Hari yang ditakdirkan itu akhirnya tiba. Matahari pagi Jakarta muncul dengan cahaya keemasan yang menembus celah-celah gedung pencakar langit, seolah ikut memberikan restu pada persatuan dua dunia yang tak masuk akal ini. Grand Ballroom di salah satu hotel bintang lima paling prestisius di Jakarta Pusat telah disulap menjadi sebuah taman firdaus. Wangi bunga melati segar, mawar putih, dan lili memenuhi ruangan luas yang mampu menampung ribuan orang tersebut. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke atas lantai marmer yang kini tertutup karpet beludru merah marun.
Najwa Kusuma duduk mematung di depan cermin besar di Presidential Suite. Di sekelilingnya, tim perias pengantin papan atas Jakarta sedang sibuk memberikan sentuhan akhir. Namun, ada yang berbeda hari ini. Tidak ada tatanan rambut rumit yang biasanya menjadi ciri khas pengantin sosialita Jakarta. Sebagai gantinya, sebuah hijab sutra putih tulang yang lembut kini melilit indah di kepala Najwa, menjuntai anggun menutupi dadanya sesuai permintaan Umi Fatimah.
"Naj, aku sudah sering dandanin artis dan anak pejabat, tapi kamu... kamu hari ini beda banget. Auranya keluar, adem tapi mewah banget," bisik sang perias sambil menyematkan tiara kecil berbahan perak murni di atas hijab Najwa.
Najwa menatap pantulannya sendiri. Gaun tenun syar'i kiriman Umi Fatimah itu terasa sangat pas di tubuhnya. Potongannya yang longgar tidak mengurangi kecantikannya, justru memberikan kesan berwibawa yang selama ini tidak pernah ia rasakan saat memakai pakaian bermerek Paris sekalipun. Di balik kain itu, Najwa merasa seolah-olah ia sedang dilindungi oleh doa-doa yang ditenun bersama benangnya.
"Naj! Rombongan pesantren sudah masuk gerbang hotel!" Selvi masuk dengan wajah panik sekaligus takjub. Ia sudah mengenakan seragam keluarga yang juga kiriman dari Umi sebuah kebaya panjang yang sangat sopan namun terlihat sangat berkelas.
"Berapa banyak, Sel?" tanya Mama Ratna yang sedang merapikan bros di dadanya.
"Bukan soal banyaknya, Tante. Tapi auranya! Satu bus besar isinya Kyai-Kyai sepuh dengan jubah putih. Terus di depan ada mobil hitam yang sangat tenang gerakannya. Pas mereka turun di lobi, semua tamu VVIP Papa yang tadinya lagi ngobrol soal bisnis langsung diam. Suasana hotel yang tadinya berisik suara musik jazz instrumental, tiba-tiba berubah jadi tenang banget pas mereka masuk sambil melafalkan shalawat lirih."
Najwa memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang. "Gus Azam sudah sampai." Batin Najwa.
Di lantai bawah, lobi hotel bintang lima yang biasanya penuh dengan hiruk-pukuk kaum urban itu mendadak berubah menjadi sangat religius. Abi Ahmad berjalan di depan, didampingi Papa Hendra yang menyambut dengan raut wajah penuh hormat yang belum pernah dilihat oleh staf kantornya sendiri. Di belakang Abi, berjalan sosok pria yang menjadi pusat gravitasi semua mata.
Gus Azam terlihat mengenakan jubah putih bersih dengan luaran bisht berwarna cokelat tua yang disulam benang emas di pinggirannya. Sorban putih yang melilit kepalanya sangat rapi, menonjolkan wajahnya yang bersih namun tetap dengan sorot mata yang dingin dan membisu. Ia tidak menatap ke sekeliling kemegahan hotel itu. Baginya, pilar-pilar emas dan lampu kristal itu tidak lebih dari sekadar perhiasan dunia yang fana. Ia terus menunduk, bibirnya bergerak tanpa suara, melantunkan dzikir untuk menenangkan gejolak di hatinya.
Arvin kakaknya Najwa yang berdiri di dekat pintu masuk ballroom merasa terintimidasi. Ia yang biasanya bangga dengan setelan jas seharga ratusan juta, tiba-tiba merasa "kecil" di depan kewibawaan Gus Azam yang hanya memakai pakaian tradisional pesantren namun terlihat sangat sangat berkuasa atas dirinya sendiri.
"Gus Azam benar-benar seperti pangeran dari padang pasir, ya?" bisik Desi yang berdiri di samping Selvi. "Lihat deh, dia bahkan nggak lirik satu pun tamu sosialita di sini. Benar-benar menjaga pandangan."
Prosesi akad nikah dimulai di sebuah panggung kecil yang didesain sangat eksklusif di tengah ballroom. Di sana, hanya ada meja akad, Abi Ahmad, Papa Hendra, para saksi dari kalangan ulama sepuh, dan Gus Azam. Ribuan tamu yang hadir mulai dari menteri hingga pengusaha besar duduk dengan khidmat. Suasana yang tadinya penuh dengan aura korporat, kini berubah menjadi majelis ilmu yang sangat sakral.
Najwa melihat prosesi itu melalui layar monitor besar di kamar riasnya. Tangannya Najwa mulai dingin. Ia melihat Gus Azam duduk di depan Papanya. Saat mikrofon didekatkan ke arah Gus Azam, seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Semua orang ingin mendengar suara pria yang kabarnya memiliki suara emas namun jarang bicara itu.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Najwa Kusuma binti Hendra Kusuma dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Suara itu... suara Gus Azam saat mengucapkan ijab qabul terdengar sangat mantap, berat dan memenuhi seluruh penjuru ballroom tanpa perlu teriakan. Ada getaran wibawa yang membuat siapapun yang mendengarnya merinding. Tidak ada keraguan, meski tidak ada senyum.
"Sah!"
"Alhamdulillah..." Gema suara syukur memenuhi ruangan.
Najwa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya jatuh membasahi kain hijab sutranya. Ia sekarang sudah resmi menjadi istri dari pria yang bahkan belum pernah mengajaknya mengobrol. Ia resmi menjadi bagian dari keluarga Al-Hidayah.
Kini saatnya Najwa turun untuk menemui suaminya. Saat pintu ballroom dibuka, dan Najwa melangkah masuk dengan gaun syar'i-nya, semua tamu terkesiap. Rekan-rekan bisnis Najwa hampir tidak mengenali wanita yang biasanya tampil dengan gaun stylish itu. Najwa berjalan dengan sangat anggun, menunduk, menjaga marwahnya di depan para Kyai.
Gus Azam berdiri saat Najwa mendekat ke arah pelaminan. Untuk pertama kalinya di depan publik, mata mereka bertemu. Najwa melihat ada kilatan emosi di mata Gus Azam mungkin terkejut melihat Najwa yang begitu patuh pada permintaan ibunya untuk menutup aurat secara sempurna. Namun, Gus Azam segera membuang muka. Ia tetap membisu.
Saat Najwa hendak mencium tangan suaminya, Gus Azam memberikan tangannya dengan kaku. Dingin. Tidak ada remasan hangat, tidak ada kata-kata manis seperti pengantin pada umumnya.
"Barakallahu lakuma..." bisik para Kyai yang lewat memberikan selamat.
Di pelaminan yang mewah itu Najwa berdiri di samping Gus Azam. Tamu-tamu VVIP Papa Hendra mulai berdatangan menyalami mereka. Salah satu kolega bisnis Papa berbisik pada Najwa, "Najwa, selamat ya. Suamimu luar biasa berwibawa. Tapi kok dia nggak bicara sama sekali dari tadi?"
Najwa tersenyum sangat manis, senyum paling tulus yang ia tujukan untuk membela suaminya. "Terima kasih, Pak. Gus Azam sedang menjaga kesakralan hari ini. Di keluarga pesantren, diam adalah bentuk dzikir. Beliau lebih banyak bicara lewat doa untuk saya."
Gus Azam yang berdiri di sampingnya sempat melirik sedikit saat mendengar jawaban Najwa. Ia tahu Najwa sedang berbohong untuk menutupinya, ia tahu wanita ini sedang melindunginya di depan orang-orang hebat Jakarta. Ada secercah rasa kagum yang muncul di hati Gus Azam, namun egonya masih terlalu tinggi untuk runtuh begitu saja.
Sepanjang acara Najwa tetap berdiri tegak dengan hijab syar'i-nya. Ia tidak mengeluh meski kakinya lelah atau kepalanya berat dengan hiasan. Ia menjaga sikapnya dengan sangat sempurna, menjadi "ibu nyai" muda yang sangat dihormati meskipun di tengah hotel bintang lima.
"Kamu cantik banget hari ini, Naj. Dan cara kamu bela Gus Azam tadi... aku angkat jempol," bisik Selvi saat mereka sempat berfoto bersama.
"Dia suamiku, Sel. Marwahnya adalah kehormatanku," jawab Najwa lirih.
Pesta yang sangat megah itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Abi Ahmad. Hotel yang biasanya menjadi tempat pesta pora, malam itu berubah menjadi tempat di mana ribuan orang menundukkan kepala dan mengamini doa-doa keberkahan.
Saat acara berakhir dan tamu mulai pulang, Najwa berdiri di samping Gus Azam yang masih membisu. Mereka akan segera menuju kamar pengantin tempat di mana kebisuan itu akan diuji dalam ruang yang lebih sempit. Najwa tahu, tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi desainer sukses di mata dunia, ia adalah istri dari seorang pria yang hatinya terkunci rapat.
"Ayo, Azam, Najwa... kalian istirahatlah," Umi Fatimah menghampiri, membelai pipi Najwa dengan penuh cinta. "Umi bangga padamu, Nak. Kamu terlihat sangat indah dengan hijab ini."
Najwa mencium tangan Uminya. Ia melirik Gus Azam yang sudah mulai melangkah duluan tanpa menunggunya. Najwa menarik napas panjang, merapikan hijabnya yang menutup dada, dan melangkah mengikuti suaminya. Di bawah lampu hotel yang mulai redup, ia menyadari bahwa mulai malam ini, dunianya tidak akan lagi bising oleh angka-angka, tapi akan dipenuhi oleh sunyi yang harus ia pelajari maknanya.