Balada Knalpot Bocor
Matahari di Tambora belum benar-benar terbit, tapi aroma bawang goreng dan nasib baik yang sedang dipertaruhkan sudah mengepul di udara. Pukul 04.30 pagi, Jakarta masih malu-malu, menyembunyikan wajah aslinya di balik kabut polusi tipis dan harapan para pejuang subuh. Di sebuah gang yang lebarnya hanya cukup untuk dua motor kurus berpapasan tanpa spion bersenggolan, Pak Baskoro (48) sedang melakukan ritual sakral: memanaskan mesin motor.
Motor itu adalah Honda Supra X tahun jebot yang getarannya bisa disamakan dengan kursi pijat di mal kelas menengah. Suaranya brebet-brebet manja, seolah protes karena dipaksa bangun sebelum ayam jantan tetangga berkokok. Baskoro, dengan kulit legam terbakar matahari dan jaket ojol hijau yang warnanya sudah memudar menjadi hijau lumut vintage, menepuk jok motornya.
"Ayo, Nduk. Jangan ngambek. Hari ini target kita 200 ribu bersih. Kalau kamu mogok, nanti Rama nggak bisa beli kuota buat upload tugas," bisik Baskoro pada motornya. Ini bukan skizofrenia, ini adalah bonding mekanikal yang hanya dipahami oleh mereka yang hidup di aspal.
Di dalam rumah kontrakan petak yang dindingnya dihiasi kalender partai kedaluwarsa, aroma nasi uduk Bu Siti (44) mulai mendominasi. Bau santan yang gurih beradu dengan wangi kunyit dari ayam goreng. Bu Siti adalah manajer keuangan terbaik versi Forbes kearifan lokal Tambora. Dengan pendapatan yang kembang kempis, dia bisa menyulap uang belanja menjadi lauk pauk, bayaran listrik, dan jajan anak, meski seringkali ia harus diam-diam menambal sol sepatu Sasa dengan lem besi.
"Pak, sarapan dulu," panggil Siti. Wajahnya lelah, guratan halus di sekitar matanya menjadi peta perjuangan mereka, tapi senyumnya tetap hangat. "Ini ada telor balado sisa pesanan katering kemarin. Sayang kalau nggak dimakan."
Baskoro masuk, melepas helmnya yang kacanya sudah baret seribu. Di meja kecil itu, dua anaknya sudah siap. Rama (17), remaja kurus dengan hoodie kegedean yang sepertinya sudah menyatu dengan kulitnya, sedang sibuk mencoret-coret di buku sketsa lusuh. Sasa (10), dengan rambut dikuncir dua yang tidak simetris, sedang meniup nasi uduk yang masih mengepul.
"Yah, sepatu Sasa beneran mangap nih," celetuk Sasa, mengangkat kaki kanannya. Bagian depan sepatu hitamnya terbuka seperti mulut buaya yang kelaparan. "Kemarin pas upacara, Sasa seret-seret jalan biar nggak copot alasnya. Temen-temen bilang sepatu Sasa lagi ketawa."
Baskoro tersenyum kecut, hatinya mencelos sedikit. Humor Sasa adalah mekanisme pertahanan diri yang brilian, tapi bagi seorang ayah, itu adalah tamparan halus. "Nanti Bapak lem lagi pakai lem yang lebih kuat ya, Sa. Atau kalau hari ini tupo, tutup poin, kita cari yang baru di Pasar Pagi."
"Nggak usah yang baru, Yah. Yang preloved di pasar loak Jembatan Lima juga nggak apa-apa, asal nggak ketawa lagi sepatunya," jawab Sasa santai sambil melahap kerupuk.
Rama menatap adiknya sebentar, lalu menutup buku sketsanya. "Yah, Bu... soal formulir pendaftaran kuliah itu..." suaranya pelan, nyaris tertelan suara motor tetangga yang menderu. "Batas akhirnya minggu depan. Kalau emang berat, Rama kerja dulu aja setahun. Lagian DKV (Desain Komunikasi Visual) emang mahal di perangkat. Laptop Rama yang sekarang aja buka Photoshop udah kayak nunggu jodoh, lama banget."
Siti meletakkan piring nasi di depan Baskoro, menatap suaminya lekat-lekat. Ada percakapan tanpa suara di antara mereka. Kita pasti bisa, kan?
Baskoro menyeruput teh manis hangatnya. Rasanya sepat dan manis, persis seperti hidupnya saat ini. "Rama," katanya dengan suara bariton yang tenang, suara yang dulu pernah membuat ribuan orang terdiam di depan panggung, sebuah masa lalu yang kini terkubur di bawah tumpukan tagihan. "Tugas kamu itu belajar dan gambar. Tugas Bapak cari duit. Jangan tukar posisi. Bapak nggak bisa gambar, kamu belum bisa cari duit secepat Bapak di jalanan. Nanti Bapak usahakan. Aplikasi lagi gacor kok minggu ini."
Itu bohong. Aplikasi sedang "anyep". Algoritma ojol belakangan ini seolah sedang PMS, mood-nya tidak bisa ditebak. Kadang ramai, kadang hening seperti kuburan. Tapi sebagai kepala keluarga, optimisme adalah satu-satunya kemewahan yang bisa ia tawarkan.
Setelah sarapan yang singkat itu, Baskoro bersiap. Ia mencium kening Siti. Bau bawang goreng di baju istrinya adalah aromaterapi paling menenangkan baginya.
"Hati-hati, Pak. Jangan ngebut. Kalau hujan neduh," pesan Siti sambil menyelipkan bekal air putih botolan daur ulang. "Doa Ibu nyusul lewat jalur langit."
"Siap, Komandan."
Baskoro menyalakan aplikasi di ponsel Android retaknya. Ping! Notifikasi pertama masuk. Pengantaran paket dokumen dari Grogol ke Sudirman. Jarak lumayan, tarif lumayan. Ia menaiki motornya, menarik gas perlahan. Knalpot "Si Belang" batuk sedikit sebelum akhirnya menderu stabil. Ia meluncur keluar dari gang, bergabung dengan ribuan centaur modern Jakarta—manusia setengah motor—yang siap membelah kemacetan demi sesuap nasi dan seonggok gengsi.
Di kepala Baskoro, tidak ada musik rock cadas yang dulu sering ia mainkan. Yang ada hanya kalkulasi rumit: Bensin 20 ribu, makan siang 15 ribu di warteg, sisa buat tabungan kuliah Rama. Kalau bisa dapat 15 tarikan hari ini, aman.
Ia tidak tahu bahwa hari ini, aspal Jakarta yang panas dan tak kenal ampun itu menyimpan skenario yang jauh lebih dramatis daripada sekadar mengejar insentif bonus harian. Hari ini, masa lalu yang ia kubur dalam-dalam akan menyalipnya di tikungan.
Kerasnya Aspal Jakarta
Matahari Jakarta pukul 12 siang bukan sekadar panas, ia adalah siksaan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Aspal Sudirman memantulkan uap panas yang membuat pandangan bergelombang. Baskoro baru menyelesaikan orderan kedelapan, seorang mbak-mbak karyawan start-up di SCBD yang marah-marah karena lanyard-nya ketinggalan dan menyalahkan Baskoro yang dianggap kurang "sat-set" menyalip di antara celah bus Transjakarta.
"Pak, bisa lebih cepet nggak sih? Meeting saya lima menit lagi, literally bos saya udah furious banget!" seru penumpang itu tadi.
Baskoro hanya menjawab dengan sabar, "Sabar ya Neng, ini Jakarta, bukan sirkuit Mandalika. Kalau saya ngebut terus kita nyium aspal, nanti meeting-nya malah sama malaikat." Penumpang itu diam, mungkin antara tersinggung atau sadar bahwa ojol tua ini punya skill sarkasme tingkat dewa.
Sekarang, Baskoro sedang melipir di bawah pohon rindang di daerah Menteng, mengistirahatkan punggungnya yang mulai protes. Usia 48 tahun dengan riwayat duduk di jok motor 12 jam sehari adalah resep sempurna untuk encok. Ia membuka bekal air putihnya, meneguknya rakus.
Baru saja ia ingin memejamkan mata sejenak, langit Jakarta yang bipolar berubah drastis. Awan hitam bergulung datang dari arah selatan. Dalam hitungan menit, hujan deras mengguyur tanpa permisi. Hujan di Jakarta bukan air, tapi pemicu chaos. Klakson bersahutan, motor-motor berebut tempat berteduh di kolong jembatan layang (flyover), menciptakan kemacetan simpul mati.
Baskoro memakai jas hujan ponco-nya yang sudah ada tambalan lakban di bagian dada. Ia memutuskan untuk tetap narik. Saat hujan, biasanya orderan banyak karena driver lain malas keluar. Ini kesempatan emas. Gacor mode: ON.
Namun, semesta punya selera humor yang gelap. Saat ia menerobos genangan air setinggi betis di daerah Bendungan Hilir, motornya tersedak. Brerebet... pet... pet... Mati.
"Aduh, Gusti..." Baskoro menepuk dashboard motornya. "Jangan sekarang dong, Nduk. Rama butuh bayar formulir."
Ia mencoba menendang starter kaki berkali-kali. Nihil. Kakinya gemetar karena lelah. Di sekelilingnya, mobil-mobil mewah melintas, menyipratkan air kotor ke jaket hijaunya. Ia merasa kecil. Ia merasa kalah. Rasa putus asa yang dingin mulai merambat naik ke dadanya, lebih dingin dari air hujan yang merembes ke celananya.
Saat itulah, aplikasinya berbunyi nyaring. TING-NONG!
Orderan masuk. Penjemputan: Jl. Danau Toba, tidak jauh dari posisinya (Baskoro mendorong motor ke pinggir yang lebih kering dan untungnya, setelah didiamkan 5 menit, motor itu mau menyala meski suaranya senga). Tujuannya: Sebuah alamat di pinggiran Jakarta Selatan yang cukup jauh.
Nama penumpangnya: Arini.
Baskoro ragu. Hujan deras, motor tidak fit, jarak jauh. Tapi tarifnya... ah, tarifnya bisa menutup target hari ini. Ia menekan tombol "Terima".
Ia sampai di titik penjemputan. Di depan sebuah rumah pagar tinggi yang sepertinya kosong, berdiri seorang wanita tua, mungkin sekitar 70 tahunan. Rambutnya memutih sempurna, basah kuyup meski memakai payung kecil yang sudah terbalik diterpa angin. Wajahnya bingung, matanya nanar menatap jalanan.
"Ibu Arini?" tanya Baskoro, membuka kaca helmnya.
Wanita tua itu menatap Baskoro, lalu tersenyum rapuh. "Mas Ojek? Saya mau pulang. Anak saya nunggu. Tapi... kok rumah saya berubah jadi ruko ya?"
Baskoro mengernyit. Alamat di aplikasi memang menunjukkan titik ini, tapi tujuannya ke Jakarta Selatan. "Ibu mau ke alamat yang di aplikasi ini? Pondok Indah?"
"Iya... eh, bukan. Rumah saya catnya biru. Ada pohon mangganya. Di... di mana ya?" Nenek Arini mulai terlihat panik. Tangannya gemetar memegang tas tangan kuno. "Saya tadi keluar beli kue cubit, terus... terus jalannya muter-muter."
Hati Baskoro mencelos. Ini bukan sekadar penumpang bingung. Ini demensia. Ia sering melihat tatapan kosong seperti ini pada almarhumah ibunya dulu.
Baskoro melirik ponselnya. Ia bisa saja membatalkan pesanan. Cancel. Alasan: Penumpang bermasalah. Ia bisa pergi, cari orderan Gofood yang lebih pasti. Rama butuh uang. Sasa butuh sepatu. Waktu adalah uang.
Tapi kemudian, Nenek Arini menatapnya dan berkata lirih, "Mas, tolong saya. Saya takut."
Seketika, kalkulator di kepala Baskoro mati. Yang tersisa hanyalah hati seorang bapak dan seorang anak. Ia mematikan mesin motor, standar samping diturunkan.
"Bu, naik pelan-pelan ya. Kita cari rumah Ibu pelan-pelan. Nggak usah mikirin aplikasi. Argo saya matiin, kita jalan manual aja alias pake perasaan."
"Terima kasih, Mas..."
Baskoro mengajaknya berteduh dulu di warung pecel lele tenda terdekat yang baru buka. Ia memesankan teh manis hangat dan nasi uduk (kebetulan ada). Baskoro mengajak ngobrol, memancing memori nenek itu pelan-pelan, seperti mengurai benang kusut.
"Anak Ibu namanya siapa?"
"Adrian... Adrian suka main gitar. Berisik, tapi Ibu suka," mata Nenek Arini berbinar. "Dia bilang dia mau bikin lagu buat Ibu. Judulnya... aduh lupa. Ada hujannya."
Deg.
Baskoro terdiam. "Gema di Balik Hujan?" tanyanya spontan. Itu adalah lagu hits tahun 90-an yang sangat spesifik.
"Iya! Kok Mas tahu? Itu lagu kesukaan Adrian waktu muda. Dia sering mainin itu di kamar."
Dunia Baskoro seakan berhenti berputar sejenak. Lagu itu... itu lagunya. Lagu yang ia tulis di kamar kost sempit dua puluh tahun lalu, lagu yang dicuri oleh manajernya, lagu yang membuatnya trauma dan membanting gitarnya untuk selamanya menjadi tukang ojek.
"Kebetulan aja, Bu. Dulu sering denger di radio," Baskoro berbohong, suaranya parau.
Setelah satu jam, dan setelah Nenek Arini tenang, ia ingat sebuah landmark: "Dekat patung kuda yang ada air mancurnya."
Baskoro tahu tempat itu. Perumahan elite di Pondok Indah. Jauh dari tempat mereka sekarang, dan jelas bukan tempat untuk motor Supra butut. Tapi Baskoro sudah berjanji. Ia memakaikan jas hujannya yang satu lagi (cadangan) ke Nenek Arini, sementara ia rela basah-basahan hanya memakai jaket ojolnya.
"Pegangan yang kenceng ya, Bu. Kita pulang."
Perjalanan itu memakan waktu hampir dua jam karena macet total. Baskoro kedinginan, giginya gemerutuk, tapi ia tetap melaju stabil. Menembus hujan, membelah Jakarta, membawa seorang ibu yang tersesat pulang ke rumah.
Kejutan Tak Terduga
Mereka sampai di sebuah gerbang megah berwarna hitam dengan ornamen emas. Satpam penjaga langsung berlari keluar saat melihat Nenek Arini turun dari motor butut Baskoro.
"Ya Allah, Bu Arini! Tuan Adrian sudah panik setengah mati! Ibu dari mana saja?" Satpam itu segera memanggil ke dalam lewat HT.
Tak lama kemudian, seorang pria berusia awal 40-an berlari keluar dari pintu utama rumah yang besarnya seperti istana sinetron. Dia memakai kaos polos hitam mahal dan kacamata berbingkai tebal. Itu Adrian. Adrian Syailendra, produser musik top yang sering muncul di TV sebagai juri ajang pencarian bakat.
"Ibu!" Adrian memeluk ibunya erat-erat, tidak peduli bajunya basah terkena sisa hujan. "Aku sudah bilang jangan keluar sendiri! Astaga..."
Baskoro berdiri canggung di samping motornya yang meneteskan oli campur air hujan ke paving block mahal itu. Ia merasa seperti alien di planet orang kaya. Ia bersiap untuk pamit.
"Mas," panggil Adrian, menoleh ke Baskoro. Matanya merah menahan tangis. "Terima kasih. Mas nggak tahu betapa berartinya ini. Ibu saya... kondisinya memang begini. Silakan masuk dulu, Mas. Saya harus berterima kasih dengan layak. Di luar dingin."
"Nggak usah, Pak. Saya basah, nanti kotor lantainya. Saya pamit aja," tolak Baskoro halus.
"Jangan. Saya memaksa. Minimal minum teh hangat atau kopi. Tolong," Adrian memohon. Wibawa produsernya luntur, yang ada hanya rasa terima kasih seorang anak.
Baskoro akhirnya luluh. Ia melepas sepatu bot-nya yang penuh lumpur di teras, masuk dengan kaus kaki yang untungnya tidak bolong.
Interior rumah itu seperti museum musik. Ada piringan hitam di dinding, penghargaan Platinum, dan poster-poster band legendaris. Adrian membawa ibunya ke kamar untuk istirahat, lalu kembali menemui Baskoro di ruang tengah yang terhubung dengan studio musik kaca transparan.
"Saya Adrian," ia mengulurkan tangan.
"Baskoro, Pak. Panggil aja Bas."
"Mas Bas, saya mau ganti kerugian waktu Mas hari ini. Dan saya mau kasih tambahan. Sebut saja angkanya." Adrian mengeluarkan dompet.
Baskoro tersenyum tipis. "Nggak usah yang aneh-aneh, Pak. Gantiin ongkos bensin sama argo yang tadi mati aja. Saya ikhlas kok, Ibu Bapak ngingetin saya sama almarhumah ibu saya."
Adrian tertegun. Jarang ia menemui orang yang tidak aji mumpung di Jakarta. Saat Adrian ke belakang mengambil uang tunai, Baskoro berjalan mendekati dinding kaca studio. Di sana, di atas stand gitar, berdiri sebuah Gibson Les Paul tahun 1959 sunburst. Cantik sekali. Dan di layar komputer yang menyala, terlihat software rekaman sedang terbuka.
Baskoro melihat sheet music (partitur) yang tergeletak di meja dekat kaca. Matanya, yang sudah lama hanya melihat Google Maps, tiba-tiba kembali menjadi mata seorang musisi. Ia membaca not balok itu.
Ada yang salah.
Tanpa sadar, jarinya mengetuk-ngetuk kaca, mengikuti irama di kepalanya. "Jembatannya (bridge) salah masuk ke refrein. Harusnya dari G minor ke C sus 4, bukan langsung ke C mayor," gumamnya pelan.
"Mas bilang apa?" Adrian tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
Baskoro kaget. "Eh, nggak Pak. Itu... gitarnya bagus."
Adrian menatap Baskoro dengan tatapan aneh. Ia lalu menatap partitur itu. "Mas ngerti musik?"
"Dikit-dikit, Pak. Dulu pernah... main gitaran di pos ronda," Baskoro mencoba merendah.
"Tadi Mas bilang jembatannya salah. Mas tahu lagu ini?" Adrian menunjuk layar monitor. "Ini proyek remaster lagu lama. Lagu yang hak ciptanya baru saja berhasil saya beli balik dari label lama yang bangkrut. Judulnya 'Gema di Balik Hujan'."
Jantung Baskoro berdegup kencang. Ia ingin lari. Ia ingin keluar dari rumah ini dan kembali menjadi ojol anonim. Tapi takdir menahannya.
"Lagu itu..." Adrian melanjutkan, suaranya bergetar. "Penciptanya hilang 20 tahun lalu. Namanya 'Basko'. Ayah saya dulu manajernya. Ayah saya... jahat sama dia. Ayah mencuri kredit lagu itu. Sebelum meninggal tahun lalu, Ayah minta saya cari orang itu. Dia mau minta maaf."
Adrian menatap Baskoro. Menatap jaket ojolnya. Menatap wajah lelahnya. Lalu tatapannya jatuh ke tangan Baskoro. Tangan yang kapalan karena memegang stang motor, tapi memiliki jari-jari panjang dan lentur yang khas. Jari seorang gitaris.
"Mas Baskoro..." Adrian berbisik. "Bas... ko?"
Baskoro menghela napas panjang. Bahunya turun. Tidak ada gunanya lari lagi. Ia menatap Adrian tepat di mata.
"Ayahmu dulu bilang lagu itu jelek, Adrian. Dia bilang nggak laku. Ternyata dia jual ke band lain atas nama dia sendiri."
Hening. Ruangan ber-AC itu terasa membeku.
Adrian mundur selangkah, menutup mulutnya tak percaya. "Jadi benar... Mas Basko?"
"Sudah lama nggak ada yang panggil nama itu. Sekarang Pak Bas Ojol aja."
Adrian tiba-tiba membuka pintu studio kaca. "Mas, tolong. Masuk. Buktikan. Mainkan lead bagian tengah yang nggak pernah bisa ditiru siapa pun. Partitur aslinya hilang, dan rekaman yang ada di pasaran itu versinya dipotong. Cuma penciptanya yang tahu fill-in aslinya."
Baskoro ragu. Tangannya gemetar. "Udah kaku, Pak. Udah biasa megang gas, bukan senar."
"Coba. Please."
Baskoro melangkah masuk. Ia mengambil Gibson itu. Beratnya terasa familiar. Ia duduk di kursi kulit. Ia memejamkan mata. Aroma kayu gitar itu membangkitkan memori masa mudanya—mimpinya yang hancur, kemarahannya, dan akhirnya keikhlasannya.
Ia memetik satu senar. Twang. Fals sedikit. Ia memutarnya. Ting. Pas.
Lalu, jemarinya mulai menari. Awalnya kaku, tapi otot memorinya mengambil alih. Melodi intro yang melankolis mengalir. Lalu masuk ke bagian tengah yang rumit—sebuah arpeggio cepat yang dipadukan dengan bending emosional.
Suara gitar itu meraung, menangis, dan bernyanyi di studio mewah itu. Baskoro tidak sedang bermain musik; ia sedang menumpahkan rasa lelahnya selama 20 tahun ngojek, rasa bersalahnya pada Rama yang ingin kuliah, rasa cintanya pada Siti yang setia. Semua emosi itu keluar lewat amplifier Marshall.
Saat ia selesai dengan satu sustain panjang yang menggema, ia membuka mata. Adrian menangis sesenggukan di sudut ruangan.
"Itu nadanya..." isak Adrian. "Itu nada yang dicari Ayah sampai akhir hayatnya."
Royalti Tutup Poin
Malam itu, Baskoro pulang bukan dengan motor, tapi diantar sopir Adrian menggunakan mobil Alphard, sementara motornya diangkut towing untuk diservis total (gratis). Bukan hanya itu, di tasnya kini tersimpan sebuah dokumen perjanjian.
Bukan, itu bukan uang sedekah. Adrian, sebagai produser yang memegang integritas, malam itu juga membuat draf kontrak pengalihan hak royalti yang sah. Royalti yang tertahan selama 20 tahun, ditambah royalti untuk rilis ulang yang akan datang. Jumlahnya? Cukup untuk membuat Baskoro tidak perlu lagi khawatir soal "tutup poin" seumur hidupnya.
"Ini hak Mas Bas. Termasuk bunga dan denda moral dari keluarga saya," kata Adrian tegas saat Baskoro mencoba menolak nominalnya yang fantastis. "Kalau Mas tolak, saya yang dosa jariyah."
Saat mobil mewah itu berhenti di depan gang sempit di Tambora, tetangga-tetangga mulai kasak-kusuk mengintip dari balik gorden. Baskoro turun dengan wajah lelah tapi matanya bersinar terang, seterang lampu mobil yang mengantarnya.
Ia berjalan masuk ke rumah. Siti sedang melipat baju sambil menunggu dengan cemas karena suaminya belum pulang dan teleponnya mati. Rama dan Sasa sudah tidur di kasur lipat di ruang tengah.
"Pak! Kok baru pulang? Motor mana? Kenapa turun dari mobil mewah?" Siti memberondong pertanyaan, panik. "Bapak nggak ditangkep polisi kan karena nyerempet spion orang kaya?"
Baskoro tersenyum, senyum paling lebar yang pernah Siti lihat sejak hari pernikahan mereka. Ia duduk di samping istrinya, menggenggam tangan wanita yang tangguh itu.
"Bu," kata Baskoro lembut. "Rama jadi kuliah DKV. Di kampus swasta paling bagus pun boleh. Sasa... besok kita beli sepatu baru. Bukan dari pasar loak. Dari mal."
Siti bingung. "Bapak ngelindur? Apa dapet lotre?"
Baskoro mengeluarkan amplop cokelat dan salinan kontrak itu. Ia menceritakan semuanya. Tentang Nenek Arini, tentang hujan, tentang gitar, dan tentang kebaikan kecil yang berbuah manis. Siti mendengarkan sambil menutup mulutnya, air matanya menetes tanpa suara.
"Jadi... Bapak itu musisi hebat?" tanya Siti, seolah melihat suaminya sebagai sosok baru.
"Dulu. Sekarang Bapak tetep suami Ibu, tetep Bapaknya anak-anak," jawab Baskoro.
Enam Bulan Kemudian.
Warung "Nasi Uduk Gitaris" kini menempati ruko permanen di depan gang, bukan lagi gerobak dorong. Tempatnya bersih, ada Wi-Fi, dan selalu ramai. Di dindingnya terpajang sebuah gitar listrik Gibson yang ditandatangani oleh Adrian Syailendra, menjadi spot foto favorit pelanggan.
Rama duduk di sudut warung, menggambar di tablet grafis keluaran terbaru. Wajahnya cerah, tidak lagi tertekan beban biaya. Ia baru saja memenangkan lomba desain poster tingkat nasional. Sasa berlarian dengan sepatu sneakers warna-warni yang solnya kokoh, tidak akan "tertawa" lagi meski dipakai lari maraton.
Di depan ruko, Baskoro sedang memakai jaket ojolnya. Ia terlihat lebih segar, lebih gemuk sedikit. Motornya sekarang adalah NMAX baru yang kinclong, bukan lagi Supra getar.
"Loh, Pak. Ngapain pake jaket lagi? Duit royalti kan masih banyak. Warung juga rame," tanya Siti yang sedang meladeni pembeli lewat etalase kaca.
Baskoro memasang helmnya. Ia menyeringai. "Bosen di rumah, Bu. Lagian, sayang aplikasinya udah Platinum. Cuma narik 2-3 jam aja lah, cari angin."
"Dasar, aspal udah mendarah daging," omel Siti sambil tersenyum menggelengkan kepala. "Ya udah, hati-hati. Jangan lupa bawain martabak pas pulang."
"Siap, Bos!"
Baskoro melaju membelah jalanan Jakarta. Ia tidak lagi mengejar target. Ia tidak lagi takut pada tagihan. Ia berkendara karena ia ingin. Di balik helmnya, ia bersenandung kecil. Lagu "Gema di Balik Hujan" kini diputar di radio-radio mobil yang ia salip.
Jakarta masih macet, masih panas, dan masih keras. Tapi bagi Baskoro, kota ini sekarang terasa sedikit lebih ramah. Ia belajar satu hal: di tengah belantara beton ini, keajaiban tidak selalu datang dengan ledakan besar. Kadang, ia datang menyamar sebagai nenek tua yang linglung, bersembunyi di balik hujan, menunggu seseorang yang cukup baik hati untuk berhenti dan bertanya, "Mau ke mana, Bu?"
Dan hari itu, Baskoro tahu ia sudah sampai di tujuannya.
(Tamat)