Menikahi Istri Kakakku - Penyesalan Arga - Bab 9

Penulis Yuan_bee
15 September 2025

Di layar, terpampang nama yang membuatnya tercekat, yaitu Novita - kekasihnya. Dengan helaan napas panjang dan penuh keraguan, ia menjawab panggilan itu dengan menekan tombol hijau di ponselnya.

“Arga, ke mana saja kamu? Beberapa hari ini nggak ada kabar sama sekali?” Suara Novita terdengar cemas sekaligus sedikit kesal.

Arga mengusap wajahnya, mencari alasan yang bisa ia lontarkan tanpa menimbulkan kecurigaan. “Maaf, Novita. Aku sibuk. Setelah kakak meninggal, ada banyak urusan yang harus aku bereskan di rumah,” ujarnya dengan nada pelan.

Ada jeda hening, lalu suara Novita kembali terdengar, lebih lembut kali ini. “Aku ngerti, tapi kamu jangan lama-lama di sana. Kuliahmu masih banyak tugas yang belum diselesaikan. Kamu harus segera balik ke universitas.”

Arga terdiam sejenak, pandangannya melirik ke arah ranjang. Nabila masih tertidur dengan tenang, wajahnya damai, seolah tidak ada beban sama sekali. Sebuah senyum samar muncul di bibir Arga.

“Iya, nanti aku segera menyusul ke sana untuk menggarap tugas. Tunggu saja, Vit,” jawabnya pelan.

Selesai menutup panggilan, Arga menatap kembali Nabila. Ia masih tertidur pulas, meski dalam keadaan tertidur, tapi wajah cantiknya masih terlihat membuat Arga tersenyum padanya.

Senyum itu kembali hadir di wajah Arga, meski hatinya dipenuhi perasaan yang rumit, antara tanggung jawab, kebohongan, dan cinta yang belum menemukan tempatnya.

‘Ya Tuhan, aku harus gimana? Kalau aku harus segera kembali ke Universitas, tapi gimana dengan Nabila di sini? Pasti dia tak mungkin aku pergi begitu saja.’

Sore pun menjelang petang, cahaya oranye dari jendela perlahan meredup. Nabila menggeliat pelan di ranjang, membuka matanya dengan wajah lelah. Di sampingnya, Arga masih asyik menatap layar ponsel, pura-pura sibuk agar tak terlihat gugup.

Meski ia buta, tapi bisa merasakan seseorang di sampingnya karena kepekaan perasaannya, yaitu keberadaan suaminya.

“Kamu nggak tidur?” suara Nabila serak dan pelan, bertanya pada sosok Dirga yang ia tahu masih berada di sampingnya.

Arga menoleh cepat, menyimpan ponselnya. “Oh, kamu sudah bangun? Iya, belum bisa tidur karena masih sore.” Ia tersenyum kaku, mencoba tetap tenang, meletakkan ponselnya di meja. Ia baru saja mengirim pesan pada Novita tentang tugas kuliahnya.

Nabila menatapnya sesaat, lalu memanggil lembut, “Dirga ....”

Panggilan itu membuat dada Arga sedikit bergetar, karena suaranya yang sedikit mendesah dan tatapannya sayu meski sebenarnya tak menatap apa-apa.

“Aku pengin mandi. Semenjak dari rumah sakit, aku belum mandi. Tapi, aku nggak mungkin bisa melakukannya sendiri. Tolong bantuin aku, ya?”

Arga terdiam. Seketika tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat. Pikiran dalam kepalanya kacau. Bagaimana bisa? Ia bukan kakaknya. Ia hanya berpura-pura menjadi Dirga di hadapan Nabila, demi menjaga perempuan itu tetap tenang. Tapi untuk memandikannya? Itu sudah melampaui batas. Begitulah yang ada di benaknya.

Dalam hati, Arga bergumam, ‘Astaga, kalau aku lakukan ini, aku sama saja mengkhianati kakakku. Tapi kalau aku menolak, Nabila pasti curiga. Lantas, apa yang harus kulakukan?’

Nabila menatapnya dengan wajah pasrah, jelas ia benar-benar membutuhkan bantuan. Sementara Arga hanya bisa duduk terpaku, seolah terjebak dalam peran yang semakin sulit ia jalani.

“Dirga, kamu ga mau kan badanku bau asem?”

Arga menarik napas dalam, lalu mencoba tersenyum lembut. “Sayang, mungkin lebih baik kalau Ibu saja yang bantu kamu mandi, ya? Aku takut kamu malah kesakitan kalau aku yang nggak bisa hati-hati.”

Nabila langsung menoleh dengan wajah kaget, lalu matanya berkaca-kaca. “Apa?! Dirga … kamu ini suamiku, kan? Kenapa harus Ibu? Bukannya itu tugasmu sebagai suami?”

Arga tercekat. “Bukan gitu maksudku, aku ....”

Belum sempat ia melanjutkan, Nabila sudah mengerucutkan bibir, lalu menahan tangis. “Kamu menolak? Padahal kita sudah sah jadi suami istri. Kalau kamu benar-benar cinta, kenapa nggak mau memandikan aku? Atau jangan-jangan ....” Ia menunduk, suaranya bergetar, “kamu nggak cinta sama aku, ya? Semenjak aku buta, kini hatimu berubah, gitu?”

Arga terdiam, kepalanya seolah dipukul dengan rasa bersalah. Perannya sebagai kakak yang menyamar semakin terasa berat. Hatinya campur aduk, antara ingin jujur dan ingin tetap menjaga Nabila agar tidak semakin hancur. Ia menyentuh kepalanya, merasa kebohongan itu sudah semakin jauh dan imbasnya akan ia dapatkan.

“Bukan gitu, Nabila, aku cinta banget sama kamu, aku tak mempermasalahkan kamu buta, hal itu tak menghalangi perasaan cintaku padamu. Aku cuma takut bikin kamu sakit, tanganku ini kasar.” Arga berusaha menenangkan, meski lidahnya kelu.

Nabila menatapnya dengan sorot kecewa yang menusuk dalam. “Kalau benar cinta, buktikan. Aku nggak butuh orang lain untuk membantuku mandi, aku cuma butuh kamu, suamiku yang paling aku cintai.”

“Baiklah kalau begitu, tapi maaf kalau tanganku sedikit kasar.”

“Dirga, kenapa kamu bilang kaya gitu? Setahuku, kamu orangnya softspoken, tak mungkin bertindak kasar padaku. Makanya, aku cinta kamu.”

“Oh, iya.”

“Masa kamu lupa? Tak sembarangan pria mendapatkan aku. Aku kan orangnya sok suci dan jual mahal. Kamu sendiri yang sudah effort banyak demi aku. Ketulusan hati dan cintamu membuatku memilihmu menjadi pendamping hidupku.”

“Maaf, Nabila. Aku agak sedikit lupa.”

“Iya, enggak apa-apa. Tapi, apa kamu enggak periksa saja ke dokter? Siapa tahu kamu kena gegar otak parah. Selama ini kamu berbeda dari sebelumnya lho.”

Mendengar perkataan Nabila seperti itu, Arga pun melongo. Memang, sudah sejak lama Nabila merasa kalau dia bukanlah Dirga. Namun, kenapa Nabila tak jujur jika sudah tahu kalau dia bukanlah suaminya?

“Iya, sudah aku periksa dan memang benturan itu menyebabkan gegar otak.”

“Oh, begitu ya. Tapi kamu enggak apa-apa kan? Enggak luka serius?’

“Iya, aku aman saja.”

Dengan langkah gontai, Arga akhirnya meraih tangan Nabila dan menuntunnya perlahan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar. Jantungnya terus berdegup kencang, sementara kepalanya penuh dengan rasa bersalah. Setiap kali Nabila menyebut namanya dengan panggilan “Dirga”, rasa bersalah itu semakin menusuk.

Setibanya di depan kamar mandi, Nabila berhenti sejenak dan berkata pelan, “Tolong ambilin aku baju ganti dulu, ya.”

Arga mengangguk cepat, seolah mendapatkan kesempatan untuk menjauh. Ia berjalan menuju lemari pakaian besar di sisi kamar. Saat pintunya dibuka, matanya langsung terbelalak, karena rak-rak penuh dengan koleksi baju Nabila, mulai dari dress panjang, blouse, piyama, sampai pakaian santai yang warnanya beraneka ragam.

‘Rupanya Nabila sudah membawa semua bajunya ke rumah ini, berarti perempuan ini memang mencintai kakakku dengan tulus dan punya rencana untuk hidup berdua selamanya. Namun, takdir berkata lain,' batin Arga.

Arga berdiri kaku, bingung harus memilih yang mana. “Eee … baju yang mana, Nabila? Di sini banyak banget,” tanyanya ragu, suaranya bergetar.

Dari dalam kamar mandi, Nabila menjawab santai, “Asal mudah dipakai aja. Nggak usah yang ribet-ribet. Ntar kamu malah kerepotan, ia kan?”

“Baik, aku carikan yang simpel aja.”

Arga menarik napas lega, lalu mulai mengamati. Tangannya sempat gemetar saat menyentuh tumpukan kain lembut itu.

‘Astaga, kenapa aku harus ada di posisi ini?’ pikirnya yang sebenarnya menyesal mendapatkan peran sebagai suami bohongan.

Setelah menghela napas panjang, ia akhirnya memilih sebuah piyama berbahan katun dengan kancing depan yang sederhana, tapi mudah dipakai.

Ia menggenggam baju itu, lalu melangkah kembali ke arah kamar mandi dengan perasaan campur aduk ....