Jendela pecah di samping Aris kini bukan lagi jalan keluar, melainkan lubang kubur yang menunggu untuk menelannya bulat-bulat.
Angin dari The Void of Unpaid Debts tidak berhembus layaknya udara di Jakarta; ia meraung, sebuah kakofoni bisu yang memekakkan telinga batin. Ini bukan angin, melainkan hisapan vakum raksasa. Gravitasi di sini terasa sepuluh kali lipat lebih berat, seolah setiap gram dosa dan tunggakan yang pernah Aris abaikan kini memiliki massa fisik yang menarik taksi hancur itu meluncur deras ke bawah.
Di bawah sana, hamparan hijau pucat yang semula tampak seperti kota, kini terlihat jelas wujud aslinya seiring jarak yang menipis dengan kecepatan terminal. Itu bukan gedung. Itu adalah gunungan bangkai teknologi. Jutaan ponsel retak, ribuan kerangka sepeda motor yang hangus, dan lautan helm ojol yang pecah terbelah dua. Semuanya memancarkan pendar fosfor beracun, sebuah limbah ambisi tempat segala hal yang "usang" dan "tak berguna" dibuang—termasuk jiwa-jiwa yang gagal melunasi janji.
"GRRZZT... BAYAR... TUNAI..."
Suara itu bukan berasal dari radio, melainkan dari tenggorokan Si Pengemudi Cadangan. Sosok itu tidak peduli bahwa mobil mereka sedang terjun bebas. Tubuhnya yang kaku dan penuh kabel putus itu berputar perlahan, lehernya berderak patah-patah menoleh ke arah Aris. Mulut yang sebelumnya hanya berupa celah speaker ponsel kini menganga lebar. Engsel rahangnya terbuat dari logam karatan yang dipaksa terbuka melebihi batas anatomis, memperlihatkan barisan gigi yang bukan tulang, melainkan paku-paku payung dan pecahan silet berkarat.
Aris ingin berteriak, tapi paru-parunya tergencet. Sabuk pengaman supranatural itu—lilitan struk tagihan, surat peringatan debt collector, dan bon utang warteg yang memanjang—kini hidup layaknya ular sanca. Kertas-kertas termal itu mengencang, melilit leher dan dada Aris dengan kekuatan industri. Tepian kertas yang tajam mengiris kulit lehernya, mencampur darah segar dengan keringat dingin.
Rasa sakit dari rusuk yang patah menghantam kesadaran Aris setiap kali taksi itu berputar di udara. Lutut kirinya yang hancur terjepit di bawah dashboard yang kini melengkung masuk. Ia terperangkap dalam peti mati besi yang sedang jatuh dari langit neraka.
00:39
Angka merah di argometer berkedip di antara debu dan pecahan kaca yang melayang di dalam kabin (anti-gravitasi sesaat sebelum benturan). Waktu berjalan dalam gerak lambat yang menyiksa.
Di tangan kanannya, Aris masih menggenggam erat pecahan kaca spion yang baru saja ia pungut kembali. Benda itu licin oleh darahnya sendiri. Hanya itu senjata yang ia punya.
"Lepaskan... gue..." desis Aris, suaranya tercekik.
Si Pengemudi tidak mendengarkan. Tangan kirinya dengan jari-jari berupa colokan USB tajam, melesat mencengkeram bahu Aris yang dislokasi.
CRAK.
"ARGHHH!" Aris menjerit, matanya membelalak putih. Rasa sakit itu membutakan, melampaui batas toleransi manusia normal. Kuku-kuku besi itu menancap dalam, menembus jaket ojol yang sudah compang-camping, langsung ke daging.
Makhluk itu menarik tubuh Aris mendekat ke arah rahang besinya yang berputar seperti mesin penghancur kertas. Bau napasnya busuk, campuran antara oli bekas dan aroma formalin rumah sakit, bau kematian yang steril namun menjijikkan.
Aris tahu ia tidak bisa memotong sabuk pengaman itu tepat waktu. Kertas-kertas itu terlalu tebal, berlapis-lapis dosa masa lalu yang telah mengeras. Ia harus menyerang sumbernya.
Dengan sisa tenaga terakhir yang dipacu oleh adrenalin kepanikan, Aris tidak mencoba menjauh. Ia justru membiarkan dirinya ditarik. Saat wajah retak Si Pengemudi yang merupakan layar ponsel pecah, berada hanya beberapa senti dari wajahnya, Aris menghujamkan pecahan kaca spion itu.
Bukan ke leher. Bukan ke dada. Aris menusukkannya tepat ke dalam mulut yang menganga itu.
KRETEK. PRANG.
Pecahan kaca spion itu menghantam mekanisme gigi logam di dalam mulut makhluk itu. Aris memutarnya dengan brutal. Roda gigi macet. Percikan listrik biru meledak dari dalam kerongkongan si pengemudi. Cairan hitam, oli bercampur darah, menyembur keluar, menyiram wajah Aris. Panas. Membakar kulit seperti aspal cair.
Makhluk itu kejang. Cengkeramannya di bahu Aris melonggar sesaat.
Aris memanfaatkan detik itu. Ia menebas membabi buta ke arah sabuk pengaman di dadanya menggunakan sisa ujung kaca yang masih ia genggam. Kertas-kertas tagihan itu robek, berhamburan menjadi konfeti keputusasaan.
Napas Aris kembali tersentak masuk ke paru-paru. Oksigen terasa seperti pisau, tapi ia bersyukur.
Namun, hukum fisika, bahkan di dimensi gila ini tidak bisa disuap.
Mereka sudah sampai di dasar.
BENTURAN.
Dunia menjadi sunyi. Bukan sunyi karena tenang, tapi sunyi karena gendang telinga Aris meledak akibat tekanan suara hantaman.
Taksi itu tidak mendarat dengan mulus. Ia menabrak gunungan bangkai motor di dasar lembah hijau itu dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Logam bertemu logam. Kaca bertemu plastik keras. Tubuh Aris terlempar ke depan, menghantam sisa airbag yang sudah menjadi bubur kertas, lalu terpental kembali ke kursi saat mobil itu terguling-guling menuruni bukit sampah elektronik.
Dunia berputar. Atas menjadi bawah. Langit menjadi lantai.
Hitam. Merah. Hijau statis.
Lalu berhenti.
Posisi taksi kini terbalik. Atapnya ringsek mencium tanah yang terbuat dari ribuan casing HP lama. Aris tergantung terbalik, namun kali ini bukan oleh sabuk pengaman, melainkan karena kakinya yang hancur terjepit di celah pedal rem dan kopling yang bengkok.
Darah menetes dari hidungnya, jatuh ke langit-langit mobil yang kini ada di bawah. Tesss... tesss... Suara itu terdengar ganjil di telinganya yang berdenging panjang.
Aris mencoba bergerak, dan seluruh saraf di tubuhnya menjerit protes. Tulang rusuknya rasanya seperti ditusuk jarum panas setiap kali ia menarik napas. Pandangannya kabur, hanya menangkap bayang-bayang hijau dan abu-abu.
"Ibu..." bisiknya. Suara itu keluar sebagai buih darah.
Ia menoleh lemah ke arah dashboard yang kini berada di posisi aneh di samping kepalanya. Argometer itu retak parah, tapi angkanya masih menyala redup, berkedip-kedip sekarat.
00:12
Dua belas detik.
Jantung Aris serasa berhenti berdetak. Bukan karena sakit, tapi karena teror. Ia telah jatuh ribuan meter, bertarung dengan monster, dan hancur lebur... hanya untuk menyadari bahwa ia masih belum sampai di TITIK NOL EGO.
Cermin spion tengah yang tergantung miring di dekat wajahnya tidak lagi memantulkan kabin mobil. Benda itu kini menampilkan statis, semut-semut hitam putih yang menari liar. Namun, di balik suara gemerisik statis itu, Aris bisa mendengarnya.
Bunyi itu.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Suara EKG yang datar. Panjang. Tanpa jeda.
Di telinganya, suara Suster Ningsih terdengar, bukan dari cermin, tapi bergema dari jutaan ponsel mati yang menjadi landasan tempat taksi ini jatuh. Suara itu datang dari segala arah, surround sound dari neraka.
"Maaf, Pak Aris... Kami sudah berusaha semampu kami. Jantung pasien tidak lagi merespons. Sesuai prosedur administrasi yang Bapak tandatangani... alat penunjang hidup akan kami lepas."
"JANGAN!" Aris meraung. Suaranya pecah, serak, menyedihkan.
Ia mencoba menarik kakinya yang terjepit. Rasa sakit di lutut kirinya begitu hebat hingga ia hampir muntah. Tulangnya bergesekan dengan logam. Ia tidak peduli. Ia harus keluar. Ia harus menekan tombol itu. Di mana tombolnya?
Aris meraba-raba langit-langit mobil (yang kini di bawah). Tangannya menyentuh cairan hitam lengket, pecahan kaca, dan potongan tubuh Si Pengemudi Cadangan yang hancur berantakan akibat benturan. Kepala makhluk itu tergeletak terpisah dari badannya, masih menatap Aris dengan satu mata kamera yang retak.
Tapi tombol "BATALKAN PESANAN" itu tidak ada di sana.
Konsol tengah hancur lebur. Tombol itu hilang tertimbun puing-puing kabin.
Aris menangis. Air mata bercampur darah mengalir membasahi dahinya. Ia gagal. Ia benar-benar gagal. Kesombongannya, keyakinannya bahwa ia bisa "mengakali" sistem, bahwa ia bisa menjadi pahlawan di detik terakhir... semuanya omong kosong. Ia hanyalah seorang anak durhaka yang mati di tumpukan sampah, sementara ibunya meninggal sendirian di ruang ICU yang dingin.
"Bu... maafin Aris, Bu..." isaknya. Tubuhnya menggigil hebat, shock mulai mengambil alih sistem sarafnya.
Dingin mulai merambat dari ujung kaki ke dada. Pandangan Aris menggelap. Apakah ini rasanya mati? Apakah ini akhir dari perjalanan ojek online lintas dimensi ini? Menjadi salah satu hantu yang bergentayangan di Void ini, menjadi bagian dari statistik kegagalan?
Namun, di tengah keputusasaan yang melumpuhkan itu, sesuatu terjadi.
Gunungan sampah elektronik di luar taksi mulai bergetar.
Awalnya pelan. Getaran halus yang merambat melalui sasis mobil. Lalu semakin kuat.
Drrrt... drrrt... drrrt...
Satu ponsel bergetar. Lalu sepuluh. Lalu seratus.
Dalam hitungan detik, jutaan ponsel bekas yang menjadi lantai lembah ini menyala serentak. Layar-layar retak itu memancarkan cahaya putih menyilaukan, menerangi kegelapan Void dengan intensitas yang menyakitkan mata.
Dan mereka semua mulai berdering.
Bukan nada dering polifonik acak. Itu satu nada yang sama. Nada dering standar ponsel jadul milik Ibu Aris. Nada monophonic sederhana yang selalu membuat Aris kesal dulu karena bunyinya yang cempreng dan keras.
Tet-tet-tet... Tet-tet-tet...
Jutaan ponsel itu berteriak memanggilnya. Suaranya begitu keras hingga mengalahkan denging di telinga Aris. Getarannya membuat taksi yang terbalik itu berguncang.
Aris memicingkan mata, berusaha melihat keluar melalui celah jendela yang pecah.
Di tengah lautan cahaya layar ponsel itu, sesosok bayangan mendekat.
Sosok itu tidak berjalan. Ia menyeret langkah. Kakinya pincang, persis seperti cara jalan Aris sekarang. Ia mengenakan jaket ojol yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu, bukan hijau. Helmnya retak di bagian samping.
Sosok itu berhenti tepat di depan bangkai taksi. Ia membungkuk, mengintip ke dalam kabin terbalik tempat Aris tergantung tak berdaya.
Cahaya dari jutaan ponsel menerangi wajah di balik kaca helm itu.
Jantung Aris, yang tadinya siap menyerah, kini memompa darah dingin ke seluruh tubuhnya. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Wajah di balik helm itu adalah wajahnya sendiri.
Tapi bukan Aris yang ini. Itu adalah wajah Aris yang lebih tua. Kulitnya keriput, matanya buta sebelah—putih susu tanpa pupil—dan bibirnya menyeringai, memperlihatkan gigi yang hitam membusuk. Di lehernya, tergantung sebuah kalung yang terbuat dari selang infus yang dipotong-potong.
"Orderan belum selesai, Mas," suara sosok itu parau, seperti gesekan kertas amplas. Ia tidak bicara lewat mulut, tapi suaranya muncul langsung di kepala Aris.
Sosok Aris-Tua itu mengulurkan tangannya yang kurus kering menembus jendela pecah. Di telapak tangannya yang kotor, tergeletak sebuah benda kecil berwarna merah.
Tombol itu. Tombol "BATALKAN PESANAN" yang terlepas dari dashboard.
"Mau lanjut... atau mau jadi seperti gue?" tanyanya, seringai di wajahnya melebar hingga menyentuh telinga.
Di latar belakang, suara EKG flatline berubah menjadi nada tunggu telepon yang tak kunjung diangkat.
Aris menatap tombol di tangan kembarannya yang mengerikan itu, lalu menatap wajah hancur masa depannya sendiri. Pilihan itu bukan lagi tentang menyelamatkan Ibu. Pilihan itu kini tentang siapa yang akan keluar dari bangkai mobil ini: Aris yang bertobat, atau monster baru yang akan menghuni Void ini selamanya.
Tangan Aris yang gemetar terangkat perlahan, darah menetes dari ujung jarinya, meraih ke arah tombol itu.
Namun, sebelum jarinya menyentuh plastik merah tersebut, Aris-Tua menarik tangannya kembali dan mengepal.
"Ups," bisik makhluk itu. "Bayar dulu ongkos parkirnya."
Makhluk itu menunjuk ke arah dada Aris. Ke arah saku dalam jaketnya. Tempat Aris menyimpan foto USG bayi Sarah yang tak pernah lahir—satu-satunya benda yang selama ini ia sembunyikan dari siapa pun, bahkan dari dirinya sendiri.
Rahasia tergelapnya.
"Serahkan kenangan itu," tuntut Aris-Tua. "Atau Ibu lo mati sekarang."
Argometer berkedip satu kali lagi.
00:01