Jantungku rasanya berhenti berdetak. Bukan karena pesona vila mewah ini, bukan karena kelelahan perjalanan, tapi karena suara itu.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang diseret pelan, berirama, dan mengerikan. Bunyinya bukan berasal dari lorong di belakangku tempat Adrian berada, melainkan dari depan. Dari dalam walk-in closet yang gelap, yang pintunya sedikit terbuka, terhubung langsung dengan kamar mandi berbau busuk ini.
Bau amis air rawa dan lumut yang menggenang di bathtub menusuk hidungku, membuat perutku mual seketika. Tapi rasa takut jauh lebih mendominasi daripada rasa jijik. Ada orang lain di sini. Di ruang pribadi yang seharusnya paling aman di seluruh Bali.
Aku mundur satu langkah, tumitku nyaris terpeleset di lantai marmer yang licin. Mataku terpaku pada celah pintu lemari itu. Bayangan memanjang di lantai kayu di dalamnya bergerak. Seseorang sedang berdiri di sana, mengamatiku. Menunggu reaksiku melihat "hadiah" menjijikkan di dalam bathtub itu.
"Siapa di sana?!" teriakku. Suaraku pecah, melengking panik di antara gema dinding marmer.
Bukannya menjawab, sosok itu justru bergerak cepat. Bukan mendekat, tapi menjauh. Terdengar suara pintu kaca digeser paksa, lalu hantamannya saat ditutup kembali dengan keras.
BRAK!
"ARINI?!"
Suara Adrian meledak dari arah kamar tidur. Detik berikutnya, pintu kamar mandi di belakangku didobrak hingga menghantam dinding. Adrian berdiri di sana, napasnya memburu, matanya liar mencari ancaman. Jas mahalnya sudah dilepas, kemeja putihnya berantakan di bagian lengan yang digulung asal.
"Apa yang terjadi? Kamu..."
Kalimat Adrian terputus begitu ia melangkah masuk. Ia membeku. Bukan karena melihatku yang gemetar memegang pinggiran wastafel, tapi karena baunya. Bau anyir yang familiar dan mengerikan itu.
Perlahan, tatapan Adrian beralih ke bathtub.
Waktu seolah melambat. Aku melihat pupil mata Adrian mengecil drastis saat ia melihat air keruh berwarna hijau lumut itu. Di sana, mengapung sebuah gaun pengantin putih yang kotor, penuh lumpur, seolah baru saja ditarik dari dasar danau. Dan foto polaroid itu... foto kami di bandara tadi sore, dengan tulisan merah darah yang menyayat hati.
GLUP. GLUP. GLUP.
Wajah Adrian memucat seputih kertas. Rahangnya mengeras, tapi tubuhnya mulai gemetar hebat. Ini bukan sekadar kemarahan. Ini trauma. Teror itu tidak menyerang fisik kami, tapi menyerang memori tergelap di kepala Adrian.
"Tidak..." bisik Adrian parau. Suaranya terdengar seperti anak kecil yang tersesat. "Airnya... masuk..."
Ia mulai mundur, tangannya mencengkeram dadanya sendiri seolah kesulitan bernapas. Adrian sedang mengalami serangan panik, persis seperti di pesawat tadi, tapi kali ini jauh lebih parah.
Naluri melindungiku mengambil alih rasa takutku sendiri. Aku tidak boleh membiarkan dia hancur di sini. Inilah yang diinginkan si pelaku. Melihat Sang CEO Mahardika runtuh menjadi puing-puing tak berdaya.
Aku menerjang maju, menempatkan tubuhku tepat di antara Adrian dan bathtub itu, memblokir pemandangannya.
"Adri! Lihat aku!" bentakku, menangkup kedua pipinya yang dingin dengan tanganku yang masih gemetar. "Jangan lihat ke sana. Tatap mataku!"
Mata Adrian yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini kosong, berkabut oleh ketakutan masa lalu. Ia melihatku, tapi aku tidak yakin ia benar-benar melihatku.
"Sarah..." gumamnya lirih, napasnya tersendat-sendat. "Dia... dingin..."
"Aku bukan Sarah!" Tegas. Keras. Aku harus menariknya kembali ke realitas. "Aku Arini. Istrimu. Aku ada di sini, Adrian. Kau tidak sedang di dalam air. Kita di Bali. Kita aman."
Kebohongan itu terasa pahit di lidahku, kita sama sekali tidak aman, tapi aku harus mengatakannya.
"Arini?" Adrian berkedip, fokusnya perlahan kembali meski lambat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Ya. Arini," ucapku lebih lembut, mengusap rahangnya dengan ibu jariku. Bau amis di ruangan ini makin menyengat, membuat kepalaku pening, tapi aku menahan napas. "Sekarang, kita keluar dari ruangan ini. Oke?"
Sebelum Adrian sempat menjawab, Reza muncul di ambang pintu kamar mandi. Pistol hitam pekat sudah ada di tangannya, moncongnya mengarah ke lantai namun siap diangkat kapan saja. Wajah Reza yang biasanya tenang kini terlihat tegang dan berbahaya.
Reza tidak perlu bertanya. Matanya menyapu ruangan dalam sedetik. Air keruh, gaun pengantin, Adrian yang nyaris kolaps, dan aku yang berusaha menopang tubuh besar suamiku.
Dengan sigap, Reza menyarungkan senjatanya, lalu bergerak cepat menarik tirai shower hingga tertutup rapat, menyembunyikan pemandangan mengerikan itu. Ia kemudian meraih handuk tebal dan melemparkannya ke atas genangan air yang tumpah di lantai.
"Pak Adrian," panggil Reza, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Kita harus pindah ke Sayap Barat. Sekarang."
Adrian menarik napas panjang, seolah baru saja muncul ke permukaan air setelah hampir tenggelam. Ia menepis tanganku perlahan, menegakkan tubuhnya. Ego prianya kembali, meski aku bisa melihat tangannya masih mengepal erat untuk menyembunyikan getaran.
"Siapa..." Suara Adrian serak, berat, dan penuh amarah yang tertahan. "Siapa yang masuk ke sini, Reza?"
"Akses staf kebersihan dipalsukan. Saya melihat jejak sepatu lumpur di balkon closet," lapor Reza cepat. "Pelaku sudah keluar area vila sebelum kita masuk kamar ini. Tim keamanan sedang menyisir perimeter."
Adrian memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Saat ia membuka mata kembali, tatapan rapuh tadi sudah hilang, digantikan oleh sorot mata dingin yang mematikan.
"Bakar," desis Adrian, menunjuk ke arah tirai tertutup itu tanpa menoleh. "Bakar gaun itu. Jangan sampai ada sisa."
"Baik, Pak."
Adrian lalu menoleh padaku. Tatapannya melunak seketika, dan ada rasa bersalah yang begitu besar di sana hingga membuat dadaku sesak. Ia merengkuh bahuku, menarikku keluar dari kamar mandi terkutuk itu.
"Maafkan aku," bisiknya di telingaku saat kami berjalan cepat meninggalkan kamar utama yang megah namun beracun itu. "Kau seharusnya tidak melihat itu."
Satu jam kemudian, kami berada di Sayap Barat vila.
Bangunan ini terpisah dari bangunan utama, lebih kecil namun tetap mewah dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke tebing dan lautan lepas yang gelap. Reza telah memastikan tempat ini steril. Dua penjaga berbadan tegap kini berdiri di depan pintu masuk, dan Reza sendiri berjaga di ruang tamu yang memisahkan kamar tidur kami dengan area luar.
Adrian duduk di tepi ranjang king size, siku bertumpu pada lutut, wajahnya terbenam di telapak tangan. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos polos hitam dan celana santai, tapi ketegangan di bahunya belum juga surut.
Aku berdiri di dekat jendela, memegang secangkir teh chamomile hangat yang uapnya mengepul. Di luar sana, ombak Uluwatu menghantam karang dengan suara gemuruh yang biasanya menenangkan, tapi malam ini terdengar seperti ancaman.
"Minumlah," kataku pelan, duduk di sebelahnya dan menyodorkan cangkir itu.
Adrian mengangkat wajah. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya. Ia menerima cangkir itu, tapi tidak meminumnya. Ia hanya memeganginya, mencari kehangatan.
"Reza bilang mereka menemukan jalan masuknya," kata Adrian datar. "Seorang staf catering dibayar untuk meninggalkan pintu servis tidak terkunci selama sepuluh menit."
"Hanya sepuluh menit?" tanyaku tak percaya.
"Cukup waktu untuk mengisi bathtub dan menaruh... benda-benda itu," Adrian menunduk, menatap cairan teh yang bergetar di dalam cangkir. "Mereka tahu persis apa yang akan menghancurkanku, Rini. Mereka tidak mengincarku secara fisik. Mereka ingin aku gila."
Aku meletakkan tanganku di atas lututnya, meremasnya pelan. "Dan mereka menggunakan aku untuk itu."
Adrian menoleh cepat, meletakkan cangkir itu di meja nakas dengan bunyi tak yang keras. Ia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat seolah aku akan menghilang jika ia lepaskan.
"Aku akan memulangkanmu besok pagi," katanya tiba-tiba. Nada bicaranya final. "Jet pribadi akan siap jam enam. Kau kembali ke Jakarta, tinggal di penthouse dengan pengawalan penuh sampai aku membereskan bajingan ini."
Aku tertegun sejenak, lalu menarik tanganku, tapi Adrian menahannya.
"Tidak," tolakku tegas.
"Jangan membantahku, Arini! Ini bukan negosiasi kontrak!" suaranya meninggi, tapi matanya memancarkan keputusasaan. "Kau lihat apa yang ada di kamar mandi itu? Pesannya jelas. 'Selamat datang di Honeymoon, Arini'. Kau targetnya sekarang! Jika terjadi sesuatu padamu karena masa laluku..."
Suaranya pecah. Adrian Mahardika, pria yang bisa membuat lawan bisnisnya menangis hanya dengan satu tatapan, kini terlihat begitu ketakutan kehilangan seseorang.
"Jika aku pulang, mereka menang, Adrian," potongku, menatap lurus ke matanya. "Mereka ingin memisahkan kita. Mereka ingin kau sendirian di sini, dihantui rasa bersalah dan memori tentang Sarah, sampai kau hancur. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Kau bisa mati..."
"Dan kau bisa mati jika aku pergi," balasku cepat. "Bukan mati fisik, tapi jiwamu. Kau butuh aku di sini untuk tetap waras, kan? Sama seperti di pesawat tadi."
Adrian terdiam. Rahangnya berkerut menahan emosi. Ia tahu aku benar, tapi egonya sebagai pelindung memberontak hebat.
"Kita sudah sepakat," lanjutku, melembutkan suaraku. Aku memberanikan diri menyentuh pipinya lagi, merasakan kasar bekas cukurannya di ujung jariku. "Satu tahun. Dalam suka dan duka, ingat? Kontrak itu tidak menyebutkan klausal pengecualian untuk teror psikopat."
Adrian memejamkan mata saat merasakan sentuhanku. Perlahan, ia memiringkan wajahnya, mencium telapak tanganku dengan gerakan yang begitu lembut, kontras dengan kekacauan di sekeliling kami.
"Kau wanita paling keras kepala yang pernah kutemui," gumamnya di telapak tanganku. Napasnya hangat menggelitik kulitku.
"Dan kau pria paling menyebalkan yang pernah kutemui," balasku, mencoba tersenyum meski bibirku terasa kaku. "Tapi kau suamiku sekarang. Jadi, hadapi ini bersamaku."
Adrian membuka matanya. Ada api baru yang menyala di sana. Bukan lagi ketakutan, melainkan tekad. Ia menarikku mendekat hingga kening kami bersentuhan.
"Aku bersumpah, Rini," bisiknya, suaranya rendah dan berbahaya. "Siapapun yang melakukan ini... mereka akan menyesal pernah menyentuhmu. Aku akan membuat mereka membayar setiap tetes air mata dan ketakutanmu malam ini."
Jarak di antara kami begitu tipis. Aroma musk dan sandalwood dari tubuh Adrian mengalahkan sisa bau amis yang sempat menempel di ingatanku. Untuk sesaat, aku lupa pada bahaya. Aku hanya sadar pada detak jantungku yang berpacu kencang karena kedekatan ini.
Ini bukan akting. Tidak ada kamera, tidak ada wartawan. Hanya ada kami berdua di kamar asing ini. Dan rasa aman yang kurasakan saat berada dalam lingkup pelukannya terasa begitu nyata, begitu membingungkan.
"Tidurlah," kata Adrian akhirnya, menarik diri sedikit namun tetap tidak melepaskan tanganku. "Aku akan berjaga."
"Kau juga butuh tidur, Adrian."
"Tidak malam ini." Ia melirik ke arah pintu balkon yang tertutup tirai tebal. "Aku tidak akan memejamkan mata."
Aku tahu percuma mendebatnya. Aku naik ke atas ranjang, menarik selimut tebal hingga sebatas dada. Adrian duduk bersandar di headboard di sampingku, satu kakinya tertekuk, matanya waspada menatap pintu masuk. Ia mengambil pistol kecil, aku bahkan tidak tahu kapan ia mengambilnya dari Reza dan meletakkannya di meja nakas, tepat di samping lampu tidur.
Suasana hening menyelimuti kamar itu. Hanya suara AC yang mendengung halus. Kelelahan fisik dan mental perlahan menarikku menuju alam tidur, meski aku berusaha melawannya. Kehadiran Adrian di sampingku, meski dalam diam, menjadi jangkar yang menahanku dari mimpi buruk.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tepat saat mataku mulai terasa berat, ponselku yang tergeletak di meja rias di seberang ruangan berdenting. Bukan nada pesan biasa. Itu nada notifikasi khusus yang kuatur untuk email prioritas, biasanya untuk urusan pekerjaan atau kabar dari Ayah.
Mataku terbuka seketika.
"Biar aku yang ambil," kata Adrian sigap. Ia turun dari ranjang, bergerak cepat mengambil ponselku.
Ia menatap layar itu, lalu keningnya berkerut dalam.
"Siapa?" tanyaku, duduk tegak di tempat tidur. Perasaan tidak enak kembali merayapi punggungku.
Adrian tidak menjawab. Ia justru mengetuk layar, membuka sebuah tautan yang dikirimkan. Wajahnya yang tadi mulai tenang kembali menegang. Matanya membelalak, memancarkan amarah bercampur kengerian yang lebih parah dari sebelumnya.
"Jangan lihat," perintahnya cepat, hendak mematikan ponsel itu.
"Adrian, apa itu?" Aku tidak peduli pada perintahnya. Aku melompat turun dari ranjang dan merebut ponsel itu dari tangannya sebelum ia sempat menguncinya.
Di layar ponselku, ada sebuah video livestream.
Tampilannya hitam putih, sedikit berbutir seperti kualitas CCTV inframerah. Tapi gambarnya jelas. Sebuah ruangan tidur yang mewah. Ada ranjang besar. Ada seorang pria berbaju hitam yang berdiri kaku, dan seorang wanita berambut panjang yang sedang memegang ponsel, menatap layar dengan wajah pucat pasi.
Darahku membeku.
Itu kami.
Video itu menayangkan kami. Sekarang. Detik ini juga.
Aku mendongak, mataku menyisir setiap sudut ruangan Sayap Barat yang katanya 'steril' ini. Tidak ada kamera CCTV di langit-langit. Tidak ada apapun yang mencurigakan.
"Sudut pandangnya..." Adrian bergumam, suaranya dingin menusuk tulang. Matanya menyipit, menatap layar ponsel di tanganku, lalu beralih menatap cermin besar antik yang tergantung tepat di depan tempat tidur kami.
Cermin dua arah.
"Mereka ada di balik dinding," bisik Adrian.
Sebelum aku sempat berteriak, lampu di seluruh vila tiba-tiba padam total. Kegelapan menelan kami seketika.
Dan di tengah keheningan yang mencekam itu, dari balik dinding tempat cermin itu tergantung, terdengar suara ketukan pelan.
Tok. Tok. Tok.
Lalu suara tawa anak kecil yang menyanyikan sebuah lagu dari kotak musik itu.
"Twinkle, twinkle, little star... how I wonder where you are..."
Adrian menarikku ke dalam pelukannya, pistol di tangan kanannya terkokang dengan bunyi klik yang nyaring di dalam kegelapan.
Kami tidak sendirian di Sayap Barat ini. Kami sudah terjebak di dalam sangkar bersama singanya.