Lift pribadi itu meluncur naik tanpa suara, seolah menelan kami ke dalam perut raksasa baja dan kaca yang disebut Mahardika Tower. Angka-angka di panel digital berganti dengan cepat, B1, G, 10, 20, tapi rasanya waktu justru membeku.
Di ruang tertutup berukuran dua kali dua meter ini, aroma bensin dan aspal panas dari jalan tol seakan masih menempel di kulitku, bercampur dengan dinginnya AC sentral yang menusuk tulang. Tapi bukan dingin itu yang membuatku menggigil.
Itu adalah getaran samar dari ponsel di saku gaun sage green-ku. Sebuah foto. Sebuah ancaman. Si pengirim ada di sini. Di gedung ini. Mungkin di lobi saat kami lewat, atau di sudut gelap basement yang luput dari pantauan CCTV.
Aku melirik Adrian.
Pria itu berdiri tegak di sampingku, menatap pantulan dirinya di dinding logam lift. Secara fisik, dia ada di sini. Tapi sorot matanya kosong, seperti cangkang kerang yang ditinggalkan penghuninya. Napasnya sudah tidak memburu, tremor di tangannya sudah berkurang, tapi pucat di wajahnya belum hilang. Dia baru saja ditarik paksa dari neraka masa lalunya, dan sekarang dia harus bersiap menghadapi sidang para dewan direksi.
"Adrian," panggilku pelan.
Dia tidak menoleh. Rahangnya mengeras, sebuah kedutan kecil muncul di pipinya. Dia sedang bertarung dengan dirinya sendiri, mencoba menyusun kepingan "CEO Mahardika" yang tadi sempat hancur berantakan di dalam mobil.
"Saya baik-baik saja," jawabnya datar. Suaranya serak, seperti kertas amplas yang digesekkan ke lantai beton.
"Bohong," balasku cepat. Aku tidak lagi peduli dengan sopan santun kontrak. Situasi ini sudah melampaui pasal-pasal di atas kertas. "Tanganmu masih dingin."
Aku memberanikan diri. Jemariku meraih tangan kirinya yang terkepal di sisi tubuh. Dingin. Seperti memegang es batu. Saat kulit kami bersentuhan, aku merasakan sentakan kecil dari otot lengannya, seolah dia terkejut ada manusia lain di ruang itu. Namun, dia tidak menarik tangannya.
Perlahan, kepalan tangannya melonggar. Jemari kami bertaut. Bukan tautan romantis sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, melainkan pegangan putus asa dua orang yang sedang bergelantungan di tepi jurang.
"Mereka tidak boleh tahu," gumam Adrian, matanya kini beralih menatap angka lantai yang terus bertambah. 45. 46. "Kakek... Dewan Direksi... Erwin. Mereka akan mencium bau darah jika melihatku lemah."
"Mereka tidak akan melihatmu lemah," potongku tegas. Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya, menghalangi pandangannya dari pintu lift. Aku memaksanya menatapku. "Lihat aku, Adri."
Mata itu akhirnya fokus. Hitam, pekat, dan lelah. Ada keretakan di sana yang membuat dadaku nyeri.
"Kau bukan korban," bisikku, tanganku bergerak naik, merapikan kerah kemeja linennya yang sedikit berantakan akibat guncangan di mobil tadi. "Kau Adrian Mahardika. Kau yang memegang kendali. Orang yang menerormu di jalan tadi? Dia pengecut. Dia hanya berani main boneka, sementara kau membangun gedung pencakar langit."
Sudut bibir Adrian berkedut, sedikit terangkat. Senyum sinis khasnya, meski kali ini terlihat rapuh. "Analogi yang menarik, Arsitek."
"Aku serius. Pakai topengmu lagi. Jadilah brengsek dan arogan seperti biasanya. Sisanya..." Aku menelan ludah, menekan rasa takutku sendiri terhadap pesan ancaman di saku. "Sisanya biar aku yang urus. Aku akan berdiri di sampingmu. Kalau kau goyah, remas tanganku. Mengerti?"
Ting!
Lift berdenting halus. Lantai 50. Puncak kekuasaan.
Pintu logam itu terbuka perlahan, menampilkan koridor marmer luas yang mengarah ke ruang rapat eksekutif. Reza sudah menunggu di sana dengan tas kerja Adrian, wajahnya tegang namun profesional. Di belakangnya, dua orang sekretaris tampak sibuk berlalu-lalang dengan tumpukan dokumen.
Adrian menarik napas panjang, menahan udara di dadanya sejenak, lalu menghembuskannya perlahan. Saat dia membuka mata, kerapuhan itu lenyap. Punggungnya tegak sempurna, dagunya terangkat angkuh, dan tatapan matanya kembali tajam setajam silet.
Sihir transformasi yang mengerikan sekaligus menakjubkan.
Dia mengeratkan genggaman tangannya di jemariku, lalu menarikku melangkah keluar.
"Ayo, Sayang," ucapnya, nadanya berubah menjadi bariton rendah yang penuh percaya diri. "Jangan biarkan mereka menunggu."
Ruang rapat itu berbau kopi mahal, pewangi ruangan lavender, dan ambisi yang busuk.
Meja panjang dari kayu mahoni mengilap mendominasi ruangan. Di ujung sana, duduk Darmawan Mahardika, Kakek Adrian. Pria tua itu tampak seperti singa tua yang masih memiliki taring, duduk dengan tongkat perak di sisi kursi. Di sekeliling meja, lima orang anggota dewan direksi lainnya menatap kedatangan kami dengan berbagai ekspresi: ingin tahu, curiga, dan meremehkan.
Dan di sana, duduk santai di sisi kanan Kakek, adalah Erwin Mahardika. Saudara tiri Adrian. Dia mengenakan jas biru tua yang terlalu mencolok, senyum miring tersungging di bibirnya saat melihat kami masuk.
"Ah, sang pengantin baru akhirnya tiba," suara Erwin memecah keheningan, nadanya menyiratkan sindiran halus. Dia melirik jam tangan emas di pergelangan tangannya. "Telat empat puluh lima menit. Macet di jalan, atau... macet di tempat lain?"
Beberapa anggota dewan tertawa kecil, suara yang terdengar sumbang di telingaku.
Adrian tidak goyah. Dia menarik kursi untukku dengan gerakan gentleman yang sempurna, lalu duduk di sebelahnya dengan santai. Dia tidak meminta maaf. Dia tidak menjelaskan. Dia hanya menatap Erwin dengan tatapan bosan.
"Ada insiden kecil di jalan tol," jawab Adrian tenang. Terlalu tenang. "Tapi sepertinya kau lebih tertarik pada kehidupan pribadiku daripada laporan keuangan kuartal ini, Erwin. Apa kau mau aku kirimkan detail bulan madu kami nanti?"
Skakmat. Wajah Erwin memerah padam, senyumnya lenyap.
Kakek Darmawan mengetukkan tongkatnya ke lantai. Tuk. Tuk. Suara itu seketika membungkam ruangan.
"Cukup," suara Kakek terdengar parau namun berwibawa. Matanya yang tajam menatap Adrian, lalu beralih padaku. Tatapan itu menyelidik, mencari celah. Apakah dia tahu cucu kesayangannya baru saja mengalami serangan panik satu jam yang lalu?
"Adrian," Kakek memulai, mengabaikan ketegangan antara kedua cucunya. "Berita tentang kebocoran data tender Resort Bali sudah menyebar. Harga saham kita turun dua persen sejak penutupan pasar sore tadi. Media mulai bertanya-tanya tentang stabilitas manajemen baru setelah pernikahanmu."
Aku merasakan tangan Adrian menegang di bawah meja. Ini adalah medan perangnya. Angka, reputasi, strategi.
"Itu hanya rumor yang dihembuskan kompetitor, Kek," jawab Adrian lugas. "Tim IT sudah memastikan tidak ada celah keamanan. Data tender aman."
"Bukan soal data riil, tapi persepsi publik," potong salah satu direktur berwajah masam. "Mereka butuh kepastian bahwa CEO kita tidak terganggu fokusnya karena... urusan asmara."
"Justru sebaliknya," aku tiba-tiba bersuara.
Semua mata tertuju padaku. Jantungku berdegup kencang, tapi aku ingat peranku. Aku adalah Arini Putri, istri Adrian Mahardika. Ratu di papan catur ini. Aku tersenyum manis, menyembunyikan getaran di tanganku dengan meletakkannya di atas lengan Adrian.
"Pernikahan ini justru memperkuat posisi Adrian," kataku, suaraku terdengar lebih stabil dari yang kuduga. "Publik menyukai cerita cinta. Mereka tidak melihat CEO yang terganggu, mereka melihat pria mapan yang akhirnya memiliki stabilitas emosional. Penurunan saham itu hanya reaksi panik sesaat. Berikan mereka narasi yang tepat, dan saham itu akan melonjak naik besok pagi."
Ruangan hening sejenak. Erwin menatapku dengan mata menyipit, seolah sedang menilai ulang ancaman yang aku bawa. Kakek Darmawan, di sisi lain, menyunggingkan senyum tipis. Sangat tipis.
"Narasi yang tepat..." Kakek mengulang kata-kataku, lalu mengangguk perlahan. "Gadis ini benar. Kita butuh pengalihan isu yang masif. Sesuatu yang lebih berisik daripada rumor kebocoran data."
Kakek menatap Adrian. "Besok, kalian berangkat ke Bali. Bukan untuk inspeksi proyek, tapi untuk honeymoon resmi. Aku ingin semua media meliput keberangkatan kalian. Aku ingin foto-foto mesra kalian menghiasi setiap timeline media sosial. Tenggelamkan isu negatif dengan romansa kalian."
Darahku berdesir. Bali. Lokasi proyek itu. Dan... lokasi yang jauh dari keamanan menara ini.
"Besok?" Adrian mengerutkan kening. "Jadwal saya penuh, Kek. Ada pertemuan dengan investor Jepang lusa."
"Erwin bisa menggantikanmu untuk investor Jepang," putus Kakek tak terbantahkan.
Erwin tersenyum lebar, kemenangan kecil terpancar di matanya. "Dengan senang hati, Kak. Kau nikmati saja liburanmu. Biar aku yang kerja keras."
Adrian hendak membantah, tapi aku meremas tangannya di bawah meja. Jangan, isyaratku. Kita tidak bisa melawan Kakek sekarang.
"Baik," jawab Adrian akhirnya, dingin. "Kami berangkat besok."
Rapat berlanjut dengan diskusi teknis yang membosankan, tapi pikiranku melayang ke mana-mana. Bali. Tempat terbuka. Tempat asing. Jika peneror itu bisa menjangkau kami di jalan tol Jakarta yang ramai dan masuk ke basement menara ini, apa yang bisa dia lakukan di Bali?
Ponselku bergetar lagi.
Aku membeku. Dengan hati-hati, aku melirik ke bawah meja, membuka layar ponsel sedikit.
Bukan pesan teks. Tapi notifikasi dari aplikasi pelacak lokasi yang dipasang Reza di mobil sedan hitam tadi, tunggu, kapan Reza memasangnya? Tidak, ini bukan dari Reza.
Ini pesan baru dari nomor tak dikenal yang sama.
["Bagus. Bawa dia ke Bali. Sarah sangat suka pantai."]
Napasku tercekat. Aku mengangkat wajah, mengedarkan pandangan ke sekeliling meja rapat. Erwin sedang sibuk mencatat sesuatu. Sekretaris menuangkan air. Direktur lain berbisik-bisik.
Siapa? Siapa yang mengirim ini? Bagaimana dia bisa tahu keputusan Kakek yang baru saja dibuat sepuluh detik yang lalu?
"Arini?" suara Adrian menyadarkanku. Rapat sudah bubar. Orang-orang mulai berdiri.
"Ya?" Aku mengerjapkan mata, menyembunyikan ponselku dengan cepat.
"Kau pucat," Adrian menatapku intens. Topeng CEO-nya sedikit retak, membiarkan kekhawatiran aslinya merembes keluar. "Kau sakit? Dadamu sakit lagi karena sabuk pengaman tadi?"
"Tidak, aku... aku hanya butuh ke toilet sebentar," dustaku. Aku butuh ruang untuk bernapas. Aku butuh mencuci muka dan berpikir jernih.
"Pergilah ke toilet di ruanganku saja. Lebih privat," kata Adrian. Dia memberi isyarat pada Reza. "Za, antar Arini ke ruanganku. Aku harus bicara sebentar dengan Kakek."
Aku mengangguk, lalu mengikuti Reza keluar dari ruang rapat menuju koridor sayap kiri, tempat kantor CEO berada.
Ruang kerja Adrian adalah benteng pertahanan. Pintu ganda dari kayu jati tebal, sistem pengunci biometrik, dan jendela kaca anti peluru yang menghadap cakrawala Jakarta. Reza memindai ibu jarinya, dan pintu terbuka dengan bunyi klik yang berat.
"Silakan, Bu Arini," kata Reza sopan, berdiri di ambang pintu. "Saya akan menunggu Pak Adrian di depan ruang rapat. Jika butuh apa-apa, telepon di meja Bapak terhubung langsung ke saya."
"Terima kasih, Mas Reza."
Aku masuk ke dalam ruangan luas itu. Desainnya minimalis, maskulin, dan dingin. Sama seperti pemiliknya. Ada sofa kulit hitam, meja kerja luas yang bersih dari debu, dan sebuah pintu di sudut yang menuju kamar istirahat pribadi lengkap dengan kamar mandi.
Aku berjalan menuju kamar mandi itu. Aku perlu membasuh wajah. Air dingin mungkin bisa membilas rasa takut yang merayapi tengkukku.
Namun, langkahku terhenti tepat di depan pintu kamar istirahat.
Pintunya sedikit terbuka. Hanya celah kecil, tapi cukup untuk membiarkan aroma itu keluar.
Itu bukan aroma ruangan Adrian yang biasanya berbau sandalwood dan kertas tua. Bukan juga aroma pembersih lantai yang tajam.
Ini aroma bunga melati. Pekat. Manis. Dan memuakkan.
Bulu kudukku meremang. Instingku berteriak untuk lari, untuk memanggil Reza, tapi kakiku justru melangkah maju. Tanganku gemetar saat mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar.
Ruangan itu kosong.
Ranjang king size tempat Adrian biasa beristirahat jika lembur tampak rapi. Seprai putihnya licin tanpa kerutan. Tidak ada orang di sana.
Tapi, di atas meja nakas di samping tempat tidur, ada sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana.
Sebuah kotak musik kayu tua. Tutupnya terbuka.
Dan di tengah ruangan itu, melodi berdenting pelan. Ting... ting... ting...
Lagu Für Elise.
Lagu yang sama dengan yang dimainkan boneka pengantin di jalan tol tadi.
Aku menutup mulut dengan tangan, menahan jeritan. Mereka tidak hanya mengawasi. Mereka punya akses. Mereka bisa masuk ke ruang paling privat di menara ini, melewati sistem keamanan biometrik, melewati penjaga, dan meninggalkan pesan kematian tepat di bantal Adrian.
Aku melangkah mendekati kotak musik itu. Di sampingnya, tergeletak secarik kertas nota kecil. Tulisan tangannya miring dan kasar, ditulis dengan tinta merah.
["Selamat berbulan madu. Jangan lupa ajak aku."]
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di belakangku. Cepat dan tegas.
"Rini?"
Aku berputar kaget. Adrian berdiri di ambang pintu, wajahnya bingung melihatku yang berdiri mematung di kamar istirahatnya.
"Kenapa kamu..." Kalimat Adrian terputus saat hidungnya menangkap aroma melati itu. Matanya melebar. Wajahnya yang tadi sudah mulai berwarna, kini kembali memucat drastis. Pupil matanya mengecil, fokus pada kotak musik yang masih mengalunkan nada Für Elise itu.
Tubuhnya mulai gemetar lagi. Trauma itu kembali menerjang, lebih cepat dari sebelumnya.
"Tidak mungkin..." desisnya, suaranya pecah. "Sarah..."
"Adrian, jangan dengarkan!" Aku berlari menerjangnya, bukan untuk memeluk, tapi untuk menutup pintu kamar itu, mengunci melodi terkutuk itu di dalam.
Tapi aku terlambat menyadari satu hal.
Di cermin besar lemari pakaian yang memantulkan bayangan kami berdua, ada tulisan lain. Tulisan yang baru saja diguratkan, karena uap napas penulisnya seolah masih menempel di kaca.
Tulisan itu bukan untuk Adrian.
Tulisan itu untukku.
["GILIRANMU, ARINI."]
Dan untuk pertama kalinya sejak sandiwara ini dimulai, aku menyadari bahwa target sesungguhnya mungkin bukan hanya menghancurkan mental Adrian.
Mereka ingin menghabisi siapa pun yang mencoba menyembuhkannya.
Perang ini baru saja berubah menjadi perburuan. Dan kamilah mangsanya.