegaduhan," suara dari speaker mobil kembali terdengar. Kali ini lebih berat, lebih otoriter. "Perjalanan ini adalah akumulasi dari semua pembatalan sepihak yang pernah Anda lakukan. Nikmati rutenya."
"Gue bayar!" Aris merogoh saku celananya yang robek, mencari dompetnya, mencari ponselnya, mencari apa saja. Ia menarik keluar struk basah yang ia dapatkan sebelumnya. "Gue punya ini! Gue... gue bisa bayar!"
Tinta di struk itu mendadak berubah. Tulisan SALDO MAAF: 0 yang tadinya merah kini meleleh, menetes seperti darah segar ke telapak tangan Aris. Huruf-hurufnya bergeser, membentuk kalimat baru: TAGIHAN DITOLAK. MATA UANG TIDAK BERLAKU DI SINI. METODE PEMBAYARAN: NYAWA.
Aris melempar struk itu dengan rasa jijik. Rasa panas menjalar di dadanya, rasa panas yang berbeda dari lukanya. Ini adalah rasa panas dari ketidakberdayaan total. Ia, Aris yang selalu merasa di atas angin, yang bisa memanipulasi sistem, yang bisa membentak penumpang atau membatalkan pesanan semaunya, kini terjebak di kursi belakang taksi hantu yang melaju menuju neraka pribadi.
Tiba-tiba, monitor argometer di dashboard menyala terang, cahayanya merah menyilaukan menembus partisi mika. Aris memicingkan mata. Itu bukan angka rupiah.
Itu angka hitung mundur. 00:04:59
Dan di sebelahnya, ada detak jantung. Bukan detak jantung Aris. Irama itu sinkron dengan bip lemah dari monitor EKG di pecahan cermin yang dipegangnya. Argometer itu menghitung sisa waktu hidup Ibunya.
"Nggak..." Aris merangkak maju, mengabaikan rasa sakit yang merobek lututnya. Ia menempelkan wajahnya ke partisi mika. "Tolong... Siapa pun lo... Gue mohon. Jangan Ibu gue. Ambil gue aja. Turunin gue di mana aja, siksa gue, terserah! Tapi balikin waktu Ibu gue!"
Si Pengemudi Cadangan perlahan mengangkat tangan kirinya dari setir. Jari-jarinya panjang, pucat, dan memiliki terlalu banyak ruas. Ia menunjuk ke arah dashboard. Ada sebuah tombol merah besar di sana, mirip tombol darurat. Di bawahnya tertulis: BATALKAN PESANAN.
Harapan sekecil biji sawi tumbuh di dada Aris. "Iya! Batalkan! Batalkan pesanan ini sekarang!"
"Pembatalan pesanan akan dikenakan biaya penalti," suara mekanis itu memperingatkan. "Biaya penalti: Eksistensi Penumpang akan dihapus dari ingatan semua orang yang dicintainya. Ibu Anda akan hidup, tapi dia tidak akan pernah ingat pernah melahirkan Anda. Sarah tidak akan pernah ingat pernah mencintai Anda. Anda akan menjadi hantu tanpa sejarah."
Aris terdiam. Napasnya tercekat.
Penawaran macam apa ini? Ini bukan sekadar kematian. Ini adalah pemusnahan jejak. Menjadi nol mutlak. Jika ia menekan tombol itu—atau menyuruh si pengemudi menekannya—Ibu akan selamat, jantungnya akan kembali berdetak. Tapi saat Ibu membuka mata, Aris akan menjadi orang asing. Semua perjuangan Aris, semua utang yang ia tumpuk demi pengobatan Ibu, semua dosa yang ia lakukan demi "membahagiakan" Ibu... semuanya akan menjadi tidak relevan karena Ibu tak akan tahu siapa dia.
Apakah ia siap dilupakan oleh satu-satunya alasan ia hidup?
Apakah egonya sanggup menerima kenyataan bahwa dunia—dan Ibunya—mungkin lebih baik tanpa ingatan tentang Aris?
"Waktu tersisa: 3 menit," suara itu mendesak tanpa emosi.
Mobil itu berbelok tajam ke kiri, menukik turun ke dalam kegelapan yang lebih pekat. Dinding daging di luar jendela berganti menjadi dinding beton yang penuh dengan coretan grafiti nama-nama orang. Aris melihat nama "RIO" tertulis besar dengan cat semprot merah yang menetes. Lalu nama "PAK MULYONO". Lalu "SARAH".
Ini bukan sekadar jalan. Ini adalah usus dari penyesalannya sendiri.
Aris menatap pecahan cermin di tangannya. Wajah Suster Ningsih di refleksi itu tampak panik. Dia mengambil alat defibrillator. "Isi daya... 200 joule! Minggir!" Suara Suster Ningsih terdengar lamat-lamat, bocor dari dimensi lain melalui pecahan kaca itu. JLEG! Tubuh Ibu tersentak. Garis di monitor masih datar.
"Lakukan!" teriak Aris, memukul partisi mika sekuat tenaga hingga retak. "Tekan tombolnya, Setan! Biarin dia lupa sama gue! Gue nggak peduli! TEKAN!"
Si Pengemudi Cadangan tertawa. Bukan tawa manusia, tapi suara gesekan besi berkarat yang dipaksa berputar. Kepala pengemudi itu berputar 180 derajat, sepenuhnya berbalik menghadap Aris.
Aris menjerit mundur, punggungnya menabrak pintu mobil.
Wajah Pengemudi Cadangan itu kosong. Rata. Seperti manekin plastik yang belum dipahat. Namun, di tempat di mana seharusnya ada mulut, terdapat sobekan vertikal yang dijahit kasar dengan benang kawat. Dan di tempat mata seharusnya berada, tertanam dua layar ponsel retak yang menampilkan logo aplikasi ojek online yang sedang loading.
"Permintaan diterima," suara itu tidak keluar dari mulutnya, melainkan langsung bergema di dalam kepala Aris. "Tapi Anda salah paham, Aris. Tombol itu bukan untuk saya tekan. Tombol itu ada di sisi Anda."
Mekanisme partisi mika itu berdesis, lalu perlahan turun. Bau busuk dari depan kabin menyeruak masuk lebih kuat, bau bangkai yang diawetkan. Di dashboard, tombol merah itu berkedip-kedip menggoda. Tapi ada satu masalah.
Jaraknya.
Aris berada di kursi belakang. Kakinya cedera. Bahunya terkilir. Untuk menjangkau tombol itu, ia harus merangkak melewati celah sempit di antara dua kursi depan, melewati tubuh Si Pengemudi Cadangan yang mengerikan itu.
"Dua menit," kata Pengemudi itu, layar di matanya berkedip menampilkan ikon buffering. "Kanker ego stadium akhir membuat pergerakan menjadi sulit, bukan? Mari kita lihat seberapa besar keinginan Anda untuk berkorban. Atau apakah Anda akan tetap duduk diam di belakang, membiarkan orang lain yang menyetir nasib Anda sampai akhir?"
Aris menatap tombol itu. Menatap Ibunya di cermin. Menatap monster di depannya.
Rasa sakit di kakinya luar biasa saat ia mencoba menekuknya untuk mendorong tubuh. Tulang bergesekan dengan tulang. Ia meraung, air liur menetes dari mulutnya. Ia harus melewati monster ini. Ia harus menyentuh tombol itu sebelum jantung Ibunya berhenti selamanya.
Ia mencengkeram sandaran kursi depan dengan tangan kirinya yang masih berfungsi. Kukunya menancap ke dalam kulit jok yang terasa hangat dan berdenyut seperti kulit manusia. Ia menarik tubuhnya ke depan.
Tangan Si Pengemudi Cadangan, tangan pucat dengan jari-jari panjang itu, tiba-tiba melepas setir dan menyambar leher Aris. Cengkeramannya sedingin es, sekuat ragum besi.
"Satu menit lima puluh detik," bisik suara di kepalanya. "Tarif melonjak. Apakah Anda ingin melanjutkan?"
Aris tersedak, oksigen terhenti total. Ia menatap layar ponsel di mata monster itu. Di sana, ia melihat wajahnya sendiri yang sedang tercekik, biru dan menyedihkan.
Dengan sisa napas terakhir, Aris tidak mencoba melepaskan cengkeraman itu. Sebaliknya, ia melakukan satu-satunya hal yang dikuasai oleh seorang petarung jalanan yang licik. Ia mengayunkan tangan kanannya, tangan yang masih menggenggam pecahan kaca spion tajam itu bukan ke arah tombol, tapi menghujamkannya langsung ke salah satu layar ponsel yang menjadi mata si monster.
PRAANG!
Dunia meledak dalam percikan listrik dan jeritan digital. Mobil itu oleng hebat, menabrak dinding daging terowongan. Aris terlempar ke depan, melewati partisi, tubuhnya melayang di udara kabin yang sempit menuju dashboard.
Ke tombol itu. Atau ke kematian yang lebih pasti.
Di luar jendela yang pecah, kegelapan menunggu dengan mulut menganga.