Romansa #Romansa CEO #CEO

Badai di dalam Kamar

Penulis djoedo
24 January 2026

Safe house ini tidak sepenuhnya aman. Mereka sudah ada di dalam.

Kalimat itu berulang-ulang di kepalaku seperti kaset rusak, berdenyut seiring dengan detak jantungku yang menggila. Aku masih mematung di sisi tempat tidur, satu tangan membekap mulutku sendiri, menahan jeritan yang sudah sampai di tenggorokan.

Di lantai, tepat di kaki ranjang tempat Adrian tertidur gelisah, boneka pengantin itu tergeletak. Gaun putihnya yang kusam ternoda cairan merah pekat, mungkin cat, mungkin darah, aku tidak berani memastikan—dan cincin yang melingkar di jari plastiknya memantulkan cahaya redup dari lampu tidur. Kilau itu mengejekku. Bentuknya terlalu mirip dengan cincin berlian yang kini terpasang di jari manisku.

Erwin. Nama itu melintas cepat. Atau mungkin orang lain? Siapa pun itu, mereka baru saja masuk ke kamar tidur CEO Mahardika Group yang konon memiliki sistem keamanan setara benteng, meletakkan teror ini, dan menghilang tanpa suara.

Kakiku gemetar hebat saat aku memaksanya melangkah. Lantai marmer terasa seperti es yang menusuk telapak kakiku yang telanjang. Aku tidak boleh membiarkan Adrian melihat ini. Bukan karena aku ingin melindunginya, tapi karena aku takut pada reaksinya. Jika dia bangun dan melihat ancaman vulgar ini, dia bisa saja mengamuk, membatalkan kontrak, atau melakukan sesuatu yang gegabah yang justru membahayakan nyawa Ayah. Atau lebih buruk lagi, dia mungkin menuduhku yang merekayasa semua ini untuk mencari perhatian.

Dengan napas tertahan, aku berjongkok. Bau besi yang amis menguar tipis dari boneka itu. Perutku mual. Tanganku gemetar saat meraih kain gaun boneka yang kaku itu. Rasanya menjijikkan, seolah aku sedang memegang bangkai tikus.

"Ssshh... Sarah..."

Suara Adrian memecah keheningan, membuatku tersentak hebat hingga boneka itu hampir terlepas dari tanganku.

Aku menoleh cepat ke arah ranjang. Adrian tidak bangun. Dia masih terpejam, tapi keningnya berkerut dalam, seolah sedang menahan sakit fisik yang luar biasa. Tangannya mencengkeram seprai sutra dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membasahi pelipisnya, membuat rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan menempel di dahi.

"Jangan... jangan pergi..." rintihnya lagi. Suaranya pecah, terdengar begitu rapuh dan putus asa. Sangat kontras dengan bariton dingin dan angkuh yang biasa kudengar saat dia memberiku perintah.

Rasa dingin merambati punggungku. Jadi ini yang dimaksud Erwin? Sarah. Hantu masa lalu yang bahkan tidak membiarkan Adrian istirahat dalam tidurnya.

Di luar, angin mulai menderu. Tirai jendela yang berat sedikit bergoyang meski tertutup rapat. Gemuruh guntur terdengar di kejauhan, rendah namun mengancam, menandakan badai tropis sedang menuju ke arah kami.

Aku harus cepat.

Aku membungkus boneka mengerikan itu dengan handuk kecil yang kuambil dari meja rias, lalu berlari sambil berjinjit menuju koperku di sudut ruangan. Aku menyembunyikannya di bagian paling bawah, di bawah tumpukan pakaian dalam dan blazer kerjaku. Nanti. Aku akan memikirkan cara membuangnya nanti. Yang penting benda itu lenyap dari pandangan mata.

Saat aku kembali ke tempat tidur, guntur meledak di langit. Kali ini suaranya keras, menggelegar tepat di atas atap safe house.

JGEEERRR!

Dampak suaranya instan.

Adrian tersentak bangun, atau setidaknya setengah bangun. Dia bangkit duduk dengan napas memburu, matanya terbuka lebar namun kosong, tidak benar-benar melihat ruangan ini. Pupilnya membesar, hitam pekat ditelan kepanikan.

"Tidak! Tiarap!" teriaknya serak. Dia menepis guling pembatas kami hingga menggelinding jatuh ke lantai.

Aku terlonjak kaget, mundur selangkah. "Adrian? Adri?"

Dia tidak mendengarku. Napasnya pendek-pendek, terengah-engah seperti orang yang baru saja lolos dari tenggelam. Dia menutup telinganya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat. Postur tubuhnya yang besar dan intimidatif kini menyusut, melengkung ke dalam seolah mencoba melindungi organ vitalnya dari serangan tak kasat mata.

Hujan mulai turun deras, menghantam kaca jendela dengan brutal. Suara air yang menderu sepertinya memicu sesuatu di dalam otaknya.

"Bunyinya... hentikan bunyinya..." Adrian bergumam racau, suaranya bergetar. "Mobilnya... Sarah... hujan..."

Aku teringat berkas profil yang pernah kubaca sekilas di kantor Ayah dulu, rumor yang beredar di kalangan pebisnis konstruksi. Adrian Mahardika kehilangan tunangannya dalam kecelakaan mobil saat badai besar. Suara benturan. Hujan lebat. Itu pemicu PTSD-nya.

Melihatnya hancur seperti ini, di depan mataku, membuat rasa takutku terhadap penyusup tadi perlahan tergeser oleh perasaan lain. Iba. Dan sedikit rasa bersalah karena telah menghakiminya sebagai robot tanpa hati. Ternyata di balik setelan Armani dan arogansi itu, ada jiwa yang retak parah.

Aku memberanikan diri mendekat. Ranjang berguncang saat aku naik ke sisinya.

"Adrian, hei," panggilku lembut, berusaha tidak membuatnya kaget.

Dia menepis tanganku kasar saat aku mencoba menyentuh bahunya. "Jangan sentuh! Panas... apinya panas..."

Dia berhalusinasi. Dia terjebak dalam memori kecelakaan itu.

Tanpa berpikir panjang, aku meraih kedua tangannya yang menutupi telinga, memaksanya turun. Kulitnya sedingin es, namun telapak tangannya basah oleh keringat.

"Adrian, lihat aku!" seruku, sedikit lebih tegas namun tetap menjaga nada suaraku agar tidak melengking. "Kamu ada di kamar. Kamu aman. Ini aku, Arini."

Mata itu menatapku liar, mencari fokus. Napasnya masih memburu, dadanya naik turun dengan ritme yang menyakitkan.

"Sarah?" bisiknya. Tatapannya melembut seketika, penuh kerinduan yang menyayat hati. "Kau kembali?"

Hatiku mencelos. Rasanya aneh, dipandang dengan cinta sebesar itu, tapi tahu bahwa tatapan itu bukan untukku. Aku hanya bayangan, pengganti sementara, atau mungkin dalam delusinya, aku adalah hantu yang dia rindukan.

"Bukan," jawabku pelan, menelan rasa pahit yang tiba-tiba muncul. "Aku Arini. Istrimu."

Kata 'istri' terasa asing di lidahku, terasa salah dalam situasi ini, tapi hanya itu identitas yang bisa kuberikan padanya sekarang.

Guntur kembali menggelegar, lebih keras dari sebelumnya. Adrian tersentak, refleks menarik tubuhnya menjauh, kembali ke mode panik. Dia seperti anak kecil yang ketakutan akan monster di bawah tempat tidur.

Naluri perempuanku mengambil alih. Persetan dengan kontrak. Persetan dengan aturan 'dilarang bersentuhan'. Dia butuh pegangan, atau dia akan hancur malam ini.

Aku merengkuh tubuh tegap itu ke dalam pelukanku. Awalnya kaku. Otot-otot punggungnya menegang seperti batu di bawah telapak tanganku. Dia jauh lebih besar dariku, membuatku harus berlutut di kasur untuk bisa mendekap kepalanya ke dadaku.

"Ssshh... cuma hujan, Adri. Cuma hujan," bisikku sambil mengusap rambutnya yang basah oleh keringat. Aku menggunakan nada yang sama seperti yang biasa kugunakan untuk menenangkan Ayah saat kesakitan pasca kemoterapi. Irama yang konstan, menenangkan.

"Arini?" Suaranya teredam di bahuku, tapi getarannya terasa di kulitku. Kesadarannya mulai kembali, perlahan menyeruak dari kabut mimpi buruk.

"Ya, aku di sini. Aku di sini," ujarku berulang-ulang, seperti mantra.

Perlahan, sangat perlahan, ketegangan di bahunya mulai mencair. Tangannya yang tadi mengepal kini terangkat ragu-ragu, lalu melingkar di pinggangku. Awalnya longgar, lalu semakin erat. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup napas dalam-dalam, mencari aroma yang nyata untuk mengusir bau asap dan darah dari ingatannya.

Kami bertahan dalam posisi itu selama entah berapa lama. Di luar, badai mengamuk, memukul-mukul dinding safe house yang mewah ini. Tapi di dalam lingkaran lengan kami, ada keheningan yang aneh.

Jantungku berdegup kencang, bukan lagi karena takut, tapi karena kedekatan ini. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berangsur normal menempel di dadaku. Aroma tubuhnya yang maskulin, mint, dan sedikit aroma kayu cedar mengisi indra penciumanku, menggantikan bau amis boneka tadi.

Ini berbahaya. Bukan bahaya fisik seperti penyusup tadi, tapi bahaya emosional. Aku tidak boleh melupakan siapa dia. Dia adalah pria yang memegang nyawa ayahku sebagai jaminan. Dia adalah pria yang menganggapku aset bisnis.

Tapi malam ini, dia cuma laki-laki yang ketakutan. Dan aku satu-satunya orang yang ada untuknya.

"Maaf," gumamnya parau, napasnya yang hangat menggelitik kulit leherku. Dia tidak melepaskan pelukannya.

"Kenapa minta maaf?" tanyaku lembut, jemariku tanpa sadar masih menyisir rambut bagian belakang kepalanya.

"Membangunkanmu," jawabnya singkat. Gengsinya mulai kembali, meski posisinya masih sangat manja.

"Tidak apa-apa. Tidurlah lagi. Aku nggak akan kemana-mana."

Adrian tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang, sebuah suara kepasrahan yang jarang kudengar. Berat tubuhnya semakin bertumpu padaku. Kelelahan mental sepertinya langsung menghantamnya begitu adrenalin surut.

Dalam hitungan menit, napasnya kembali teratur. Dia tertidur lagi, kali ini tanpa mimpi buruk, masih dalam pelukanku.

Aku bersandar pada kepala ranjang, membiarkan Adrian tidur di dadaku. Posisiku kram dan tidak nyaman, tapi aku tidak berani bergerak. Aku menatap langit-langit kamar yang gelap, mendengarkan suara hujan yang mulai mereda.

Pikiranku kembali pada boneka di dalam koper. Pesan Erwin. Tanggal 15. Dan sekarang, Adrian yang ternyata rapuh.

Papan catur ini semakin rumit. Aku masuk ke permainan ini berpikir musuhku hanya satu: Adrian Mahardika. Tapi sekarang, rasanya justru Adrian dan aku sedang dikepung dari segala arah, terperangkap di dalam kotak kaca yang retak. Dan ironisnya, satu-satunya tempat paling aman malam ini justru berada dalam pelukan "musuh"-ku sendiri.

Mataku memberat. Kelelahan dan sisa adrenalin menarikku menuju alam mimpi, dengan tangan Adrian yang masih melingkar protektif atau posesif di pinggangku.


Cahaya matahari pagi yang menusuk sela-sela tirai memaksaku membuka mata.

Kesadaran datang perlahan. Hal pertama yang kusadari adalah rasa berat di sekujur tubuhku. Bukan berat beban hidup, tapi berat fisik yang nyata.

Sebuah lengan kekar melintang di atas perutku, dan sebuah kaki yang berat menindih kakiku. Wajahku hanya berjarak beberapa sentimeter dari dada bidang yang terekspos karena kancing piyama bagian atas yang terbuka.

Aku menahan napas. Ya Tuhan.

Kami tidur saling membelit seperti sepasang kekasih yang baru melewati malam yang panas. Guling "batas suci" kami tergeletak menyedihkan di lantai, saksi bisu runtuhnya pertahanan kami semalam.

Kepalaku mendongak sedikit. Adrian masih tertidur pulas. Wajahnya saat tidur terlihat jauh lebih muda, tanpa kerutan sinis di dahi yang biasa ia tampilkan. Bulu matanya panjang, dan bibirnya sedikit terbuka. Sangat damai. Sangat... indah.

Sial. Aku tidak boleh berpikir dia indah.

Aku mencoba menggeser tubuhku pelan-pelan, ingin melepaskan diri sebelum dia bangun dan suasana menjadi canggung. Tapi baru saja aku bergerak satu inci, lengan di perutku menegang, menahanku tetap di tempat.

Mata itu terbuka. Tidak ada proses transisi, dia langsung terjaga sepenuhnya. Tatapan tajam berwarna cokelat gelap itu langsung mengunci mataku.

Hening.

Hanya suara air conditioner yang berdengung halus. Jarak wajah kami begitu dekat hingga aku bisa melihat flek-flek emas kecil di iris matanya.

Ingatan tentang semalam, pelukan itu, tangisannya, caraku menenangkannya, menggantung di udara di antara kami. Wajahku terasa panas. Aku menunggu dia mendorongku menjauh, atau melontarkan komentar sarkas tentang bagaimana aku melanggar batas wilayahnya.

Tapi dia tidak melakukannya.

Adrian justru menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Matanya menyusuri wajahku, dari mata, hidung, lalu berhenti sejenak di bibirku, sebelum kembali menatap mataku. Ada pertanyaan di sana, kebingungan, dan sesuatu yang lain... rasa lapar?

"Jam berapa?" tanyanya. Suaranya serak khas bangun tidur, berat dan seksi. Getarannya merambat dari dadanya ke dadaku yang menempel padanya.

Aku menelan ludah, berusaha menormalkan detak jantungku. "Mungkin... jam lima lewat? MUA akan datang sebentar lagi."

Adrian tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam, aroma shampoo-ku pasti memenuhi hidungnya, lalu perlahan menarik lengannya dan duduk. Dia mengusap wajahnya kasar, seolah sedang menyusun ulang topeng CEO-nya yang sempat retak.

"Tentang semalam..." mulainya tanpa menoleh padaku. Punggungnya tegap dan kaku.

"Aku lupa," potongku cepat. Aku ikut duduk, merapikan piyamaku yang kusut. "Aku nggak ingat apa-apa selain hujan deras."

Adrian menoleh, menatapku dengan alis terangkat sebelah. Dia tahu aku berbohong. Aku tahu dia tahu aku berbohong. Ini adalah kesepakatan tak tertulis baru kami: menjaga egonya tetap utuh.

Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang tipis. "Bagus. Ingatanmu selektif juga."

"Hanya menyesuaikan dengan kebutuhan, Pak CEO," balasku, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit lelucon sarkas.

Dia hendak mengatakan sesuatu lagi, mungkin sebuah balasan tajam atau ucapan terima kasih yang terselubung, tapi ketukan di pintu menghentikannya.

Tok. Tok. Tok.

Tiga kali ketukan. Teratur. Sopan.

"Tuan? Nyonya? Maaf mengganggu," suara seorang wanita terdengar dari luar. "Tim make-up dan hairdo sudah tiba di lobi. Dan sarapan sudah siap."

Itu suara kepala pelayan safe house ini. Bu Marta.

Tubuhku membeku lagi. Ingatan tentang penyusup jam 2 pagi itu kembali menghantamku dengan kekuatan penuh.

Pintu kamar ini dikunci ganda dari dalam. Hanya ada satu kunci cadangan, yang dipegang oleh pengelola safe house. Bagaimana orang itu bisa masuk tanpa merusak pintu? Jawabannya hanya satu: seseorang yang memiliki akses memberikan kuncinya, atau seseorang yang memiliki akses itulah pelakunya.

Aku menatap pintu kayu jati yang kokoh itu dengan horor. Bu Marta terdengar sangat normal. Sangat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang mengelola rumah yang baru saja disusupi.

Adrian sudah turun dari ranjang, meregangkan otot-ototnya, tidak menyadari ketakutanku. Dia berjalan menuju pintu.

"Tunggu!" seruku refleks.

Adrian berhenti, menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa? Kau belum siap?"

"Bukan..." Aku tergagap, otakku berputar cepat mencari alasan. Aku tidak bisa bilang 'jangan buka, mungkin dia pembunuhnya' tanpa bukti. Adrian akan menganggapku gila lagi. "Aku... piyamaku. Tipis. Jangan buka pintu dulu sebelum aku ganti baju."

Adrian mendengus, matanya menyapu tubuhku sekilas dengan tatapan yang membuat pipiku kembali memanas. "Biasanya kau tidak sepemalu ini saat berdebat denganku."

Tapi dia menurut. Dia tidak membuka pintu, hanya berteriak dari dalam. "Tunggu lima menit, Marta. Kami akan keluar."

"Baik, Tuan," jawab suara di balik pintu. Lalu suara langkah kaki menjauh.

Aku menghela napas lega, tapi sensasi dingin itu tidak hilang. Saat aku beranjak dari kasur untuk mengambil handuk, mataku menangkap sesuatu di lantai, di dekat kaki meja nakas, tempat di mana Adrian berdiri tadi.

Sebuah benda kecil berkilau.

Bukan, itu bukan milikku. Itu bukan milik Adrian.

Aku membungkuk untuk memungutnya saat Adrian masuk ke kamar mandi.

Itu sebuah anting. Anting mutiara kecil yang sederhana. Tapi yang membuat darahku berhenti mengalir adalah fakta bahwa aku mengenali anting ini.

Aku pernah melihatnya kemarin sore, saat kami baru tiba. Anting ini dipakai oleh salah satu staf cleaning service muda yang membawakan tasku. Gadis yang tersenyum sangat manis dan memuji gaunku.

Mereka tidak hanya 'masuk'. Mereka ada di sini, di antara kami, menyamar sebagai pelayan, tersenyum ramah sambil menunggu perintah untuk menghancurkan kami.

"Rini? Kau melamun?"

Suara Adrian dari ambang pintu kamar mandi mengejutkanku. Dia sudah melepas baju piyamanya, menampilkan torso atletis yang kini tidak lagi membuatku terpesona, karena fokusku terpecah.

Aku menggenggam anting itu erat-erat di kepalan tanganku, menyembunyikannya.

"Tidak," jawabku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Aku hanya... mencari ikat rambut."

Adrian menatapku curiga selama sedetik, lalu mengedikkan bahu. "Cepatlah. Kita harus kembali ke Jakarta sebelum siang. Aku punya firasat hari ini akan panjang."

Kau tidak tahu seberapa panjang, Adri, batinku.

Aku berjalan menuju koperku, tempat boneka berdarah itu bersembunyi. Sekarang aku punya dua bukti. Boneka dan anting. Dan aku sadar, pertahanan benteng Adrian Mahardika telah runtuh dari dalam.

Masalahnya adalah, apakah aku harus memberitahunya dan mengambil risiko dia tidak percaya, atau aku harus bermain detektif sendirian di kandang singa ini?

Saat aku membuka koper, aku melihat secarik kertas terselip di sela-sela baju, tepat di atas buntelan handuk yang membungkus boneka itu. Kertas itu tidak ada di sana tadi malam saat aku menyembunyikan bonekanya.

Tanganku gemetar saat mengambil kertas itu. Tulisan tangan yang rapi dan miring.

Cantik sekali saat kalian tidur berpelukan. Sayang kalau harus berakhir tragis.

Napasku tercekat.

Mereka tidak pergi. Si penyusup itu... dia masih ada di dalam kamar ini saat aku dan Adrian berpelukan tadi? Atau dia masuk lagi saat kami tertidur pulas setelah badai reda?

Mataku menyapu seluruh ruangan, ke setiap sudut gelap, ke bawah kolong tempat tidur, ke dalam lemari yang sedikit terbuka.

Kami diawasi. Setiap detik.

"Rini!" panggil Adrian tidak sabar.

Aku meremas kertas itu, memasukkannya ke saku celana piyamaku.

"Ya, sebentar!"

Aku harus tetap tenang. Untuk Ayah. Untuk kontrak ini. Dan entah kenapa, sekarang... untuk Adrian juga.