Sienna melangkah kembali ke ruangannya dengan langkah yang sedikit lebih pelan dari biasanya. Pikirannya masih tertinggal di lorong tadi, tentang undangan makan malam, tentang senyum Pak Herman yang terlalu ramah, dan tentang bagaimana ia harus menyampaikan semua itu pada Arden nanti.
Tak butuh waktu lama sebelum Laras muncul di ambang pintu membawa map tebal berwarna biru muda.
“Ini laporan kampanye digital minggu ini, sudah aku rangkum,” ujar Laras sambil menyerahkan map itu ke tangan Sienna.
Namun sebelum Sienna sempat membuka, Laras menyipitkan mata dengan ekspresi penuh selidik.
“Eh, tapi … tadi aku lihat Pak Herman manggil kamu setelah rapat. Kenapa? Serius amat kelihatannya.”
Sienna menarik napas pelan, lalu meletakkan map itu di atas meja kerjanya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, seolah butuh sandaran bukan hanya untuk punggungnya, tapi juga untuk pikirannya.
“Dia ngajak … makan malam.”
Laras langsung membelalakkan mata. “Hah? Makan malam? Cuma berdua?”
“Bukan,” jawab Sienna cepat. “Katanya berempat. Aku, dia, istrinya, dan … suamiku.”
Reaksi Laras justru semakin dramatis. Ia mendengus pelan lalu menarik kursi untuk duduk di depan meja Sienna.
“Nah, kan. Aku udah yakin. Mana mungkin Wakil Direktur ngajak makan malam tanpa maksud apa-apa. Apalagi sekarang kamu lagi jadi bahan pembicaraan seluruh kantor.”
Sienna menghela napas lagi, lebih panjang kali ini. “Aku juga merasa begitu. Tapi dia ngomongnya sopan sekali, sampai aku sulit menolak langsung.”
“Ya jelas sopan, itu namanya strategi,” sahut Laras sambil bersedekap. “Sekarang semua orang tahu kamu bukan cuma Manager Marketing biasa lagi, Sienna. Kamu istri orang kaya yang datang ke pesta dengan gaun mewah dan kalung berlian. Statusmu naik beberapa tingkat dalam semalam.”
Sienna mengernyit. “Aku nggak pernah minta itu.”
“Aku tahu.” Laras melembutkan nada suaranya. “Tapi kenyataannya, itu yang dilihat orang. Dan Pak Herman itu tipe yang sangat peka membaca peluang. Kalau dia mendekati kamu lewat makan malam keluarga, itu berarti dia ingin membuka jalur dengan suamimu.”
Sienna diam sejenak. Jarinya memainkan ujung map di depannya. “Aku bahkan mengatakan padanya kalau suamiku mungkin keberatan.”
“Dan dia pasti akan tetap berharap kamu membujuk suamimu,” sambung Laras cepat. “Karena begitu suamimu datang, semua pintu bisa terbuka lebar buat dia.”
Sienna tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke matanya. “Tapi aku nggak yakin, Arden akan bersikap hangat padanya.”
“Justru itu yang membuat mereka semakin penasaran,” Laras mengangkat bahu. “Orang selalu tertarik pada sesuatu yang sulit dijangkau.”
Sienna bersandar lebih dalam ke kursinya. Kepalanya terasa berat. “Aku hanya takut ini akan membuat keadaan semakin rumit. Kehidupan kami saja sudah cukup rumit.”
Laras menatapnya dengan lebih serius sekarang. “Lalu kamu mau bagaimana?”
“Aku bilang ke dia kalau aku akan memikirkannya dulu.”
Laras mengangguk pelan. “Itu jawaban yang paling aman. Tapi, Sienna … apa pun keputusanmu nanti, kamu harus pastikan itu bukan karena tekanan dari kantor. Jangan sampai kehidupan pribadimu dijadikan alat tawar-menawar bisnis.”
Sienna menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh terima kasih. “Itu juga yang kupikirkan. Aku nggak mau Arden dijadikan kartu oleh siapa pun.”
Laras tersenyum kecil. “Bagus. Kali ini kamu harus berdiri sebagai seorang istri, bukan hanya sebagai karyawan.”
Laras menatap Sienna beberapa detik dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah usil. Wajah seriusnya perlahan luruh, digantikan senyum lebar yang sarat makna.
“Ngomong-ngomong, Nyonya Arden,” ujarnya sengaja menekankan panggilan itu, “kapan kamu mau mentraktir aku?”
Sienna yang sedang merapikan beberapa berkas di mejanya langsung mendongak. “Mentraktir apa?”
“Ya, bebas. Kopi kek, makan siang kek, atau makan malam mewah sekalian,” kata Laras santai, lalu menyandarkan siku di tepi meja Sienna. “Masa sahabat sendiri nggak kecipratan aura istri orang kaya?”
Sienna tertawa kecil, geli oleh logika Laras yang selalu saja bisa melenceng, tetapi terasa masuk akal. “Kamu ini lucu. Ya, sudah, sekarang juga bagaimana?”
Laras langsung mengernyit. “Sekarang?” Ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu melirik ke tumpukan map di tangannya. “Sienna, aku masih tenggelam dalam laporan ini. Kamu mau traktir sambil aku ngetik?”
“Bisa, kan?” Sienna mengangkat bahu ringan. “Kita pesan kopi, duduk di kafe, kamu kerja, aku menemani.”
Laras mendecak. “Ish, kamu ngeledek, ya? Aku jadi asistenmu dibayar, bukan jadi buruh sambil minum kopi ditraktir istri milyarder.”
Sienna tertawa lebih lepas kali ini. Rasanya sejak pagi ia memang belum benar-benar tertawa tanpa beban sampai detik ini. “Ya ampun, kamu sendiri yang minta ditraktir.”
“Iya, tapi bukan sekarang,” sahut Laras cepat. “Sekarang aku masih punya tanggung jawab negara, eh, maksudnya tanggung jawab kantor.”
Sienna mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Kalau begitu … akhir minggu ini gimana?”
Laras memiringkan kepala. “Akhir minggu?”
“Iya. Sabtu atau Minggu. Hanya kita berdua. Nggak ada urusan kantor, nggak ada topik tentang pesta, kalung, atau wakil direktur,” ujar Sienna sambil tersenyum kecil. “Aku cuma ingin makan enak, mengeluh tentang hidup, dan mendengar kamu mengomel seperti biasa.”
Mata Laras berbinar seketika. “Nah, itu baru namanya traktiran yang manusiawi.” Ia berpikir sejenak, lalu mengangguk mantap. “Oke. Aku setuju. Tapi tempatnya aku yang pilih.”
Sienna mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Deal. Selama kamu nggak memilih tempat yang terlalu mahal hanya demi balas dendam sosial.”
Laras tertawa terbahak. “Tenang, aku bukan tipe pendendam kayak gitu. Lagi pula, kalau aku memerasmu secara finansial, nanti siapa yang akan menemaniku curhat jam dua pagi?”
Sienna ikut tertawa, lalu menggeleng pelan. “Kamu itu benar-benar nggak pernah berubah.”
Laras berdiri dari kursinya, merapikan map di pelukannya. “Dan semoga nggak pernah berubah. Karena kalau aku berubah, kamu yang paling pertama akan kewalahan sendiri. Lagi pula sekarang aku udah nggak bisa curhat jam 2 pagi, kau pasti lagi senang-senang dengan suamimu, ya, kan?”
Sienna melotot karena Laras menggodanya seperti itu. “Laras! Jangan bahas begitu, aku nggak bisa memberikan spoiler kehidupan ranjangku, kan?” goda Sienna balik.
Laras langsung menutupi telinganya dengan keras. “Enggak, jangan! Aku masih ingin menikmati hidup jomblo ini!”
Ia lalu melangkah menuju pintu, tapi sebelum keluar, ia menoleh lagi. “Oh ya, traktiran akhir minggu nanti jangan sampai kamu batal dengan alasan mendadak ada acara keluarga elite atau jamuan penting, ya.”
Sienna tersenyum tipis. “Aku janji. Itu waktunya kita.”
“Bagus.” Laras mengacungkan jempol. “Aku tagih janji itu, Nyonya.”
Setelah Laras pergi, Sienna kembali sendirian di ruangannya. Namun kali ini, suasana terasa sedikit lebih ringan. Di tengah tekanan pekerjaan, sorotan orang-orang, dan urusan rumah tangganya yang baru saja dimulai, setidaknya masih ada satu hal yang pasti dan tidak berubah, persahabatannya dengan Laras.
Dan entah kenapa, memikirkan traktiran sederhana di akhir minggu itu membuat dirinya bersemangat.