Pintu lift tertutup, memisahkan mereka dari basement yang lembap, namun atmosfer di dalam kabin sempit itu justru semakin mencekik. Arini berdiri mematung di sudut, menatap pantulan dirinya di dinding logam yang dingin. Gaun champagne yang membalut tubuhnya kini terasa seperti kulit kedua yang terbakar.
"Atau mungkin, ia harus belajar cara membakar balik."
Kalimat itu bergema di kepalanya, menjadi mantra yang mengusir sisa-sisa getaran di tangannya. Ia mencengkeram clutch satin di tangannya benda yang kini menyimpan kartu hitam dari 'M', sebuah vonis kematian yang dikemas rapi.
Adrian berdiri dua langkah di depannya. Punggung pria itu tegap, kaku seperti papan besi. Jas navy yang tadi dilepasnya kini tersampir asal di lengan, memperlihatkan kemeja putih yang sedikit kusut di bagian punggung. Arini bisa melihat dada bidang itu naik turun dalam ritme yang tidak wajar. Adrian sedang bertarung dengan hantunya sendiri.
"Kamu sengaja," suara Arini memecah keheningan. Bukan pertanyaan, melainkan tuduhan.
Adrian tidak berbalik. Ia menekan tombol lantai dasar dengan gerakan kasar. "Apa maksudmu?"
"Warna champagne itu," Arini melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh amarah yang dingin. "Kamu tahu 'M' akan bereaksi. Kamu tahu dia mengawasi. Kamu mendandaniku seperti boneka, memaksaku memakai warna favorit... dia, hanya untuk memancing musuhmu keluar."
Lift berdenting. Pintu terbuka ke lobi privat gedung itu, tempat sopir dan Reza sudah menunggu. Adrian akhirnya menoleh. Wajahnya yang tadi pucat kini kembali datar, topeng CEO tak tersentuh itu sudah terpasang sempurna, meski matanya masih menyiratkan badai.
"Ini strategi, Arini. Bukan urusan perasaan," jawabnya dingin, lalu melangkah keluar tanpa menunggunya. "Dan strategi itu berhasil. Kita tahu dia ada di dekat sini."
"Strategi?" Arini mengejarnya, langkah kakinya beradu keras dengan lantai marmer lobi. Reza yang melihat kedatangan mereka langsung membukakan pintu belakang mobil sedan hitam mewah yang mesinnya sudah menyala. "Nyawaku bukan pion catur, Adrian! Dia mengancam akan membunuhku!"
Adrian berhenti tepat di depan pintu mobil. Ia berbalik mendadak, membuat Arini nyaris menabrak dada bidangnya. Tangan Adrian terulur, mencengkeram lengan atas Arini. Tidak menyakiti, tapi cukup kuat untuk menahannya di tempat.
"Masuk," desis Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia mencondongkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Arini. Aroma mint dan musk bercampur dengan bau keringat dingin menguar dari tubuh pria itu. "Jangan buat adegan di sini. CCTV ada di mana-mana. Kecuali kamu mau 'M' tahu kalau kita sedang retak."
Arini menahan napas. Ancaman itu nyata. Ia menepis tangan Adrian kasar, lalu masuk ke dalam mobil. Adrian menyusul, membanting pintu hingga tertutup rapat.
Perjalanan menuju butik perancang busana itu terasa seperti melintasi zona perang. Keheningan di dalam mobil begitu padat hingga rasanya bisa diiris dengan pisau. Reza duduk di depan, di samping sopir, sesekali melirik spion tengah dengan tatapan waspada.
Arini memandang ke luar jendela, melihat lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala di kala senja. Gedung-gedung pencakar langit tampak seperti monster beton yang siap menelan siapa saja yang lemah. Ia meraba clutch-nya lagi. 'M' tahu wajahnya. 'M' tahu namanya. Dan Adrian... pria di sebelahnya ini gila.
"Kita akan ke butik Madame Rossa," suara Adrian memecah lamunan Arini. Pria itu kini sibuk dengan tabletnya, seolah insiden di studio tadi tidak pernah terjadi. "Fitting baju pengantin yang sebenarnya. Gaun champagne tadi hanya untuk foto pre-wedding informal."
"Aku tidak peduli mau pakai baju apa," sahut Arini ketus, matanya tetap tertuju ke jalanan. "Aku lebih peduli apakah aku bisa hidup sampai hari pernikahan."
Jari Adrian berhenti mengetuk layar tablet. Ia menoleh perlahan. Cahaya lampu jalan yang menelisik masuk lewat kaca jendela menyinari separuh wajahnya, menciptakan bayangan tajam di garis rahangnya.
"Dengar," Adrian meletakkan tabletnya. Nada suaranya berubah, sedikit lebih lunak, atau mungkin hanya lelah. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Itu ada dalam kontrak. Keamananmu adalah tanggung jawabku."
"Seperti kamu bertanggung jawab atas keselamatan dia dulu?"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arini, tajam dan berbisa.
Mobil tersentak pelan seolah ikut merasakan ketegangan yang meledak. Reza terbatuk kecil di depan. Rahang Adrian mengeras seketika. Urat-urat di lehernya menonjol. Tatapannya yang tadi sedikit melunak kini berubah menjadi es kutub.
"Jangan pernah," suara Adrian terdengar seperti geraman hewan buas yang terluka, "bahas masa lalu yang tidak kamu pahami."
Arini menelan ludah. Ia tahu ia sudah melampaui batas, tapi ia juga tidak bisa mundur. "Kalau begitu berhenti menjadikanku bayangan masa lalumu. Aku Arini. Bukan dia."
Mobil berbelok halus, memasuki pelataran sebuah bangunan bergaya kolonial yang megah di kawasan Menteng. Papan nama "Madame Rossa: Haute Couture" bersinar elegan di atas pintu masuk.
"Kita sudah sampai," kata Adrian, memutus pembicaraan. Ia kembali mengenakan topengnya. "Senyum, Rini. Ingat, kamu adalah wanita paling bahagia di dunia yang akan menikahi pewaris Mahardika Group."
Butik Madame Rossa berbeda 180 derajat dari suasana mobil yang mencekam. Ruangan itu wangi lavender dan mawar segar. Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Deretan gaun pengantin terpajang di manekin, putih bersih, berkilauan tertimpa cahaya lampu kristal.
Seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai permata menyambut mereka dengan antusiasme yang berlebihan.
"Ah! Monsieur Adrian! Dan ini pasti calon pengantinnya yang cantik!" Madame Rossa memeluk pipi kiri dan kanan Arini, aroma parfum mahalnya menusuk hidung. "Akhirnya! Saya sudah siapkan masterpiece itu. Hanya untuk Anda."
Arini memaksakan senyum kaku. "Terima kasih, Madame."
"Ayo, ayo, langsung ke ruang ganti VVIP," Madame Rossa menggiring Arini, sementara Adrian duduk di sofa beludru merah marun, mengeluarkan ponselnya lagi.
Di dalam ruang ganti yang luasnya setara dengan apartemen studio Arini dulu, sebuah gaun tergantung di tengah ruangan. Gaun itu indah, harus Arini akui. Potongannya klasik, A-line dengan kerah sabrina yang memamerkan bahu, terbuat dari sutra mikado yang berat dan mahal. Tidak ada manik-manik berlebihan, hanya kemewahan dari struktur kain itu sendiri.
Warna putih. Putih bersih. Suci.
Arini menatap gaun itu dengan ironi. Ia akan mengenakan simbol kesucian dan cinta abadi ini untuk sebuah transaksi bisnis yang dibangun di atas kebohongan dan bahaya.
"Perlu bantuan, Nona?" tanya asisten Madame Rossa.
"Tidak, terima kasih. Saya bisa sendiri," tolak Arini halus. Ia butuh waktu sendiri.
Lima menit berlalu. Arini berjuang dengan ritsleting di bagian belakang gaun yang macet di tengah jalan. Gaun ini sangat pas di tubuhnya, seolah dijahit langsung di atas kulitnya, tapi itu juga membuatnya sulit bergerak leluasa. Napasnya mulai sesak.
"Sial," umpatnya pelan.
Tiba-tiba, tirai beludru tebal tersibak. Arini tersentak, menutupi dadanya dengan tangan secara refleks.
Adrian berdiri di sana. Wajahnya datar, tapi matanya menyapu penampilan Arini dari ujung kaki hingga kepala. Ada kilatan aneh di matanya, sesuatu yang bukan kemarahan, bukan juga ketakutan. Kekaguman? Atau nafsu?
"Keluar! Aku belum selesai!" seru Arini panik.
"Madame Rossa bilang kamu butuh waktu terlalu lama. Dia pikir kamu kabur lewat jendela ventilasi," jawab Adrian santai, lalu melangkah masuk dan menutup tirai di belakangnya. Ruang ganti itu seketika terasa sempit.
"Aku cuma susah menaikkan ritsletingnya," Arini berbalik memunggungi Adrian, masih memegangi bagian depan gaunnya agar tidak melorot. Jantungnya berdegup kencang. Berada sedekat ini dengan Adrian di ruang tertutup selalu membuat sarafnya siaga satu.
"Lepaskan tanganmu," perintah Adrian.
"Apa?"
"Lepaskan tanganmu dari ritsleting itu. Biar aku bantu."
Arini merasakan kehadiran Adrian tepat di belakang punggungnya. Hawa panas tubuh pria itu merambat ke kulit punggungnya yang terekspos. Tangan Adrian yang besar dan hangat menyentuh pinggangnya, membuat Arini menahan napas. Sentuhan itu... lembut. Berbeda sekali dengan cengkeraman kasar di parkiran tadi.
"Tahan napas," bisik Adrian tepat di dekat telinganya. Napas hangatnya menyapu tengkuk Arini, mengirimkan getaran aneh ke sepanjang tulang belakangnya.
Arini menurut. Ia menahan napas, membusungkan dada. Adrian menarik ritsleting itu perlahan ke atas. Bunyi srekk halus terdengar, seolah menutup jarak di antara mereka. Jari-jari Adrian tidak langsung menyingkir setelah ritsleting tertutup sempurna. Jemarinya menyapu bahu Arini yang terbuka, merapikan sedikit tatanan rambutnya.
Arini menatap pantulan mereka di cermin besar di depannya. Adrian berdiri di belakangnya, wajahnya terpantul di samping wajah Arini. Pria itu menatap bayangan Arini di cermin dengan intensitas yang membakar.
"Putih cocok untukmu," gumam Adrian, suaranya parau. "Lebih baik daripada champagne."
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Tidak ada kontrak, tidak ada utang, tidak ada 'M'. Hanya seorang pria yang terpesona pada wanita di hadapannya. Arini melihat topeng Adrian retak lagi, tapi kali ini bukan monster yang keluar, melainkan seorang laki-laki biasa.
"Adrian..." panggil Arini lirih.
Adrian tersadar. Ia menarik tangannya seolah tersengat listrik. Wajahnya kembali keras, tatapan matanya kembali dingin dan penuh perhitungan. Ia merapikan jasnya yang sebenarnya sudah rapi.
"Cepat keluar. Kakek mungkin akan menelepon sebentar lagi untuk meminta foto," ucapnya kaku, lalu berbalik hendak meninggalkan ruang ganti.
"Tunggu," Arini menahan lengan Adrian.
Adrian berhenti, tapi tidak menoleh.
"Aku setuju," kata Arini mantap. "Aku akan menjadi istrimu. Aku akan memainkan peran ini sampai akhir. Tapi berjanjilah satu hal."
Adrian menoleh sedikit. "Apa?"
"Jangan pernah jadikan aku umpan lagi tanpa persetujuanku. Kalau kita mau melawan 'M', atau siapa pun itu... kita lakukan sebagai partner. Bukan majikan dan umpan."
Adrian menatap mata Arini dalam-dalam. Ia melihat api di sana. Api yang sama yang membuatnya memilih wanita ini sejak awal. Bukan karena Arini lemah, tapi karena dia bisa bertahan.
"Sepakat," jawab Adrian singkat. "Sekarang keluar."
Arini melangkah keluar dari ruang ganti dengan dagu terangkat. Madame Rossa memekik kegirangan, bertepuk tangan heboh. Para staf butik memandang dengan kagum. Gaun itu memang sempurna.
"Luar biasa! Magnifique!" seru Madame Rossa. "Tuan Adrian, lihatlah! Dia seperti ratu!"
Adrian berdiri di dekat pintu masuk, bersedekap dada. Ia mengangguk pelan, tanda persetujuan yang langka. "Bagus. Bungkus ini. Kirim ke penthouse malam ini juga."
Namun, senyum di wajah Madame Rossa memudar saat lonceng pintu butik berdenting, menandakan tamu lain datang.
Arini menoleh ke arah pintu. Senyumnya sendiri membeku. Darah di wajahnya surut seketika.
Di sana, berdiri seorang pria yang memiliki kemiripan fisik dengan Adrian, namun dengan aura yang jauh lebih licik. Erwin Mahardika. Dia tidak sendirian. Di lengannya, menggelayut seorang wanita cantik berambut pirang, dan di tangannya, Erwin memegang sebuah buket bunga.
Bukan sembarang bunga.
Bunga Lilium Casablanca. Lili putih.
"Wah, wah," suara Erwin memecah keheningan butik, nadanya penuh dengan sarkasme yang berbisa. Ia melangkah masuk dengan santai, mengabaikan tatapan membunuh Adrian. "Kebetulan sekali bertemu pasangan paling hot se-Jakarta di sini. Sedang fitting baju zirah... ah, maksudku baju pengantin?"
Erwin berhenti tepat di depan Arini, menyodorkan buket lili putih itu ke arahnya. Bau harum bunga itu, bau yang sama dengan yang ada di studio tadi langsung memenuhi ruangan, mencekik udara di sekitar mereka.
"Untuk calon kakak ipar," kata Erwin sambil tersenyum miring, matanya berkilat jahat menatap Adrian yang kini tangannya sudah mengepal hingga memutih. "Putih lambang duka cita... eh, kesucian, bukan?"
Arini merasakan tubuh Adrian di sampingnya menegang hebat, siap meledak kapan saja. Ia melihat mata Adrian mulai memerah, napasnya mulai tidak teratur. Lili putih itu adalah pemicu. Dan Erwin tahu itu. Erwin sengaja membawanya.
Arini menatap bunga itu, lalu menatap Erwin. Jika dia diam, Adrian akan mengamuk dan menghancurkan reputasinya sendiri di depan umum.
Arini mengulurkan tangan, bukan untuk menerima bunga itu, melainkan mengambil satu tangkai, lalu mematahkan batangnya dengan bunyi krek yang nyaring di tengah keheningan ruangan.
"Maaf, Mas Erwin," ucap Arini dengan senyum manis yang mengerikan. "Saya alergi bunga murahan."
Tapi sebelum Erwin sempat membalas, ponsel di saku jas Adrian bergetar panjang. Bukan pesan biasa. Itu dering khusus untuk prioritas keamanan tertinggi.
Adrian mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar, matanya tak lepas dari wajah Erwin. Wajah Adrian berubah pucat pasi dalam hitungan detik.
"Apa?" bisik Adrian ke ponselnya.
Arini menoleh, melupakan Erwin sejenak. "Adri? Ada apa?"
Adrian menurunkan ponselnya perlahan. Ia menatap Arini dengan pandangan kosong yang mengerikan, seolah jiwa baru saja dicabut dari tubuhnya.
"Sistem keamanan penthouse diretas," suara Adrian terdengar seperti orang yang tercekik. "Seseorang baru saja masuk ke kamar tidur kita dan meninggalkan gaun pengantin berlumuran darah di atas kasur."
Arini membeku. Lili putih di tangan Erwin terjatuh ke lantai.
Musuh bukan hanya mengawasi. Musuh sudah ada di dalam rumah.