Di luar jendela yang pecah, kegelapan menunggu dengan mulut menganga. Angin busuk menderu masuk, membawa aroma amis yang bukan berasal dari aspal atau tanah basah, melainkan dari daging yang membusuk dan tembaga yang terbakar.
Aris terhempas keras ke dasbor. Tulang rusuknya menghantam plastik keras yang terasa aneh, lembek dan hangat, seolah interior mobil sedan tua ini memiliki detak jantungnya sendiri. Rasa sakit yang menjalar dari lututnya yang hancur bukan lagi sekadar sinyal bahaya, melainkan jeritan konstan yang menulikan telinga. Ia terbatuk, memuntahkan sedikit darah yang bercampur dengan rasa empedu pahit.
Mobil itu, taksi supernatural yang dikemudikan oleh entitas mengerikan berwujud Si Pengemudi Cadangan, masih melaju gila-gilaan. Bukan di atas jalan raya Jakarta yang biasa Aris keluhkan macetnya, tetapi di dalam sebuah terowongan organik raksasa, sebuah arteri neraka yang dinding-dindingnya berdenyut selaras dengan sisa waktu di argometer.
"SATU MENIT EMPAT PULUH DELAPAN DETIK," suara mekanis itu berdengung, bukan dari speaker, melainkan langsung dari tenggorokan Si Pengemudi yang penuh kabel.
Aris berusaha menegakkan tubuhnya. Kabin depan ini sempit, pengap, dan berbau kematian yang diawetkan. Bau pewangi jeruk nipis murah itu kini bercampur dengan aroma formaldehida yang menyengat, membakar selaput hidung Aris. Di sampingnya, makhluk itu, atau apa pun yang tersisa darinya sedang memperbaiki posisinya.
Kepala Si Pengemudi, yang tadi sempat terpelintir karena hantaman Aris, kini berputar kembali ke depan dengan suara krak basah yang menjijikkan, seperti tulang ayam yang dipatahkan paksa. Satu mata ponselnya hancur total, menyisakan lubang hitam yang memercikkan cairan kristal cair dan nanah digital ke jok kulit imitasi. Namun, satu mata ponsel lainnya masih utuh, menyala merah terang, menampilkan rute GPS yang tidak masuk akal: DESTINASI: TITIK NOL EGO.
"Kau merusak aset perusahaan," geram makhluk itu. Suaranya terdengar seperti rekaman kaset rusak yang diputar lambat. Tangan kanannya, yang lebih mirip cakar besi berbalut kulit manusia pucat, mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang membuat setir itu bengkok.
Aris tidak menjawab. Ia tidak punya nafas untuk berdebat. Tangannya yang gemetar masih menggenggam erat pecahan kaca spion, satu-satunya senjata, satu-satunya jendela ke dunia nyata. Di permukaan kaca yang retak itu, ia melihat kekacauan di ruang ICU. Suster Ningsih sedang menekan pedal defibrillator ke dada ibunya. Tubuh wanita tua yang ringkih itu tersentak ke atas, sebuah tarian kematian yang mengerikan tanpa irama jantung yang menyertainya.
Ibu... batin Aris menjerit. Setiap detik yang terbuang di dalam "lambung" monster ini adalah detak jantung yang dicuri dari ibunya.
Aris memaksakan matanya mencari tombol itu. Tombol "BATALKAN PESANAN". Di sanalah ia berada, tepat di tengah konsol dasbor, di antara lubang AC yang mendesiskan uap dingin berbau bangkai. Tombol itu tidak terbuat dari plastik. Ia berdenyut, berwarna merah daging segar, dikelilingi oleh pembuluh darah halus yang menjalar ke sistem audio mobil.
Hanya berjarak sejengkal dari jari-jarinya yang berlumuran darah.
"Jangan bodoh," desis Si Pengemudi. Kabel-kabel hitam yang mencuat dari lehernya menggeliat seperti ular kobra yang siap mematuk. "Membatalkan pesanan berarti menghapus riwayat. Kau tidak akan pernah ada. Ibumu akan mati sendirian, tanpa ingatan tentang anak yang mengecewakannya."
Aris mengertakkan gigi, menahan rasa sakit yang merobek bahunya yang dislokasi saat ia mencoba menjangkau tombol itu. "Lebih baik dia lupa punya anak bajingan sepertiku, daripada dia mati karena dosa-dosaku!" teriak Aris, suaranya parau dan putus asa.
Ia menerjang maju.
Bukan dengan taktik, bukan dengan perhitungan, melainkan dengan keputusasaan murni seekor binatang yang terpojok. Aris mengabaikan lututnya yang remuk, menggunakan siku kirinya untuk menumpu berat badan di konsol tengah, sementara tangan kanannya yang memegang pecahan kaca menyabet liar ke arah leher kabel makhluk itu.
Sreeet!
Pecahan kaca itu merobek jaket tambal sulam si Pengemudi, memutus beberapa kabel hitam yang berminyak. Cairan hitam pekat, oli bercampur darah menyembur keluar, mengenai wajah Aris. Panas. Cairan itu melepuh di kulitnya.
Si Pengemudi meraung, sebuah suara digital yang menyakitkan telinga, gabungan dari klakson truk dan jeritan modem dial-up. Mobil sedan itu membanting setir ke kiri dengan brutal. Aris terlempar, kepalanya menghantam kaca samping yang sudah pecah.
Separuh tubuh Aris kini menggantung di luar jendela yang menganga.
Dunia di luar sana adalah mimpi buruk yang tak terbayangkan. Aris melihat dinding terowongan itu dengan jelas sekarang. Itu bukan beton. Itu adalah daging. Daging raksasa yang membusuk, penuh dengan bisul-bisul yang meletus mengeluarkan asap hijau. Dan di dalam daging dinding itu, tertanam ribuan wajah. Wajah-wajah pengemudi ojek online, wajah-wajah pekerja kantoran yang mati di jalan, wajah-wajah anak jalanan. Mata mereka tertutup, mulut mereka terbuka dalam teriakan bisu yang abadi.
Mereka adalah "aspal" yang selama ini diinjak Aris. Saksi bisu yang ia abaikan demi mengejar insentif.
"Masuk kembali, atau jadilah bagian dari trotoar!" Si Pengemudi menarik kerah jaket Aris dengan kekuatan yang meremukkan tulang selangka.
Aris ditarik paksa kembali ke dalam kabin. Namun, manuver itu membuat mobil kehilangan kendali. Sedan itu berputar 360 derajat, bannya berdecit di atas permukaan "jalan" yang licin oleh lendir.
Di layar argometer, angka itu berkedip makin cepat. 1:20... 1:19...
Di pecahan kaca spion, garis di monitor EKG Ibu mendatar sempurna. Bunyi tiiiit panjang yang menyayat hati mulai terdengar, bersaing dengan deru mesin mobil.
"Tidak! IBU!" Aris berteriak, air mata bercampur darah mengalir di pipinya. "Bangun, Bu! Jangan pergi dulu!"
Aris melihat tombol "BATALKAN PESANAN" itu lagi. Tombol itu kini seolah mengejeknya. Jaraknya hanya beberapa sentimeter, namun rasanya sejauh jarak antara Jakarta dan surga.
Si Pengemudi Cadangan, meski terluka dan bocor oli, tidak tinggal diam. Tangan kirinya melepaskan setir mobil itu tampaknya mengemudi sendiri mengikuti aliran "darah" terowongan. Dia mencengkeram pergelangan tangan Aris yang memegang pecahan kaca.
Cengkeraman itu dingin, sedingin mayat di kamar jenazah. Tulang pergelangan tangan Aris berderak.
"Kau pikir kau pahlawan?" bisik makhluk itu, wajah ratanya mendekat ke wajah Aris. Bau nafasnya seperti sampah yang dibakar. "Kau hanya parasit. Parasit yang menyedot hidup ibumu, hidup Sarah, hidup Rio. Kau pikir dengan menghapus dirimu, kau membayar utang? Tidak, Aris. Itu cuma cara pengecut untuk lari lagi. Lari dari tanggung jawab untuk melihat kehancuran yang kau buat."
Kata-kata itu menghujam lebih tajam daripada pecahan kaca di tangan Aris. Itu adalah kebenaran yang selama ini ia kubur di bawah tumpukan orderan fiktif dan ambisi kosong. Bahwa mungkin, kematiannya pun tidak cukup. Bahwa ketiadaannya hanyalah bentuk lain dari egoisme, ingin bersih tanpa noda, meninggalkan orang lain dengan kekosongan.
Namun, Aris melihat bayangan Ibu di pecahan kaca yang kini bergetar hebat di tangannya. Suster Ningsih menggelengkan kepala, wajahnya putus asa. Ia mulai melepas alat pacu jantung.
"Persetan dengan filosofimu!" Aris meludah tepat ke mata ponsel Si Pengemudi yang masih utuh.
Ludah bercampur darah itu menutupi lensa kamera. Si Pengemudi tersentak, buta sesaat.
Ini kesempatannya.
Aris tidak menarik tangannya yang dicengkeram. Sebaliknya, ia mendorong tubuhnya maju, membiarkan pergelangan tangannya berisiko patah, demi mendapatkan momentum. Dengan sisa tenaga terakhir, ia menghantamkan keningnya sendiri ke wajah rata Si Pengemudi.
BUGH!
Rasanya seperti menghantam tiang listrik. Kepala Aris pening, pandangannya berkunang-kunang. Tapi benturan itu cukup untuk membuat cengkeraman makhluk itu melonggar sedetik.
Aris menjatuhkan pecahan kaca spion itu dari tangan kanannya, membiarkannya jatuh ke pangkuannya, dan menggunakan tangan kanannya yang kini bebas untuk menonjok—bukan wajah pengemudi, melainkan setir mobil.
Ia memutar setir itu tajam ke kanan, ke arah dinding daging yang berdenyut.
"KITA MATI SAMA-SAMA, BANGSAT!"
Mobil sedan itu menurut. Ia melesat menabrak dinding arteri.
Benturan itu dahsyat. Kaca depan retak seribu. Airbag tidak mengembang—malah keluar ribuan struk belanja dan tiket parkir tua yang menampar wajah Aris seperti badai kertas tajam. Mobil itu tidak berhenti; ia menembus dinding daging itu, merobek lapisan realitas supernatural tersebut.
Guncangan itu melempar Aris kembali menjauh dari dasbor. Tubuhnya terbanting ke pintu penumpang yang jendelanya pecah. Ia nyaris terlempar keluar lagi, hanya tertahan oleh sabuk pengaman yang tiba-tiba melilit lehernya seperti ular piton.
Dunia berputar. Atas menjadi bawah. Kiri menjadi kanan.
Mobil itu kini jatuh bebas. Mereka telah keluar dari "arteri" dan masuk ke dalam rongga gelap yang tak berujung—mungkin lambung, mungkin kehampaan total.
Di tengah jatuhnya mobil yang berputar-putar di udara kosong itu, gravitasi hilang. Aris melayang sedikit dari joknya, tertahan oleh lilitan sabuk di leher yang mencekiknya perlahan. Oksigen menipis. Pandangannya mulai menggelap.
Di depannya, Si Pengemudi Cadangan tidak terpengaruh gravitasi. Ia masih duduk tegak, seolah dipaku ke kursi pengemudi. Kabel-kabel di lehernya memanjang, menghubungkannya ke atap mobil, menahannya seperti boneka tali yang mengerikan. Mata ponselnya yang tertutup ludah darah Aris perlahan menyapunya bersih dengan wiper kecil yang muncul dari dalam rongga matanya.
"Rute diperbarui," suara itu terdengar tenang, terlalu tenang di tengah kekacauan ini. "Memasuki Zona Merah: The Void of Unpaid Debts."
Aris meraba-raba di udara, mencari pecahan kaca spionnya. Ia menemukannya melayang di dekat lututnya yang hancur. Ia menyambarnya kembali. Saat ia melihat ke dalam cermin itu, ia tidak lagi melihat ruang ICU.
Ia melihat kegelapan. Hanya statis. Semut-semut abu-abu seperti televisi yang tidak mendapatkan sinyal.
Apakah Ibu sudah...?
"Tidak..." bisik Aris, suaranya tercekik lilitan sabuk pengaman. "Belum... argometer masih menyala."
Ia menoleh ke argometer yang kini melayang-layang terlepas dari dasbor, hanya terhubung oleh kabel data tipis. Angka merah itu menyala di kegelapan kabin yang jatuh bebas.
00:45 detik.
Empat puluh lima detik sebelum segalanya terlambat.
Tapi Aris tidak bisa bergerak. Sabuk pengaman itu hidup. Itu bukan kain nilon biasa; itu adalah jalinan bon utang, struk tagihan, dan surat peringatan yang pernah ia abaikan, kini bersatu membelit lehernya, menuntut pelunasan nyawa.
Dan di bawah sana, di dasar jurang tempat mobil ini jatuh, Aris melihat sesuatu yang bercahaya samar. Bukan cahaya harapan. Itu adalah cahaya hijau pucat, berpendar dari tumpukan jutaan ponsel tua dan bangkai motor yang menggunung membentuk lanskap kota mati.
Si Pengemudi Cadangan menoleh ke arah Aris, kepalanya miring dengan sudut yang tidak manusiawi. Jahitan vertikal di tempat yang seharusnya mulut itu mulai robek perlahan, membuka sebuah celah gelap yang penuh dengan gigi-gigi logam tajam.
"Selamat datang di pangkalan terakhirmu, Aris," ucapnya, sementara mobil itu meluncur deras menghantam gunungan sampah masa lalu.
Jendela pecah di samping Aris kini bukan lagi jalan keluar, melainkan lubang kubur yang menunggu untuk menelannya bulat-bulat.