Dan aku tahu, mimpi buruk semalam baru saja menjadi kenyataan di siang bolong.
Di luar sana, di aspal yang panas membakar, sedan hitam tanpa pelat nomor itu diam tak bergerak. Seperti predator yang sedang menikmati ketakutan mangsanya sebelum menerkam. Jarak kami hanya terpisah lima meter, tapi rasanya seperti berdiri di tepi jurang.
Lengan yang menjulur keluar dari jendela mobil itu tidak bergerak. Di genggamannya, sebuah boneka pengantin wanita kecil berayun pelan tertiup angin jalan tol yang kering. Boneka itu identik. Gaun putih renda yang sama, rambut sintetis yang kaku, dan seringai beku yang seolah mengejek kami dari kejauhan. Itu bukan sekadar mainan; itu adalah pesan kematian. Sebuah replika dari teror yang menyusup ke kamar tidur Adrian semalam.
"Mundur, Za. Mundur sekarang!"
Suara Adrian terdengar pecah, bukan karena marah, tapi karena napasnya yang timbul tenggelam. Aku menoleh cepat ke arahnya. Pemandangan di sampingku jauh lebih mengerikan daripada sedan hitam di depan sana.
Adrian Mahardika, CEO yang biasanya menatap dunia seolah ia memilikinya, kini sedang hancur. Tangannya mencengkeram tablet di pangkuannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, gemetar hebat seperti daun di tengah badai. Wajahnya pucat pasi, seputih kemeja linen yang ia kenakan. Matanya melebar, tapi tatapannya kosong, terpaku pada boneka itu, namun aku tahu pikirannya tidak berada di jalan tol ini. Dia sedang terseret kembali ke masa lalu, ke dalam hujan badai dan suara logam beradu yang menghantuinya selama lima tahun terakhir.
"Pak, ada kendaraan di belakang. Saya tidak bisa mundur cepat," sahut Reza, suaranya tegang namun tetap terkontrol. Tangannya sigap memutar setir, matanya awas memindai kaca spion. Reza adalah profesional sejati, tapi bahkan dia pun tampak kewalahan dengan situasi yang tidak masuk akal ini.
"Tabrak saja kalau perlu!" teriak Adrian, kali ini suaranya meninggi, panik mulai mengambil alih akal sehatnya. "Jangan biarkan mereka mendekat! Sarah... dia..."
Nama itu lagi.
Mendengar nama Sarah keluar dari bibir Adrian di saat genting seperti ini mengirimkan sengatan dingin ke tulang belakangku. Ini bukan lagi soal ancaman fisik dari orang asing. Ini adalah serangan psikologis yang dirancang dengan presisi bedah. Siapa pun yang ada di dalam sedan hitam itu tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk melumpuhkan seorang Adrian Mahardika.
Aku tidak bisa membiarkan dia hancur di sini. Tidak di tengah jalan tol, tidak saat musuh sedang menonton kami lewat kaca film yang gelap.
Tanpa berpikir panjang, aku melepas sabuk pengamanku. Bunyi klik terdengar nyaring di keheningan kabin yang mencekam. Aku memutar tubuh, mengabaikan rasa sakit di dada akibat hentakan rem tadi, dan meraih bahu Adrian.
"Adrian!" panggilku tajam.
Dia tidak bergeming. Napasnya pendek-pendek, terdengar seperti orang yang tercekik. Hiperventilasi.
"Adrian, lihat aku!" Aku mencengkeram kerah kemejanya, memaksanya berpaling dari pemandangan di jendela depan. Tapi matanya masih liar, tidak fokus. Dia melihatku, tapi dia tidak melihatku. Dia melihat hantu.
Di depan, sedan hitam itu tiba-tiba menarik kembali lengannya. Boneka itu dijatuhkan begitu saja ke aspal panas, menggelinding tanpa daya. Kemudian, dengan deru mesin yang meraung mengejek, mobil itu tancap gas, melesat pergi meninggalkan kami dan boneka itu di tengah jalan. Mereka tidak menyerang. Mereka hanya ingin menunjukkan bahwa mereka bisa menjangkau kami kapan saja, di mana saja.
"Mereka pergi, Pak. Mereka pergi," lapor Reza, nadanya sedikit lega, meski kakinya masih siaga di pedal gas.
Namun Adrian belum kembali. Tubuhnya mulai mengejang pelan. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Sial," umpatku pelan. Naluri bertahan hidupku bergeser menjadi naluri protektif. Aku tidak peduli pada kontrak sialan itu, aku tidak peduli pada aturan 'tanpa perasaan'. Ada manusia yang sedang menderita di depanku.
Aku menangkup kedua pipi Adrian dengan telapak tanganku yang dingin. Kulitnya terasa panas membakar. "Adrian, dengarkan suaraku. Kamu tidak ada di sana. Kamu di sini. Di mobil. Bersamaku. Bersama Rini."
Matanya berkedip, pupilnya yang tadi membesar perlahan mengecil, mencari fokus. "Rini..." bisiknya serak, suaranya terdengar begitu rapuh hingga rasanya bisa retak hanya karena hembusan angin.
"Ya, ini aku. Tarik napas," perintahku, menatap lurus ke dalam manik matanya yang kelam. "Ikuti aku. Satu... dua... tiga... hembuskan."
Dia mencoba, tapi udara seolah tersangkut di tenggorokannya. Dadanya naik turun dengan irama yang kacau.
"Reza, jalan. Pelan saja. Jangan berhenti," perintahku tanpa menoleh, mataku tetap terkunci pada Adrian.
Mobil mulai bergerak perlahan. Getaran mesin Alphard yang halus sepertinya sedikit membantu menyadarkan Adrian akan realitas fisiknya. Aku tidak melepaskan tanganku dari wajahnya. Aku butuh dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam kegelapan ini.
Perlahan, ritme napasnya mulai melambat. Ketegangan di rahangnya sedikit mengendur, meski tangannya masih mencengkeram lenganku sekarang, seolah aku adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai yang sedang mengamuk di kepalanya.
"Mereka tahu..." gumam Adrian, suaranya bergetar. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya di lekukan leherku. Gerakan yang begitu intim, begitu putus asa, hingga membuat jantungku berhenti berdetak sesaat. Dia, Singa Mahardika yang angkuh itu, sedang bersembunyi dariku. "Mereka tahu tentang Sarah."
Aku membiarkannya bersandar. Tanganku bergerak sendiri, mengusap punggungnya yang tegang. Aroma parfum mahalnya yang bercampur dengan keringat ketakutan memenuhi indra penciumanku.
"Aku tahu," jawabku pelan, mataku menatap kosong ke jalanan yang kini mulai lengang kembali. Tangan kiriku meraba saku dress sage green yang kukenakan. Jari-jariku menyentuh permukaan dingin dari anting mutiara yang kutemukan di vila.
Potongan teka-teki itu mulai menyatu dalam benakku, membentuk sebuah gambar yang mengerikan. Sari si pelayan vila, pesan ancaman, boneka di kamar tidur, dan sekarang penghadangan di jalan tol. Ini bukan sekadar teror acak dari pesaing bisnis. Ini personal. Sangat personal. Ada seseorang yang sangat membenci Adrian, seseorang yang ingin menghancurkannya bukan dengan membunuhnya, tapi dengan membuatnya gila karena rasa bersalah.
Dan yang paling menakutkan? Orang itu punya akses ke dalam. Ke dalam rumah kami, ke dalam jadwal kami, bahkan mungkin ke dalam mobil ini.
Aku melirik punggung Reza yang tegang. Tidak, Reza terlalu loyal. Dia tadi hampir menabrakkan mobil demi melindungi Adrian. Tapi bagaimana musuh bisa tahu rute kami? Bagaimana mereka tahu jam berapa kami keluar dari vila?
"Kita tidak bisa ke bandara," kataku tiba-tiba, memecah keheningan.
Adrian mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah kembali datar, topeng dinginnya perlahan terpasang kembali, meski matanya masih menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Dia menarik diri dariku, duduk tegak, dan merapikan kerahnya dengan gerakan kaku. Ego laki-lakinya pasti sedang terluka parah karena terlihat lemah di hadapan istri kontraknya.
"Kita harus kembali ke Jakarta, Rini. Rapat darurat," jawabnya, suaranya sudah kembali normal meski masih terdengar parau. "Kakek menunggu."
"Kau baru saja mengalami serangan panik, Adrian! Dan ada orang gila yang melempar boneka santet ke mobil kita!" sergahku, frustrasi dengan keras kepalanya. "Kita harus lapor polisi. Atau setidaknya berhenti di tempat aman."
"Polisi tidak bisa melakukan apa-apa hanya karena boneka," potong Adrian dingin. Dia kembali menjadi CEO yang menyebalkan. "Dan jika media mencium hal ini, saham Mahardika akan anjlok sebelum pasar dibuka besok pagi. Itu yang mereka inginkan."
Dia benar. Sialan, dia benar. Logika bisnisnya masih berfungsi sempurna bahkan di saat mentalnya babak belur.
"Reza, pastikan tidak ada yang mengikuti kita. Ambil rute memutar kalau perlu. Kita langsung ke kantor pusat," perintah Adrian, matanya menatap tajam ke depan, menghindari tatapanku.
Aku menghela napas kasar, menyandarkan punggung ke kursi kulit yang empuk. Rasa sakit di dadaku akibat seatbelt tadi mulai terasa lagi, berdenyut seirama dengan detak jantungku yang belum normal.
Perjalanan sisa menuju Jakarta terasa seperti siksaan lambat. Suasana di dalam mobil begitu hening dan tebal, seolah udara pun takut untuk bergerak. Adrian sibuk dengan tabletnya, jarinya mengetuk-ngetuk layar dengan ritme yang tidak sabaran, seolah mencoba mengubur ketakutannya di bawah tumpukan data dan laporan keuangan. Tapi aku melihatnya. Sesekali, matanya melirik ke spion, memastikan tidak ada sedan hitam itu lagi.
Aku mengeluarkan ponselku. Ada satu pesan baru dari nomor tidak dikenal.
Jantung berdebar, kan? Ini baru pemanasan, Nyonya Mahardika.
Aku menahan napas, meremas ponsel itu erat-erat. Mereka tahu nomor baruku. Mereka tahu aku ada di sini.
Rasa takut itu ada, tentu saja. Tapi anehnya, di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang lain yang mulai membara. Rasa marah. Marah karena mereka mempermainkan nyawa kami. Marah karena mereka membuat Adrian, pria yang paling menyebalkan namun paling rumit yang pernah kutemui, jadi serapuh kaca.
Aku melirik Adrian lagi. Dia sedang memijat pelipisnya, wajahnya tampak lelah dan tua. Tanpa sadar, sebuah pertanyaan melintas di benakku: Seberat apa beban yang kamu pikul sendirian selama ini, Adrian?
Tiba-tiba, Adrian menoleh. Tatapan kami bertemu. Untuk sesaat, tidak ada dinding, tidak ada kontrak, tidak ada kepura-puraan. Hanya dua orang yang terjebak dalam sangkar emas yang sedang diguncang gempa.
"Terima kasih," ucapnya pelan, hampir tak terdengar.
Aku tertegun. Adrian Mahardika mengucapkan terima kasih? "Untuk apa?" tanyaku defensif.
"Karena... menarikku kembali," katanya canggung, lalu cepat-cepat membuang muka ke jendela. "Tadi."
Sudut bibirku berkedut membentuk senyum tipis. "Itu bagian dari layanan istri kontrak, Pak CEO. Menjaga aset perusahaan agar tidak rusak mentalnya."
Adrian mendengus pelan. Sebuah dengusan yang hampir menyerupai tawa kecil. "Sarkasme-mu kadang berguna juga."
"Hanya kadang?"
Suasana sedikit mencair. Sedikit. Namun ketegangan itu masih mengintai di sudut-sudut kabin mobil.
Satu jam kemudian, gedung pencakar langit Jakarta mulai terlihat, menusuk langit kelabu yang mendung. Mahardika Tower berdiri megah di antara hutan beton, simbol kekuasaan dan kekayaan yang seolah tak tersentuh. Tapi aku tahu sekarang, fondasinya sedang digerogoti rayap dari dalam.
Reza mengarahkan mobil masuk ke area basement khusus VIP. Penjagaan terlihat lebih ketat dari biasanya. Ada dua mobil keamanan tambahan yang berjaga di dekat lift pribadi.
"Kakek sudah memperketat keamanan setelah info kebocoran data itu," gumam Adrian, melepas sabuk pengamannya. "Ingat, Rini. Di atas sana, di depan Kakek dan direksi, kejadian di jalan tol tadi tidak pernah terjadi. Kita baru pulang dari liburan romantis yang sedikit terganggu karena urusan kantor. Mengerti?"
Aku mengangguk pelan. "Aku mengerti peranku, Adrian. Kau tidak perlu mengingatkanku setiap lima menit."
Kami turun dari mobil. Udara basement yang pengap dan berbau bensin menyambut kami. Adrian merapikan jasnya, menegakkan bahunya, dan dalam sekejap, pria rapuh yang tadi gemetar di pelukanku lenyap. Dia kembali menjadi Adrian Mahardika yang tak tersentuh.
Dia mengulurkan tangannya padaku. Bukan ajakan romantis, tapi isyarat profesional untuk memulai sandiwara kami.
Aku menyambut tangannya. Dingin. Tangannya masih sedingin es.
Kami berjalan menuju lift pribadi. Reza mengikuti di belakang dengan membawa tas kerja Adrian. Pintu lift terbuka, dan kami melangkah masuk ke dalam kotak logam yang akan membawa kami ke sarang singa yang sesungguhnya.
Lantai 45. Ruang Rapat Direksi.
Saat angka di panel lift terus naik, ponsel di dalam tas tanganku bergetar lagi. Getarannya panjang, menandakan ada panggilan masuk atau pesan gambar yang berat.
Aku ragu sejenak, tapi rasa penasaran mengalahkan logikaku. Sambil berpura-pura mencari lipstik, aku mengintip layar ponselku.
Darahku serasa berhenti mengalir.
Itu sebuah foto. Foto yang baru saja diambil beberapa detik yang lalu.
Dalam foto itu terlihat punggungku dan Adrian yang sedang berjalan bergandengan tangan menuju lift di basement ini. Sudut pengambilannya dari dalam sebuah mobil yang parkir tepat di seberang tempat kami berhenti tadi.
Di bawah foto itu, ada satu kalimat singkat yang membuat bulu kudukku meremang.
Gaun yang cantik, Arini. Tapi sayang, warna sage green akan terlihat kusam jika terkena percikan darah.
"Rini?" Adrian memanggilku. Pintu lift sudah terbuka.
Aku mendongak, menatap Adrian dengan wajah yang kuusahakan tetap tenang, meski jantungku rasanya ingin meledak. Si pengintip itu ada di sini. Di gedung ini. Di basement ini.
"Ya, Sayang," jawabku, memaksakan senyum termanis yang bisa kubuat. "Ayo kita hadapi mereka."
Aku melangkah keluar lift, menggenggam tangan Adrian lebih erat. Bukan hanya untuk sandiwara, tapi karena aku sadar, mulai detik ini, satu-satunya orang yang bisa kupercaya di gedung pencakar langit ini mungkin hanya pria yang tangannya sedang kugenggam ini.
Dan perang yang sesungguhnya, baru saja dimulai.