Romansa #CEO #Romansa CEO

Ancaman di Balik Gaun Pernikahan

Penulis djoedo
24 January 2026

Dan Arini, dalam balutan gaun pengantin yang terkutuk itu, adalah sasaran tembak yang paling mencolok di seluruh ruangan.

Sorot lampu di langit-langit butik yang tadinya membuat kristal Swarovski di tubuhnya berkilau indah, kini terasa seperti lampu interogasi yang menyengat kulit. Pesan merah di layar tablet yang tergeletak miring di sofa seolah membakar retina matanya: “Sayang sekali kain putih itu mudah sekali ternoda merah.”

Napas Arini tercekat. Udara di dalam butik yang beraroma lili segar mendadak menipis, seolah oksigen disedot keluar oleh kepanikan yang merayap naik dari perutnya. Mual itu datang lagi, kali ini membonceng rasa dingin yang menusuk tulang belakang. Ia bukan sedang mencoba gaun pengantin. Ia sedang mencoba kain kafan.

"Reza, amankan perimeter," suara Adrian memecah keheningan. Nadanya rendah, tajam, dan tidak menoleransi bantahan.

Tanpa menunggu jawaban, Adrian bergerak cepat. Ia menyambar jas navy miliknya yang tersampir di lengan sofa, lalu dalam satu langkah lebar, ia sudah menghalangi pandangan siapa pun ke arah Arini.

"Jangan bergerak," perintah Adrian.

Sebelum Arini sempat memprotes, Adrian menyampirkan jas besar itu ke tubuh Arini. Kain wol mahal yang masih menyimpan hangat tubuh Adrian dan aroma sandalwood maskulin kini membungkus bahunya, menutupi bagian atas gaun off-shoulder yang terekspos. Adrian menarik kerah jas itu rapat-rapat hingga menutupi dada, seolah berusaha menyembunyikan Arini dari mata tak terlihat yang mengintai di sudut ruangan.

Jarak mereka terhapus. Arini bisa melihat pori-pori di wajah Adrian, rahang tegas yang mengeras, dan kilatan liar di mata itu—campuran antara amarah yang meledak-ledak dan kewaspadaan seekor predator yang wilayahnya disusupi.

"A-apa yang terjadi?" bisik Arini. Suaranya gemetar. "Pesan itu... dia ada di sini?"

"Diam," desis Adrian. Tangan besarnya mencengkeram bahu Arini yang terbalut jas, menahan gadis itu agar tetap berdiri. Kaki Arini sudah lemas seperti jeli. "Masuk ke ruang ganti. Lepas gaun ini. Sekarang. Jangan keluar sampai aku panggil."

"Tapi..."

"Sekarang, Arini!" Adrian membentak tertahan. Matanya menyapu sekeliling, ke arah cermin besar, ke arah kamera CCTV di sudut plafon yang berkedip merah statis.

Langkah kaki berisik terdengar dari lorong, disertai tepuk tangan riang yang sangat kontras dengan atmosfer mencekam di podium. Larasati muncul kembali, wajahnya berseri-seri di balik kacamata tebal, membawa sebuah veil panjang menjuntai.

"Ah! Magnifique!" seru desainer itu. Ia sama sekali tidak menyadari ketegangan setebal beton di antara kedua kliennya. "Tunggu, kenapa ditutupi jas? Adrian, sayang, kamu tidak boleh posesif begitu. Karya seniku butuh udara!"

Larasati melangkah maju hendak menarik jas itu, namun Adrian menepis tangan wanita itu. Cepat dan kasar. Larasati terlonjak.

"Sesi selesai," kata Adrian dingin.

"Tapi kita belum mencoba tudungnya..." Larasati tampak bingung. "Arini, darling, kamu tidak suka?"

Arini ingin berteriak bahwa ada orang gila yang mengancam akan menumpahkan darah di atas sutra mikado ini. Namun, cengkeraman tangan Adrian di bahunya menguat. Kode keras.

"Arini lelah," Adrian berbohong lancar. "Kami harus pergi."

Tanpa menunggu persetujuan, Adrian mendorong punggung Arini, menggiringnya setengah menyeret menuju ruang ganti pribadi. Adrian tidak berhenti di depan tirai. Ia ikut masuk ke dalam.

"Kamu gila?!" Arini tersentak mundur hingga punggungnya menabrak dinding ruang ganti. "Keluar! Aku mau ganti baju!"

"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian tanpa pengawasan," Adrian mengunci pintu dari dalam, lalu berbalik. Tubuhnya yang tinggi menjulang memblokir satu-satunya jalan keluar.

"Ini pelecehan, Adrian! Kontrak kita tidak..."

"Persetan dengan kontrak!" Adrian memukul dinding di samping kepala Arini. Suara hantaman itu membungkam Arini.

Napas Adrian memburu, menerpa wajah Arini. Aroma peppermint bercampur keringat dingin.

"Kamu pikir ini main-main?" suara Adrian turun menjadi geraman rendah. "Orang yang mengirim pesan itu... dia bukan pengagum rahasia iseng. Dia tahu ukuran tubuhmu. Dia tahu kita di sini. Dia tahu gaun ini milik siapa."

Mata Arini membelalak. "Milik siapa?" Arini bertanya lirih. "Gaun ini... ini bukan baru, kan? Kamu tidak menjahitkan ini untukku."

Adrian membuang muka. Rahangnya berkedut.

"Ini gaun dia," bisik Arini. Kesadaran itu menghantamnya. "Mantan tunanganmu. Yang meninggal lima tahun lalu."

Adrian diam. Konfirmasi paling brutal.

Arini tertawa getir. "Jadi itu maksudmu? Jadilah dia. Kamu mendandaniku seperti mayat, Adrian. Kamu menjadikanku umpan hidup dengan memakai baju orang mati."

Rasa jijik merayapi kulit Arini. Ia meraba punggungnya panik, mencari ritsleting gaun. Jemarinya gemetar hebat, gagal menemukan kepala ritsleting di antara lipatan renda.

"Buka..." Arini terisak. "Buka! Aku mau lepas!"

"Arini, berhenti. Kau akan merobeknya," Adrian menangkap pergelangan tangan Arini.

"Biar robek! Lepaskan aku!" Arini meronta, memukul dada bidang Adrian.

Adrian menahan kedua tangan Arini ke dada gadis itu sendiri. "Diam dan berbalik," perintahnya tegas namun mendesak. "Biar aku bantu."

Arini terdiam, napasnya memburu. Ia tidak punya pilihan. Dengan bibir tergigit, ia memutar tubuh membelakangi Adrian.

Ia merasakan tangan Adrian di punggungnya. Jemari pria itu dingin, namun saat menyentuh kulit punggung Arini yang terbuka, rasanya seperti besi panas. Suara ritsleting ditarik turun terdengar memekakkan telinga.

Perlahan, ikatan korset melonggar. Arini bisa bernapas, namun beban mentalnya justru semakin berat. Adrian tidak langsung menjauh. Di cermin, Arini melihat pantulan Adrian. Mata pria itu terpaku pada punggung Arini, pada lekuk tubuh yang kini bebas. Tatapan itu bukan tatapan bos, melainkan tatapan pria kelaparan yang bertarung hebat melawan dirinya sendiri.

"Cepat ganti," suara Adrian serak. Ia memutar tubuh menghadap pintu. "Aku tunggu di luar. Satu menit."


Tiga hari kemudian, kegilaan itu mencapai puncaknya.

Bukan di ruang interogasi polisi, melainkan di altar sebuah kapel privat yang dijaga ketat oleh belasan pria berjas hitam. Tidak ada musik organ yang syahdu, tidak ada bunga-bunga berlebihan. Hanya keheningan yang mencekam.

Arini berdiri di sana, kembali terperangkap dalam gaun sutra mikado yang sama—gaun milik hantu masa lalu Adrian. Di hadapannya, Adrian mengucapkan janji pernikahan dengan nada datar, seolah sedang membacakan laporan saham tahunan. Wajahnya keras, matanya terus waspada memindai setiap sudut ruangan, bahkan saat pendeta meminta mereka bertukar cincin.

"Saya terima nikahnya..."

Suara Adrian bergema kosong di dinding batu kapel. Saat ia menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Arini, tangannya terasa sedingin es.

"Anda boleh mencium pengantin wanita."

Itu adalah momen yang paling menipu. Adrian menangkup wajah Arini. Untuk sedetik, dunia seolah berhenti. Pria itu menunduk, menempelkan bibirnya di bibir Arini. Ciuman itu tidak lembut, namun menuntut. Ada rasa keputusasaan di sana, sebuah stempel kepemilikan yang agresif. Arini terpaku, merasakan detak jantung Adrian yang menghantam dada mereka yang bersentuhan. Ini bukan ciuman cinta; ini adalah deklarasi perang melawan siapa pun yang mengincar mereka.

"Mulai detik ini," bisik Adrian di bibir Arini setelah melepaskan tautan mereka, suaranya sangat pelan hingga hanya mereka berdua yang dengar, "nyawamu terikat dengan nyawaku."


Perjalanan keluar dari area resepsi adalah kabut paranoia.

Langit Jakarta sudah gelap gulita. Reza memacu sedan hitam antipeluru itu membelah jalanan protokol. Arini duduk menempel di pintu, sejauh mungkin dari Adrian. Ia sudah menanggalkan gaun pengantin terkutuk itu, berganti dengan kemeja dan celana bahan sederhana agar lebih mudah bergerak jika ketika sesuatu yang buruk terjadi.

Ia memeluk tas tangannya erat-erat, seolah itu perisai. Di jari manisnya, cincin pernikahan itu terasa berat, seperti borgol bertahta berlian.

"Siapa nama calon istrimu yang dulu?" tanya Arini tiba-tiba, memecah kebisuan. Ia tidak menoleh, matanya menatap kosong ke luar jendela.

Adrian, yang sedang mengetik cepat di ponselnya, berhenti. "Itu tidak relevan."

"Aku berhak tahu nama orang yang gaunnya baru saja kau paksakan padaku di altar," balas Arini tajam. Ia menoleh, menatap profil samping Adrian yang keras seperti batu karang. "Siapa namanya, Adrian? Katakan."

Adrian menurunkan ponselnya. Ia menoleh perlahan. Di bawah keremangan lampu jalan yang menerobos masuk ke mobil, wajahnya terlihat lelah.

"Sarah," jawab Adrian. Suaranya nyaris tak terdengar, seolah menyebut nama itu saja sudah melukainya. "Namanya Sarah."

"Dan dia meninggal karena..." Arini menggantung kalimatnya.

"Kecelakaan," potong Adrian cepat. "Sama seperti berita."

"Bohong," tegas Arini. "Pesan di butik waktu itu... 'kain putih mudah ternoda merah'. Itu bukan kecelakaan biasa, kan? Dia dibunuh? Dan sekarang orang yang sama mengincar kita?"

Rahang Adrian mengeras. "Cukup, Arini."

"Tidak cukup! Kamu menarikku masuk ke dalam perangmu tanpa senjata!" Arini berteriak frustrasi. "Kamu bilang ini hanya bisnis. Kamu tidak bilang aku harus mati!"

Adrian menyambar pergelangan tangan Arini, menariknya mendekat hingga wajah mereka berjarak beberapa senti.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati," ucap Adrian, setiap kata ditekan dengan intensitas mengerikan. "Kamu adalah investasi terbesarku. Tidak ada yang boleh menyentuhmu. Termasuk 'M'."

"Kalau begitu lepaskan aku," tantang Arini, suaranya bergetar. "Batalkan pernikahan ini."

Adrian melepaskan tangan Arini kasar, lalu menyandarkan punggung ke jok kulit. "Sudah terlambat," gumamnya dingin. "Begitu kamu memakai cincin itu, kamu sudah ada di dalam radar. Keluar sekarang justru membuatmu mati lebih cepat."

Arini terdiam, air mata frustrasi menetes. Ia terjebak.

Ia membuka clutch satinnya, tas yang sama yang ia bawa saat resepsi tadi, untuk mengambil tisu. Namun jemarinya menyentuh sesuatu yang lain. Sebuah kartu hitam.

Di sebelah kartu hitam itu, terselip sebuah foto polaroid kecil yang sebelumnya tidak ada di sana.

Jantung Arini berhenti berdetak sesaat. Ia menarik foto itu keluar dengan tangan gemetar.

Itu adalah foto dirinya. Foto yang diambil saat di butik Larasati tiga hari yang lalu.

Di foto itu, Arini berdiri di dalam ruang ganti, membelakangi kamera, punggung terbuka saat Adrian sedang menurunkan ritsleting gaunnya. Sudut pengambilannya dari atas, dari celah ventilasi.

Di bawah foto itu, tulisan tangan dengan tinta merah darah berbunyi:

Pesta pernikahan yang indah. Tapi Adrian tidak bisa melindungimu di setiap sudut, Sayang.

Arini menjatuhkan foto itu seolah menyentuh bara api. "Adrian..."

Adrian menoleh, melihat foto di pangkuan Arini. Wajahnya yang pucat berubah merah padam. Ia menyambar foto itu, meremasnya dalam kepalan tangan hingga urat-uratnya menonjol. Seseorang telah menyusup ke resepsi pernikahan mereka dan menyelipkan ancaman ini ke dalam tas Arini.

"Reza!" teriak Adrian, suaranya menggelegar memenuhi kabin mobil. "Putar balik! Ke Rumah Aman. Sekarang!"

"Siap, Pak!" Reza membanting setir.

Ban mobil memekik di aspal, membuat tubuh Arini terlempar ke arah Adrian. Pria itu menangkapnya, mendekapnya erat ke dada bidangnya. Kali ini Arini tidak melawan. Di tengah detak jantung Adrian yang memburu liar di telinganya, Arini menyadari satu hal mengerikan.

Musuh mereka bukan hanya mengintai dari jauh. Dia ada di dalam. Dia sedekat nadi.

Dan malam ini, bulan madu mereka adalah sebuah pelarian.