Menikahi Istri Kakakku - Memandikan Nabila - Bab 10

Penulis Yuan_bee
15 September 2025

Ia menggenggam baju itu, lalu melangkah kembali ke arah kamar mandi dengan perasaan campur aduk.

Arga menatap wajah Nabila yang polos, lalu menghela napas panjang. Dengan tangan gemetar, ia mulai membantu melepas pakaian yang melekat di tubuh kakak iparnya atau lebih tepatnya, istri kakaknya. Pandangannya sekilas menangkap kulit putih mulus Nabila yang memantulkan cahaya lampu kamar mandi. Seketika tenggorokannya kering, dan ia menelan ludah keras-keras.

Tubuhnya begitu putih mulus tanpa cacat atau apa pun. Ia hanya buta, hanya itu saja kekurangannya. Arga semakin tak karuan setelah mulai melepas pakaian dalamnya. Ia sejenak menutup matanya, tak membiarkan lirikan nakalnya melihat pemandangan itu.

Arga harus bisa menahannya, demi kakaknya yang sudah tiada, demi Novita – kekasihnya, dan demi keluarga. Sebab, ia tahu, hubungan itu hanya pura-pura. Belum sah secara aturan.

Hatinya bergejolak. Ada bagian dalam dirinya yang hampir tak mampu menahan hasrat lelaki normal. Namun, pada saat yang sama, kesadaran lain berteriak keras di kepalanya.

‘Dia bukan milikmu, Ga. Dia milik kakakmu. Jangan sampai kebablasan.’

Arga menunduk, berusaha fokus. Tangannya dengan hati-hati menggenggam bahu Nabila agar tak kehilangan keseimbangan. “Pelan-pelan, ya … jangan sampai aku jatuh,” ucap Nabila lirih, hampir berbisik pada dirinya sendiri.

“Iya, tenang saja. Kamu tak akan jatuh,” jawab Arga yang berada di belakangnya. Ia sebenarnya tak menyangka, ada bidadari cantik di depannya yang sudah siap apabila Arga mau bertindak nakal.

Nabila tersenyum samar, seolah percaya penuh padanya. “Aku tahu, aku cuma bisa bergantung sama kamu, Dirga.”

Kata-kata itu menusuk langsung ke dalam hati Arga. Sejenak ia menutup mata, menahan gelombang rasa bersalah yang semakin membesar. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, mengambil shower dan membiarkan air mengalir membasahi tubuh Nabila, sembari fokus hanya pada satu hal, yaitu menjaga perempuan itu tetap aman.

Akan tetapi, di dalam dirinya, perang batin terus berkecamuk. Hasrat, rasa bersalah, dan kasih sayang bercampur jadi satu, membuatnya sulit bernapas.

Dengan berat hati, Arga mengambil waslap, merendamnya ke dalam air hangat, lalu mulai mengusap perlahan kulit Nabila. Setiap sentuhan membuat dadanya semakin sesak. Ia bisa merasakan lembutnya kulit perempuan itu, sesuatu yang dengan mudah bisa membangkitkan gejolak dalam dirinya.

Ia menelan ludah, menundukkan kepala, mencoba keras mengalihkan pikiran. Ia pada suatu ketika, Arga mulai mengusap ke area yang terlarang. Ia mengusap dua gundukan putih itu dengan mata terpejam sambil menahan nafsu yang mungkin menyerang kapan saja.

‘Tahan, Ga. Jangan sampai kelewatan. Ingat, dia bukan milikmu. Dia percaya kamu sebagai suaminya. Kamu nggak boleh khianati kakakmu,' batin Arga dalam hati menyemangati dirinya sendiri.

Sementara itu, Nabila hanya terdiam, seolah menikmati ketulusan suaminya yang membantu tanpa banyak kata. Sesekali ia berbisik, “Terima kasih, Dirga,” dengan suara pelan yang membuat hati Arga semakin terhimpit.

Tangannya sempat bergetar, dan Arga buru-buru menegakkan tubuh, pura-pura memperbaiki posisi waslap. Setiap kali gejolak itu muncul, ia menekannya dalam-dalam dengan rasa bersalah dan tekad untuk menjaga batas.

Usapan terakhir, ia bergerak ke area bawah masih dengan menutup matanya, ia merasa ada sesuatu yang lebih lembut dari kulit tubuhnya. Setelah semua area tubuhnya diusap menggunakan washlap, ia lalu membilasnya dengan shower.

Air yang menetes dari ujung rambut Nabila bercampur dengan tetesan keringat di pelipis Arga. Situasi itu begitu berat baginya, antara hasrat, tanggung jawab, dan rahasia besar yang ia pikul seorang diri.

Ia masih memejamkan mata dan membukanya sekilas. Namun, lantai yang bawah itu sudah tercampur oleh sabun yang membuat kakinya terasa licin.

Arga terpeleset dan tanpa sadar memeluk tubuh Nabila, wajah mereka hanya terpaut sejengkal. Napas Nabila yang hangat terasa di pipinya, dan matanya menatap penuh percaya, tanpa ada rasa curiga sedikit pun.

Tubuh Nabila masih basah, tanpa sehelai kain, dan itu membuat dada Arga berdegup kencang tak terkendali. Ia merasakan tarikan kuat dari dalam dirinya untuk mendekat. Bibirnya pelan-pelan condong ke arah wajah Nabila.

Akan tetapi, tepat sebelum jarak itu hilang, Arga mendadak tersadar. Seperti ada suara keras di dalam kepalanya, ‘Hentikan, Ga! Dia bukan milikmu. Dia milik kakakmu. Jangan kau hancurkan kepercayaan ini!’

Arga hampir kehilangan kendali ketika wajah Nabila begitu dekat. Namun, di detik terakhir, ia menahan diri. Dengan lembut, ia menangkup wajah Nabila lalu menjauhkannya perlahan dari wajahnya.

Tangannya refleks melepaskan pelukan. Ia mundur setapak, wajahnya pucat, matanya menghindari tatapan Nabila yang sudah sayu dan sebenarnya sudah siap untuk dieksekusi saat itu juga.

Nabila terdiam. Ia tidak menolak saat Arga hampir mendekat tadi, justru hanya menatapnya dalam diam, seolah yakin dengan kasih sayang suaminya. Namun, melihat Arga mundur, matanya memantulkan kebingungan.

“Dirga … kenapa berhenti?” tanyanya lirih.

Arga tercekat, mencari kata-kata, sementara dadanya terasa seperti dihimpit ribuan beban.

“Maaf …,” ucap Arga dengan suara serak, kepalanya menggeleng pelan. “Aku … aku belum siap untuk saat ini.”

“Kenapa belum siap? Bukannya kita sudah sah jadi suami istri? Tak ada larangan untuk berhubungan badan, kan?”

‘Benar juga kata Nabila. Tapi aku sadar, aku bukanlah suami sahmu. Mana mungkin aku merusak mahkota yang kau jaga dengan baik demi untuk seorang pria yang kau pilih,’ batin Arga dalam hati.

“Aku hanya ... hanya belum siap saja. Tubuh kamu masih terluka karena kecelakaan itu. Mana mungkin aku melukaimu lagi. Mungkin, aku akan menunggu kamu pulih total seratus persen.”

Tatapan Arga jatuh ke lantai, seolah tak sanggup menatap mata Nabila yang begitu penuh kepercayaan. Dalam hati, ia sadar betul bahwa seindah apa pun momen itu, sekuat apa pun hasrat yang bergejolak, perempuan di hadapannya bukan miliknya. Nabila adalah milik kakaknya, dan tak mungkin, sama sekali tak mungkin, ia mengambil kesempatan di balik kesempitan.

Nabila terdiam. Bibirnya sempat bergetar, tapi ia hanya mengangguk pelan, membenarkan perkataan seorang pria yang ia anggap adalah suaminya. “Kalau begitu … baiklah,” katanya lirih, meski jelas ada nada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.

Arga menarik napas panjang, lalu meraih handuk dan membalutkannya ke tubuh Nabila dengan penuh hati-hati. Ia berusaha mengalihkan perasaan dengan sikap tenang, meski dalam dadanya badai terus berkecamuk.

“Oke, putri cantik, sekarang kita keringkan badanmu. Kamu bisa sakit kalau kelamaan begini,” katanya lembut, berusaha menutupi kekakuan dalam suaranya.

“Kamu rupanya masih kaya dulu, ya. Mulutmu manis.”

“Manis gimana?”

“Tadi, kau memanggilku putri cantik.”

‘Oh, jadi begitu perlakuan kakakku padanya. Sedikit demi sedikit akan aku lakukan seperti kakakku dulu, dan sampai tiba waktunya, kebenaran tentang siapa yang membunuh kakakku akan terungkap ....’