"Lalu, sebuah tawa kecil. Tawa Aris. Atau mungkin tawa sesuatu yang lain yang baru saja terbangun di dalam dirinya."
Tawa itu lolos begitu saja dari sela-sela giginya yang bergemeretak, suara kering dan pecah yang terdengar seperti gesekan kampas rem yang sudah habis menggerus piringan besi. Itu bukan tawa kemenangan. Itu adalah tawa kegilaan, sebuah respons saraf terakhir ketika logika manusia menolak memproses realitas yang ada di depan mata.
Ledakan cahaya biru yang baru saja ia ciptakan dengan menusukkan obeng ke sirkuit telanjang Jantung Sintetis itu tidak menghancurkan ruangan ini. Tidak ada sirene pemadam kebakaran, tidak ada sistem shutdown. Cahaya itu justru terhisap.
Seperti air yang menyusut ke dalam lubang selokan, percikan listrik mematikan itu tersedot ke dalam gumpalan hitam raksasa yang kini menjulang di belakangnya. Sosok itu—sang Gravemind—tampak semakin padat, semakin nyata. Tubuhnya adalah monumen rongsokan Jakarta. Ribuan helm ojek online yang retak dan penyok membentuk struktur torso yang bungkuk tapi masif. Jaket-jaket hijau dan oranye yang robek menjuntai seperti kulit yang terkelupas, meneteskan cairan hitam yang baunya seperti campuran bensin basi dan darah segar.
"Warisan..." Suara itu keluar dari lubang knalpot yang berfungsi sebagai mulutnya, disertai semburan asap hitam pekat yang membuat mata perih. Nadanya rendah, bergetar, menyerupai suara Aris sendiri jika direkam dan diputar ulang dengan kecepatan lambat di dalam terowongan banjir. "...harus... diteruskan..."
Aris mencoba mundur, menyeret kaki kirinya yang hancur. Lututnya terasa seperti kantong plastik berisi pecahan kaca yang dipaksa bergerak. Setiap inci gesekan tubuhnya dengan lantai daging yang becek mengirimkan sinyal rasa sakit yang begitu intens hingga pandangannya memutih sesaat.
KREK. WUSSS.
Makhluk itu tidak berjalan. Ia menggelinding dan menyusun ulang dirinya sendiri. Bagian tubuhnya yang terdiri dari setang motor bengkok dan velg patah bergeser maju, menciptakan suara logam beradu yang ngilu. Tiga Perawat Tanpa Wajah yang sebelumnya mengepung Aris kini bersujud, kening mereka yang penuh jahitan menempel ke lantai yang berdenyut, tubuh mereka bergetar hebat seperti sedang mengalami kejang massal. Mereka menyembah rongsokan ini.
Aris terbatuk, memuntahkan cairan rasa logam yang menyumbat tenggorokannya. Ia menatap telapak tangan kirinya. Tombol yang tertanam di dagingnya kini menyala merah membara, seolah bereaksi terhadap kehadiran entitas raksasa itu. Tulisan "KONFIRMASI PENERIMAAN" berkedip panik, seirama dengan detak jantung raksasa di tengah ruangan.
"Diteruskan apanya, hah?" Aris berteriak, suaranya parau. Ia mencengkeram lantai yang lengket, mencoba mencari pegangan. Obeng kecil yang tadi menjadi satu-satunya senjatanya kini tak berbekas, mungkin meleleh atau terlempar entah ke mana akibat ledakan tadi. "Gue... gue cuma mau bawa Ibu pulang!"
Sosok Gravemind itu menunduk. Dua matanya yang berupa lampu depan motor pecah menyorotkan sinar kuning redup tepat ke wajah Aris. Panas yang memancar dari tubuh makhluk itu luar biasa, seperti berdiri di sebelah mesin bus Transjakarta yang meledak di siang bolong.
"Ibu... adalah... bahan bakar," geram makhluk itu. Sebuah lengan raksasa yang terbentuk dari jalinan rantai motor berkarat terangkat perlahan. "Kau... adalah... suku cadang."
Aris merasakan teror yang berbeda kali ini. Ini bukan hantu. Ini bukan setan pocong atau kuntilanak yang ia lihat di film-film horor murahan. Makhluk ini adalah manifestasi fisik dari setiap detik yang ia habiskan di jalanan, setiap ambisi butanya mengejar poin, setiap kali ia mengabaikan rasa lelah demi 'tup-po' (tutup poin). Makhluk ini adalah ego kolektifnya yang membusuk.
Di tengah ruangan, Jantung Sintetis Raksasa itu berdetak semakin kencang. DUM... DUM... DUM... Irama itu tidak lagi teratur. Kabel-kabel hitam yang melilit tubuh kecil Ibu menegang, seolah sedang memeras sisa-sisa kehidupan terakhir dari tubuh rentanya.
"Ibu!" teriak Aris. Ia memaksakan tubuhnya bangkit, bertumpu pada kaki kanannya yang masih utuh. Rasa sakit di lutut kirinya begitu hebat hingga rasanya seperti diamputasi tanpa bius, tapi adrenalin kemarahan membuatnya tetap sadar.
Cahaya di monitor EKG Ibu berkedip liar. Garis hijau itu semakin landai. Sosok Ibu di sana tampak semakin transparan, kulitnya yang keriput seolah menyatu dengan selaput lendir yang membungkusnya. Tangan Ibu yang terikat kabel infus bergerak lemah, telunjuknya masih menunjuk ke arah Aris—bukan, menunjuk ke belakang Aris. Ke arah makhluk itu.
Tatapan Ibu. Mata hitam itu. Itu bukan tatapan takut. Itu tatapan kecewa.
"Kau lihat dia?" suara Gravemind itu kembali menggelegar, kali ini lebih lancar, seolah ia sedang menyerap kosa kata langsung dari otak Aris. "Dia sudah lelah. Dia ingin istirahat. Tapi kau... ambisimu... memaksanya tetap menyala."
"Bohong!" Aris meludah ke arah makhluk itu. Ludahnya mendesis saat menyentuh aspal panas yang membentuk kaki makhluk itu. "Gue kerja buat dia! Gue ngutang buat dia!"
"Kau kerja untuk dirimu sendiri!"
Suara itu meledak, bukan dari mulut makhluk itu, tapi dari dalam kepala Aris. Gelombang suara yang begitu keras hingga Aris jatuh tersungkur kembali, memegangi kepalanya yang serasa mau pecah.
Lantai daging di bawahnya mulai bergejolak. Cairan hitam—campuran oli dan darah—mulai merembes naik, menggenangi lutut Aris. Dari genangan itu, muncul tangan-tangan kecil. Tangan anak-anak. Tangan Rio. Puluhan tangan pucat yang menggenggam tisu basah, menarik-narik celana jeans Aris yang robek.
"Kak... beli tisunya, Kak..." bisikan itu berdengung seperti lalat di telinganya. "Minggir lo, bocah!" Aris mendengar suara masa lalunya sendiri membentak. Gema dari dosa yang ia lakukan di perempatan Slipi.
Aris memukul-mukul genangan itu, mencoba mengusir halusinasi—atau realitas—yang menjerat kakinya. "Pergi! Jangan sekarang! Gue harus selamatin Ibu!"
Gravemind itu bergerak maju. Suara gesekan logamnya memekakkan telinga. Ia tidak menyerang dengan cepat. Ia bergerak lambat, tak terelakkan, seperti hutang yang jatuh tempo. Tangan raksasanya yang terbuat dari rantai berkarat terulur, bukan untuk memukul, tapi untuk merangkul.
"Sistem... butuh... pembaruan," kata makhluk itu. Di dadanya, di antara tumpukan helm pecah, terlihat sebuah rongga kosong yang bersinar merah. Rongga yang bentuknya pas sekali untuk seukuran tubuh manusia dewasa.
Aris menyadari kengerian dari rencana entitas ini. "Gantikan Posisi Pasien." Misi itu bukan sekadar menggantikan Ibu di kabel-kabel itu. Makhluk ini ingin menyerap Aris. Menjadikannya bagian dari Gravemind. Menjadikannya pilot abadi untuk mesin penderitaan ini.
"Konfirmasi..." tombol di tangan Aris bergetar hebat. Panasnya kini membakar kulit, bau daging gosong menyeruak ke hidungnya sendiri. Tangan kirinya bergerak sendiri, terangkat perlahan seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata ke arah dada makhluk itu.
"Enggak..." Aris menahan tangan kirinya dengan tangan kanan, berjuang melawan ototnya sendiri yang berkhianat. "Gue nggak mau jadi monster kayak lo!"
"Kau sudah menjadi monster sejak kau menolak memanusiakan orang lain demi mengejar bintang lima," bisik makhluk itu. Wajah aspalnya yang retak tersenyum, menampakkan gigi-gigi dari busi bekas.
Di kejauhan, bunyi Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit panjang terdengar sayup-sayup di antara deru mesin. Aris menoleh panik ke arah Jantung Raksasa.
Monitor Ibu. Garisnya datar.
Waktu seolah berhenti. Suara gergaji mesin raksasa di kejauhan lenyap. Gemuruh Gravemind lenyap. Yang terdengar hanya bunyi beep panjang yang menyayat hati itu.
Mata Aris membelalak. Dunia di sekelilingnya terasa runtuh. "Ibu?" suaranya pecah, kecil, seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di pasar malam.
Kabel-kabel hitam yang melilit Ibu mulai berpendar merah, menyedot sisa-sisa energi terakhir. Jantung Sintetis itu meraung, piston-pistonnya memompa dengan kekuatan penuh, seolah baru saja mendapat suntikan nitro.
"Siklus... selesai," Gravemind itu mendeklarasikan dengan nada dingin. "Baterai lama... habis."
"TIDAAAAAAK!" Aris berteriak, sebuah lolongan panjang yang merobek tenggorokannya. Ia tidak peduli lagi pada kakinya. Ia tidak peduli pada monster di depannya. Ia menerjang maju.
Bukan ke arah Jantung. Aris tahu ia tidak akan sempat. Ia menerjang ke arah Gravemind.
Ini tindakan bunuh diri. Menabrakkan daging lunak ke arah tumpukan besi tajam. Tapi logika Aris sudah putus. Jika sistem ini mengambil Ibunya, maka ia akan menjadi virus yang menghancurkan sistem ini dari dalam.
"MATI LO SEMUA!"
Aris melompat—sebuah lompatan pincang yang didorong oleh keputusasaan murni. Tangan kirinya yang memiliki tombol "KONFIRMASI PENERIMAAN" ia arahkan lurus ke depan, bukan untuk menerima tawaran, tapi sebagai tinju.
BRAKK!
Tubuh Aris menghantam dada Gravemind. Besi-besi tajam menusuk bahu dan perutnya. Helm-helm pecah menggores wajahnya. Rasanya seperti menabrak truk kontainer dengan kecepatan penuh. Tulang rusuknya yang sudah patah kini remuk sepenuhnya. Darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi "wajah" aspal makhluk itu.
Namun, Aris tidak berhenti. Ia menanamkan telapak tangan kirinya yang membara tepat ke dalam rongga dada makhluk itu.
"KONFIRMASI INI, SETAN!" teriak Aris di depan wajah monster itu.
ZRRRTTTTT!
Sesuatu terjadi. Tombol di tangan Aris bereaksi dengan inti Gravemind. Cahaya merah bertemu dengan kegelapan oli. Bukan penyerapan, melainkan penolakan. Sistem glitch.
Tubuh raksasa itu kejang. Ribuan helm yang menyusun tubuhnya bergetar. Suara jeritan ribuan driver ojol terdengar serempak, memekakkan telinga. Gravemind itu meraung, lengannya yang besar mencoba melepaskan Aris, tapi tangan Aris seperti sudah terlas ke dada makhluk itu.
"Error... Data... Tidak... Valid..." suara makhluk itu terdistorsi, melambat dan meninggi secara acak.
Lantai ruangan itu miring. Gravitasi kacau. Cairan hitam di lantai mulai berputar membentuk pusaran. Jantung Sintetis di belakang mereka berdetak tak karuan, DUM-DUM-DUM-DUM terlalu cepat, seperti mesin yang overheat.
Di tengah kekacauan itu, Aris melihat sesuatu dari sudut matanya yang mulai kabur karena darah.
Di dekat Jantung Raksasa yang berasap, selaput yang membungkus Ibu robek. Tubuh kecil itu merosot, kabel-kabel hitam terlepas satu per satu. Tubuh Ibu jatuh ke lantai yang becek. Diam. Tak bergerak.
Aris ingin memanggilnya, tapi suaranya sudah habis. Kesadarannya mulai memudar, ditelan oleh rasa sakit dan koneksi paksa dengan Gravemind. Layar ponsel di saku Aris yang retak tiba-tiba menyala terang, menampilkan notifikasi baru dengan huruf-huruf yang menetes seperti darah:
PERINGATAN: SERVER OVERLOAD. PEMUTUSAN HUBUNGAN PAKSA DIMULAI DALAM 3... 2...
Aris tertawa lagi. Kali ini tanpa suara. Darah membasahi giginya. Ia tidak menyelamatkan Ibu. Ia mungkin baru saja membunuh mereka semua. Tapi setidaknya, ia tidak menyerah pada sistem keparat ini.
Dan kemudian, lantai di bawah mereka runtuh.
Bukan sekadar ambruk. Lantai "Rahim Penyesalan" itu terbuka seperti mulut raksasa yang kelaparan, menelan Jantung, Ibu, Aris, dan Gravemind ke dalam kegelapan tak berujung di bawahnya.
Jatuh. Lagi. Ke tempat yang lebih dalam dari penyesalan.
[SCENE END]