Rahasia Adrian

Penulis djoedo
24 January 2026

Cahaya layar ponsel itu menusuk mata, namun kalimat yang tertera di sana jauh lebih menyakitkan daripada silau apa pun.

“Dia tidak memberitahumu tentang istri pertamanya, kan?”

Jantung Arini berhenti berdetak sesaat. Ia menahan napas, jemarinya mencengkeram ponsel pintar keluaran terbaru itu hingga buku-buku jarinya memutih. Istri pertama?

Dalam draf kontrak setebal lima puluh halaman yang ia baca berkali-kali sampai matanya perih dan kepalanya berdenyut, tidak ada satu pun klausul yang menyebutkan tentang pernikahan sebelumnya. Adrian Mahardika adalah bujangan. Statusnya di semua majalah bisnis, di semua profil perusahaan, bahkan di mata hukum, adalah single. Satu-satunya wanita yang pernah dikaitkan dengannya adalah tunangannya yang meninggal lima tahun lalu dalam kecelakaan tragis.

Apakah pengirim pesan ini berbohong? Atau tunangan yang meninggal itu sebenarnya sudah dinikahi secara siri? Atau ada wanita lain?

"Kenapa kau masih berdiri di situ?"

Suara bariton yang rendah dan berat memecah keheningan kamar, menyentak Arini kembali ke realitas. Ia nyaris menjatuhkan ponselnya. Dengan gerakan refleks yang didorong oleh kepanikan, Arini menekan tombol kunci layar dan menyembunyikan benda pipih itu di balik punggungnya.

Adrian berdiri di dekat walk-in closet, baru saja keluar setelah mengganti setelan jas mahalnya. Pria itu kini mengenakan celana tidur sutra hitam dan kaus polos berwarna abu-abu gelap yang mencetak jelas otot-otot bahunya. Patek Philippe yang biasanya melingkar angkuh di pergelangan tangannya sudah lenyap, diletakkan di atas nakas marmer di sisi tempat tidur.

Tanpa jam tangan dan jas itu, Adrian terlihat sedikit lebih manusiawi. Sedikit lebih... bisa disentuh. Namun tatapan matanya tetap sama: sedingin es di kutub utara, tajam menelanjangi apa pun yang dilihatnya.

"Aku... aku hanya mengecek jam," dusta Arini, suaranya terdengar serak. Ia berdeham pelan untuk menormalkan tenggorokannya yang kering. "Besok MUA datang pagi sekali, kan?"

Adrian tidak langsung menjawab. Mata elang pria itu menyipit, menatap Arini dengan intensitas yang membuat bulu kuduk meremang. Ia berjalan mendekat. Langkah kakinya senyap di atas karpet tebal yang melapisi lantai marmer dingin itu.

"Berikan ponselmu."

Itu bukan permintaan. Itu perintah.

Arini mundur selangkah, punggungnya menabrak tiang ranjang king-size yang menjulang di belakangnya. "Kenapa? Ini ponselku. Kau yang memberikannya padaku."

"Dan aku juga yang membayar tagihannya, membelikan pulsanya, dan mengatur sistem keamanannya," balas Adrian dingin. Ia kini berdiri tepat di hadapan Arini, baunya menguar, campuran sabun mahal beraroma sandalwood dan feromon maskulin yang mengintimidasi. "Ponsel itu terhubung dengan server pribadiku. Aku tahu ada pesan masuk yang lolos dari firewall semenit yang lalu."

Arini menelan ludah. Tentu saja. Pria ini adalah Adrian Mahardika. Dia tidak mungkin memberikan akses komunikasi tanpa memasang tali kekang. Arini merasa seperti boneka yang benangnya baru saja ditarik kasar.

Dengan tangan gemetar, Arini menyerahkan ponsel itu.

Adrian menyambar benda itu, membuka kuncinya dengan kode yang tentu saja sudah ia ketahui, dan membaca pesan tersebut. Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi, kali ini menunjukkan retakan kecil. Rahangnya mengeras. Urat di pelipisnya berdenyut samar.

Keheningan di antara mereka bukan lagi mencekik, tapi mematikan. Seperti udara sesaat sebelum bom meledak.

"Siapa..." Arini memberanikan diri, suaranya hampir berbisik. "Siapa istri pertamamu?"

Adrian membanting ponsel itu ke atas kasur. Pantulannya membuat Arini tersentak.

"Itu bukan urusanmu," geram Adrian. Suaranya rendah, berbahaya, seperti geraman harimau yang terganggu tidurnya. "Tugasmu di sini adalah menjadi Arini Mahardika di depan kamera. Menjadi istri yang tersenyum, melambai, dan terlihat bahagia. Masa laluku, siapa aku sebelum ini, dan apa yang aku kubur, tidak termasuk dalam nilai kontrak 50 miliar itu."

"Tapi pesan itu..."

"Pesan itu hanyalah sampah. Upaya putus asa dari orang yang ingin melihat kita gagal," potong Adrian cepat. Ia berbalik, memunggungi Arini, berjalan menuju sisi tempat tidur sebelah kiri. "Lupakan. Hapus dari ingatanmu. Kalau kau ingin ayahmu selamat dan hidup tenang di rumah sakit, kau akan berhenti bertanya."

Ancaman itu lagi. Selalu tentang ayahnya. Arini merasakan panas yang menjalar di dadanya. Rasa campuran antara amarah dan ketidakberdayaan yang campur aduk. Ia ingin berteriak, melempar bantal sutra itu ke wajah sombong Adrian, tapi ia tahu itu hanya akan memperburuk situasi. Ia ada di kandang singa, dan memprovokasi singa saat lapar adalah tindakan bunuh diri.

Adrian naik ke atas tempat tidur, menarik selimut duvet tebal sebatas pinggang, lalu bersandar pada headboard empuk sambil meraih tabletnya. Ia bersikap seolah-olah Arini tidak ada di sana. Seolah-olah Arini hanyalah perabot tambahan yang sedikit mengganggu di kamar safe house-nya.

Arini masih berdiri mematung di sisi lain tempat tidur. Ia menatap hamparan kasur luas itu dengan ragu. Ini malam pertama mereka di "rumah" ini. Di hotel saat resepsi, mereka memiliki kamar dengan dua tempat tidur terpisah di suite keluarga karena Kakek Darmawan menyewa satu lantai. Tapi di sini? Di safe house Adrian?

Hanya ada satu tempat tidur.

"Kau mau tidur sambil berdiri?" sindir Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet yang menampilkan grafik saham.

"Aku... aku akan tidur di sofa," gumam Arini, melirik sofa beludru abu-abu di sudut ruangan dekat jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu Jakarta.

"Jangan bodoh," sahut Adrian tajam. Jari telunjuknya mengetuk layar tablet dengan kasar. "Pembantu akan datang membersihkan kamar ini jam 5 pagi, sebelum tim MUA masuk. Kalau mereka melihat kau tidur di sofa, atau melihat bantal dan selimut di sana, mereka akan melapor pada Kakek. Kau mau Kakek terkena serangan jantung karena mengira pernikahan cucunya bermasalah di hari pertama?"

Arini menggigit bibir bawahnya. Logika pria ini selalu tak terbantahkan, dan itu menyebalkan.

"Tapi tempat tidur ini..."

"Cukup luas untuk tiga orang, Arini. Kecuali kau punya kebiasaan menendang saat tidur, kita tidak akan bersentuhan." Adrian menepuk sisi kosong di sebelahnya dengan tidak sabar. "Naik. Matikan lampu di sisimu. Aku butuh membaca laporan ini."

Dengan langkah berat, Arini melepas sandal rumahnya. Ia merasa konyol dan kecil mengenakan piyama sutra licin yang harganya mungkin setara dengan biaya makan keluarganya selama sebulan. Ia merangkak naik ke sisi kanan tempat tidur, menjaga jarak sejauh mungkin dari Adrian.

Kasur itu memang sangat luas. Ada jarak hampir setengah meter yang memisahkan tubuh mereka. Namun, Arini tetap bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Adrian. Kehadiran pria itu begitu dominan, mengisi seluruh ruangan, membuat oksigen terasa tipis.

Arini menarik guling panjang, meletakkannya di tengah-tengah mereka sebagai benteng pertahanan.

"Apa itu?" Adrian melirik guling tersebut dengan alis terangkat satu.

"Batas suci," jawab Arini ketus, membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai sebatas leher. Ia memunggungi Adrian, menghadap ke arah jendela yang menampilkan langit malam Jakarta yang kelam. "Kau punya wilayahmu, aku punya wilayahku. Jangan melewati garis ini."

Terdengar dengusan sinis dari arah belakang punggungnya. "Percaya diri sekali kau. Kau pikir aku akan tergoda menyentuh wanita yang memakai piyama kedodoran dan berbau minyak kayu putih?"

Arini memejamkan mata rapat-rapat, menahan keinginan untuk membalas. Sabar, Arini. Sabar. Ini hanya untuk satu tahun. 365 hari. Sekarang tinggal 364 hari.

Suara klik terdengar, dan lampu utama kamar padam, menyisakan lampu baca kecil di sisi Adrian yang masih menyala.

Keheningan kembali menyelimuti kamar itu. Namun kali ini, keheningan itu tidak kosong. Keheningan itu penuh dengan pertanyaan yang berputar-putar di kepala Arini.

Istri pertama.

Siapa dia? Kenapa Adrian bereaksi begitu defensif? Jika itu hanya isu murahan, Adrian akan menertawakannya atau mengabaikannya dengan arogansi khasnya. Tapi tadi... Arini melihat kilatan emosi di mata Adrian. Ada rasa sakit, ada kemarahan, dan ada... ketakutan?

Apa yang ditakuti oleh seorang Adrian Mahardika?

Menit berganti jam. Arini tidak bisa tidur. Tubuhnya lelah, tapi otaknya bekerja terlalu keras. Ia mendengar napas Adrian yang perlahan menjadi teratur. Pria itu sudah tidur.

Arini memberanikan diri untuk berbalik perlahan. Dalam remang cahaya lampu tidur yang lupa dimatikan Adrian, ia mengamati wajah "suaminya".

Dalam tidur, garis-garis keras di wajah Adrian melunak. Kerutan di kening yang selalu muncul saat ia berpikir atau marah, kini menghilang. Bulu matanya panjang, menyentuh pipi. Jika dilihat seperti ini, Adrian terlihat seperti pria biasa yang kelelahan memikul beban dunia di pundaknya. Bukan monster kapitalis yang ingin menghancurkan hidup Arini.

Tanpa sadar, tangan Arini terulur sedikit, ingin menyingkirkan anak rambut yang jatuh di dahi Adrian. Namun, ia berhenti di udara.

Jangan bodoh, Arini. Jangan tertipu wajah tidur ini. Dia adalah orang yang sama yang menyebutmu "tunangan gembel" dan membakar baju-bajumu.

Arini menarik tangannya kembali. Ia menghela napas panjang, bersiap untuk memejamkan mata dan memaksa dirinya masuk ke alam mimpi.

Tiba-tiba, ponsel Adrian yang tergeletak di nakas bergetar.

Hanya getaran singkat. Bukan panggilan telepon, tapi notifikasi pesan.

Layar ponsel itu menyala dalam kegelapan, cukup terang untuk menarik perhatian Arini. Posisi ponsel itu sedikit miring menghadap ke arahnya. Arini tidak bermaksud mengintip, sungguh. Tapi matanya menangkap nama pengirim yang muncul di layar kunci.

Bukan nomor tidak dikenal. Bukan juga nama rekan bisnis.

Nama yang tertera di sana hanya satu kata: ERWIN.

Arini mengerutkan kening. Erwin? Bukankah itu nama saudara tiri Adrian yang katanya jarang terlibat dalam urusan perusahaan pusat? Reza pernah menyebut nama itu sekilas saat memberikan briefing tentang silsilah keluarga Mahardika.

Pesan di bawah nama itu pendek, namun efeknya seperti siraman air es ke wajah Arini.

“Nikmati mainan barumu, Kak. Tapi ingat, tanggal 15 sebentar lagi. Kau yakin dia tidak akan berakhir sama seperti Sarah?”

Sarah.

Nama itu.

Jadi, istri pertama itu bernama Sarah? Atau Sarah adalah tunangan yang meninggal? Dan apa yang dimaksud dengan "berakhir sama"?

Darah Arini berdesir. Rasa dingin merambat dari ujung kaki hingga ke kepala. Ancaman yang ia terima tadi bukan sekadar teror kosong. Ada pola di sini. Ada sejarah yang berulang. Dan sekarang, Arini berada tepat di tengah pusaran badai yang ia tidak ketahui asal-usulnya.

Arini menatap Adrian yang masih tertidur pulas. Pria ini tidur dengan damai sementara ada seseorang di luar sana yang sedang menghitung hari.

Tanggal 15. Itu tiga hari lagi.

Apa yang akan terjadi pada tanggal 15?

Sebelum Arini bisa memproses rasa takutnya, Adrian bergerak dalam tidurnya. Pria itu mengerang pelan, keningnya berkerut, seolah sedang bermimpi buruk. Tangannya menyentak, mencengkeram sprei dengan kuat.

"Jangan..." Adrian bergumam lirih, suaranya pecah dan penuh penderitaan. "Jangan pergi... Sarah..."

Napas Arini tercekat. Ia membeku di tempatnya.

Tepat saat itu, suara derit halus terdengar dari arah pintu kamar tidur.

Sangat pelan. Hampir tak terdengar jika suasana tidak sehening kuburan.

Mata Arini membelalak menatap gagang pintu yang terbuat dari emas itu. Gagang itu bergerak turun perlahan.

Ada seseorang di luar.

Arini tahu Adrian sudah mengunci pintu itu dengan sistem double lock digital dari dalam sebelum tidur. Tidak ada yang bisa membukanya kecuali Adrian atau... seseorang yang memiliki kunci master.

Klik.

Kunci terbuka.

Jantung Arini berpacu gila-gilaan. Ia ingin membangunkan Adrian, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Pintu perlahan terdorong ke dalam, membuka celah gelap yang menganga menuju lorong yang gulita.

Siapa yang berani masuk ke kamar pribadi Adrian Mahardika jam dua pagi?

Dari celah pintu itu, tidak ada sosok yang masuk. Hanya ada sesuatu yang menggelinding pelan di lantai marmer, berhenti tepat di kaki tempat tidur, terkena bias cahaya lampu tidur.

Sebuah boneka pengantin wanita tua yang lusuh, dengan gaun putih yang ternoda bercak merah menyerupai darah.

Dan di leher boneka itu, terkalung sebuah cincin. Cincin yang sangat mirip dengan yang kini melingkar di jari manis Arini.

Arini membekap mulutnya sendiri agar tidak menjerit, sementara Adrian di sebelahnya masih terjebak dalam mimpi buruknya, memanggil nama wanita yang sudah mati.

Safe house ini tidak sepenuhnya aman. Mereka sudah ada di dalam.