Komedi #keluarga

Pulang (Bagian I)

23 January 2026

Pada bulan Desember 2014 Rama pulang ke Jawa.

    Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu libur akhir tahun dengan pulang ke Surabaya tempat dimana dirinya terlahir di dunia ini. Setelah selesai mengikuti rangkaian undangan kegiatan Forum Kemajuan Pendidikan Daerah di Jatiluhur Purwakarta. Ia bergembel ria bersama mas-mas lumayan gendut yang selalu makan tempat kalo duduk di sebelahnya, namanya mas Inal. 
    Dari Purwakarta bersama mas Inal, Ia menginap dua malam di rumah keluarga mas Inal selama di Jakarta. Tak puas dengan Jakarta, Rama memilih melancong ke Bandung sendirian tanpa siapapun (nasib jomlo ya gitu). 
    Selama di Bandung Rama menumpang bermalam di kosan temen baiknya dari Gorontalo bernama Reza (namanya pengen disebut di buku ini meskipun hanya sekali). Reza Aras Tirta. Udah.
    ....

    Kesan yang Ia ingat di kota Bandung adalah hujan. Ia tidak sempat kemana-mana waktu itu. Ibarat sebuah perasaan, rasanya dirinya telah di PHP si Reza yang katanya bakalan ngajaknya jalan-jalan selama di Bandung. Ternyata, Bandung sama sekali tidak membahagiakan waktu itu.
    Pada akhirnya hari rabu siang Ia memutuskan untuk berangkat meninggalkan kota kembang itu setelah dua malam disana hujan tak kunjung reda. Ia pulang menuju ibu kota rawon dengan bus ekslusif. Surabaya. 
    Rawon adalah sejenis makanan berkuah yang warnanya hitam dengan daging sapi yang diolah. Dan rawon adalah makanan yang Ia kurang suka, tapi amat terkenal di Surabaya (ini penjelasan gak penting). 
    ....

    Dari Bandung ke Surabaya memakan waktu kurang lebih 20 jam, dengan satu kali berhenti singgah untuk makan malam sebagai salah satu fasilitas bus ekslusif. Di dalam bus Ia bernyanyi “naiklah bus dengan percuma... Ayo kawanku lekas naik... bus aku tak berhenti lama...” Kira-kira seperti itu lagunya.
    ...

    Sekitar jam 10 pagi keesokan harinya, akhirnya Ia tiba di Surabaya. Ia diturunkan tanpa basa-basi oleh supir bus di bawah fly over yang membuat Ia kebingungan dimana posisinya. Bus Ekslusif KAMPRET. 
    Jadilah dirinya seperti gelandangan tak tahu arah seorang diri dibawah flyover. Mobil lalu lalang tanpa ada yang pedulikan keberadaan anak manis itu. Ia takut dan khawatir bakalan di perkosa preman waktu itu. loh?
    Pucuk di teh pucuk pun tiba, kakak perempuan Rama datang melambaikan tangan menjemputnya dengan motor dari seberang jalan flyover kampret itu. Ia bahagia, supir bus tadi juga bahagia.
    ....

    "nyapo medon neng kene?” dalam bahasa indonesia artinya “kenapa turun disini?” pertanyaan kakak perempuannya berhasil menyelamatkan.
    “mendi..ng me..don nen..g kene, tim..bang medon neng ter..minal kado..an” Rama jawab belepotan gara-gara bus leg. 
    Yang artinya “mending turun disini, dari pada turun di terminal kejauhan”. 
    “yowes ayok munggah!” kakaknya menyuruh Ia naik ke motor. 
    Ia pun langsung naik. 
    Berakhirlah adegan gembel di bawah flyover siang itu. 
    ....

    Perjalanan dari bawah flyover menuju rumah sekitar 15 menit, sampailah Rama dengan kusam di rumah omnya di Surabaya. Ia diantar kakanya menginap sementara di rumah omnya, berkumpul bersama adik-adik sepupunya. Karena rumah mama saat itu sedang ada masalah kamar mandi dan harus diperbaiki lebih dahulu.
    Kedatangan Rama disambut baik adik-adiknya, yang dulu masih sangat kecil kacak cabe, ternyata sekarang udah gede kayak tape. Pokoknya beda. 
    Rama sedikit kaget melihat adik-adiknya udah gede segede-gedenya. 
    Mereka makan apa Rama belum tau, tapi yang jelas dan yang inginIa ketahui apa tips mereka bisa menaikkan berat badan dengan sukses itu. Agar tubuhnya yang cungkring saat itu bisa berubah ideal seperti menantu idaman para orang tua.
    ....

    Hal pertama yang Rama lakukan setelah salam-salam dan bincang-bincang dengan keluarga di rumah itu adalah mandi. 
    Mandi adalah cita-cita terbesarnya waktu itu, setelah 20 jam berada di bus sendirian tanpa teman tanpa mantan, terusir dari bus di bawah flyover gak jelas, dibonceng motor tanpa helm, dan masuk di lorong-lorong sempit kota Surabaya. Maka, tepat sekalo kalo Ia harus mandi. 
    Sekali lagi. 
    MANDI. Ia langsung ke kamar mandi. 
    ....

    Setelah setengah jam selesai mandi, Rama langsung ditawarkan makan sama mbah (nenek adik sepupunya atau mamah dari tantenya. Sebenarnya Rama juga bingung bagaimana menjelaskan bagan silsilah keluarga ini). Lupakan. Gak perlu lama-lama kayak pedekate. Ia langsung menyantap dengan liar makanan di atas meja makan siang itu. 
    Nasi, ayam, sayur dan yang paling Ia rindukan krupuk peyek asli surabaya masuk dengan mulus di lambung tanpa permisi. 
    Ya, Rama LAPER SELAPER-LAPERNYA KATA LAPER. 
    Bukan BAPER. 
    Bukan LEMPER. 
    Sampai akhirnya adegan makan selesai. 
    ....

    Hal yang paling enak setelah makan adalah tentu mencari kasur untuk ditiduri. Sambil tidur, Rama mengecek hapenya untuk buat update status, cek obrolan, bales-bales chatingan yang terbaikan meskipun Ia juga sering terbaikan tapi tetep harus baik hati membalas. Uhh.

    Disela-sela dirinya update status bbm “tepar di Surabaya” salah satu temen bbm nya langsung mengomentari status dan langsung nge “PING!!!” dirinya. 
    Seolah dia ingin berusaha kenalan, trus pedekate hingga jadian dengannya. Sebut saja namanya Migus. 
    Migus adalah seseorang yang mengaku sebagai temen lamanya semasa SD. Katanya, Ia dengan Rama telah bersama-sama sejak kelas I SD hingga Rama pindah ke Sulawesi di kelas VI. 
    Mereka sering berangkat sekolah bareng, kerja tugas bareng, main bareng, dan mandi di kali (sungai) bareng. 
    Mesra sekali rasanya ketika Migus ngomong itu semua ke Rama di chatingan Facebook yang mempertemukan kembali mereka. Tapi sumpah, nyatanya Rama lupa dengan Migus. Entah Migus adalah temen SD nya yang mana. Rama sama sekali tidak mengingatnya.
    ....

    “di surabaya bro?” Migus mengomentari status bbm Rama.
    “PING!!!. PING!!!. PING!!!” Migus berusaha melanjutkan chattingan dengannya.
    “Yaap bro, kenapa? Hehehe” balas Rama dengan mantap.
    “gak terus neng madiun? Hehehe” Migus balik menjawab dengan ketawa. 
    Saat itu Ia sulit membayangkan wajah Migus tertawa dengan mulut yang terbuka lebar menampilkan giginya di depan hp dia.
    “duh, lihat nanti yaa gus, pengen sekali sih sebenarnya, cuman takut duit aku gak cukup buat jalan kesana...” balas Rama yang bimbang. 
    “ayolaah, mumpung cedak, wes suwi ora ketemu ki.. hehehe (ayolah, mumpung dekat, sudah lama gak ketemu nih... hehehe)” Migus berusaha meyakinkan Rama untuk ketemu. 
    “ngko nginep neng omahku ae neng kene, gampang mangane wes... (nanti nginap dirumahku saja disini, gampang urusan makan...)” Migus makin berusaha membawa Rama untuk ke sana. 
    “hmm, yowes tak pikir sek, nek dadi tak kabari maneh.. hehehe (yasudah, aku pikirkan dulu, kalo jadi nanti aku kabari lagi... hehehe)” balasnya yang mulai terpengaruh bujukan halus si Migus.
    “oke broo, tak enteni yoo... hehehe (oke broo, aku tunggu yaa... hahaha)” balesan Migus mengakhiri chatingan di BBM waktu itu, sepertinya sambil ketawa. 
    “siiiiiip.” Balas Rama ngantuk. Siang itu selesai dengan damai dan sentosa. 
    ....

    Malampun tiba. Rama diajak jalan-jalan dan makan malam diluar bersama tante dan adik-adiknya.

Selama perjalanan di mobil, Ia banyak mendapatkan pertanyaan dari adik dan tantenya. “kamu sudah umur berapa sih rama?” tanya tantenya, seolah dia telah ratusan tahun tidak bertemu dengan dirinya hingga lupa umurnya. “sembilan belas tante...” jawabnya dengan keren. “Loh? Masa sih sembilan belas? kok muda banget...” tantenya seakan tidak percaya dengan umur Rama. “heheheh iyaaa tante... kan masih ganteng... hihihi” jawabnya pede. “wahahaha pede yoo mas....” tante dan adik-adiknya kompak tertawa. Sementara Rama nyegir aja. “Terus, pacarnya mas mana ? mau liat ...” tantenya bertanya hal yang kampret saat itu. “Gak Punya tante!” Ia jawab singkat dan pede. “Loh, wong ganteng begini kok gak punya pacar ? ngapusi. (bohong)” tantenya tidak percaya dengan sebuah kenyataan kalo dirinya adalah salah satu kelompok spesies JOMLO waktu itu. “Iyaaa tante. Ehh kita mo makan apa nih ? aku pengen makan pecel ...” balasnya dengan mengalihkan pembicaraan mainstream itu. “Yaa ampun rama, disini tuh agak susah kalo nyari pecel yang enak. Gak kayak di Madiun yang dimana-mana ada....” kata tantenya yang berhasil Ia hilangkan dari pikirannya tentang sosok pacar yang Ia tidak miliki. “Kita makan bebek goreng ajaa yaa. Enak kok, kesukaan Aldi dan Putri. Kamu pasti ketagihan ram...” lanjut tantenya sambil promosi seekor bebek yang harus jadi korban kelaparan para manusia ini. “he’em mas, uuueeeenaaaak.... rasak’no ta engko. (rasakanlah nanti)” sambung Aldi. Adek sepupu Rama yang memang wajahnya nampak kelaparan bebek goreng sejak berangkat dari rumah malam itu. ....

    Mereka pun tiba di warung bebek goreng sebut saja milik mas Joko. 
    ....

    Seperti dugaan Rama tadi. 
    Aldi langsung memesan bebek goreng favoritnya dengan mantap. Terus disusul oleh Putri, terus tante, dan Rama diposisi terakhir dalam lomba memesan bebek goreng mas Joko.
    Tak butuh waktu yang lama, bebek-bebek goreng pesenan mereka segera datang dan siap berpindah tempat dari piring menuju perut. Dari daging hingga tulang. Mereka sangat buas di meja makan waktu itu. 
    ....

    Kurang lebih satu jam mereka duduk menghabiskan makanan mereka di warung bebek goreng mas joko itu, sambil berbincang-bincang. Setelah kenyang dan puas melahap para bebek-bebek korban manusia kelaparan itu, mereka pun pulang menuju rumah.
    Di perjalanan pulang ke rumah malam itu, Rama tiba-tiba terpikirkan Migus dan memutuskan untuk akan berkunjung ke kota Madiun besok harinya. Niat itu Ia sampakan kepada tantenya dan di dengarkan dengan selow adik-adiknya si Aldi dan Putri yang sepertinya sudah terkena efek kenyang makan bebek. 
    Tantenya mengiyakan niat itu. Kemudian menginstruksikan Putri untuk besok mengantarkan Rama mencari tiket kereta atau bus menuju Madiun.
    Putri pun manggut-manggut atas perintah instruksi dari mamanya. Tak bisa melawan. Takut dikutuk jadi bebek goreng.
    ....

    Keesokan harinya.
    Di pagi hari Rama masih bincang-bincang dengan omnya (istri tantenya, yaiyalah) yang telah pulang ke rumah pada larut malam itu. Hari itu adalah jatah libur kerja Omnya yang menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga di tengah kesibukan kerjanya yang luar biasa.
    ....

    Keesokan harinya sekitar jam 9 pagi Rama izin pamit untuk pergi melancong ke kota Madiun. Ia ditemani Putri sebagai pemandu jalan menuju stasiun yang takut terkutuk jadi bebek goreng hari itu.

Tapi apes nya Rama. Sampai di stasiun ternyata tiket kereta menuju Madiun telah habis semuanya. Saat itu timbul niat dalam hatinya untuk bergelantungan di pintu kereta menuju madiun seperti monyet atraktif yang pulang kampung. Tapi perjalanan tiga setengah jam menuju madiun, sepertinya cukup lama dan bisa mengakibatkan dirinya berubah jadi SUN-GO-KONG. Akhirnya niat itu Ia batalkan. Satu-satunya rekomendasi pilihan terbaik adalah naik bus dengan selamat. ....

    Rama dan putri pulang kembali menuju rumah dan mempersiapkan perjalanan menuju terminal bus Surabaya yang lumayan jauh sekitar 45 menit dari rumah. 30 menit kalo ngebut. 25 menit kalo melanggar lalu lintas atau 10 menit kalo mau merubah tujuan menjadi kerumah sakit (kecelakaan). 
    Sampainya di rumah, Rama melapor ke omnya kalo tiket kereta ke madiun sudah habis dan Ia akan memilih jasa bus menuju Madiun.

    “berarti mo ke terminal nih ?” tanya omnya.
    “iyaaa om...” bales Rama.
    “kalo ke terminal gak usah dianter pake motor. Kejauhan. Sak’no Putri muleh ee...(kasian putri pulangnya).” kata omnya dengan menjaga kesehatan dan keselamatan Putri.
    “ohh jauh yaa ? yasudah, kalo gitu biar saya naik angkot saja atau ojek ...” Rama balas sok tau.
    “jangan, kemahalan dan kelamaan... kamu naik bus kota saja dari depan pasar loak situ... pilih bus B7. Itu langsung tujuan ke terminal...” jelas omnya kepadanya.
    “oohh iyaaudah, gitu aja...” bales Rama dengan mantap tapi belum paham bener.
    ....

    “Put, terno neng ngarep pasar loak aee, trus cegat no damri B7. Iku langsung tujuan terminal... (put, antarkan saja gue ke depan pasar loak, terus cegat bus damri B7. Itu langsung tujuan terminal....)” Omnya memerintahkan Putri untuk menuntaskan niat Rama yang ingin melancong itu.

    Putri manggut-manggut.
    Setelah makan siang, Putri mengantarkan Rama ke depan pasar loak. Bukan tuk dijual, tetapi menunggu bus. 
    ....

    Di pinggir jalanan pasar loak, Rama dan putri menunggu bus damri B7 yang lewat. Cukup padat jalanan siang itu. Antara motor, angkot, mobil pribadi, dan bus saling mengisi kekosongan jalan.
    Berbeda dengan hatinya yang kosong dan tak terisi apa-apa saat itu. Uhh.

    Tak lama sekitar 15 menit menunggu. Pucuk dicinta, bus pun tiba. Dari kejauhan nampak bus damri B7 mendekat ke Rama dan Putri. 
    Rama melambai-lambaikan tangan seperti orang yang benar-benar butuh tumpangan pulang. Ia  bahagia kegirangan. Padahal bus nya masih jauh.
    ....

    Beberapa saat kemudian bus damri B7 itu berhenti tepat di depannya.
    “yoo terminal... terminal.... terminal...” teriak si kondektur bus yang berusaha nyari penumpang di area pasar loak siang itu.
    “terminal mas?” Rama masih bertanya dengan bego.
    “iyaa...” bales si kondektur bus judes.
    Ia pun naik ke bus. 
    “Put, mas pergi dulu yaaa...” Ia berpamitan ke Putri adiknya yang sepertinya masih takut terkutuk jadi bebek goreng. 
    “iyooo mas, ati-ati ... jaga dompet, hp, tas... ” bales putri perhatian ke kakak sepupunya yang katanya manis itu. Sudah seperti omanya yang teliti banget dengan barang.
    “ok...” balesnya.
    Rama menuju terminal.
    ....

    Sekitar sejam perjalanan, Rama sampai di terminal Bungurasih.
    Ia turun dari bus damri B7 itu, kemudian langsung berjalan lurus kedepan nyari dengan cepet bus tujuan Madiun. 
    Di sepanjang area terminal bertebaran calo-calo dan orang-orang penyedia jasa travel dan bus eksklusif luar kota.

    “Ayoo Bali... Bali... Bali.... mo ke Bali mas ? ada paket murah mas...” Ia di dekati mbak-mbak SPG jasa travel yang menawarkannya untuk ke Bali.
    “enggak mbak...” balasnya dengan senyum.
    “mas, ke Bali mas ? Murah mas ...” Ia didekatin lagi sama om-om SPG jawa bus eksklusif ke Bali. 
    Rama cuek dan terus jalan. Karna Ia gak suka om-om kumisan.
    “Mas, jalan-jalan ke Bali mas ? mumpung lagi murah ....” lagi-lagi Ia di deketi mbak-mbak SPG travel dengan penawaran sama. Ke Bali.
    Mbak-mbak yang satu ini tjakep. Ia hampir ke hipnotis merubah perjalanan tujuannya ke Madiun menjadi tujuan ke Bali. 
    KAMPRET
    ....

    Pada akhirnya sampailah dirinya di jejeran bus-bus gede yang mempunyai tujuan kota bermacam-macam. 
    Matanya tertuju ke satu bus yang sudah berjalan pelan untuk siap keluar dari terminal. Di kaca depan bus ada tulisan besar.
 “SURABAYA – MADIUN”. 
    Fix. Ia berlari ke arah bus itu. Agar bisa langsung berangkat dan tidak lagi menunggu. Karna Ia tau rasanya menunggu itu gak enak. Uhh.
    Ia langsung naik ke bus. 
    Bus patas Restu tujuan Surabaya-Madiun. 
    Rama pulang. Ke Madiun. 
    ....
    Kota masa kecilnya.