Denting halus lift memecah keheningan yang mencekik, menandakan mereka telah sampai di lantai dasar. Pintu logam itu terbuka perlahan, seolah enggan melepaskan Arini dari kotak kedap suara yang baru saja menjadi saksi bisu teror mentalnya.
Sentuhan tangan Adrian masih menempel di punggung Arini. Sentuhan itu terasa panas, tegas, dan penuh kepemilikan. Namun, bagi Arini, sentuhan itu tidak lagi terasa seperti perlindungan. Itu adalah stempel kepemilikan pada sebuah barang dagangan.
"Tersenyumlah," bisik Adrian tepat di samping telinganya. Suaranya rendah, sarat perintah yang tidak mentolerir penolakan. "Mulai detik ini, kau adalah wanita paling bahagia di Jakarta. Jangan biarkan siapa pun berpikir sebaliknya."
Arini menelan ludah yang terasa pahit. Ia memaksa sudut bibirnya terangkat, meski dadanya sesak oleh detak jantung yang belum juga normal. Wanita paling bahagia? Bagaimana mungkin ia berakting bahagia saat baru saja mendengar suara hantu dari masa lalu suaminya yang mengklaim gaun di tubuhnya ini sebagai simbol kebencian?
"Baik, Adrian," jawab Arini lirih, suaranya hampir tak terdengar di antara derap langkah mereka yang menggema di lobi marmer penthouse tersebut.
Petugas keamanan dan resepsionis menunduk hormat saat Adrian lewat. Mata mereka mencuri pandang ke arah Arini, dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, kekaguman, dan mungkin sedikit rasa iri. Jika saja mereka tahu bahwa gaun champagne yang membalut tubuh Arini ini terasa lebih mirip kain kafan daripada gaun pertunangan, mungkin rasa iri itu akan berubah menjadi belas kasihan.
Di depan lobi, sebuah sedan hitam mengkilap sudah menunggu. Reza berdiri di samping pintu penumpang yang terbuka, posturnya tegak sempurna. Pria itu menangkap gurat pucat di wajah Arini, namun profesionalismenya menahan segala bentuk pertanyaan.
"Selamat pagi, Pak Adrian, Bu Arini," sapa Reza datar.
Arini mengangguk kaku, masuk ke dalam mobil dengan hati-hati agar belahan gaunnya tidak tersingkap terlalu tinggi. Aroma kulit jok mobil yang mewah menyambutnya, bercampur dengan sisa aroma cologne Adrian yang tertinggal di udara.
Saat pintu mobil tertutup, menyisakan mereka berdua di kursi belakang dengan Reza di balik kemudi, Arini merasa oksigen di sekitarnya menipis. Adrian segera mengeluarkan tabletnya, kembali tenggelam dalam deretan angka saham dan berita bisnis, seolah keberadaan Arini di sebelahnya hanyalah sebuah ornamen mati yang tidak perlu diajak bicara.
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Gedung-gedung pencakar langit melintas cepat di balik jendela yang gelap. Arini meremas clutch emas di pangkuannya. Di dalamnya, ponsel baru itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Dia membenci warna champagne. Itu warna favoritku saat kami menikah...
Kata-kata dari penelpon misterius itu berputar ulang di kepala Arini seperti kaset rusak. Ia melirik Adrian dari sudut matanya. Profil samping pria itu tampak keras, rahangnya tegas, dan matanya fokus pada layar tablet. Tidak ada tanda-tanda kesedihan atau trauma yang terlihat. Hanya dingin. Beku.
Jika Adrian membenci warna ini, mengapa dia memilihkannya untuk Arini?
Apakah ini bentuk hukuman? Atau cara Adrian mengejek memori masa lalunya sendiri? Arini merasa dirinya sedang berjalan di atas ladang ranjau tanpa peta. Satu langkah salah, ia akan hancur berkeping-keping.
"Kenapa..." Arini memberanikan diri membuka suara. Tenggorokannya terasa kering. "Kenapa warna ini?"
Jari Adrian berhenti menggulir layar tablet. Ia tidak menoleh, tapi Arini bisa merasakan temperatur di dalam mobil turun beberapa derajat.
"Apa maksudmu?" tanya Adrian datar.
"Gaun ini," lanjut Arini, mencoba menahan getaran dalam suaranya. Ia harus tahu. Ia harus memverifikasi ucapan penelpon misterius itu. "Kenapa kau memilih warna champagne? Bukankah biasanya... warna putih atau merah lebih umum untuk... pertunangan?"
Adrian akhirnya menoleh. Tatapan matanya yang tajam menyapu wajah Arini, mencari celah kebohongan atau ketakutan. Arini menahan napas, berusaha mempertahankan ekspresi polos.
"Putih untuk kesucian. Merah untuk keberanian," jawab Adrian dengan nada sinis yang halus. Ia menutup tabletnya dan menyimpannya di sisi kursi. "Warna champagne adalah warna netral. Elegan. Mahal. Dan tidak menuntut emosi."
Dia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Arini. Aroma kopi dan mint menguar dari napasnya. "Dan yang paling penting, Arini... itu adalah warna yang diinginkan oleh Kakek. Kita melakukan ini untuk memuaskan orang tua itu, bukan?"
Jawaban itu logis. Sangat Adrian. Namun, Arini menangkap sesuatu yang lain. Ada kerutan sangat tipis di sudut mata Adrian saat ia menyebut kata 'warna'. Ada jeda sepersekian detik yang tidak wajar sebelum ia menjawab.
Arini tidak percaya perkataan itu.
Penelepon itu benar. Adrian menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar preferensi estetika kakeknya. Arini bukan hanya boneka untuk sandiwara bisnis; ia adalah kanvas tempat Adrian melukis ulang sebuah tragedi yang ingin ia lupakan.
"Kakekmu punya selera yang spesifik," gumam Arini, mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Dia punya obsesi," koreksi Adrian dingin. "Dan tugasmu adalah memenuhinya tanpa banyak tanya."
Mobil berbelok masuk ke pelataran sebuah gedung bergaya industrial modern di kawasan Jakarta Selatan. Studio 8. Tempat ini terkenal sebagai studio fotografi paling eksklusif di ibukota, langganan para selebritas papan atas dan konglomerat yang ingin memoles citra publik mereka.
Saat Arini turun dari mobil, ia langsung disambut oleh kesibukan kru yang berlalu-lalang membawa peralatan pencahayaan. Namun, begitu Adrian menginjakkan kaki di aspal, suasana mendadak hening. Para kru berhenti bekerja, menunduk sopan, memberi jalan seolah seorang raja baru saja tiba.
Seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai tebal dan syal sutra yang melilit di lehernya bergegas menghampiri mereka. Ini pasti fotografernya.
"Pak Adrian! Monsieur Mahardika!" seru pria itu dengan gaya teatrikal yang berlebihan. Ia merentangkan kedua tangannya, namun berhenti pada jarak yang sopan saat melihat tatapan dingin Adrian. "Sudah lama sekali. Lima tahun? Ah, waktu berlalu begitu kejam."
"Bimo," sapa Adrian singkat, tanpa senyum. "Saya harap kau sudah siap. Saya hanya punya waktu 45 menit."
"Tentu, tentu! Untuk Mahardika Group, saya selalu siap," Bimo mengalihkan pandangannya pada Arini. Matanya membelalak di balik lensa kacamatanya. Ia memindai Arini dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menelanjangi ala seniman yang sedang menilai objek lukisannya.
"Dan ini dia..." Bimo bergumam, suaranya merendah. "Nona Arini Putri. Calon nyonya besar."
Bimo melangkah mendekat, mengitari Arini perlahan. "Struktur wajah yang menarik. Polos, tapi ada api yang tersembunyi. Dan gaun itu..." Bimo berhenti tepat di depan Arini, menyentuh ujung kain sutra di bahunya dengan ujung jari.
"Pilihan yang berani, Pak Adrian," komentar Bimo tanpa menoleh ke arah Adrian. "Warna champagne. Saya pikir Bapak sudah mem-banned warna ini dari semua properti visual perusahaan sejak..."
"Cukup, Bimo," potong Adrian tajam. Suaranya memecut udara seperti cambuk.
Arini tersentak. Reaksi Adrian begitu cepat dan defensif.
Bimo tertawa canggung, menarik tangannya dari bahu Arini. "Ah, maaf. Lidah seniman kadang tak bertulang. Mari, mari! Makeup artist sudah menunggu di dalam. Kita harus membuat Nona Arini bersinar."
Arini digiring masuk ke dalam ruang rias yang penuh dengan cermin berlampu terang. Ia didudukkan di kursi tinggi. Tiga orang asisten langsung mengerubunginya, satu menata rambut, satu membedaki wajah, dan satu lagi merapikan lipatan gaunnya.
Di pantulan cermin, Arini melihat Adrian berdiri di ambang pintu, berbicara serius dengan Reza. Wajahnya tegang. Ia terlihat seperti sedang mendiskusikan strategi perang, bukan sesi foto pre-wedding.
Saat kuas bedak menyapu pipinya, Arini mendengar bisikan salah satu penata rias di belakangnya.
"Gila ya, Pak Adrian beneran bawa cewek ke sini lagi. Kirain rumor dia impoten gara-gara trauma itu bener," bisik si penata rambut pelan.
"Sst! Jangan kenceng-kenceng," balas asisten lainnya. "Tapi liat deh gaunnya. Itu kan gaya yang dulu dipake sama... kamu tahu siapa. Yang meninggal itu."
"Iya, sumpah. Merinding gue. Cewek ini mukanya juga agak mirip kalau dilihat dari samping. Apa Pak Adrian nyari KW-nya ya?"
Darah Arini berdesir. Tangannya mencengkeram sandaran kursi begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. KW. Barang tiruan. Pengganti.
Jadi bukan hanya perasaan Arini saja. Orang lain pun melihatnya. Adrian tidak sedang menikahi Arini; dia sedang mencoba menghidupkan kembali mayat.
"Nona? Bisa rileks sedikit wajahnya? Tegang sekali otot rahangnya," tegur penata rias dengan lembut.
Arini menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak. Demi Ayah. Lakukan ini demi Ayah. Ia menghembuskan napas, membiarkan topeng 'calon istri bahagia' itu kembali terpasang di wajahnya.
"Maaf," ucap Arini pelan. "Hanya sedikit gugup."
Sesi pemotretan dimulai sepuluh menit kemudian.
Latar belakang studio diatur minimalis namun mewah. Dinding abu-abu gelap, lampu sorot yang dramatis, dan sebuah sofa kulit vintage tunggal di tengah ruangan.
"Oke, lovebirds! Berdiri berdekatan!" teriak Bimo dari balik kameranya. "Lebih dekat! Adrian, rangkul pinggangnya. Jangan kaku seperti memegang patung es!"
Adrian melangkah maju. Ia meletakkan tangannya di pinggang Arini. Panas tubuhnya menembus lapisan tipis gaun sutra itu. Jantung Arini berdegup kencang, bukan karena romansa, tapi karena kedekatan fisik dengan pria yang terasa seperti predator ini.
"Arini, letakkan tanganmu di dada Adrian. Sentuh lapel jasnya," instruksi Bimo.
Arini mengangkat tangannya yang gemetar, meletakkannya di dada bidang Adrian. Di balik kemeja putih mahal itu, Arini bisa merasakan detak jantung Adrian. Stabil. Kuat. Lambat. Pria ini tenang sekali, sementara Arini merasa ingin muntah karena gugup.
"Tatap matanya, Arini. Tatap dengan cinta! Ingat, dia penyelamat hidupmu!" seru Bimo lagi.
Arini mendongak. Matanya bertemu dengan mata elang Adrian. Di bawah sorotan lampu studio yang menyilaukan, iris mata Adrian terlihat cokelat keemasan, dalam dan tak berdasar.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Arini mencari setitik kehangatan di sana, setitik rasa bersalah karena telah menyeret Arini ke dalam sandiwara gila ini. Namun yang ia temukan hanyalah dinding tebal.
"Bagus! Tahan tatapan itu!" Bimo menjepret kameranya berkali-kali. Klik. Klik. Klik.
Adrian menunduk sedikit, bibirnya mendekat ke telinga Arini. Dari sudut pandang kamera, ini terlihat seperti momen intim yang romantis.
"Kau gemetar," bisik Adrian, suaranya hanya untuk mereka berdua. "Kendalikan dirimu. Kakek akan melihat foto-foto ini nanti sore."
"Kau yang membuatku takut," balas Arini tanpa sadar, suaranya bergetar.
Adrian menarik wajahnya menjauh sedikit, menatap Arini dengan intensitas baru. "Rasa takut itu bagus, Arini. Itu artinya kau sadar posisimu."
"Oke, perfect!" potong Bimo. "Sekarang ganti pose. Saya mau pose duduk. Arini di sofa, Adrian berdiri di belakangnya, memegang bahu Arini. Konsepnya: The Protector."
Arini duduk di sofa kulit itu. Kakinya yang sakit karena heels 7cm akhirnya bisa beristirahat sejenak, meski posisinya harus tetap anggun. Adrian berdiri di belakang sofa, kedua tangannya mencengkeram bahu Arini. Cengkeraman itu kuat, posesif.
Bimo mengutak-atik pencahayaan. "Asisten! Tolong ambilkan properti bunga itu. Yang tadi baru datang!"
Seorang asisten berlari masuk membawa sebuah buket bunga besar yang diletakkan di vas kristal. Bimo meletakkannya di meja kecil di samping sofa, tepat di sebelah Arini.
Arini menoleh melihat bunga itu. Bunga Lili Putih (Casablanca Lilies). Baunya sangat harum, menusuk hidung.
Tiba-tiba, cengkeraman tangan Adrian di bahu Arini mengeras. Menyakitkan.
"Bimo," suara Adrian terdengar rendah, namun mengandung bahaya yang nyata. "Apa itu?"
Bimo yang sedang mengecek viewfinder kamera mendongak bingung. "Bunga? Untuk menambah aksen lembut. Warnanya kontras bagus dengan gaun champagne Arini. Kenapa? Bagus kan?"
"Buang," desis Adrian.
"Hah? Tapi Pak, ini..."
"SAYA BILANG BUANG!" bentak Adrian.
Suaranya menggelegar di seluruh studio, memantul di dinding-dinding tinggi. Semua aktivitas berhenti total. Para kru terdiam kaku. Arini tersentak kaget di tempat duduknya, merasakan jari-jari Adrian yang mencengkeram bahunya kini gemetar hebat. Bukan gemetar karena takut, tapi karena amarah yang meledak-ledak.
Adrian menarik tangannya dari bahu Arini seolah ia baru saja tersengat listrik. Ia mundur beberapa langkah, napasnya memburu. Wajahnya yang tadi tenang kini memerah padam, matanya menatap buket bunga Lili itu dengan kebencian murni dan sesuatu yang lain. Ketakutan?
"Siapa yang membawa bunga itu ke sini?" tanya Adrian, suaranya kini pelan tapi mematikan.
Bimo, yang tampak pucat pasi, tergagap. "I-itu... itu kiriman, Pak Adrian. Baru saja sampai sepuluh menit lalu. Kurir bilang itu properti tambahan untuk pemotretan 'Tuan Mahardika'."
"Reza!" teriak Adrian tanpa menoleh.
Reza segera muncul di sampingnya, wajahnya tak kalah tegang. "Pak?"
"Cek pengirimnya. Sekarang." Adrian menunjuk bunga itu dengan jari telunjuk yang bergetar. "Dan bawa benda sialan itu keluar dari pandangan saya sebelum saya membakar studio ini."
Asisten Bimo buru-buru menyambar vas bunga itu dan berlari keluar, hampir menumpahkan airnya.
Arini masih terpaku di sofa, jantungnya berpacu liar. Ia melihat reaksi Adrian yang tidak rasional. Bunga Lili Putih. Bunga kematian. Bunga duka cita.
Lalu, mata Arini menangkap sesuatu yang terjatuh dari sela-sela bunga saat asisten itu mengangkatnya tadi. Sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan tulisan tinta emas. Kartu itu tergeletak di lantai, tepat di dekat kaki meja, luput dari perhatian Adrian yang sedang sibuk memarahi Bimo.
Dengan gerakan cepat mumpung semua orang fokus pada kemurkaan Adrian, Arini membungkuk sedikit dan menyambar kartu itu. Ia menyembunyikannya di balik clutch di pangkuannya.
Adrian masih berdebat dengan Bimo, menuntut penjelasan tentang siapa yang berani "menyabotase" mood-nya. Pria yang biasanya dingin dan terkontrol itu kini retak, memperlihatkan trauma yang menganga lebar.
Tangan Arini yang berkeringat dingin membuka kartu itu perlahan di bawah meja, memastikan tidak ada yang melihat.
Hanya ada satu kalimat pendek di sana. Tulisan tangan yang rapi dan elegan.
Untuk merayakan pengganti barumu. Dia cantik, tapi dia tidak akan bertahan lama. - M.
Napas Arini tercekat. Inisial 'M'.
Ia mengangkat kepalanya, menatap punggung Adrian yang masih tegang. Pria ini dikelilingi hantu. Dan hantu itu tidak hanya berbisik di telepon; hantu itu kini mengirim bunga kematian ke sesi foto pertunangan mereka.
Arini sadar satu hal saat itu juga: Kontrak ini bukan tentang bisnis atau melunasi hutang. Ini adalah undangan masuk ke dalam neraka pribadi Adrian Mahardika.
Dan Arini baru saja melangkah masuk ke lingkaran api yang pertama.