"Ketinggian 40.000 kaki. Tidak ada jalan keluar. Dan liburan neraka kami baru saja dimulai."
Kalimat itu bergema di kepalaku, memantul-mantul di dinding tengkorak seiring dengan dengungan halus mesin Gulfstream G650 yang membawa kami membelah langit. Di hadapanku, kotak beludru hitam itu masih terbuka, menampakkan isinya yang mengerikan: sebuah istana pasir miniatur dari kristal yang indah namun rapuh, dengan bendera merah kecil tertancap di puncaknya.
Dan secarik kertas itu.
Arini akan terlihat cantik saat tenggelam.
Bau amis laut yang bercampur dengan aroma busuk samar menguar dari kotak itu, menodai udara kabin yang tadinya beraroma kopi mahal dan kulit mewah. Tanganku gemetar saat menutup kotak itu dengan kasar, memutus kontak visual kami dengan ancaman tersebut. Bunyi klik saat kotak itu tertutup terdengar seperti ledakan pistol di kesunyian kabin VIP ini.
Aku menoleh ke Adrian. Pria itu mematung.
Wajahnya, yang biasanya menyiratkan arogansi dingin seorang CEO yang tak tersentuh, kini pucat pasi. Rahangnya mengeras begitu kuat hingga aku takut gigi-giginya akan retak. Matanya tidak lagi menatap kotak itu, melainkan menatap kosong ke arah jendela oval, menembus awan, seolah melihat hantu masa lalu yang sedang menari di atas sayap pesawat. Trauma itu, bayangan Sarah, kecelakaan itu, dan kini ancaman yang menggunakan elemen yang sama, sedang mencabik-cabik pertahanannya.
"Adrian," panggilku pelan. Suaraku terdengar asing, serak oleh ketakutan yang berusaha kutelan bulat-bulat.
Dia tidak menjawab. Napasnya pendek-pendek, tidak beraturan. Tangannya mencengkeram sandaran tangan kursi kulit itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, kontras dengan setelan jas navy yang ia kenakan.
Aku sadar, aku tidak bisa membiarkannya hancur sekarang. Bukan di sini. Bukan saat kami terkurung di dalam tabung logam ini bersama musuh yang mungkin sedang mengamati kami.
Aku bangkit dari kursiku, mengabaikan tanda sabuk pengaman yang masih menyala samar, dan berlutut di hadapannya. Aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang dingin sedingin es.
"Hei," bisikku lebih tegas. "Lihat aku."
Kelopak matanya berkedip. Perlahan, tatapan kosong itu bergeser, turun menatapku. Ada kepanikan liar di sana, seperti seekor hewan yang terperangkap dalam jaring pemburu.
"Mereka ada di sini," suaranya keluar seperti geraman tertahan, getar ketakutan bercampur amarah. "Di pesawat ini. Katering. Kargo. Seseorang meletakkan ini di sini, Rini. Kita... kita terjebak bersama tikus."
"Aku tahu," jawabku cepat, meremas tangannya. "Tapi kita tidak akan membiarkan mereka melihat kita hancur. Kau dengar aku? Itu yang mereka inginkan."
Adrian memejamkan mata, menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan. "Aku seharusnya tidak membawamu. Kakek... perjalanan bodoh ini... seharusnya aku membatalkannya sejak teror di kantor."
"Dan membiarkan mereka menang?" potongku. Naluri bertahanku mengambil alih. Rasa takut itu masih ada, menggumpal di perutku, tapi kemarahan mulai membakarnya. Seseorang mengancam akan menenggelamkanku. Seseorang sedang bermain-main dengan nyawaku dan kewarasan suamiku. "Kalau kita batal ke Bali, mereka akan tahu kita takut. Mereka akan terus mengejar, entah di Jakarta, di apartemen, atau di rumah sakit tempat Ayah dirawat."
Menyebut Ayah membuatku semakin sadar akan taruhannya. Ini bukan lagi sekadar kontrak bisnis. Ini perang.
Adrian membuka matanya kembali. Kali ini, sedikit kejelasan mulai kembali ke iris gelapnya. Ia menatapku, bukan sebagai CEO kepada karyawan, tapi sebagai pria yang sedang mencari pegangan.
"Kau... kau tidak takut?" tanyanya, suaranya sedikit parau.
"Aku takut setengah mati," kataku jujur. "Kakiku lemas. Aku ingin muntah melihat istana pasir itu. Tapi aku lebih takut melihatmu menyerah."
Sudut bibir Adrian berkedut, sebuah senyum miris yang nyaris tak terlihat. Ia membalikkan tangannya, kini menggenggam jemariku erat. Telapak tangannya kasar namun hangat, memberikan sensasi listrik statis yang anehnya menenangkan.
"Maafkan aku," bisiknya. Satu kata yang jarang keluar dari mulut Adrian Mahardika. "Ini semua karena masa laluku. Kau terseret ke dalam lubang hitam ini karena menikah denganku."
"Simpan maafmu," kataku sambil berdiri, tapi tidak melepaskan genggaman tangannya. Aku menariknya pelan, isyarat agar ia kembali fokus. "Kita butuh rencana. Pesawat ini akan mendarat kurang dari satu jam lagi. Saat pintu itu terbuka, kita bukan lagi korban teror. Kita adalah Adrian dan Arini Mahardika, pasangan yang sedang berbulan madu. Kita akan memakai topeng itu sekuat mungkin sampai tidak ada yang bisa melihat retaknya."
Tiba-tiba, pintu penyekat kabin terbuka. Seorang pramugari berseragam rapi masuk dengan nampan berisi dua gelas kristal berisi cairan keemasan.
"Maaf mengganggu, Bapak, Ibu," ucapnya dengan senyum profesional yang terlalu lebar. "Pilot menginformasikan cuaca di Bali sangat cerah. Kami menyajikan champagne selamat datang untuk memulai liburan romantis Anda."
Tubuh Adrian menegang seketika. Matanya menyipit tajam, memindai wajah pramugari itu. Mencari tanda-tanda pengkhianatan. Apakah dia yang menaruh kotak itu? Atau rekannya di dapur? Atau petugas bagasi di bandara Halim?
Kecurigaan itu meracuni udara.
Aku segera melangkah, menutupi pandangan pramugari itu ke arah meja di mana kotak beludru hitam itu berada. Dengan gerakan cepat, aku menyambar tas tanganku dan menjatuhkannya tepat di atas kotak itu, menyembunyikannya.
"Terima kasih," kataku, berusaha terdengar riang meski tenggorokanku tercekat. "Tolong letakkan saja di sana. Kami ingin istirahat sebentar tanpa gangguan sampai mendarat. Bisa tolong pastikan tirai tetap tertutup?"
Pramugari itu tampak sedikit bingung dengan nada bicara yang kuberikan, tapi ia mengangguk patuh. "Tentu, Bu Arini. Jika butuh apa-apa, tekan saja tombol panggil."
Ia meletakkan gelas itu dan mundur, menutup pintu kembali.
Segera setelah pintu terkunci, Adrian menyambar gelas champagne itu. Bukan untuk meminumnya, tapi untuk mengamatinya.
"Jangan diminum," desisnya. "Bisa saja ada racun."
"Aku tidak bodoh, Adrian," sahutku, mengambil kotak musik dari saku dan meletakkannya di meja, bersebelahan dengan kotak beludru yang kini tertutup tas. "Sekarang, dengarkan aku. Reza pasti sudah menunggu di landasan pacu. Begitu mendarat, barang bukti ini kita serahkan padanya diam-diam. Jangan buat keributan di depan kru pesawat."
Adrian mengangguk, lalu menatapku lekat. Ada sorot kekaguman samar di balik kabut kecemasannya. "Sejak kapan arsitek lulusan baru berubah menjadi agen rahasia?"
"Sejak suaminya adalah magnet bagi psikopat," jawabku asal, mencoba mencairkan suasana.
Adrian mendengus pendek, suara yang paling mendekati tawa yang bisa ia keluarkan saat ini. Ia menarikku duduk di sebelahnya, di kursi yang berhadapan. "Mendekatlah."
Aku menurut, duduk di sampingnya. Kali ini, tidak ada kecanggunggan kontrak di antara kami. Tidak ada aturan 'dilarang menyentuh'. Adrian merangkul bahuku, menarikku ke dalam dekapan protektifnya. Aroma parfum woody mahalnya bercampur dengan sedikit bau keringat dingin, tapi bagiku, itu aroma keamanan.
"Dengar," bisiknya di telingaku, napasnya hangat menggelitik kulit leherku. "Begitu kita turun, jangan pernah jauh dari jangkauanku. Satu meter pun jangan. Reza sudah mengatur vila pribadi yang terisolasi. Kita akan aman di sana."
Aku menyandarkan kepala di bahunya yang lebar. "Kau janji?"
"Aku akan membakar seluruh pulau ini jika ada yang menyentuh sehelai rambutmu, Arini," ucapnya. Nadanya begitu dingin, begitu serius, hingga aku tahu itu bukan sekadar metafora. Itu adalah janji seorang Mahardika.
Roda pesawat mencium aspal Bandara Ngurah Rai dengan hentakan mulus.
Sesaat setelah mesin dimatikan, realitas baru menampar kami. Pintu pesawat terbuka, dan gelombang udara tropis yang lembap dan panas menyerbu masuk, kontras dengan AC kabin yang membekukan. Tapi bukan hanya udara panas yang menyambut kami.
Dari balik jendela, aku bisa melihat beberapa mobil hitam mengkilap sudah menunggu di tarmac. Dan di balik pagar pembatas VIP, kerumunan kecil fotografer dengan lensa tele panjang sudah bersiaga.
"Sial," umpat Adrian pelan sambil membetulkan letak dasinya. "Kakek benar-benar memastikan semua orang tahu kita di sini. Bagian PR pasti membocorkan jadwal kedatangan kita."
"Bagus," kataku sambil memasang kacamata hitam oversized yang menutupi separuh wajahku, menyembunyikan mata yang mungkin masih menyisakan jejak ketakutan. "Semakin banyak mata, semakin sulit bagi peneror itu untuk bergerak terang-terangan, kan?"
"Atau semakin mudah bagi mereka untuk bersembunyi di keramaian," bantah Adrian, tapi ia tetap mengulurkan tangannya padaku. "Siap, Nyonya Mahardika?"
Aku menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan mode sandiwara. "Siap, Pak CEO."
Kami menuruni tangga pesawat bergandengan tangan. Senyum lebar terukir di wajahku—senyum palsu yang sudah kulatih selama berminggu-minggu untuk gala dinner dan pesta perusahaan. Adrian, di sisiku, memasang wajah yang lebih santai dari biasanya, sesekali menunduk membisikkan sesuatu padaku seolah kami sedang berbagi lelucon intim, padahal ia sedang berkata, "Reza ada di mobil kedua. Jalan terus, jangan berhenti untuk foto."
Cahaya blitz kamera berkedip-kedip dari kejauhan, seperti kilat tanpa guntur. Aku merasakan pegangan tangan Adrian mengerat setiap kali kilatan cahaya itu mengenai matanya. Suara shutter kamera yang terdengar samar pasti mengingatkannya pada sesuatu yang buruk, tapi ia bertahan. Ia terus berjalan, tubuhnya menjadi tameng hidup di sisi kiriku.
Reza sudah berdiri di samping pintu mobil sedan hitam yang terbuka. Wajahnya datar, kacamata hitam menutupi ekspresinya, tapi postur tubuhnya siaga penuh.
"Selamat datang di Bali, Pak, Bu," sapanya formal, namun saat mata kami bertemu, ia memberikan anggukan mikro yang hampir tak terlihat.
"Barang di tasku," bisikku cepat saat melewati Reza sebelum masuk ke mobil. "Amankan."
Reza tidak menjawab, hanya menutup pintu mobil dengan gerakan efisien setelah kami masuk.
Di dalam mobil yang kedap suara dan berkaca gelap, barulah Adrian menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Topengnya retak sedikit. Ia memijat pelipisnya.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku, meletakkan tangan di lututnya.
"Kepalaku mau pecah," gumamnya. "Tempat ini... baunya, udaranya... terlalu banyak kenangan."
Mobil melaju membelah jalanan Bali yang padat. Pemandangan di luar jendela adalah campuran antara pura yang sakral, pohon kelapa yang melambai, dan billboard iklan klub malam. Paradoks yang indah. Tapi bagiku sekarang, setiap pengendara motor yang menyalip, setiap mobil boks yang berjalan lambat di depan kami, semuanya terlihat mencurigakan.
Reza duduk di kursi depan, di samping sopir. Ia sesekali melirik spion tengah, matanya tajam mengawasi jalan di belakang.
"Area vila sudah disisir, Rez?" tanya Adrian, suaranya kembali otoritas.
"Sudah, Pak," jawab Reza tanpa menoleh. "Tim keamanan sudah melakukan penyisiran dua jam lalu. CCTV aktif. Sensor gerak aktif. Tidak ada staf vila yang diizinkan masuk ke area private wing selama Bapak dan Ibu di sana. Makanan akan diantar oleh tim kita sendiri yang saya bawa dari Jakarta."
"Bagus." Adrian menoleh padaku. "Kita akan aman di sana. Setidaknya untuk malam ini."
"Apa rencanamu setelah ini?" tanyaku. "Kita tidak mungkin hanya bersembunyi di kamar selama seminggu."
"Aku akan memancingnya," jawab Adrian dingin. "Dia ingin bermain dengan ingatan Sarah? Baik. Aku akan memberinya panggung. Tapi kali ini, aku yang menulis naskahnya."
Aku menatap profil samping wajahnya. Ada tekad yang membara di sana, tapi juga kerapuhan yang menyayat hati. Dia ingin melawan, tapi dia bertarung dengan satu tangan terikat oleh trauma.
Perjalanan memakan waktu empat puluh menit menuju daerah Uluwatu. Mobil kami berbelok masuk ke gerbang sebuah resor ultra-mewah yang tersembunyi di balik tebing. Jalan masuknya berliku, diapit oleh hutan tropis yang rimbun. Vila pribadi kami terletak di ujung tebing paling terpencil, menghadap langsung ke Samudra Hindia yang luas.
Pemandangannya menakjubkan. Laut biru tak bertepi, deburan ombak yang menghantam karang di bawah sana, dan langit yang mulai semburat jingga. Seharusnya ini surga. Seharusnya ini tempat di mana pasangan jatuh cinta.
Tapi saat kami turun dari mobil, angin laut yang kencang membawa aroma garam yang mengingatkanku pada kotak di pesawat tadi. Aroma laut yang amis.
"Ayo," ajak Adrian, merangkul pinggangku posesif. "Kita masuk."
Interior vila itu adalah definisi kemewahan tropis. Lantai marmer dingin, atap jerami tinggi yang artistik, dan dinding kaca yang menyajikan panorama laut lepas. Ruang tamu luas itu kosong, sunyi, dan dingin.
"Istirahatlah dulu," kata Adrian, melepas jasnya dan melemparnya ke sofa. "Aku perlu bicara dengan Reza sebentar di luar soal protokol keamanan besok."
"Jangan lama-lama," pintaku. Entah kenapa, perasaan tidak enak kembali merayap di tengkukku.
"Hanya lima menit." Adrian mengecup keningku sekilas, sebuah gerakan yang terasa begitu alami sekarang, lalu berbalik keluar menuju teras tempat Reza menunggu.
Aku berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang luas itu. Hening. Hanya suara ombak sayup-sayup dari luar.
Aku memutuskan untuk memeriksa kamar tidur utama. Aku butuh mencuci muka, membersihkan sisa-sisa kepanikan di pesawat tadi.
Kamar tidur utama itu sangat luas, dengan ranjang king size bertiang empat yang dihiasi kelambu putih tipis. Romantis. Di atas kasur, ada hiasan handuk berbentuk angsa yang saling berhadapan, membentuk hati. Klise, pikirku sambil tersenyum kecut. PR hotel benar-benar bekerja keras.
Aku melangkah menuju pintu ganda yang menuju ke kamar mandi utama. Pintu itu sedikit terbuka.
"Aneh," gumamku. "Seharusnya tertutup rapat."
Aku mendorong pintu itu pelan.
Pemandangan di depanku membuat darahku berhenti mengalir seketika.
Kamar mandi itu didominasi oleh sebuah bathtub batu alam yang sangat besar, terletak tepat di depan jendela kaca yang menghadap ke laut.
Keran air menyala kecil, meneteskan air dengan irama yang konstan. Tes. Tes. Tes.
Bathtub itu penuh. Airnya meluap sedikit ke lantai marmer. Tapi bukan air jernih biasa. Air itu berwarna keruh, kehijauan, seolah diambil langsung dari rawa atau laut dalam yang kotor. Ada bau amis yang menyengat, persis seperti bau di dalam kotak tadi, tapi kali ini sepuluh kali lebih kuat, memenuhi ruangan sempit itu hingga membuatku mual.
Dan di tengah-tengah air keruh itu, mengambang sesuatu.
Bukan bunga mawar. Bukan garam mandi.
Sebuah gaun pengantin.
Gaun putih panjang dengan renda-renda halus, kini basah kuyup dan tampak berat, mengambang seperti mayat di permukaan air. Kain putih itu ternoda oleh lumpur dan air kotor, membuatnya terlihat seperti baru saja ditarik dari dasar laut.
Dan di atas gaun itu, mengapung sebuah foto polaroid yang dibungkus plastik bening.
Kakiku gemetar hebat, tapi rasa penasaran yang mengerikan memaksaku melangkah mendekat. Aku membungkuk sedikit untuk melihat foto itu.
Itu foto candid. Diambil dari jarak jauh.
Foto aku dan Adrian saat kami berjalan menuruni tangga pesawat tadi. Baru saja. Kurang dari satu jam yang lalu.
Seseorang telah memotret kami di bandara, mencetaknya, mendahului kami ke vila ini. Vila yang katanya sudah disisir bersih oleh tim keamanan Reza dua jam lalu dan mengatur instalasi horor ini.
Di bawah foto itu, ada tulisan spidol merah yang tintanya sedikit luntur di dalam plastik:
GLUP. GLUP. GLUP. Selamat datang di Honeymoon, Arini.
Napas tercekat di tenggorokanku. Aku ingin berteriak memanggil Adrian, tapi suaraku hilang. Musuh bukan hanya mengikuti kami. Musuh sudah ada di sini, menunggu di kamar tidur kami, satu langkah di depan sistem keamanan terbaik Mahardika Group.
Aku mundur selangkah, menabrak wastafel marmer. Suara benturan itu memecah keheningan.
Dan saat itulah aku mendengar suara lain. Bukan dari luar. Bukan dari Adrian.
Tapi suara langkah kaki pelan... dari dalam walk-in closet yang terhubung dengan kamar mandi ini.
Aku tidak sendirian di kamar ini.