Mobil sedan hitam itu melaju membelah jalanan Jakarta layaknya peluru yang lepas dari selongsong. Arini terlempar ke sisi pintu saat Reza membanting setir ke kiri, menghindari sebuah truk ekspedisi yang melintas terlalu lambat. Namun, tangan kekar Adrian lebih cepat. Pria itu menarik pinggang Arini, menahan tubuhnya agar tidak menghantam kaca jendela.
Arini menepis tangan itu kasar. Napasnya memburu, berpacu dengan detak jantung yang masih menggila akibat teror di butik tadi.
"Jangan sentuh aku," desis Arini. Suaranya serak, sisa tangis yang ia tahan mati-matian.
Adrian tidak menjawab. Rahangnya mengeras, menampilkan garis otot yang tegang di bawah kulit wajahnya yang pucat karena amarah. Ia menarik tangannya kembali, namun matanya tetap waspada, memindai spion tengah dan samping dengan paranoia yang belum pernah Arini lihat sebelumnya.
"Kecepatan penuh, Reza. Jangan biarkan ada celah satu detik pun," perintah Adrian dingin.
"Baik, Pak," sahut Reza dari balik kemudi. Wajah asisten itu sama tegangnya, fokus penuh pada aspal hitam di depan.
Arini memeluk tas tangannya, benda satu-satunya yang masih terasa miliknya di tengah kegilaan ini. Di dalam tas itu, kartu hitam dari 'M' terasa panas, seolah membakar kulit menembus lapisan kulit sintetis clutch tersebut. Bayangan foto polaroid yang diremas-remas Adrian, foto dirinya yang sedang berganti pakaian, kembali menari di pelupuk mata.
Seseorang telah masuk ke sana. Seseorang melihatnya. Seseorang yang menginginkan nyawanya.
"Kita mau ke mana?" tanya Arini. Ia benci betapa lemah suaranya terdengar. "Ini bukan jalan ke apartemenmu."
"Apartemen sudah tidak aman," jawab Adrian tanpa menoleh. Ia sibuk mengetik sesuatu di ponselnya dengan gerakan ibu jari yang cepat dan agresif. "Reza, aktifkan protokol lockdown di Safe House. Pastikan tim keamanan menyisir radius dua kilometer sebelum kita sampai."
"Safe House?" Arini tertawa getir. Tawa yang terdengar sumbang di kabin mobil yang hening mencekam. "Kamu punya rumah persembunyian? Tentu saja kau punya. Apa lagi yang kau sembunyikan, Adri? Mayat di halaman belakang?"
Adrian membeku. Ponsel di tangannya turun perlahan. Ia menoleh, menatap Arini dengan sorot mata yang sulit diartikan, campuran antara rasa bersalah, kemarahan, dan ketakutan yang berusaha ia kubur dalam-dalam.
"Diam, Arini. Simpan tenagamu. Kau gemetar."
Arini menunduk. Benar. Tangannya gemetar hebat. Adrenalin yang tadi memuncak kini surut, meninggalkan rasa dingin yang menusuk tulang. AC mobil terasa seperti udara kutub. Giginya bergemeretuk tanpa sadar.
Tanpa kata, Adrian melepas jas hitamnya, jas yang tadi sempat ia kenakan kembali saat keluar dari butik dan melemparkannya ke pangkuan Arini. Aroma sandalwood dan tembakau mahal menguar, aroma khas Adrian yang entah kenapa, di tengah situasi hidup dan mati ini, menawarkan sedikit rasa aman yang membingungkan.
"Pakai," perintahnya singkat.
Arini ingin melempar jas itu ke wajah sombong Adrian. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak butuh belas kasihannya. Tapi tubuhnya mengkhianati logikanya. Ia butuh kehangatan itu. Dengan tangan kaku, Arini menarik jas besar itu menutupi bahunya. Kehangatan sisa tubuh Adrian melingkupinya, seolah pria itu sedang memeluknya dari belakang.
Mobil berbelok tajam memasuki sebuah gerbang baja tinggi di kawasan perbukitan yang sepi di pinggiran Jakarta Selatan. Ini bukan perumahan elite biasa. Dinding beton setinggi tiga meter dengan kawat berduri dan kamera CCTV di setiap sudut menyambut mereka.
Begitu mobil berhenti di depan sebuah bangunan modern minimalis yang tampak seperti benteng futuristik, Adrian langsung membuka pintu. Ia tidak menunggu Reza membukakan pintu untuknya.
"Turun," Adrian mengulurkan tangan.
Arini mengabaikan uluran tangan itu dan keluar sendiri. Kakinya goyah saat menyentuh tanah. Dunia terasa berputar.
"Reza, amankan perimeter. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar tanpa izinku. Bahkan Kakek sekalipun," titah Adrian tegas.
"Siap, Pak."
Adrian mencengkeram lengan atas Arini, setengah menuntun, setengah menyeretnya masuk ke dalam rumah. Interior rumah itu indah, didominasi marmer hitam dan kaca tebal, tapi atmosfernya sedingin kamar mayat. Tidak ada foto, tidak ada hiasan personal. Hanya perabot mahal yang fungsional.
Adrian membawa Arini ke ruang tengah, lalu mendudukkannya di sofa kulit berwarna abu-abu gelap. Pria itu berjalan menuju minibar, menuang cairan berwarna kuning lulur itu ke dalam gelas kristal, dan menenggaknya sekali teguk. Ia menuang satu gelas lagi, lalu menyodorkannya pada Arini.
"Minum. Ini akan menenangkan sarafmu."
Arini menatap gelas itu, lalu menatap Adrian. Kemarahannya yang tadi tertahan kini meledak, menghancurkan bendungan rasa takutnya.
"Aku tidak butuh alkoholmu!" Arini berdiri, menepis gelas itu hingga isinya tumpah membasahi karpet mahal di bawah kaki mereka. "Aku butuh penjelasan! Siapa 'M'? Kenapa dia mengirim foto itu? Dan gaun itu... gaun itu milik Clarissa, kan?"
Nama itu menggantung di udara seperti bom waktu.
Adrian memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang lewat hidung. Saat ia membuka mata, tatapannya tajam, mengunci Arini di tempatnya.
"Dari mana kau tahu nama itu?" suaranya rendah, berbahaya.
"Kau pikir aku bodoh?" Arini melangkah maju, menantang dominasi pria di hadapannya. "Internet tidak pernah lupa, Adrian Mahardika. Tunanganmu yang meninggal kecelakaan lima tahun lalu. Tapi ancaman di butik tadi... itu bukan tentang kecelakaan, kan? Seseorang membunuhnya. Dan sekarang, orang yang sama mengincarku karena kau memaksaku memakai 'kulit' orang mati!"
Adrian membanting gelas kosong di tangannya ke meja. Suara kristal beradu dengan marmer menggema nyaring, membuat Arini tersentak mundur.
"Ya!" bentak Adrian. Bahunya naik turun, napasnya menderu. Pertahanannya runtuh. "Ya, itu gaun Clarissa! Dan ya, dia dibunuh! Puas kau?"
Keheningan yang menyusul teriakan itu jauh lebih mengerikan daripada suara bentakan Adrian. Arini terpaku. Ia melihat retakan pada topeng sempurna sang CEO. Di balik tatapan dingin itu, ada luka yang menganga lebar, luka yang belum kering selama lima tahun.
Adrian memijat pelipisnya, tampak frustrasi. "Mereka menyebutnya kecelakaan. Rem blong. Jalan licin. Tapi aku tahu... aku tahu seseorang menyabotasenya. Dan selama lima tahun aku mencari bukti, 'M' selalu satu langkah di depan."
Adrian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Arini bisa melihat butir keringat di dahi pria itu. Aura dominasinya kini bercampur dengan keputusasaan yang rawat.
"Aku menikahimu untuk melindungi bisnis Kakek, itu benar," suara Adrian melembut, hampir seperti bisikan. "Tapi aku tidak pernah berniat menjadikanmu umpan. Aku tidak tahu mereka akan bergerak secepat ini. Aku pikir aku bisa mengendalikan situasi."
"Kau salah," lirih Arini. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos membasahi pipi. "Kau tidak bisa mengendalikan segalanya, Adri. Kau menyeretku masuk ke dalam nerakamu."
"Dan sekarang kau sudah di sini," potong Adrian cepat. Tangannya terulur, kali ini bukan untuk mencengkeram, tapi menangkup wajah Arini. Ibu jarinya mengusap air mata di pipi Arini dengan gerakan yang mengejutkan lembutnya. Kontras dengan kasar sikapnya tadi.
Sentuhan itu menyengat. Kulit Adrian terasa panas di kulit Arini yang dingin. Arini ingin menolaknya, tapi tatapan Adrian menahannya. Mata itu... mata yang biasanya sekeras baja, kini menatapnya seolah Arini adalah satu-satunya hal nyata di dunia yang gila ini.
"Dengar, Rini," ucap Adrian, menggunakan nama panggilannya untuk pertama kali tanpa nada sarkasme. "Mulai detik ini, kontrak kita berubah. Ini bukan lagi soal bisnis atau warisan. Ini soal nyawa. Kau target mereka karena kau bersamaku."
"Lalu aku harus apa?" Arini terisak pelan. "Lari?"
"Tidak," Adrian menggeleng tegas. Tangannya turun ke bahu Arini, meremasnya pelan. "Kau tidak akan lari. Karena jika kau lari, mereka akan memburumu dengan lebih mudah. Tempat teraman bagimu sekarang adalah dalam jarak pandangku. Dua puluh empat jam."
Arini menatapnya tidak percaya. "Apa maksudmu?"
"Maksudku," Adrian menegakkan tubuh, kembali menjadi CEO yang otoriter, namun kali ini ada protektivitas posesif dalam nadanya. "Mulai malam ini, kau tidak tidur di kamar tamu. Kau tidur di kamarku."
Mata Arini membelalak. "Kau gila! Itu tidak ada dalam kontrak!"
"Persetan dengan kontrak!" Adrian menyambar pergelangan tangan Arini, menariknya menuju tangga melingkar yang mengarah ke lantai dua. "Di kamar tamu ada jendela besar yang menghadap ke hutan. Terlalu berisiko untuk ditembak runduk. Kamarku ada di pusat bangunan, kaca anti peluru level lima, dan satu-satunya akses masuk harus melewati pemindai biometrikku."
Arini meronta, mencoba melepaskan diri saat mereka menaiki tangga. "Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu! Kau pria arogan, manipulatif, dan..."
Adrian berhenti mendadak di anak tangga terakhir, membuat Arini menabrak punggungnya. Pria itu berbalik, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Arini bisa mencium aroma mint dari napas Adrian, bercampur dengan bahaya.
"Aku tidak memintamu tidur denganku dalam artian itu, Arini. Jangan terlalu percaya diri," ucap Adrian datar, namun matanya menyapu bibir Arini sekilas sebelum kembali menatap matanya. "Tapi jika kau lebih memilih tidur di kamar tamu dan menunggu 'M' mengirimimu 'hadiah' lagi lewat jendela... silakan."
Arini terdiam. Argumennya mati di ujung lidah. Bayangan penyusup di butik tadi kembali menghantui. Rasa takut itu jauh lebih besar daripada gengsinya.
Adrian melihat keraguan itu dan memanfaatkannya. Ia kembali menarik Arini menuju pintu ganda di ujung lorong.
Kamar utama itu luas, gelap, dan maskulin. Sebuah ranjang king size mendominasi ruangan. Adrian melepaskan tangan Arini, lalu berjalan mengunci pintu. Bunyi klik dari kunci otomatis terdengar seperti vonis penjara.
"Kamar mandi ada di sebelah kiri. Ada baju ganti di lemari, milikku, tapi cukup bersih. Mandilah. Kau bau keringat dingin dan ketakutan," Adrian mulai melonggarkan dasinya, melepas kancing teratas kemejanya dengan gerakan lelah.
Arini berdiri mematung di tengah ruangan. "Lalu kau?"
Adrian menoleh, menatap Arini lekat-lekat. Ia berjalan perlahan mendekat, membuat Arini mundur selangkah hingga punggungnya membentur dinding dingin. Adrian mengurung Arini dengan kedua tangannya di dinding, mencondongkan tubuh hingga Arini bisa merasakan panas tubuhnya.
"Aku akan berjaga," bisik Adrian tepat di telinga Arini, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Karena malam ini, perburuan mereka baru saja dimulai. Dan aku... aku akan menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang berani menyentuh milikku."
Mata Adrian menggelap, bukan karena nafsu, tapi karena insting purba untuk melindungi kepemilikan. Dan untuk pertama kalinya, Arini menyadari posisi berbahaya di mana ia berada. Bukan hanya karena ancaman pembunuh di luar sana, tapi karena pria di hadapannya ini.
Pria yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai pelindung sekaligus sipir penjaranya.
Jantung Arini berdegup kencang, kali ini bukan karena takut pada 'M'. Tapi karena kedekatan fisik yang menyesakkan ini, dan fakta bahwa malam ini, ia akan terkurung dalam satu ruangan dengan Adrian Mahardika.
"Sana mandi," Adrian menjauhkan diri, memutus ketegangan itu secara sepihak, lalu berjalan menuju jendela besar yang tertutup tirai tebal, mengintip sedikit ke kegelapan di luar.
Arini memegang dadanya, berusaha menormalkan napas. Ia menatap punggung lebar Adrian yang berdiri tegak melawan dunia. Di luar sana ada musuh yang tidak terlihat. Di dalam sini, ada musuh yang terlalu dekat.
Dan Arini tidak tahu mana yang lebih berbahaya bagi jantungnya.