Romansa #CEO #Romansa CEO

Topeng Porselen

Penulis djoedo
24 January 2026

"Ya, sebentar!"

Suaraku serak, sedikit melengking karena panik yang menyumbat tenggorokan. Jantungku memalu rusuk, seolah ingin menjebol rongga dada dan melompat keluar. Dengan tangan gemetar, aku meremas secarik kertas yang baru saja kutemukan di atas boneka mengerikan itu. Kertas sialan. Ancaman yang ditulis dengan tulisan tangan rapi, seolah si pengirim sedang menulis kartu ucapan ulang tahun, bukan pesan kematian.

Cantik sekali saat kalian tidur berpelukan. Sayang kalau harus berakhir tragis.

Kata-kata itu membakar telapak tanganku.

Aku melirik cepat ke arah tempat tidur. Adrian bergerak. Erangan rendah lolos dari bibirnya, tanda kesadarannya mulai merangkak naik dari kedalaman tidur pasca-trauma. Jika dia melihat ini... jika dia tahu ada orang asing yang masuk ke kamar kami saat dia sedang rapuh, saat dia sedang hancur oleh memori kecelakaan itu, pertahanannya akan runtuh total. Ego laki-laki itu sudah cukup terluka karena menangis di depanku semalam; mengetahui keamanan "safe house"-nya jebol akan menghancurkan sisa kewarasannya.

Tidak. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kontrak ini mungkin palsu, tapi rasa ingin melindunginya yang tiba-tiba muncul ini terasa sangat nyata.

Dengan gerakan kilat, aku menyambar anting mutiara kecil dari lantai dan menyelipkannya bersama kertas ancaman itu ke dalam saku celana piyamaku. Aku menutup koper dengan kasar, bunyi retsleting terdengar terlalu nyaring di ruangan yang sunyi, memecah dengungan halus pendingin ruangan.

"Rini?"

Suara itu berat, serak khas bangun tidur, dan anehnya terdengar rapuh.

Aku membeku, lalu berbalik perlahan. Adrian sudah duduk, menyugar rambutnya yang berantakan. Selimut putih merosot ke pinggang, memamerkan torso atletis yang semalam terasa begitu dingin di bawah telapak tanganku, kini mulai dialiri hangat kehidupan pagi. Cahaya matahari pagi yang malu-malu menerobos tirai, menyinari separuh wajahnya, menciptakan kontras tajam antara bayangan dan terang.

Dia mengedipkan mata beberapa kali, berusaha mengumpulkan nyawa. Saat tatapannya mendarat padaku, ada jeda sekian detik. Ingatan tentang badai semalam, tentang pelukan kami, tentang bagaimana aku membelai punggungnya sampai dia tertidur, melintas jelas di matanya. Aku melihat pupilnya melebar, lalu dengan cepat menyempit kembali.

Dinding itu naik lagi.

"Siapa yang mengetuk?" tanyanya, suaranya berubah datar. Topeng CEO Mahardika Group kembali dipasang, retakan demi retakan ditambal dengan semen arogansi.

"Staf. Mungkin MUA atau sarapan," jawabku, berusaha keras agar suaraku tidak terdengar bergetar. Aku berjalan mendekat, menyambar gelas air di nakas dan menyodorkannya padanya. "Minumlah. Kamu pasti dehidrasi."

Adrian menatap gelas itu, lalu menatapku. Ada keraguan di sana, atau mungkin rasa malu. Dia tidak terbiasa dilayani, apalagi oleh orang yang melihatnya dalam kondisi paling menyedihkan. Namun, dia menerimanya. Jari-jari kami bersentuhan sekilas, hanya seperskian detik, tapi sengatan listrik statis itu terasa nyata.

"Terima kasih," gumamnya setelah meneguk habis air itu. Dia tidak menatap mataku. Dia menatap selimut yang kusut. "Tentang semalam..."

"Jangan dibahas kalau kamu nggak mau," potongku cepat. Aku duduk di tepi tempat tidur, memberinya jarak yang aman namun tetap dalam jangkauan. "Kita berdua lelah. Badai itu mengerikan. Kamu bereaksi manusiawi, Adrian."

Rahangnya mengeras. "Aku tidak bereaksi manusiawi. Aku kehilangan kendali. Itu tidak boleh terjadi." Dia menoleh, matanya tajam menusukku, tapi kali ini tidak ada intimidasi, hanya permohonan tersirat agar aku menjaga rahasianya. "Kejadian semalam tidak pernah ada. Kita kembali ke aturan awal. Paham?"

Aku menatapnya lurus. Pria ini luar biasa keras kepala. Di saku celanaku, kertas ancaman itu terasa panas. Ada seseorang yang mengawasi kami, mengancam akan membunuh kami, dan dia sibuk mengkhawatirkan citranya sebagai pria tanpa emosi.

"Paham, Pak CEO," jawabku, sedikit menyindir untuk mencairkan suasana. "Sekarang, mending kamu mandi. Bau kamu kayak kayu basah dicampur mint yang sudah kadaluarsa."

Sudut bibirnya berkedut sedikit. Hampir tersenyum, tapi dia menahannya. "Kau juga tidak wangi bunga mawar, Rini. Kau ngiler di bahuku."

"Aku tidak ngiler!" protesku spontan, pipiku memanas.

"Ada buktinya di kaosku," balasnya sambil bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi dengan langkah yang syukurlah sudah tegap kembali. Tidak ada lagi gemetar. Punggungnya lebar dan kokoh, seolah beban dunia yang dia pikul semalam sudah dia lemparkan ke lantai bersama guling pembatas kami.

Saat pintu kamar mandi tertutup dan suara guyuran shower terdengar, aku menghela napas panjang. Kakiku lemas. Aku merosot duduk di lantai, menarik kertas itu keluar lagi.

Sayang kalau harus berakhir tragis.

Siapa? Siapa yang bisa masuk ke sini? "Safe house" ini milik keluarga Mahardika. Penjagaannya berlapis. Hanya orang dalam yang punya akses. Aku memutar anting mutiara kecil itu di antara jempol dan telunjuk. Desainnya sederhana, mutiara imitasi murahan yang biasa dijual lusinan di pasar grosir. Bukan perhiasan tamu kelas atas. Ini milik staf.

Pintu kamar diketuk lagi. Kali ini lebih tegas.

Aku berdiri, merapikan piyama, menarik napas dalam-dalam, dan memasang wajah "Nyonya Mahardika" yang angkuh. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya.

Di sana berdiri Bu Marta, kepala pengurus vila, dengan nampan berisi kopi dan buah potong. Di belakangnya, dua orang asisten muda membawa gantungan berisi pakaian kami untuk hari ini.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa Bu Marta ramah, senyumnya terukir sempurna. "Maaf mengganggu. Kami membawakan sarapan ringan sebelum tim tata rias masuk."

"Pagi, Bu Marta," balasku, mataku menyapu wajahnya, lalu turun ke telinganya.

Anting emas polos. Bukan mutiara.

Aku menggeser pandanganku ke dua asisten di belakangnya. Yang satu mengenakan jilbab rapi, telinganya tertutup. Yang satu lagi rambutnya digelung cepol, memperlihatkan telinga yang bersih tanpa perhiasan.

"Silakan masuk," kataku, memberi jalan. Mataku tidak lepas dari gerak-gerik mereka. Siapa di antara mereka yang meletakkan boneka itu? Siapa yang menulis pesan itu? Atau jangan-jangan, pelakunya sudah kabur sebelum matahari terbit?

Sambil mereka menata sarapan di meja balkon, aku memperhatikan tangan mereka. Apakah ada yang gemetar? Apakah ada yang melirik koperku dengan rasa bersalah?

"Nyonya, tim MUA sudah menunggu di lobi," ujar Bu Marta setelah meletakkan cangkir kopi. "Tuan Adrian ingin berangkat jam sepuluh tepat, bukan?"

"Iya," jawabku singkat. "Bu Marta, boleh saya tanya?"

Wanita paruh baya itu berhenti, menatapku sopan. "Ya, Nyonya?"

"Siapa saja yang bertugas membersihkan kamar ini kemarin sore? Sebelum kami masuk?"

Bu Marta tampak berpikir sejenak. "Hanya tim inti, Nyonya. Saya, Sari, dan Pak Ujang yang mengecek AC. Kenapa? Ada barang yang hilang?"

"Tidak," aku berbohong dengan lancar. "Justru saya menemukan anting. Sepertinya milik salah satu staf. Kasihan kalau dia mencarinya." Aku mengangkat anting mutiara itu tinggi-tinggi, membiarkan cahaya lampu menangkap kilau pudar permukaannya.

Reaksi Bu Marta datar. "Oh, itu model pasaran, Nyonya. Banyak yang punya. Tapi nanti saya tanyakan ke anak-anak. Terima kasih Nyonya sangat perhatian."

Dia tidak gugup. Atau dia aktris yang sangat hebat.

Saat mereka keluar, aku merasa ruangan ini makin menyempit. Aku bukan arsitek yang merancang penjara, tapi saat ini, vila mewah dengan pemandangan hutan tropis ini terasa seperti sel isolasi.


Satu jam kemudian, kami sudah siap. Adrian tampak sempurna dalam balutan kemeja linen putih dan celana chino krem, gaya kasual namun mahal yang dipilihkan stylist untuk perjalanan pulang. Tidak ada jejak pria yang menangis ketakutan semalam. Rambutnya tertata rapi, aroma cedarwood dan citrus menguar tajam darinya, menggantikan bau keringat dingin semalam.

Aku mengenakan summer dress selutut berwarna sage green, rambutku dibiarkan tergerai dengan gelombang natural. Kami tampak seperti pasangan muda yang baru saja menikmati liburan romantis, bukan dua orang asing yang terikat kontrak bisnis dan sedang diburu teror.

"Siap?" Adrian mengulurkan tangannya saat kami berdiri di ambang pintu kamar.

Aku menatap tangannya. Tangan besar yang semalam meremas lenganku sampai memar, mencari pegangan di tengah badai. Sekarang, tangan itu terbuka dengan gestur gentleman yang terlatih.

"Siap," jawabku, menyambut tangannya. Kulitnya hangat dan kering.

Kami berjalan beriringan menuju lobi utama. Reza sudah menunggu di sana, berdiri di samping mobil Alphard hitam yang pintunya sudah terbuka. Asisten setia itu mengangguk hormat saat melihat kami.

"Mobil sudah siap, Pak Adrian, Bu Arini. Koper sudah dimasukkan semua."

"Bagus," jawab Adrian singkat.

Para staf vila berbaris di teras untuk melepas kepergian kami. Ini prosedur standar pelayanan high-end. Bu Marta berdiri paling depan, tersenyum ramah.

Ini kesempatanku.

Mataku menyisir barisan staf itu seperti scanner memindai blueprint bangunan, mencari cacat struktur. Ada sekitar delapan orang. Tukang kebun, koki, petugas kebersihan.

Mataku berhenti pada sosok di ujung barisan. Seorang gadis muda, mungkin seusiaku atau lebih muda, mengenakan seragam housekeeping. Kepalanya tertunduk dalam, tangannya meremas apron putih di pinggangnya. Rambutnya dikuncir kuda, dan saat dia sedikit menoleh karena mendengar suara mesin mobil dinyalakan, aku melihatnya.

Telinga kanannya mengenakan anting mutiara kecil. Persis sama dengan yang ada di saku celanaku. Telinga kirinya kosong.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Itu dia. Sari. Nama yang disebut Bu Marta tadi.

Aku mengeratkan peganganku pada lengan Adrian tanpa sadar. Adrian menoleh, alisnya terangkat sedikit. "Kenapa? Ada yang ketinggalan?"

Aku ingin berteriak. Aku ingin menunjuk gadis itu dan berkata, Dia pelakunya! Dia yang menaruh boneka berdarah di koperku! Tangkap dia!

Tapi kemudian, gadis itu mengangkat wajahnya sekilas. Matanya bertemu dengan mataku.

Ketakutan.

Mata itu bukan mata seorang pembunuh berdarah dingin. Itu mata seekor kelinci yang terperangkap dalam lampu sorot pemburu. Bibirnya gemetar, dan dia menggelengkan kepala sangat samar, gerakan mikro yang mungkin hanya bisa ditangkap oleh seseorang yang sedang menatapnya lekat-lekat.

Jangan, tatapannya seolah memohon. Tolong.

Jika aku membongkarnya sekarang, Adrian akan mengamuk. Investigasi akan dilakukan. Polisi akan dipanggil. Kami akan tertahan di sini. Dan jika dalang di balik semua ini tahu bahwa Sari gagal atau tertangkap... apa yang akan terjadi pada gadis itu? Dan lebih penting lagi, apakah Adrian siap menghadapi kenyataan bahwa "Rencana B" musuh sudah menyusup sedalam ini?

Prioritasku adalah membawa Adrian keluar dari tempat ini. Menjauhkan dia dari pemicu trauma dan dari lokasi yang jelas-jelas sudah dikuasai musuh.

"Tidak," jawabku akhirnya, memaksakan senyum tipis pada Adrian. "Tidak ada yang ketinggalan. Cuma... kakiku sedikit kram."

Adrian mendengus pelan, tapi dia tidak melepaskan tangannya. Justru, dia menuntunku lebih hati-hati menuju mobil. "Makanya jangan pakai heels kalau mau perjalanan jauh."

Aku masuk ke dalam mobil, menghempaskan punggung ke jok kulit yang empuk. Pintu tertutup otomatis, memisahkan kami dari udara lembap di luar. Kaca mobil yang gelap membuat pemandangan di luar terlihat seperti film bisu. Aku melihat Sari masih berdiri di sana, menunduk lagi, bahunya sedikit berguncang.

Mobil mulai bergerak, meninggalkan pekarangan vila yang asri namun menyimpan racun.

Di dalam mobil, suasananya hening. Reza fokus menyetir. Adrian langsung mengeluarkan tabletnya, mulai memeriksa grafik saham dan email yang menumpuk.

"Indeks saham gabungan naik tipis," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. "Proyek di Bali harus segera di-groundbreaking sebelum sentimen pasar berubah."

Aku menatap profil sampingnya. Dia begitu cepat kembali ke dunianya. Dunia angka, profit, dan beton. Seolah semalam dia tidak meringkuk seperti anak kecil. Sebagian diriku merasa lega dia sudah pulih, tapi sebagian lagi merasa... sepi. Keintiman yang aneh semalam, rasa dibutuhkan itu, lenyap begitu saja ditelan ambisi korporat.

"Adrian," panggilku pelan.

Dia tidak menoleh, jarinya masih menari di atas layar. "Hm?"

"Semalam..." aku ragu sejenak, "kamu bilang nama Sarah."

Jari Adrian berhenti bergerak. Hening yang mencekik seketika memenuhi kabin mobil. Reza di kursi depan bahkan tampak menahan napas, matanya melirik sekilas ke spion tengah.

Adrian perlahan menurunkan tabletnya ke pangkuan. Dia menoleh padaku, tatapannya dingin dan tak terbaca. "Aku mengigau."

"Itu bukan sekadar igauan, Adri," bantahku lembut. "Kamu memanggilnya berulang kali. Kamu minta maaf."

"Arini," suaranya rendah, penuh peringatan. "Ada batasan dalam kontrak kita. Masa lalu adalah salah satu yang tidak boleh kau sentuh."

"Aku tidak menyentuh masa lalu. Masa lalu yang datang mencekikmu semalam, dan aku yang harus membantumu bernapas!" sergahku, frustrasi dengan keras kepalanya. "Aku istrimu di atas kertas atau bukan, orang-orang melihat kita sebagai satu paket. Kalau kamu hancur, aku juga kena dampaknya. Aku perlu tahu apa yang kita hadapi."

Adrian menatapku lama, mencari kebohongan di mataku. Akhirnya, dia menghela napas kasar dan membuang muka ke jendela. "Namanya Sarah. Dia meninggal di mobil yang aku kendarai. Hujan badai. Truk rem blong. Cukup?"

Penjelasannya singkat, padat, dan tanpa emosi, seperti dia sedang membacakan laporan berita acara kecelakaan. Tapi aku melihat tangannya yang terkepal di atas paha. Buku-buku jarinya memutih.

"Maaf," bisikku tulus. Aku tidak berniat mengorek luka, tapi aku butuh konfirmasi. Pesan ancaman itu menyebutkan "berakhir tragis". Si peneror tahu persis trauma Adrian. Si peneror tahu tentang Sarah. Ini bukan serangan acak. Ini personal.

Adrian tidak menjawab. Dia kembali menatap tabletnya, tapi aku tahu dia tidak benar-benar membaca. Layar itu hanya tameng.

Ponselku bergetar di dalam tas.

Aku merogohnya, berharap itu pesan dari Santi yang menanyakan oleh-oleh. Tapi saat aku melihat layar, darahku berdesir dingin.

Nomor tidak dikenal.

Pilihan bijak untuk tidak membuat keributan di vila. Gadis itu cuma kurir bodoh. Permainan aslinya baru akan dimulai di Jakarta, Nyonya Mahardika.

Aku menahan napas. Mereka tahu. Mereka tahu aku melihat Sari. Mereka tahu aku memilih diam. Berarti, ada mata lain di sana. Atau...

Mataku melirik ke spion tengah lagi. Reza sedang menyetir dengan tenang. Tidak, tidak mungkin Reza. Dia sudah bersama Adrian bertahun-tahun.

Aku melirik Adrian. Dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia tidak tahu bahwa monster yang menghantuinya di dalam mimpi kini sedang mengejarnya di dunia nyata.

"Reza," panggil Adrian tiba-tiba, membuatku terlonjak.

"Ya, Pak?"

"Jangan langsung ke Penthouse. Kita mampir ke kantor pusat dulu. Kakek memanggil rapat darurat."

"Baik, Pak."

Rapat darurat? Di hari Minggu?

"Ada masalah?" tanyaku cemas.

Adrian memijat pelipisnya. "Kakek bilang ada kebocoran data internal. Seseorang mencoba menjual rancangan proyek resort kita ke kompetitor."

Aku terdiam, tanganku mencengkeram ponsel semakin erat. Kebocoran data. Penyusup di vila. Boneka teror. Semua ini bukan kebetulan. Ini adalah serangan terkoordinasi. Seseorang sedang mencoba meruntuhkan Kerajaan Mahardika dari dalam, dan mereka menggunakan Adrian sebagai titik lemahnya.

Dan aku... aku berada tepat di tengah badai ini, dengan hanya bermodalkan sebuah anting mutiara palsu dan keberanian yang mulai menipis.

Aku menatap jalan tol yang membentang di depan. Jakarta menyambut kami dengan langit kelabu yang menggantung rendah. Rasanya seperti kami bukan sedang pulang ke rumah, melainkan masuk ke dalam mulut singa yang sedang menganga lebar.

"Arini," Adrian memecah keheningan, suaranya lebih lembut kali ini. Dia tidak menatapku, tapi tangannya bergerak, menutupi tanganku yang dingin di atas jok.

"Ya?"

"Terima kasih," katanya, nyaris tak terdengar. "Untuk... airnya tadi."

Itu bukan tentang air. Aku tahu itu. Dan dia tahu aku tahu.

Aku membalikkan telapak tanganku, menggenggam tangannya erat. "Sama-sama."

Setidaknya untuk saat ini, di dalam mobil kedap suara ini, kami adalah sekutu. Tapi aku tahu, begitu pintu mobil ini terbuka nanti, perang yang sesungguhnya baru akan dimulai. Dan aku harus memutuskan: menjadi istri kontrak yang patuh dan diam, atau menjadi satu-satunya perisai yang melindungi pria sombong yang rapuh ini dari peluru tak kasat mata.

Keputusanku sudah bulat saat aku membalas genggamannya. Persetan dengan kontrak. Aku akan mencari bajingan yang mengirim teror ini, dengan atau tanpa izin Adrian.

Tiba-tiba, Reza menginjak rem mendadak.

Mobil berdecit, tubuh kami terhempas ke depan. Sabuk pengaman menahan dadaku dengan sakit.

"Ada apa, Reza?!" bentak Adrian, naluri waspadanya langsung menyala.

"Maaf, Pak. Ada mobil yang memotong jalur konvoi kita," suara Reza terdengar tegang.

Aku melihat ke depan. Sebuah sedan hitam tanpa plat nomor berhenti melintang di tengah jalan tol yang sepi, memblokir laju kami. Kaca jendelanya perlahan turun.

Dan dari balik kaca itu, sebuah tangan terulur, melambaikan sebuah boneka kecil.

Boneka pengantin yang sama persis dengan yang ada di koperku.

Darahku membeku. Mereka tidak menunggu sampai Jakarta. Mereka menghadang kami di sini.

"Mundur, Reza! Mundur!" teriakku, kepanikan akhirnya pecah.

Tapi Adrian justru mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit, fokus pada boneka itu. Wajahnya memucat seketika saat mengenali bentuk gaun pengantin pada boneka itu.

"Itu..." Adrian tercekat, napasnya mulai memburu lagi. "Itu..."

Dia melihatnya. Dan aku tahu, mimpi buruk semalam baru saja menjadi kenyataan di siang bolong.