"Bayangan seorang anak kecil dengan sekotak tisu di tangannya."
Sosok itu berdiri takzim di sana, sebuah anomali putih di tengah lautan hitam pekat limbah industri dan bangkai logam. Cahaya di sekelilingnya redup, bukan berasal dari lampu sorot ataupun bulan, melainkan semacam pendar pucat yang kontras dengan kegelapan abadi di dasar jurang ini.
Aris mengerjapkan matanya yang perih, kelopak matanya terasa berat dan lengket oleh campuran darah kering serta oli bekas. Apakah ini halusinasi terakhir sebelum otak mati batang? Ataukah ini malaikat pencabut nyawa yang mengambil wujud paling menyedihkan dalam memori otaknya?
Anak itu tidak bergerak. Dia hanya berdiri sekitar lima meter dari tempat Aris terkapar, memeluk kotak tisu karton yang ujungnya sedikit penyok. Bajunya lusuh, kaos oblong yang kebesaran dengan noda debu jalanan yang familiar. Wajah itu. Aris mengenalnya. Itu bukan wajah asing. Itu wajah Rio. Bocah penjual tisu di perempatan Slipi yang dulu sering ia hardik karena mengetuk kaca helmnya saat lampu merah menyala.
"Minggir! Jangan bikin susah orang kerja!"
Teriakan masa lalu itu menggema di telinganya, lebih nyaring daripada desing hidrolik yang bocor di sekitarnya. Rasa bersalah yang selama ini tertimbun di bawah lapisan ego dan ambisi mengejar poin, kini menyeruak keluar, menikam ulu hati lebih sakit daripada tulang rusuknya yang remuk.
Aris mencoba bergerak, namun tubuhnya menolak kooperatif. Rasa sakit yang meledak dari kaki kirinya bukan lagi sekadar sinyal bahaya, melainkan orkestra penyiksaan. Tulang kering yang mencuat keluar dari kulitnya bergesekan dengan sampah logam di bawahnya, mengirimkan sengatan listrik yang membuat pandangannya memutih sesaat. Ia mendesis, suara yang keluar dari tenggorokannya tak lebih dari uap putus asa. Tangan kirinya—atau apa yang tersisa darinya—terasa kebas namun panas, daging yang melepuh telah menyatu dengan tombol sialan itu, menjadi monumen kegagalannya.
Di sebelahnya, tubuh ibunya terbujur kaku. Dingin. Rigor mortis telah mengambil alih sepenuhnya, membekukan ekspresi kecewa itu selamanya. Aris ingin memalingkan wajah, tak sanggup menanggung beratnya tatapan kosong dari mayat wanita yang seumur hidupnya ia jadikan alasan untuk menjadi monster di jalanan.
Namun, di tengah kepasrahan itu, suara gemeretak logam yang memuakkan kembali terdengar.
KRETEK... TEK...
Itu bukan suara sampah yang bergeser karena gravitasi. Itu suara sesuatu yang memaksa dirinya untuk bangkit.
Gravemind.
Gundukan besi tua itu belum mati. Entitas yang kini tak lebih dari tumpukan rongsokan yang kejang-kejang itu sedang mencoba menyusun ulang dirinya. Kabel-kabel sirkuit yang terurai seperti usus terburai memercikkan bunga api, mencoba menyambungkan kembali protokol yang rusak. Wajah retak itu—wajah Aris yang terdistorsi—masih menyala redup, berkedip-kedip tak beraturan.
"DATA... TIDAK... VALID..." Suaranya pecah, seperti speaker rusak yang dipaksa memutar rekaman berulang-ulang. "PENERIMA... MENOLAK... PAKET..."
Makhluk itu merangkak. Tidak memiliki kaki yang utuh, ia menyeret tubuh besinya menggunakan lengan-lengan hidrolik yang patah, mencakar lantai sampah yang licin oleh minyak mentah. Tujuannya bukan lagi Aris.
Sensor merah di matanya terkunci lurus ke depan.
Ke arah Rio. Ke arah anak kecil dengan kotak tisu itu.
Aris merasakan detak jantungnya yang lemah mendadak memacu adrenalin sisa. Sistem di dalam Gravemind sedang mencari "bug" untuk dihapus. Bagi entitas yang dibangun dari algoritma keserakahan dan efisiensi tanpa hati, keberadaan sesuatu yang murni seperti Rio adalah virus. Sebuah anomali yang harus dimusnahkan agar sistem bisa kembali "logis".
"J-jangan..." Aris mencoba berteriak, tapi mulutnya penuh dengan rasa besi.
Gravemind mengabaikannya. Tumpukan logam itu semakin dekat dengan Rio. Anak itu tidak lari. Dia tidak takut. Dia hanya berdiri di sana, memandang monster besi itu dengan tatapan iba yang aneh.
"PERBAIKAN... SISTEM... MENGHAPUS... GANGGUAN..." Gravemind mengangkat satu lengan mekanisnya yang tajam, sebuah potongan bumper tajam yang siap membelah apa saja.
Aris tahu dia tidak bisa lari. Kakinya sudah hancur. Paru-parunya bocor. Tapi logika itu milik Aris yang lama. Aris yang menghitung untung rugi. Aris yang sekarang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan selain sisa napasnya.
Dengan geraman yang menyakitkan, Aris memutar tubuhnya. Ia menggunakan sikut kanannya yang masih berfungsi untuk menarik badannya yang hancur. Ia merayap di atas genangan oli dan darah, menyeret kakinya yang patah tanpa mempedulikan rasa sakit yang membuat syarafnya menjerit histeris.
Setiap inci adalah neraka. Potongan besi menyayat perutnya, air limbah masuk ke luka-lukanya, membakar daging yang terbuka.
Satu meter. Dia ingat saat dia memotong jalan ambulans demi mengantar paket makanan lebih cepat dua menit.
Dua meter. Dia ingat tatapan Pak Mulyono yang kecewa saat Aris memamerkan bonus curangnya.
Tiga meter. Dia ingat ibunya yang menunggu di rumah sakit, sementara dia sibuk mengejar insentif di aspal panas.
Gravemind sudah berada di jangkauan serang. Lengan besinya terayun turun.
"AAAAARGHHH!!!"
Aris melontarkan tubuhnya ke depan dalam satu gerakan terakhir yang menghabiskan seluruh sisa energinya. Ia tidak menyerang monster itu. Ia menjatuhkan dirinya tepat di depan Rio, menjadikan punggungnya yang hancur sebagai tameng hidup.
BRAAAK!!!
Hantaman logam itu tidak mengenai daging Aris, melainkan tertahan oleh sesuatu. Aris memejamkan mata, menunggu rasa sakit dari tulang belakang yang patah, tapi itu tidak datang.
Ia membuka mata perlahan. Lengan Gravemind berhenti satu inci di atas wajahnya. Bergetar hebat. Seolah ada dinding tak kasat mata yang menahannya.
Bukan dinding.
Rio telah melangkah maju. Tangan kecilnya terulur, menyentuh wajah besi Gravemind yang penuh oli dan darah.
Seketika itu juga, suara anomali digital yang memekakkan telinga memenuhi rongga udara.
"ERROR... LOGIKA... TIDAK... DITEMUKAN... ALGORITMA... KASIH... SAYANG... TIDAK... KOMPATIBEL..."
Gravemind kejang-kejang. Sistemnya yang dibangun di atas fondasi penyesalan dan ambisi egois tidak memiliki kode untuk memproses tindakan tanpa pamrih. Aris, yang sepanjang hidupnya selalu transaksional - memberi untuk menerima, bekerja untuk dibayar - kini melakukan sesuatu yang "gratis". Dia mengorbankan nyawanya untuk hantu masa lalu yang tidak memberinya keuntungan apa-apa.
Itu adalah fatal error bagi sistem Rahim Penyesalan.
"Maaf..." bisik Aris, suaranya parau, air mata bercampur darah menetes ke tanah. Dia tidak bicara pada Gravemind. Dia bicara kepada Rio. Dia bicara pada semua orang yang pernah dia kecewakan. "Maaf, aku telat sadar."
Rio tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa beban. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengambil selembar tisu dari kotaknya. Tisu putih yang bersih, kontras dengan dunia hitam di sekitar mereka.
Dengan lembut, anak itu membungkuk dan mengusap wajah Aris. Membersihkan cipratan oli dan darah yang menutupi matanya.
Sentuhan itu seringan kapas, namun efeknya menghancurkan.
Gravemind meraung. Bukan raungan mesin, tapi teriakan ribuan suara digital yang bertabrakan. Lampu-lampu indikator di tubuh rongsokannya meledak satu per satu. Struktur logam yang menopangnya runtuh.
Entitas itu tidak dikalahkan dengan kekerasan. Ia dikalahkan karena ia tidak lagi relevan. Di hadapan penerimaan tulus Aris atas dosa-dosanya, manifestasi penyesalan itu kehilangan kuasanya. Aris tidak lagi menyangkal. Dia tidak lagi berlari. Dia sudah sampai di tujuan.
BLAAAAAR!
Tubuh Gravemind meledak dalam percikan listrik statis yang lemah, lalu ambruk menjadi gundukan sampah biasa. Tidak ada lagi monster. Hanya tumpukan bumper taksi, spion motor, dan kabel bekas yang menggunung tak berdaya.
Hening...
Keheningan yang absolut turun menyelimuti dasar jurang itu.
Suara desing mesin berhenti. Bau busuk mayat dan formalin perlahan memudar, digantikan oleh aroma yang sangat spesifik dan lembut.
Wangi melati. Dan tanah basah sehabis hujan.
Aris terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme yang putus-putus. Rasa sakit di kakinya masih ada, brutal dan nyata, tapi rasa takutnya hilang. Hantu Rio perlahan memudar, transparansinya menyatu dengan udara, meninggalkan kotak tisu itu tergeletak di samping tangan Aris yang hangus.
Aris memutar kepalanya perlahan ke arah ibunya.
Jenazah itu masih di sana. Masih kaku. Masih mati. Tidak ada keajaiban yang menghidupkannya kembali. Aris tahu itu. Ini bukan dongeng. Ini adalah konsekuensi.
Namun, saat Aris menatap wajah ibunya lagi, ia menyadari sesuatu. Mata ibunya yang tadi membelalak penuh kekecewaan, kini tampak... terpejam?
Tidak. Aris yang berubah. Sudut pandangnya yang berubah. Dia tidak lagi melihat ibunya sebagai "beban" atau "tujuan misi" yang gagal. Dia melihatnya sebagai ibunya. Manusia yang ia cintai, yang sudah beristirahat.
Dengan sisa tenaga di tangan kanannya, Aris merayap mendekati jasad ibunya. Ia mengambil tisu yang ditinggalkan Rio tadi—selembar kertas tipis yang kini ternoda oli dari jari Aris.
Pelan-pelan, dengan tangan gemetar, Aris mengusap kelopak mata ibunya, menutupnya dengan sempurna.
"Tidur ya, Bu," bisik Aris, suaranya pecah namun tenang. "Orderan Aris udah selesai. Aris udah nggak lari lagi."
Ia merebahkan kepalanya di atas dada ibunya yang tak lagi berdetak. Dinginnya tubuh itu tidak lagi menakutkan, melainkan menenangkan. Seperti bantal dingin di hari yang panas.
Di atas sana, jauh di celah-celah reruntuhan fasilitas yang runtuh, seberkas cahaya tipis mulai menerobos masuk. Fajar.
Cahaya itu jatuh tepat menimpa mereka. Aris, ibunya, dan gunungan sampah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang anak manusia yang tersesat di labirin egonya sendiri.
Aris memejamkan mata. Napasnya semakin berat, paru-parunya penuh cairan. Pandangannya menggelap, tapi bukan gelap yang menakutkan seperti sebelumnya. Ini gelap yang damai. Seperti layar ponsel yang akhirnya kehabisan baterai setelah seharian bekerja keras. Mati total. Istirahat.
Di saku celananya yang robek, sebuah getaran hantu terasa. Bukan dari ponsel - ponselnya sudah hancur di genangan minyak. Itu getaran dari jiwanya sendiri.
Sebuah notifikasi imajiner muncul di benaknya, bukan dengan huruf merah menyala, tapi dengan tulisan putih yang tenang:
TRANSAKSI SELESAI. METODE PEMBAYARAN: KEJUJURAN. SALDO PENYESALAN: LUNAS.
Aris tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak mengejar bintang lima. Dia cukup dengan bintang nol, asalkan dia bisa tidur nyenyak.
Dan di dasar kegelapan itu, Aris akhirnya berhenti.