Menikahi Istri Kakakku - Benda Keras - Bab 31

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Dalam hati, Arga berbisik dingin, ‘Baiklah, Dion. Kau sudah buka permainan ini lebih dulu. Tapi kau lupa satu hal, aku tak pernah melangkah tanpa rencana cadangan.’

“Masih mending menjadi petugas kebersihan, tapi tak arogan sepertimu! Kau memanfaatkan kematian kakakku demi tujuan pribadimu!”

Semua mata tertuju pada Arga. Udara di aula terasa tebal, seolah waktu berhenti sesaat. Dion tak menjawab, hanya senyuman licik yang terpancar di raut wajahnya.

Sementara itu, Harto masih berdiri di depan barisan para petugas kebersihan, wajahnya pucat menahan amarah dan bingung. Sementara Dion dengan senyum congkak di bibirnya, menatap Arga seolah sedang menonton sandiwara lucu.

“Jadi, kau sebenarnya bukan anak baru yang posisinya sebagai petugas kebersihan?” tanya petugas kebersihan paruh baya pada Arga yang berdiri di sampingnya.

“Benar,” suara Arga akhirnya pecah, pelan tapi tegas. “Aku menyamar bukan karena aku ingin mengamati sistem kerja atau perusahaan ini…” Ia menatap tajam ke arah Dion. “Tapi karena aku ingin tahu, siapa yang membunuh kakakku. Orang sekejam itu pantas mendapat balasan yang lebih kejam.”

Semua orang langsung saling menatap. Beberapa petugas menutup mulut mereka, sebagian hanya membeku, tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Dion tersenyum dingin. “Kakakmu? Oh, maksudmu Alvaro Dirgantara? Jangan bilang kau masih percaya teori konspirasi itu, Arga. Semua orang tahu, itu kecelakaan biasa. Tak ada sangkut pautnya dengan aku.”

Arga mengepalkan tangan, matanya membara. “Kecelakaan biasa katamu?” Ia melangkah maju, suaranya meninggi. “Rem blong dan mobil kakakku yang sengaja ditukar mengindikasi bahwa itu sudah direncanakan. Dan pelaku satu-satunya adalah kau, Dion? Hanya kau yang punya rencana seperti itu untuk menyingkirkan kakakku dari dunia ini!”

Dion langsung menegang sesaat, tapi berusaha menutupinya dengan tawa kecil. “Kau menuduh aku?” katanya, wajahnya terlihat bahwa ia sedang pura-pura heran.

Arga mendekat, jarak mereka hanya tinggal satu langkah. “Ya, kau pasti tersangkanya, Dion!” suaranya bergetar tapi mantap. “Kau membunuh Kak Dirga karena kau ingin menyingkirkannya, agar jabatan CEO itu jadi milikmu!”

Suara itu menggema di seluruh ruangan. Semua orang yang ada di sana terdiam, seolah petir baru saja menyambar di tengah-tengah mereka.

Harto terperanjat. “Arga! Kau sadar apa yang kau katakan?”

Tapi Arga tak berhenti. “Aku tahu, Ayah. Tapi semua bukti mengarah padanya! Mobil yang sengaja ditukar dan orang yang tersenyum menyeringai saat pemakaman Kak Dirga adalah Dion!” Ia menunjuk Dion dengan tegas.

Dion berhenti tersenyum. Wajahnya menegang, tapi matanya berputar mencari cara membalikkan keadaan. Ia tertawa kecil, mencoba menutupi ketegangannya. “Kau pikir tuduhan semacam itu akan membuatku mundur dari jabatan? Memang lucu, sangat lucu. Cuma karena tersenyum saja tertuduh sebagai pelaku pembunuhan. Pemikiranmu masih kenakak-kanakan.”

Arga balas menatap dingin. “Kau bisa tertawa sepuasmu sekarang. Tapi aku akan buktikan semuanya. Aku sudah cukup lama diam. Aku janji, akan mencari bukti lain.”

Beberapa petugas kebersihan yang sejak tadi hanya menonton mulai berbisik-bisik cemas. Sugito mencoba menengahi, tapi suaranya kalah oleh ketegangan yang sudah menguasai ruangan.

“Cukup, kalian berdua!” bentak Harto akhirnya, suaranya keras dan bergema, hingga semua yang ada di sana pun terdiam.

Dion menatap Arga dengan mata tajam penuh kebencian. “Kau benar-benar gila, Arga. Kalau kau terus cari masalah, aku pastikan kau sendiri yang akan hancur.”

Arga tersenyum tipis, tapi tatapannya menusuk. “Kau sudah merenggut nyawa salah satu keluargaku, Dion. Sekarang giliranku menghancurkan kebohonganmu.”

Keheningan menyelimuti ruangan lagi. Tak ada satu pun yang berani bersuara. Hanya terdengar napas berat Harto yang mendesah panjang dan gemetar halus di tangan Arga yang masih mengepal.

Tak ada jalan lain lagi, Harto meminta salah satu petugas keamanan untuk membawa Arga ke ruangannya. Sementara Sugito yang merupakan kaki tangan Harto, membubarkan mereka semua dan menginstruksikan untuk kembali bekerja.

Di sudut lain, Dion tersenyum, bukannya takut karena rencana membunuh Dirga terbongkar, ia justru memiliki rencana untuk menyerang Arga juga. Suasana pun mendadak hening setelah mereka semua meninggalkan tempat tersebut.

Di dalam yang luas dan dingin, suara pintu tertutup. Harto berdiri di depan meja, tangannya mengepal, menahan marah yang hampir meledak atas kelakukan anaknya, tapi ia mencoba untuk tetap tenang.

“Kau tahu? Menyamar jadi petugas kebersihan itu sangat memalukan keluarga! Kau anak direktur di perusahaan ini, bukan gelandangan yang bermain-main di bawah!”

Arga hanya menunduk sebentar, lalu menatap ayahnya dengan tatapan tajam. “Aku tidak sedang bermain, Ayah. Aku sedang mencari kebenaran.”

Harto menatapnya tak percaya. “Kebenaran apa? Dengan berpakaian seperti itu?”

“Kebenaran tentang kematian kak Dirga!” sahut Arga lantang. “Semuanya terlalu janggal, Ayah. Mobilnya ditemukan remuk, rem blong dan mobil masuk jurang. Aku yakin itu bukan kecelakaan biasa. Mobil itu bukan mili Kak Dirga, mobil punya kakak ada di rumah masih dalam keadaan utuh.”

Harto menatap Arga dengan sorot mata tajam. “Arga, semua sudah diperiksa. Polisi bilang itu murni kecelakaan. Sementara mobil itu ....”

“Polisi juga bisa dibayar, Pak!” potong Arga cepat. “Dan yang paling membuatku curiga, Dion terlalu cepat mengambil alih jabatan CEO. Bahkan sebelum masa berkabung selesai.”

Harto terdiam sesaat. Ada keraguan di matanya, tapi ia berusaha menutupi. “Kau menuduh tanpa bukti. Dion sudah lama disiapkan untuk posisi itu.”

“Disiapkan atau direncanakan?” Arga menatap ayahnya dalam-dalam. “Ayah tidak pernah curiga kenapa semua laporan kecelakaan ditutup begitu cepat? Aku menemukan salinan arsip yang menunjukkan ada satu bukti kuat pesan terakhir Kak Dirga. Tapi nyatanya, bukti itu dihapus, bukan ditelisik lebih mendalam.”

Ruangan itu hening. Harto memandang Arga, dan untuk sesaat, wajah direktur tua itu tampak berubah antara marah dan takut.

“Itu sebabnya aku menyamar, Ayah,” lanjut Arga pelan tapi tegas. “Agar aku bisa melihat siapa yang terlibat dari dalam, tanpa dicurigai. Aku harus tahu siapa pembunuh kak Dirga sebenarnya dengan mengintai Dion dari penyamaran itu.”

Harto menarik napas panjang, lalu memukul meja keras-keras. “Kau sudah keterlaluan, Arga! Jangan menyeret perusahaan ini ke dalam drama pribadimu!”

“Kalau begitu, biarkan aku menyelidikinya sendiri,” jawab Arga dingin. “Aku tak butuh izin siapa pun.”

Suasana kembali tegang. Harto hanya bisa diam, memalingkan wajah ke arah lain, seolah ada sesuatu yang ia tahu, tapi tak ingin ia akui.

Ternyata, ada Sugito yang berdiri di luar ruangan, sepertinya menguping pembicaraan mereka. Di saat Arga keluar ruangan tersebut, ia pun bersembunyi.

Langkah Arga terdengar berat saat ia keluar dari gedung utama PT Kohen Sinergi. Suara sepatu kerjanya bergema di lantai parkiran basement yang sepi. Napasnya masih memburu, bukan karena lelah, tapi karena kemarahan yang belum padam. Ia tak menyangka, rencananya bisa hancur total dan diketahui oleh Dion.

“Kenapa bisa gagal? Adakah seseorang yang bersekutu dengan Dion?” gumamnya pelan. Ia menatap langit-langit parkiran yang agak gelap meski masih siang hari karena letaknya berada di paling bawah.

Arga baru saja merogoh saku celana, hendak menyalakan ponsel untuk menghubungi seseorang, ketika terdengar langkah cepat di belakangnya.

“Siapa di sana?” tanyanya tajam.

Namun, tak ada jawaban. Hanya gema langkah yang semakin dekat. Arga refleks menoleh, tapi terlambat. Sebuah benda keras menghantam tengkuknya. Seketika pandangannya gelap ....