Aris tidak lagi jatuh. Ia sedang dicerna.
Sensasi gravitasi yang menarik taksi itu ke bawah bukanlah sekadar hukum fisika yang biasa ia rasakan saat menikung tajam di jalanan Jakarta. Ini adalah tarikan biologis, sebuah gerak peristaltik raksasa dari kerongkongan dimensi lain yang menelannya bulat-bulat.
Di dalam kabin taksi yang terbalik, dunia adalah kekacauan cairan hitam. Oli kental, atau mungkin darah koagulasi dari mesin purba, membanjiri ruang sempit itu, merembes masuk melalui celah-celah jendela yang retak. Cairan itu dingin, namun membakar kulit saat bersentuhan, seolah-olah setiap tetesnya membawa memori kemarahan ribuan pengemudi yang mati di jalanan.
Aris terbatuk hebat, namun yang keluar dari paru-parunya bukan udara, melainkan gumpalan lumpur hitam yang terasa asin dan berbau logam karat. Rasa sakit di lutut kirinya bukan lagi denyutan ritmis; itu adalah jeritan konstan, sebuah orkestra saraf yang meledak setiap kali bodi mobil berguncang menghantam dinding-dinding daging tak kasat mata di luar sana.
Ia tergantung terbalik, terjerat oleh sabuk pengaman yang kini terasa seperti lilitan usus yang mengeras. Darah segar menetes dari keningnya, jatuh ke langit-langit mobil yang kini menjadi lantai, bercampur dengan genangan oli yang naik dengan cepat.
"Mati..." bisiknya, suaranya parau, tenggelam dalam deru angin statis yang memekakkan telinga. "Biarkan gue mati... Plis..."
Namun, kematian adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli. Saldonya tidak mencukupi.
Tangan kirinya, tangan yang baru saja dipaksa melakukan transaksi paling jahanam seumur hidupnya terasa berat, sangat berat. Panas yang menyengat menjalar dari telapak tangan itu, menembus tulang hingga ke bahu. Aris memaksakan matanya yang perih untuk terbuka, menatap telapak tangan kirinya yang terendam setengah dalam cairan hitam.
Di sana, di tengah daging yang melepuh dan menyatu dengan jaringan kulitnya, tombol "BATALKAN PESANAN" itu menyala dengan pendar merah redup. Benda itu bukan lagi plastik atau piksel layar sentuh; itu telah menjadi organ baru, parasit yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang lemah. Tombol itu telah meleleh, menyatu dengan daging, menjadikannya penanda budak abadi bagi sistem ini. Ia tidak bisa membuangnya. Ia tidak bisa mengabaikannya. Ia adalah tombol itu sendiri sekarang.
Setiap kali jantungnya memompa darah, tombol di telapak tangannya berkedut sakit, mengirimkan sinyal listrik yang menyentak otak: Pesanan tidak bisa dibatalkan. Pesanan tidak bisa dibatalkan.
Taksi itu menghantam sesuatu.
Bukan aspal. Bukan beton. Suaranya basah dan menjijikkan. PLAK. Seperti sepotong daging busuk yang dilempar ke lantai pasar ikan.
Guncangan itu melempar tubuh Aris ke depan. Tulang rusuknya yang patah bergeser, menusuk lebih dalam ke jaringan lunak di sekitarnya. Jeritan Aris tertahan oleh cairan hitam yang kembali membanjiri mulutnya. Struktur logam taksi mengerang, melengkung di bawah tekanan atmosfer yang jauh lebih berat dari tekanan permukaan laut. Kaca depan pecah sepenuhnya, membiarkan kegelapan di luar sana merangsek masuk tanpa ampun.
Aris tahu ia harus keluar. Jika ia tetap di sini, ia akan tenggelam dalam cairan hitam ini, menjadi fosil yang terjebak dalam amber keputusasaan.
Dengan tangan kanan yang terkilir, ia meraba gesper sabuk pengaman. Jarinya licin oleh oli dan darah. Tidak ada tenaga. Otot-ototnya gemetar hebat, sisa-sisa adrenalin terakhir sedang dikuras habis oleh rasa sakit.
"Ibu..."
Nama itu lolos dari bibirnya tanpa sadar. Ingatan tentang wajah ibunya—wajah yang kini muncul di jutaan layar ponsel dengan mata hitam kosong—menghantamnya lebih keras daripada rasa sakit fisik mana pun. Ia telah menyerahkan foto USG Sarah, bukti eksistensi calon anaknya yang tak pernah lahir, kepada monster bernama Aris-Tua demi kesempatan ini. Pengorbanan itu tidak boleh sia-sia. Jika ia menyerah sekarang, ia bukan hanya pembunuh anaknya sendiri, tapi juga pengkhianat bagi ibunya.
Klik.
Gesper terbuka.
Tubuh Aris jatuh menghantam "langit-langit" mobil yang tergenang oli setinggi sepuluh sentimeter. Lutut kirinya menghantam dasbor dalam proses jatuhnya. Aris melolong, sebuah suara binatang yang terluka parah, bergema di ruang sempit itu. Pandangannya memutih sesaat. Rasa sakit itu begitu absolut hingga membuatnya hampir muntah lagi.
Ia merangkak. Bukan dengan martabat manusia, melainkan dengan insting dasar seekor kecoak yang mencoba lari dari insektisida. Ia menyeret tubuhnya keluar melalui pecahan kaca depan, mengabaikan serpihan beling yang mengiris kulit lengan dan perutnya.
Udara di luar taksi terasa berat, lembap, dan berbau anyir. Bau formalin yang bercampur dengan aroma bunga kamboja busuk dan bensin basi.
Aris berguling keluar dari bangkai taksi, terbaring telentang di permukaan yang lunak dan berlendir. Ia terengah-engah, menatap ke atas. Tidak ada langit. Tidak ada bintang. Tidak ada lampu jalanan Jakarta yang biasa ia kutuk karena terlalu silau atau terlalu redup.
Yang ada di atas sana hanyalah jalinan urat-urat raksasa yang berpendar hijau sakit-sakitan, membentang seperti langit-langit gua organik. Dinding-dinding tempat ini bukanlah batu, melainkan tumpukan sampah memori yang membusuk. Helm-helm ojol yang pecah, jaket-jaket yang robek, struk belanjaan yang basah, dan ribuan ponsel retak yang tertanam di daging dinding, layarnya berkedip-kedip menampilkan notifikasi yang tak pernah terbaca.
Ini adalah Level -2: Rahim Penyesalan.
Aris mencoba bangkit, bertumpu pada satu kaki yang masih utuh. Namun, permukaan tanah tempat ia berpijak tidak stabil. Itu terasa seperti berjalan di atas tumpukan kulit manusia yang basah. Setiap langkah menimbulkan suara becek yang membuat bulu kuduk berdiri.
Ia menoleh ke arah bangkai taksi yang baru saja memuntahkannya. Mobil itu perlahan tenggelam, ditelan oleh tanah yang hidup itu. Roda-rodanya yang masih berputar lemah seolah melambai, sebelum akhirnya hilang sepenuhnya ke dalam lumpur daging.
Aris sendirian.
Atau setidaknya, ia pikir begitu.
Bzzzt... Bzzzt...
Suara getaran itu berasal dari saku celananya yang robek. Ponselnya. Entah bagaimana benda itu masih hidup, sebuah mukjizat teknologi di tengah neraka supranatural.
Dengan tangan gemetar, Aris meraih ponselnya. Layarnya retak parah, namun masih menyala cukup terang untuk menyinari wajahnya yang penuh darah dan oli.
Sebuah notifikasi baru muncul di layar aplikasi ojol-nya, memblokir wallpaper foto ibunya yang tersenyum.
ORDERAN DIPERBARUI PENUMPANG: IBU (JIWA YANG TERSANDERA) POSISI: 200 METER (ARAH JANTUNG) METODE PEMBAYARAN: SISA UMUR CATATAN: JANGAN MENENGOK KE BELAKANG.
Aris menelan ludah yang terasa pahit. Dua ratus meter. Jarak yang di dunia nyata bisa ditempuh dalam hitungan detik dengan motor. Tapi di sini, dengan satu kaki hancur dan tubuh remuk redam, jarak itu terasa seperti ribuan kilometer.
"Arah jantung?" gumamnya bingung.
Tiba-tiba, suara dentuman rendah terdengar. DUM... DUM...
Tanah di bawah kakinya bergetar. Dinding-dinding organik di sekelilingnya berdenyut. Suara itu bukan berasal dari mesin. Itu adalah detak jantung. Dan suaranya datang dari lorong gelap di depannya.
Aris mulai menyeret kakinya, melangkah tertatih-tatih menuju sumber suara. Setiap gerakan mengirimkan sengatan listrik rasa sakit dari lutut ke tulang belakangnya. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan teriakannya.
Dulu, di aspal Jakarta yang keras, Aris sering mengeluh tentang "jalan rusak" atau "polisi tidur" yang mengganggu kenyamanannya mengejar poin. Betapa naifnya ia saat itu. Aspal basah Jakarta, dengan segala lubang dan genangannya, adalah surga dibandingkan tempat ini. Di sana, setidaknya tanah tidak mencoba mencerna kakinya. Di sana, setidaknya dunia tidak membencinya secara personal.
Ia teringat petuah Pak Mulyono di pangkalan ojek, saat ia dengan sombong memamerkan pendapatan hariannya yang tinggi berkat memanipulasi aplikasi.
"Hati-hati, Ris. Jalanan itu punya ingatan. Apa yang kamu tanam di aspal, bakal tumbuh jadi nasib."
Aris tertawa saat itu. Ia menyebut Pak Mulyono tua bangka yang tidak tahu cara main di era digital.
Sekarang, di perut dimensi ini, kata-kata itu tumbuh menjadi monster. Jalanan ini benar-benar punya ingatan.
Saat ia menyeret kakinya melewati gundukan yang menyerupai tumpukan jaket ojol bekas, Aris mendengar bisikan.
"Gacor, Bang?" "Bintang satu..." "Suspend..." "Anak saya sakit..."
Suara-suara itu muncul dari dinding. Wajah-wajah samar tercetak di permukaan daging dinding gua. Wajah-wajah pengemudi lain. Wajah Sugeng. Wajah Bambang. Wajah-wajah asing yang matanya tertutup uang koin. Mereka bukan hantu; mereka adalah residu. Sisa-sisa ambisi yang gagal, terjebak di sini selamanya.
Aris mempercepat langkahnya, panik mulai menggerogoti sisa kewarasannya. Ia tidak boleh berhenti. Jika ia berhenti, ia akan menjadi salah satu dari wajah di dinding itu.
"Ibu! Aris datang, Bu!" teriaknya ke dalam kegelapan, suaranya pecah.
Di depan sana, kabut hijau mulai menipis, memperlihatkan sebuah pemandangan yang membuat Aris membeku.
Itu bukan sekadar gua. Itu adalah sebuah atrium raksasa. Dan di tengah-tengahnya, tergantung sebuah struktur masif yang menyerupai jantung anatomis manusia, namun ukurannya sebesar rumah dua lantai. Jantung itu tidak terbuat dari otot, melainkan dari ribuan kabel infus, selang ventilator, dan monitor EKG yang saling melilit membentuk gumpalan daging sintetis yang mengerikan.
Benda itu berdenyut. DUM... DUM...
Setiap denyutan memuncratkan cairan hijau neon dari selang-selang yang bocor, mengalir ke sungai di bawahnya yang mengelilingi "pulau" tempat Aris berdiri.
Dan di sana, terperangkap di tengah-tengah jalinan kabel dan selang di permukaan jantung raksasa itu, Aris melihatnya.
Sesosok tubuh wanita tua, mengenakan daster rumah sakit yang lusuh. Tubuhnya tampak kecil dan rapuh, terlilit oleh kabel-kabel hitam yang menusuk masuk ke dalam kulitnya seperti akar pohon parasit. Separuh wajahnya tertutup masker oksigen yang terbuat dari logam berkarat.
"Ibu..."
Lutut kanan Aris lemas. Ia jatuh terduduk di atas lumpur daging.
Sosok itu tidak bergerak, tapi matanya terbuka. Mata yang sepenuhnya hitam, tanpa pupil, tanpa sklera. Mata itu menatap kosong ke arah Aris, namun di saat yang sama seolah menembus jiwanya, melihat setiap dosa, setiap kebohongan, setiap sen uang haram yang pernah Aris bawa pulang.
Tiba-tiba, tombol di telapak tangan kiri Aris—tombol "BATALKAN PESANAN" yang meleleh itu—mulai membara dengan panas yang tak tertahankan.
Tiiit... Tiiit... Tiiit...
Suara monitor EKG dari arah jantung raksasa itu berubah ritmenya. Menjadi cepat. Panik.
Aris mengerang, mencengkeram pergelangan tangan kirinya. Rasa panas itu menjalar, seolah-olah tombol itu mencoba menariknya mendekat, memaksanya untuk menyatu dengan sistem.
Dari balik bayang-bayang di sekitar jantung raksasa itu, siluet-siluet tinggi mulai bermunculan. Sosok-sosok ramping dengan seragam perawat yang kotor, wajah mereka rata tanpa fitur kecuali mulut vertikal yang dijahit kasar. Mereka memegang alat-alat bedah berkarat—gergaji tulang, skalpel besar, dan gunting raksasa.
Mereka tidak berjalan. Mereka melayang sedikit di atas tanah, mendekat ke arah Aris dengan gerakan patah-patah seperti glitch video yang rusak.
Aris menatap ibunya yang tersandera, lalu menatap pasukan monster yang mengepungnya, dan akhirnya menatap kakinya yang hancur.
Tidak ada jalan lari. Tidak ada motor untuk dipacu. Tidak ada shortcut di peta.
Satu-satunya jalan adalah lurus ke depan, menembus barisan mimpi buruk itu, menuju jantung yang berdenyut.
Aris merogoh saku jaketnya, mencari sesuatu. Apa saja yang bisa dijadikan senjata. Tangannya menyentuh obeng kecil yang biasa ia gunakan untuk mengencangkan spion motor. Benda sepele. Benda tak berguna melawan monster dimensi lain. Tapi hanya itu yang ia punya.
Ia mencengkeram obeng itu erat-erat, hingga buku jarinya memutih.
"Maafin Aris, Bu," bisiknya, air mata bercampur darah menetes ke pipinya. "Aris telat jemput. Tapi Aris nggak akan cancel lagi."
Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri, bertumpu pada kaki kanannya yang gemetar. Rasa sakit di lutut kirinya sudah melampaui batas toleransi, berubah menjadi rasa baal yang dingin.
Di hadapannya, salah satu perawat tanpa wajah itu mengangkat gergaji tulangnya, dan suara logam beradu dengan logam terdengar nyaring, memecah kesunyian atrium.
KREK.
Aris mengambil langkah pertama. Pincang. Lemah. Tapi maju.
Dan saat kakinya menyentuh tanah untuk langkah kedua, lantai daging di bawahnya mulai terbuka, menampakkan gigi-gigi taring yang berputar di bawah permukaan.
Ini bukan sekadar pertarungan. Ini adalah eksekusi. Dan Aris baru saja melangkah naik ke panggungnya sendiri.