Horor #horor #ojol

Transaksi Rahim Hampa "00:01"

Penulis djoedo
23 January 2026

"00:01"

Angka itu tidak sekadar berkedip. Ia menatap. Seperti mata Tuhan yang lelah menunggu pertobatan yang tak kunjung datang, digit merah di argometer itu membeku, menggantung di antara ada dan tiada. Satu detik yang ditarik paksa menjadi keabadian.

Di dalam kabin taksi yang terbalik, gravitasi bekerja dengan cara yang salah. Darah Aris tidak lagi mengalir ke kaki, melainkan menumpuk di kepala, menciptakan tekanan konstan di balik bola matanya yang nyaris pecah. Dengung di telinganya bukan lagi sekadar tinitus akibat ledakan ban atau hantamam logam; itu adalah suara keheningan mutlak dari "Void of Unpaid Debts" alias Lembah Utang Tak Terbayar. Jutaan layar ponsel yang berserakan di luar sana, yang sebelumnya menyala seperti kunang-kunang neraka, kini meredup, menyisakan cahaya hijau kusam yang menyinari wajah makhluk di depannya.

Aris-Tua.

Sosok itu berdiri atau lebih tepatnya, seperti melayang kikuk dengan postur tubuh yang patah di luar jendela taksi yang pecah. Wajahnya adalah peta kehancuran masa depan Aris. Kulit yang melepuh karena terlalu lama terpapar aspal panas dan polusi Jakarta, satu mata yang tertutup katarak permanen, dan bibir yang menyeringai memperlihatkan gigi-gigi kuning yang jarang. Ia mengenakan jaket ojol yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu limbah, menyatu dengan daging di bahunya seolah poliester murahan itu adalah kulit keduanya.

Di tangan kirinya yang gemetar, tangan yang jari-jarinya bengkok permanen akibat terlalu lama mencengkeram setang motor, ia menggenggam tombol merah itu.

Tombol "BATALKAN PESANAN".

Satu-satunya benda yang bisa menghentikan detak jantung artifisial di argometer. Satu-satunya rem darurat untuk menyelamatkan nyawa Ibunya yang kini, di dimensi lain, sedang meregang nyawa dengan selang ventilator yang siap dicabut Suster Ningsih.

"Sakit, Ris?" suara Aris-Tua terdengar. Bukan lewat gelombang udara, melainkan langsung bergaung di dalam tempurung kepala Aris. Suaranya serak, seperti gesekan kampas rem yang habis beradu dengan cakram besi. "Lutut kiri hancur. Rusuk patah nusuk paru-paru. Tapi itu belum seberapa dibanding rasa sakit kalau dia mati, kan?"

Aris mencoba menjawab, tapi yang keluar dari mulutnya hanya buih darah kental. Rasanya asin dan logam. Ia tersedak. Tubuhnya yang menggantung terbalik memberontak, mencoba membebaskan kaki kirinya yang masih terjepit di antara pedal kopling dan dashboard yang ringsek. Rasa nyeri yang meledak dari lututnya begitu hebat hingga pandangannya memutih sesaat. Tulang itu bukan sekadar patah; ia remuk, digiling oleh beban dosa yang termanifestasi menjadi besi tua.

"Satu detik lagi, Ris," Aris-Tua mengangkat tombol itu tinggi-tinggi, memainkannya seperti piala kemenangan. "Suster Ningsih udah pegang saklarnya. Lu bisa denger kan? Bunyi bip panjang itu... merdu banget."

Di latar belakang pendengaran Aris, melampaui deru angin lembah sampah, suara monitor EKG itu terdengar semakin nyata. Tiiiiiittttt. Datar. Monoton. Suara ketiadaan.

"Apa... mau... lu?" Aris memaksakan kata-kata itu keluar, setiap suku kata menyayat tenggorokannya yang kering. Tangan kanannya yang dislokasi terkulai tak berdaya, sementara tangan kirinya mencengkeram sisa sabuk pengaman yang telah terpotong, buku-buku jarinya memutih.

Aris-Tua mendekatkan wajahnya ke celah jendela. Bau napasnya busuk, campuran antara aroma bensin basi dan bunga kamboja yang layu. "Bayarannya bukan duit, Ris. Saldo lu di sini nol. Minus malah. Lu tau aturan main di warung ini. Gak ada makan siang gratis, gak ada pembatalan tanpa denda."

Mata satu Aris-Tua yang masih berfungsi menatap tajam ke arah dada kiri Aris, menembus jaket ojol yang robek, menembus kulit, langsung menuju saku bagian dalam.

"Foto itu," bisik Aris-Tua. "Gua mau foto itu."

Darah Aris berdesir dingin. Jantungnya, yang sedari tadi memacu adrenalin, tiba-tiba terasa berhenti berdetak.

Foto USG Sarah.

Benda itu adalah jimat tergelapnya. Sebuah lembar kertas termal glossy yang mulai pudar, terselip rapi di dompet, tersembunyi di balik bon struk bensin dan kartu ATM yang sudah kedaluwarsa. Itu adalah bukti visual dari satu-satunya "nyawa" yang pernah ia ciptakan, sekaligus nyawa yang ia "batalkan" demi karir, demi ego, demi ketakutan akan kemiskinan.

"Jangan..." rintih Aris. Air mata bercampur darah mengalir, jatuh melawan gravitasi ke dahinya. "Ambil... yang lain. Ambil kaki gua. Ambil mata gua."

"Gua gak butuh sampah fisik lu!" bentak Aris-Tua. Emosinya meledak, membuat ribuan ponsel di lembah itu bergetar serentak. "Badan lu itu udah rusak! Gak ada harganya! Gua mau rasa bersalah lu. Gua mau rahasia yang bikin lu jadi bajingan dingin kayak sekarang. Lu simpen foto itu bukan karena lu sayang sama anaknya, kan? Lu simpen buat nyiksa diri lu sendiri. Buat ngingetin kalau lu itu pembunuh berdarah dingin yang berlindung di balik alasan 'belum siap mapan'!"

Aris terdiam. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada tabrakan taksi barusan. Aris-Tua benar. Foto janin berusia 8 minggu itu adalah monumen kegagalannya. Ia menyimpannya sebagai cambuk, sebuah alasan bawah sadar mengapa ia merasa tidak pantas bahagia, tidak pantas dicintai, dan mengapa ia terus berlari mengejar poin seolah angka-angka itu bisa menimbun lubang di jiwanya.

"Waktu abis, Ris," Aris-Tua mundur selangkah. Jempolnya yang kotor dan hitam mulai menekan tombol merah itu perlahan. Sangat pelan. "Suster Ningsih udah mulai cabut kabelnya. Satu... dua..."

"TUNGGU!" Aris berteriak sekuat tenaga, suaranya pecah menjadi lolongan keputusasaan.

Dengan tangan kirinya yang gemetar hebat, Aris merogoh saku dalam jaketnya. Gerakan itu menyiksa. Setiap inci pergerakan otot punggungnya mengirimkan sinyal rasa sakit yang menjalar ke seluruh saraf, seolah-olah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke sumsum tulang belakangnya. Namun, rasa takut kehilangan Ibunya—satu-satunya manusia yang masih melihatnya sebagai "Aris", bukan sebagai ID Driver—jauh lebih mengerikan.

Jari-jarinya menyentuh permukaan kertas yang licin itu. Dingin.

Ia menariknya keluar. Foto hitam putih yang kecil itu tampak begitu rapuh di tengah kekacauan supranatural ini. Di sana, di tengah gumpalan abu-abu statis, ada titik kecil kehidupan yang tak pernah sempat menghirup udara Jakarta.

"Sini," Aris-Tua mengulurkan tangannya yang cacat melalui jendela yang pecah. "Bayar utang lu."

Aris menatap foto itu untuk terakhir kalinya. Wajah Sarah yang menangis di klinik aborsi tiga tahun lalu berkelebat di benaknya. Hujan deras. Bau antiseptik. Dan kalimat terakhir Sarah: "Kamu bukan cuma bunuh dia, Ris. Kamu bunuh kita."

"Maafin aku, Sarah..." bisik Aris, suaranya nyaris tak terdengar di antara deru angin lembah.

Dengan sisa tenaga terakhir, Aris mengulurkan tangannya keluar jendela, menyerahkan potongan jiwanya kepada monster di hadapannya.

Aris-Tua menyambar foto itu dengan kecepatan yang tidak wajar. Kasar. Rakus. Ia tidak memandanginya dengan sedih. Ia justru mendekatkan foto itu ke hidungnya, menghirupnya dalam-dalam seolah itu adalah narkotika jenis baru, lalu dengan gerakan yang membuat perut Aris mual, Aris-Tua meremas foto itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.

Terdengar suara kunyahan basah. Kertas, kenangan, dan dosa, digiling oleh gigi-gigi busuk. Aris-Tua menelannya bulat-bulat.

"Lunas," desis makhluk itu, matanya berkilat hijau.

Ia melemparkan tombol "BATALKAN PESANAN" itu ke dalam kabin taksi, tepat ke dada Aris.

Aris menangkapnya dengan panik. Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting bertahan hidup dan teror akan kematian Ibunya, ia menekan tombol merah besar itu dengan ibu jarinya yang berdarah.

KLIK.

Dunia hening.

Aris menunggu. Ia menunggu bunyi bip panjang EKG itu berhenti. Ia menunggu napas lega. Ia menunggu Suster Ningsih mengatakan bahwa kondisi Ibunya stabil. Ia menunggu langit-langit taksi ini menghilang dan membawanya kembali ke dunia nyata.

Namun, tidak ada yang berubah.

Argometer di dashboard tidak mati. Angka "00:01" itu berkedip sekali, lalu berubah. Digit-digit itu berputar cepat, acak, sebelum akhirnya berhenti membentuk sebuah kata, bukan angka.

[TUJUAN DIPERBARUI]

Bunyi sirine meraung. Bukan sirine ambulan, melainkan sirine peringatan serangan udara yang memekakkan telinga. Jutaan ponsel di lembah sampah menyala serentak, menampilkan satu gambar yang sama: Wajah Ibu Aris, tapi matanya terbuka lebar, hitam pekat tanpa pupil, menatap langsung ke arah Aris.

Tanah di bawah taksi yang terbalik mulai bergetar. Guncangan hebat terjadi. Lumpur hitam dan oli mulai merembes masuk dari celah-celah pintu, naik dengan cepat seperti air bah.

Aris menatap Aris-Tua dengan horor. "Apa yang lu lakuin?! Gua udah bayar! Gua udah pencet tombolnya!"

Aris-Tua tertawa. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan suara statis radio yang rusak. Ia mulai berjalan mundur, menjauh ke dalam kabut hijau.

"Tombol itu bukan buat batalin kematian Ibu lu, Ris," katanya sambil menyeringai, tubuhnya mulai memudar ditelan bayangan. "Tombol itu buat batalin penyangkalan lu. Lu pikir lu bisa nyelametin orang lain kalau lu sendiri masih tersandera dosa lu?"

"MAKSUD LU APA BANGSAT?!" Aris berteriak, air hitam mulai merendam kepalanya yang terbalik. Baunya seperti formalin dan darah basi.

"Lu baru aja ngasih gua akses ke sumber ketakutan lu, Ris," suara Aris-Tua menggema dari segala arah. "Lu gak bisa selametin Ibu lu dari sini. Lu harus jemput dia. Di sana. Di tempat semuanya bermula."

Taksi itu bergeser. Tanah di bawahnya runtuh total.

Bukan pembatalan yang Aris dapatkan, melainkan akselerasi. Taksi itu tidak diam. Roda-rodanya yang ada di atas berputar gila-gilaan, dan mesin yang seharusnya mati meraung kembali dengan suara seperti jeritan ribuan bayi.

Taksi itu jatuh.

Bukan jatuh ke bawah, melainkan jatuh ke dalam. Menembus lapisan tanah "Void of Unpaid Debts", tersedot masuk ke dalam pusaran oli hitam yang pekat. Aris menahan napas saat cairan viskos itu menutup hidung dan mulutnya, membakar matanya.

Dalam kegelapan cair yang mencekik itu, layar ponselnya yang retak di dashboard menyala sendiri. Sebuah notifikasi baru muncul dari aplikasi ojek online-nya, bersinar terang di tengah kegelapan yang menenggelamkan.

ORDERAN DIPERBARUI: PENUMPANG: IBU (JIWA YANG TERSANDERA) TITIK JEMPUT: RAHIM PENYESALAN (LEVEL -2) TARIF: SEGALA-GALANYA.

Tangan Aris yang masih menggenggam tombol merah itu terasa panas melepuh. Tombol itu meleleh, menyatu dengan kulit telapak tangannya, menjadi permanen. Ia tidak bisa lagi membatalkan apa pun. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada jalan untuk putar balik.

Kegelapan menelannya utuh, dan untuk pertama kalinya sejak malam jahanam ini dimulai, Aris berharap ia sudah mati.