Mesin motor itu menderum halus, suara mekanikal yang jauh lebih merdu daripada jeritan logam bengkok yang masih terngiang di telinga Aris. Ia duduk di atas motornya, Honda Beat usang yang selama ini ia peras tenaganya seperti budak, kini dengan penuh rasa syukur. Spion kiri pecah, menjuntai seperti leher patah itu memantulkan langit subuh Jakarta yang berwarna abu-abu memar.
Kakinya gemetar hebat. Bukan karena dingin, melainkan karena sisa-sisa adrenalin dari dimensi lain yang perlahan surut, meninggalkan rasa nyeri yang nyata di lututnya yang lecet. Celana jeans-nya robek, memperlihatkan kulit yang merah dan perih, sebuah suvenir fisik dari kecelakaan yang ia alami saat "terbangun".
Ia meraba saku jaketnya. Kosong. Ah, ponselnya mati total. Layar retak seribu itu tidak lagi memancarkan cahaya biru yang biasanya menjadi tuhan kecilnya. Tidak ada notifikasi bid masuk. Tidak ada bunyi "Tring!" yang memacu detak jantung. Tidak ada grafik performa, tidak ada target poin, tidak ada insentive yang harus dikejar dengan nyawa sebagai taruhan.
Yang ada hanya kotak tisu murah di tangan kirinya. Kotak kardus penyok dengan tulisan tangan cakar ayam di bagian bawahnya: "Hati-hati di jalan ya, Om."
Aris menatap tulisan itu lama sekali. Air mata kembali menggenang, panas dan mendesak, namun kali ini tidak ada isak tangis histeris. Hanya lelehan sunyi yang jatuh ke atas tangki bensin. Ini adalah bukti. Rio ada. Atau pernah ada. Dan di suatu tempat di antara lipatan realitas dan memori, anak itu telah memaafkannya.
Motor melaju pelan. Sangat pelan...
Biasanya, jam segini adalah waktu perang. Pukul 05.30 pagi adalah saat Aris akan memacu gas, memotong jalur busway, meludahi rambu lalu lintas, dan menyumpah-serapahi angkot yang ngetem sembarangan demi mengejar orderan pegawai kantoran yang butuh cepat sampai di Sudirman. Tapi hari ini, jalanan terasa berbeda.
Jakarta sedang menggeliat bangun. Aroma aspal basah bercampur dengan bau sampah yang belum diangkut dan asap sate ayam dari pedagang kaki lima yang mulai mengipas arang. Aris menghirup udara itu dalam-dalam. Bau polusi. Bau kehidupan. Rasanya manis sekali di paru-paru, jauh lebih melegakan daripada udara steril berbau formalin di lorong rumah sakit jahanam yang baru saja ia hancurkan.
Ia melewati halte di mana ia pernah melihat bayangan Sarah. Tidak ada hantu di sana. Hanya seorang ibu-ibu yang sedang menunggu Kopaja sambil memeluk tas belanjaan. Aris tidak memalingkan wajah. Ia justru memperlambat laju motornya, membiarkan ibu itu menyeberang dengan aman.
Dulu, ia akan menekan klakson panjang, memaki ibu itu karena menghalangi jalurnya. "Minggir, Bu! Cari mati?!" teriak Aris versi lama. Aris yang itu sudah mati. Terkubur di bawah reruntuhan dimensi penyesalan.
Aris yang sekarang berhenti. Menunggu. Memperhatikan bagaimana kaki ibu itu melangkah hati-hati di atas genangan air. Ia melihat kemanusiaan dalam gerak-gerik sederhana itu. Detik-detik yang terbuang karena menunggu lampu merah atau penyeberang jalan bukan lagi "kerugian waktu", melainkan jeda untuk bersyukur bahwa ia masih ada di sini. Masih bernapas.
Ia memacu motornya ke arah Slipi, menuju Rumah Sakit Harapan Kita. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena takut dikejar monster berwajah jam dinding, tapi karena takut menghadapi realitas yang paling menakutkan: kondisi ibunya.
Jarak tempuh terasa begitu jauh tanpa panduan Google Maps. Aris mengandalkan memori ototnya, menyusuri jalanan protokol yang mulai padat. Ia melihat rekan-rekan sesama ojol dengan jaket hijau dan kuning mulai memenuhi jalan, mata mereka terpaku pada layar ponsel yang ditempel di stang, jari-jari mereka siap menekan tombol terima. Zombie teknologi. Aris ingin berteriak kepada mereka, "Matikan! Pulanglah! Peluk anak istrimu!" tapi suara itu tertahan di tenggorokan. Ia tahu, mereka juga terikat rantai kebutuhan yang sama. Ia tidak berhak menghakimi. Ia hanya bisa berdoa agar mereka tidak perlu masuk ke "Rahim Penyesalan" untuk mengerti arti cukup.
Gerbang rumah sakit menjulang di depan mata.
Gedung putih itu tampak biasa saja. Tidak ada dinding yang bernapas. Tidak ada lantai yang terbuat dari daging. Tidak ada Suster Ningsih setinggi tiga meter dengan jarum suntik raksasa. Hanya gedung beton kaku dengan jendela-jendela kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi.
Aris memarkir motornya di area parkir umum. Ia tidak peduli lagi dengan parkir liar demi menghindari biaya seribu rupiah. Ia meletakkan helmnya yang retak di atas spion, mengambil kotak tisu itu, dan berjalan terpincang-pincang menuju lobi.
Lututnya sakit bukan main setiap kali menapak, tapi rasa sakit itu justru membuatnya sadar. Sakit itu manusiawi, batinnya. Yang tidak sakit itu mayat.
Lobi rumah sakit dingin oleh AC sentral. Bau karbol menyengat hidung. Orang-orang berlalu lalang dengan wajah cemas, lelah, atau pasrah. Aris berjalan melewati meja resepsionis, mengabaikan tatapan satpam yang melihat penampilannya yang berantakan—celana robek, jaket kotor penuh lumpur kuburan, dan mata sembap.
Ia menekan tombol lift. Jarinya gemetar.
Lantai 4. ICU.
Pintu lift terbuka dengan denting halus. Aris melangkah keluar. Lorong itu panjang dan sunyi, persis seperti dalam mimpinya, tapi kali ini lantainya adalah keramik putih, bukan tulang belulang. Di ujung lorong, di depan pintu kaca ganda bertuliskan "INTENSIVE CARE UNIT", duduk sesosok wanita dengan seragam putih.
Suster Ningsih.
Bukan monster. Bukan hantu. Suster Ningsih yang asli. Tubuhnya agak gemuk, wajahnya lelah dengan kantung mata yang tebal, dan ia sedang memijat tengkuknya sendiri sambil memeriksa berkas di meja jaga.
Langkah kaki Aris yang menyeret di lantai membuat Suster Ningsih menoleh. Matanya membulat di balik kacamata bacanya saat mengenali sosok yang mendekat.
"Mas Aris?" suaranya serak, manusiawi.
Aris berhenti tepat di depan meja jaga. Ia meletakkan kotak tisu Rio di atas meja, seolah itu adalah persembahan atau tiket masuk. Napasnya tersenggal. Ia mencoba bicara, tapi mulutnya kering.
Suster Ningsih berdiri, ekspresinya berubah dari kaget menjadi prihatin, lalu menjadi sesuatu yang sulit dibaca. Ia melirik jam dinding, jam dinding biasa yang berdetak normal, tik-tok, tik-tok, bukan mundur.
"Mas... ke mana saja?" tanya Suster Ningsih pelan. Nada suaranya tidak menghakimi, tapi menyiratkan kekecewaan yang mendalam. "Kami mencoba menghubungi nomor Mas Aris sejak semalam. Tidak aktif. Mas Bambang juga tidak tahu Mas di mana."
"Maaf, Sus," suara Aris parau, pecah di tengah kalimat. "Ponsel saya... mati. Saya... saya tersesat."
"Tersesat?" Suster Ningsih menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. Ia menatap Aris dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kondisi Mas berantakan sekali. Kecelakaan?"
Aris mengangguk lemah. "Kecelakaan... ego, Sus."
Suster Ningsih terdiam sejenak, menatap mata Aris. Mungkin ia melihat sesuatu yang berbeda di sana. Kilatan ambisi yang biasanya membakar mata pemuda itu telah padam, digantikan oleh samudra penyesalan yang tenang dan gelap. Suster itu perlahan melunakkan sikap tubuhnya.
"Ibu Mas Aris..." Suster Ningsih menggantung kalimatnya.
Jantung Aris berhenti berdetak sesaat. Dunia seakan miring. Ia mencengkeram pinggiran meja jaga, buku-buku jarinya memutih. Bayangan ibunya yang menjadi bahan bakar jantung mekanis di dimensi lain kembali menghantuinya. Apakah ia terlambat? Apakah pengorbanannya di sana sia-sia di sini?
"Ibu..." Aris menelan ludah. "Ibu masih ada, Sus?"
Suster Ningsih menunduk, melihat buku laporan pasien. "Semalam kritis. Sangat kritis. Sekitar jam dua pagi, jantungnya sempat berhenti."
Aris memejamkan mata. Jam dua pagi. Saat ia mengambil orderan ganjil itu. Saat ia masuk ke dalam taksi monster.
"Kami sudah melakukan resusitasi," lanjut Suster Ningsih, suaranya memberat. "Dokter sudah mau menyerah. Tapi... entah bagaimana, sekitar pukul empat subuh, detak jantungnya kembali stabil. Lemah, tapi stabil."
Pukul empat subuh. Saat Aris menghancurkan Gravemind. Saat ia memilih untuk mati demi menyelamatkan memori Rio.
Aris membuka matanya. Air mata kembali tumpah, kali ini deras tak terbendung. Ia merosot, berlutut di depan meja jaga, mengabaikan rasa perih di lututnya. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Rasa syukur itu menghantamnya seperti ombak pasang. Koneksi itu nyata. Pengorbanannya didengar oleh semesta, atau Tuhan, atau apapun yang mengatur keseimbangan dosa dan pahala.
"Mas Aris?" Suster Ningsih panik, segera keluar dari balik meja dan memegang bahu Aris. "Mas kenapa? Mas sakit? Perlu saya panggilkan dokter jaga?"
Aris menggeleng kuat-kuat, menyeka wajahnya yang kotor dengan lengan jaket. "Enggak, Sus. Saya... saya cuma bersyukur. Saya boleh masuk? Saya mau lihat Ibu. Sebentar saja. Saya mohon."
Suster Ningsih menatap Aris dengan iba. Ia tahu peraturan rumah sakit melarang kunjungan di luar jam besuk, apalagi di ICU. Tapi melihat kondisi Aris, pria yang hancur lebur namun tampak baru saja menemukan kembali jiwanya, hatinya luluh.
"Lima menit," bisik Suster Ningsih tegas namun lembut. "Cuma lima menit. Beliau belum sadar, masih pengaruh obat bius. Jangan berisik. Jangan bikin keributan."
"Terima kasih, Sus. Terima kasih."
Aris bangkit dengan susah payah. Ia mengambil kembali kotak tisu Rio, mendekapnya di dada seperti memeluk kitab suci.
Suster Ningsih membukakan pintu kaca berat itu. Suara bip-bip-bip dari monitor EKG terdengar ritmis, menyambut Aris. Udara di dalam jauh lebih dingin, steril, dan sunyi.
Aris melangkah masuk. Kakinya terasa berat, seolah setiap langkah adalah perjalanan melintasi benua. Ia melewati tirai-tirai pembatas, melewati pasien-pasien lain yang berjuang antara hidup dan mati, hingga sampai di bed nomor 4.
Di sana, terbaring sosok rapuh yang selama ini menjadi alasan sekaligus alibi bagi keserakahannya.
Ibunya tampak sangat kecil di tengah belitan kabel dan selang infus. Wajahnya pucat, kulitnya keriput dan tipis seperti kertas tua. Dada itu naik turun dengan sangat pelan, dibantu oleh ventilator yang mendesis halus. Tidak ada monster di sini. Tidak ada jantung raksasa yang memompa darah hitam. Hanya seorang ibu tua yang lelah.
Aris meletakkan kotak tisu di meja nakas, tepat di samping gelas air mineral yang belum tersentuh. Ia menarik kursi plastik, duduk di samping ranjang, dan memberanikan diri menyentuh tangan ibunya.
Dingin. Tapi hidup.
Ia menggenggam tangan keriput itu dengan kedua tangannya yang kasar dan kotor. Ia mengecup punggung tangan ibunya, membiarkan air matanya membasahi kulit wanita itu.
"Bu..." bisik Aris, suaranya gemetar. "Aris pulang, Bu. Aris sudah pulang."
Tidak ada jawaban. Hanya suara monitor yang konstan. Tapi bagi Aris, itu adalah simfoni terindah yang pernah ia dengar.
"Maafin Aris, Bu. Maafin Aris yang kemarin. Aris janji... nggak akan ngejar poin lagi. Nggak akan ninggalin Ibu lagi demi bonus fana." Ia menempelkan dahinya ke tangan ibunya. "Aris udah bayar utangnya, Bu. Aris udah 'mati' sekali buat nebus ini semua."
Di saku celananya yang robek, Aris meraba dompetnya yang tipis. Masih ada sisa uang tunai, mungkin cukup untuk beli bubur ayam buat sarapan nanti. Tidak ada jutaan rupiah. Tidak ada saldo OVO yang melimpah. Tapi saat ia melihat wajah ibunya yang damai, Aris merasa lebih kaya daripada saat ia memegang akun 'gacor' dengan aplikasi tuyul.
Tiba-tiba, jari ibunya berkedut pelan dalam genggamannya.
Aris mengangkat kepala, matanya terbelalak. Kelopak mata ibunya bergerak-gerak sedikit, seolah sedang bermimpi. Mungkin di alam bawah sadarnya, ibunya juga baru saja kembali dari perjalanan jauh. Mungkin mereka baru saja bertemu di persimpangan dimensi, dan kini sama-sama terbangun di pantai kenyataan.
Pintu kaca terbuka pelan. Suster Ningsih berdiri di ambang pintu, memberi isyarat bahwa waktu sudah habis.
Aris mengangguk. Ia berdiri, merapikan selimut ibunya dengan kelembutan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ia menatap wajah itu sekali lagi, merekam setiap detailnya, memastikan bahwa ini bukan ilusi.
"Tunggu Aris di luar ya, Bu," bisiknya. "Aris mau jadi manusia dulu."
Ia berbalik, meninggalkan ruang ICU dengan langkah yang masih pincang, namun punggungnya kini tegak. Beban ribuan kilo yang ia pikul di boncengan motornya semalam telah hilang, luruh bersama hancurnya Gravemind.
Aris berjalan keluar menuju lobi, disambut oleh cahaya matahari pagi yang mulai menerobos masuk lewat pintu kaca depan. Cahaya itu menyilaukan, hangat, dan nyata. Di luar sana, Jakarta sudah bising. Klakson bersahutan, mesin menderu, roda kehidupan berputar tanpa ampun.
Tapi Aris tidak takut. Ia tidak lagi melihat jalanan sebagai arena balap atau ladang uang.
Ia merogoh saku, mengeluarkan kunci motornya. Besi kecil itu terasa dingin di tangan. Ia siap kembali ke aspal. Bukan untuk menjadi raja jalanan, bukan untuk menjadi budak aplikasi. Tapi untuk menjadi seorang anak, seorang teman, dan seorang manusia yang sadar bahwa tujuan akhir dari setiap perjalanan bukanlah titik di peta, melainkan jalan pulang.
Aris tersenyum tipis, senyum tulus pertamanya dalam bertahun-tahun, saat ia melangkah menyongsong pagi yang benar-benar baru.