Ini bukan sekadar pertarungan. Ini adalah eksekusi. Dan Aris baru saja melangkah naik ke panggungnya sendiri.
Lantai itu tidak diam. "Lantai daging" tempat Aris berpijak bukanlah permukaan pasif; itu adalah organisme yang lapar. Saat Aris mencoba menggeser beban tubuhnya dari lutut kiri yang hancur, terdengar suara becek yang menjijikkan, seperti suara daging mentah yang diremas. Pori-pori di permukaan lantai itu melebar, mengeluarkan aroma anyir darah tua dan bensin basi yang menyengat, aroma khas kamar mayat yang gagal mempertahankan suhu dinginnya.
Aris terhuyung. Rasa sakit di lutut kirinya bukan lagi sekadar nyeri; itu adalah kehampaan dingin yang ganjil, seolah-olah syarafnya telah menyerah untuk mengirim sinyal rasa sakit dan memilih untuk mati rasa sepenuhnya. Namun, rasa sakit itu digantikan oleh sensasi terbakar yang jauh lebih intens di telapak tangan kirinya.
Tombol "BATALKAN PESANAN" yang menyatu dengan dagingnya berdenyut. Warnanya merah menyala, menerangi kegelapan organik di sekitarnya seperti suar darurat di tengah lautan hitam. Setiap denyutannya mengirimkan sengatan listrik yang merambat naik ke lengan, menghantam batang otaknya dengan satu perintah absolut: Lanjutkan. Benda itu bukan lagi benda asing; itu parasit yang memaksanya tetap sadar di ambang pingsan.
KREK.
Suara logam beradu memecah konsentrasi Aris.
Di hadapannya, tiga sosok Perawat Tanpa Wajah melayang mendekat. Gerakan mereka tidak mematuhi hukum fisika; mereka glitching, tersentak-sentak seperti video rusak dengan frame rate rendah. Kaki mereka tidak menyentuh lantai daging yang berdenyut itu, melainkan mengambang beberapa sentimeter di atasnya, menghindari gigi-gigi taring yang mulai bermunculan dari lantai yang merekah.
Mereka mengenakan seragam perawat putih yang telah berubah warna menjadi cokelat karat dan hitam karena noda cairan tubuh yang mengering. Tidak ada mata. Tidak ada hidung. Hanya jahitan vertikal kasar di tempat mulut seharusnya berada, benang hitam tebal yang menahan sesuatu yang ingin berteriak dari dalam tenggorokan mereka.
Tangan mereka memegang alat bedah raksasa yang tidak masuk akal. Gergaji tulang yang berkarat, gunting bedah seukuran lengan orang dewasa, dan pisau skalpel yang bilahnya bergerigi.
"Mundur..." desis Aris, suaranya parau, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir dan darah.
Ia mencengkeram obeng kecil yang ia temukan di saku jaketnya - satu-satunya senjata yang ia miliki. Obeng itu terasa menggelikan, sebuah lelucon kosmik. Bagaimana mungkin sebatang logam kecil sepanjang jari telunjuk bisa menahan monster yang memegang gergaji tulang?
Salah satu perawat - yang paling kiri, memegang gunting raksasa - melesat maju. Gerakannya tiba-tiba dan patah-patah.
WUSSS.
Gunting itu mengatup tepat di tempat leher Aris berada sedetik sebelumnya. Aris menjatuhkan dirinya ke samping, mengabaikan jeritan protes dari tulang rusuknya yang patah. Ia mendarat di atas lantai yang basah dan lengket. Teksturnya bukan seperti tanah, melainkan seperti lidah raksasa.
Lantai di bawahnya bereaksi. Sebuah mulut kecil dengan gigi-gigi runcing terbuka tepat di bawah siku kanannya, mencoba menggigit. Aris menyentak tangannya menjauh, berguling lagi saat perawat kedua mengayunkan gergaji tulang secara horizontal.
NGIIING!
Suara gergaji itu memekakkan telinga, bukan suara mesin, tapi suara teriakan jutaan orang yang dipadatkan menjadi frekuensi tinggi. Aris merasakan angin dari ayunan itu menyayat pipinya yang sudah terluka.
Ia tidak bisa menang. Logika Aris yang tersisa, bagian dari dirinya yang biasa menghitung untung-rugi di jalanan Jakarta, berteriak bahwa ini adalah matematika kematian. Saldo nyawanya tidak cukup untuk membayar pertarungan ini.
Namun, matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Dua ratus meter di depan. Di tengah atrium raksasa yang dinding-dindingnya menyerupai dinding rahim yang bengkak dan sakit, terdapat struktur itu. Jantung sintetis raksasa. Benda itu tergantung dari langit-langit yang tak terlihat, dihubungkan oleh ribuan kabel hitam dan pipa-pipa organik yang mengalirkan cairan hitam pekat.
Dan di tengahnya, terbungkus selaput tipis dan kabel-kabel yang menusuk kulit, adalah Ibu.
Ibu terlihat begitu kecil. Begitu rapuh. Gaun rumah sakitnya yang kotor berkibar pelan tertiup angin busuk tempat ini. Masker oksigen berkarat menutupi separuh wajahnya. Matanya yang hitam legam menatap kosong ke arah Aris, tatapan yang menembus jiwa, menuntut pertanggungjawaban.
"Ibu..." Aris mencoba bangkit. Lutut kirinya menyerah, membuatnya jatuh berlutut.
Ia harus merangkak. Jika kakinya tidak bisa membawanya, tangannya yang akan melakukannya. Aris menancapkan obeng kecil itu ke lantai daging di depannya, menggunakannya sebagai paku panjat tebing, dan menarik tubuhnya yang hancur ke depan.
Satu meter.
Lantai itu mengerang. Cairan hitam merembes keluar dari bekas tusukan obeng.
Perawat Tanpa Wajah itu tidak langsung menyerang lagi. Mereka berhenti, kepala mereka yang rata miring ke samping secara serempak, seolah mengamati spesimen yang menarik di bawah mikroskop. Mulut jahitan vertikal mereka berkedut.
Aris menyadari sesuatu yang mengerikan. Mereka tidak mencoba membunuhnya secepat mungkin. Mereka menggembalakannya.
Mereka membiarkan Aris bergerak menuju Jantung itu. Mereka memosisikan diri di sisi kiri dan kanan, memblokir jalan keluar, memaksa Aris untuk terus maju ke pusat panggung eksekusi.
"Kalian mau aku ke sana?" Aris meludah, darah bercampur air liur hitam jatuh ke lantai. "Baik. Aku ke sana."
Aris merayap lagi. Setiap inci adalah siksaan. Rusuknya yang patah terasa seperti pisau yang mengiris paru-paru dari dalam setiap kali ia menarik napas. Lumpur hitam beraroma logam masuk ke hidungnya, membuatnya tersedak.
Ponsel di sakunya bergetar hebat, sebuah notifikasi yang terasa panas menembus kain celana jeans-nya yang robek. Aris tidak perlu melihatnya untuk tahu apa isinya. Waktu terus berjalan. "Metode Pembayaran: Sisa Umur" bukanlah metafora. Ia bisa merasakannya setiap detak jantungnya terasa lebih berat, lebih lambat, seolah baterai kehidupannya sedang disedot oleh dimensi terkutuk ini.
Di sekelilingnya, dinding-dinding organik "Rahim Penyesalan" mulai memproyeksikan sesuatu. Bukan gambar jelas, melainkan siluet-siluet memori yang terdistorsi di permukaan daging yang basah.
Di sebelah kiri, tonjolan daging membentuk wajah samar Rio, bocah penjual tisu itu. Wajah itu menangis, air matanya berupa nanah hitam yang menetes ke lantai. Mulutnya terbuka tanpa suara, membentuk kata "Minggir."
Di sebelah kanan, dinding itu berdenyut membentuk punggung seorang wanita. Sarah. Aris mengenali punggung itu punggung yang ia tatap saat ia meninggalkan Sarah tiga tahun lalu. Punggung itu kini dipenuhi lubang-lubang seperti sarang lebah, tempat belatung-belatung cahaya keluar masuk.
"Fokus, Aris. Jangan lihat," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan menengok ke belakang. Jangan menengok ke samping."
Jarak tinggal seratus meter.
Jantung raksasa itu berdetak. DUM... DUM... Suaranya bukan sekadar audio; itu adalah gelombang kejut fisik. Setiap dentuman membuat lantai bergetar, membuat gigi-gigi di lantai mengatup, dan membuat jantung Aris sendiri melambat, mencoba menyamakan ritme dengan monster di depannya.
Aris melihat kabel-kabel hitam yang melilit tubuh Ibu. Kabel-kabel itu tidak sekadar melilit; mereka bernapas. Mereka berdenyut, mengalirkan sesuatu dari tubuh Ibu menuju Jantung raksasa itu.
Mereka memakan nyawanya. Ibu bukan pasien di sini. Dia adalah bahan bakar.
Kemarahan meledak di dada Aris, panas dan mendidih, mengalahkan rasa takutnya sesaat. Ia memaksakan dirinya berdiri, menumpu seluruh berat badan pada kaki kanannya, membiarkan kaki kirinya yang hancur menyeret di belakang seperti beban mati.
"LEPASKAN DIA!" teriak Aris. Suaranya pecah, menggema di atrium luas itu.
Para perawat itu berhenti melayang. Jahitan di mulut mereka mulai robek. Benang-benang hitam putus satu per satu, tas, tas, tas, membuka celah vertikal yang gelap dan tanpa gigi. Suara yang keluar dari sana adalah suara statis radio yang menyakitkan, diselingi suara rekaman mesin EKG yang datar.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Mereka mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi, membentuk barikade kehormatan yang mengerikan menuju Jantung itu. Undangan untuk masuk ke area steril.
Aris tertatih maju, melewati barisan perawat itu. Bau mereka—campuran formalin dan daging busuk—hampir membuatnya muntah. Tapi matanya terkunci pada Ibu.
Lima puluh meter.
Lantai di sekitar Jantung itu berubah. Bukan lagi daging merah mentah, melainkan jaringan parut yang keras, berwarna putih kekuningan dan licin. Tulang-tulang rusuk raksasa mencuat dari tanah, melengkung ke atas membentuk sangkar di sekeliling Jantung.
Aris sampai di batas "Area Steril" ini. Ia harus melangkahi gundukan jaringan parut itu. Saat kakinya menyentuh area putih itu, rasa sakit di tombol telapak tangannya melonjak ke tingkat yang tak tertahankan.
"AAARGH!" Aris menjerit, mencengkeram pergelangan tangan kirinya.
Tombol itu bersinar menyilaukan. Kulit di sekitarnya melepuh, berasap. Huruf-huruf "BATALKAN PESANAN" berubah. Teksnya bergeser, mencair, dan membentuk kata baru yang terbakar di dagingnya:
KONFIRMASI PENERIMAAN
Ini jebakan. Ini selalu jebakan. Aris tahu itu. Tapi ia sudah terlambat untuk peduli.
Ia menyeret tubuhnya mendekati dasar Jantung raksasa itu. Ibu tergantung sekitar dua meter di atas kepalanya. Cukup rendah untuk diraih jika ia bisa memanjat tumpukan kabel yang menjuntai.
"Bu..." panggil Aris lirih.
Mata hitam Ibu bergerak. Perlahan, kaku, bola mata itu bergulir ke bawah menatap Aris.
Masker oksigen berkarat di wajahnya berembun setiap kali Ibu mengembuskan napas lemah. Suara napasnya terdengar keras, diperkuat oleh akustik ruangan itu. Hhhkkk... Hhhhkkk...
Tangan Ibu yang kurus, yang terikat kabel infus hitam, bergerak sedikit. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Aris. Bukan menunjuk untuk memanggil, tapi menunjuk sesuatu di belakang Aris.
Pesan di notifikasi ponselnya terlintas kembali di ingatan Aris: CATATAN: JANGAN MENENGOK KE BELAKANG.
Tapi insting manusia adalah hal yang cacat. Saat orang yang paling kau cintai menunjuk bahaya di belakangmu, kau akan menoleh.
Aris menoleh.
Dan napasnya berhenti.
Di belakangnya, di tempat ia baru saja berjalan, lantai daging itu telah menutup. Para Perawat Tanpa Wajah telah bersujud di lantai, tubuh mereka gemetar hebat.
Tetapi bukan itu yang dilihat Ibu.
Di kejauhan, dari kegelapan tempat Aris pertama kali jatuh, sesuatu yang jauh lebih besar sedang bangkit dari lantai daging. Sesuatu yang terbuat dari ribuan helm ojek online yang hancur, jaket-jaket yang robek, dan kerangka motor yang menyatu menjadi satu gumpalan amorf raksasa.
Itu adalah Gravemind dari ambisi-ambisi yang gagal. Monumen dari jutaan pengemudi yang pernah menjual jiwa mereka demi poin, kini menyatu menjadi satu entitas penjaga. Dan di tengah gumpalan itu, sebuah wajah raksasa mulai terbentuk—wajah yang tersusun dari aspal retak dan lampu depan yang pecah.
Wajah itu menyerupai wajah Aris. Tapi matanya adalah lubang knalpot yang mengeluarkan asap hitam pekat.
Ponsel Aris berbunyi TING.
Aris dengan tangan gemetar meraih ponselnya. Layar yang retak itu menyala, menampilkan pesan baru yang membuat darahnya membeku.
MISI TAMBAHAN AKTIF: TUGAS: GANTIKAN POSISI PASIEN. PENJELASAN: JANTUNG MEMBUTUHKAN BATERAI BARU YANG LEBIH MUDA. OPSI: TERIMA (IBU BEBAS) ATAU TOLAK (IBU MATI).
Kabel-kabel hitam di sekitar Ibu mulai bergerak turun, ujung-ujungnya yang tajam seperti jarum suntik raksasa mengarah tepat ke dada Aris. Ujung jarum itu meneteskan cairan hitam yang mendesis saat mengenai lantai.
Aris menatap Ibu, lalu menatap jarum-jarum itu.
Jantung di atasnya berdetak makin cepat. DUM-DUM. DUM-DUM.
"Aris..."
Suara itu bukan dari Ibu. Itu suara dari monster aspal di belakangnya. Suara yang terdengar seperti gesekan ban di atas jalan basah saat pengereman mendadak.
"Warisan... harus... diteruskan..."
Aris mencengkeram obeng kecilnya erat-erat, satu-satunya benda nyata di dunia yang gila ini. Ia berdiri di antara monster masa lalu yang mengejarnya dan mesin masa depan yang ingin memangsanya.
Ia mengangkat kepalanya, menatap mata hitam Ibu yang kosong.
"Aku tidak akan menjadi baterai," bisik Aris, lebih kepada dirinya sendiri. "Dan aku tidak akan membiarkanmu mati."
Ia mengangkat tangan kirinya yang terbakar, mengarahkan tombol yang menyatu dengan dagingnya ke arah sensor Jantung raksasa itu, seolah-olah sedang men-scan barcode di supermarket neraka.
"Ayo kita lihat sistem siapa yang error duluan," geram Aris.
Ia tidak menekan tombol Terima. Ia tidak menekan tombol Tolak.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Aris melompat—bukan ke arah Ibu, dan bukan lari dari monster—tapi ia melompat memeluk kumpulan kabel utama yang menopang Jantung itu, sambil mengacungkan obeng kecilnya ke arah sirkuit yang terbuka dan memercikkan api biru di dinding organ tersebut.
Jika ia tidak bisa membatalkan pesanan, ia akan merusak servernya.
Cahaya biru meledak saat obeng itu menancap.
Dunia menjadi putih.
Dan kemudian, sunyi.
Hanya ada satu suara yang terdengar di kegelapan sesudahnya: suara mesin motor yang mencoba distarter, namun gagal menyala. Cek-cek-cek-cek...
Lalu, sebuah tawa kecil. Tawa Aris. Atau mungkin tawa sesuatu yang lain yang baru saja terbangun di dalam dirinya.