Menikahi Istri Kakakku - Pisau Tajam - Bab 32

Penulis Yuan_bee
24 January 2026

Namun, tak ada jawaban. Hanya gema langkah yang semakin dekat. Arga refleks menoleh, tapi terlambat. Sebuah benda keras menghantam tengkuknya. Seketika pandangannya gelap. Tubuhnya ambruk, tergeletak di lantai.

Dua orang tak dikenal itu segera menyeret tubuh Arga yang tak sadarkan diri ke arah sedan hitam di sudut parkiran. Pintu bagasi dibuka perlahan, dan tubuh itu dimasukkan ke dalam dengan kasar.

“Cepat, sebelum ada yang lihat,” bisik salah satu pelaku, “Bos bilang, jangan ada jejak.”

Salah satu dari mereka mengawasi keadaan sekitar, berjaga-jaga apabila ada orang di sana.

Setelah dikira aman, bagasi tertutup rapat. Suara mobil menyala. Segera, sedan itu keluar dari tempat parkir itu tanpa menarik perhatian siapa pun.

Mereka yang menculik Arga, berhasil melewati pos keamanan, hingga pada akhirnya, keluar dari parkiran dan memasuki jalan raya. Mobil tadi berjalan semakin cepat melewati jalanan bebas hambatan.

Sementara itu, di dalam bagasi yang gelap dan sempit, tangan Arga masih bisa sedikit bergerak. Kepalanya terasa berat, darah mengalir hangat di leher belakangnya. Ia tak tahu ke mana mobil itu akan membawanya, tapi satu hal yang terlintas di benaknya, sebelum kembali tak sadarkan diri adalah; kedua orang itu pasti suruhan Dion.

Dion yang tadinya terprovokasi oleh Arga tak tinggal diam. Dia berusaha balas dendam dengan menculik Arga dan mungkin aja, akan membunuhnya.

Dion tahu, Arga adalah halangan baginya, untuk meraih keinginan menjadi CEO. Ia merasakan sakit yang luar biasa, kepalanya pusing dan pandangannya berkunang. Hingga pada akhirnya, ia pun pingsan lagi.

**

Beberapa saat kemudian, Arga membuka matanya, menyadari dirinya berada di dalam ruangan gelap. Hanya cahaya lampu temaram yang tak mampu membuat ruangan tersebut terang.

Kepala Arga berdenyut hebat saat kesadarannya perlahan kembali. Pandangannya buram, dunia terasa berputar. Ia mencoba bergerak, tapi pergelangan tangannya tertarik kuat oleh sesuatu yang kasar dan keras, yaitu tali tambang yang membelenggu dirinya.

Ia duduk di sebuah kursi besi tua yang berderit dengan tangan dan kaki terikat erat, sementara mulutnya dilakban. Udara di ruangan itu lembab dan berbau karat. Hanya satu lampu gantung berayun pelan di langit-langit, menciptakan bayangan panjang di dinding berlumut.

Suara tetesan air terdengar dari sudut ruangan, bersahut dengan desau angin yang menembus celah-celah seng. Arga mengerjap, mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan. Dari cahaya redup yang menyorot sebagian ruangan, ia bisa melihat karung-karung bekas, rak besi berdebu, dan drum kosong yang berbaris tak beraturan.

‘Gudang …? Lantas, di mana aku sebenarnya?’ pikirnya dalam hati.

Arga berusaha mengingat apa yang terjadi terakhir kali saat di parkiran. Langkah kaki dan benturan keras di tengkuknya. Setelah itu, dunia seakan gelap dan akhirnya, tak sadarkan diri.

Ia berpikir, mungkin di situlah akhir dari hidupnya. Dion bisa saja membunuhnya kapan pun, tapi anehnya, kenapa ia tak langsung mengeksekusinya? Begitulah dalam pikiran Arga yang masih menjadi pertanyaan besar.

Napasnya mulai memburu. Ia menggeliat, berusaha melepaskan ikatan, tapi simpul pada tali itu terlalu kuat. Darah pada urat nadinya seakan sulit mengalir karena ikatan itu.

Ia pun putus asa, karena usaha melepas tali itu tak kunjung berhasil, sehingga ia pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya.

‘Ya Tuhan, aku pasti akan mati di sini,’ gumamnya dalam hati.

Terbayang di otaknya, apabila ia mati menyusul kakaknya ke akhirat, lantas bagaimana dengan Nabila? Ia masih memerankan sosok kakaknya, dan drama buatan itu belum selesai, sebelum psikis Nabila membaik.

Beberapa saat kemudian, suara pintu terbuka dengan paksa, suara itu berupa dobrakan keras, bukan pintu yang dibuka perlahan.

Bisa jadi, seseorang yang memang kuat atau orang yang bukan merupakan sekutu Dion sedang membuka pintu secara paksa.

Seseorang masuk, melangkahkan kaki dengan tempo lambat, tapi beraturan, seolah-olah sedang mencari target yang ia incar di dalam ruangan tersebut – Arga yang masih disekap.

Orang itu mendekat perlahan, langkah sepatunya bergema di lantai semen yang dingin.

Arga mendengus dari balik lakban, matanya menyala penuh kemarahan dan tanya.

Orang itu menepuk kedua telapak tangannya, masih mencari sesuatu. Hal itu menimbulkan getaran takut pada Arga yang tak bisa dijelaskan. Ia berpikir, mungkin orang itu algojo atau semacamnya yang ditugaskan untuk membunuh Arga.

Arga menunduk, menarik napas panjang dari hidungnya, tapi masih berusaha agar suara napas tak terdengar.

Dalam hati, ia bersumpah, siapa pun orang di balik itu semua, cepat atau lambat, dia akan membongkar semuanya. Maka dari itu, ia harus tetap hidup bagaimana pun caranya. Ia harus bisa meloloskan dari dari tempat ia disekap

Jadi, jalan satu-satunya adalah; ia harus melawan orang itu sampai menang, apa pun caranya. Kalau dia tak melawan, sama saja nyawanya akan melayang. Hidupnya dipertuhkan saat itu juga.

Bayangan wajah Dion melintas di kepalanya. Tawa sinisnya, tatapan congkaknya saat di ruang rapat tadi. Semua seolah menyatu menjadi satu potongan gambar yang jelas bahwa Dion-lah pelakunya, dan orang itu adalah kaki tangannya.

“Pasti dia,” gumam Arga dalam hati, menatap lantai yang lembab dengan pandangan marah. “Dia ingin menyingkirkanku seperti dulu dia menyingkirkan Kak Dirga.”

Tenggorokannya terasa kering, dan rasa panas menjalar ke tengkuk yang masih nyeri akibat pukulan. Arga menatap ke langit-langit, menahan amarah yang terus mendesak keluar.

‘Kalau ini memang permainan Dion, maka dia sudah melangkah terlalu jauh.’

Ia menutup mata sebentar, mencoba menenangkan diri. Denyut darah di pelipisnya terasa makin kencang. Dalam kegelapan itu, Arga bertekad; jika ia berhasil keluar dari tempat itu hidup-hidup, maka ia tidak hanya akan mencari kebenaran, tapi juga keadilan atas kematian Dirga dan atas kebohongan yang selama ini menjerat keluarganya.

Arga menarik napas dalam-dalam, otot lengannya menegang saat ia mencoba meronta. Tali di pergelangannya menggesek kulit, menimbulkan rasa perih yang tajam. Ia menggeliat, memutar tubuh, menekan kursi ke arah belakang, tapi percuma. Kursi itu malah berderit keras, menimbulkan gema yang menyeramkan di ruang kosong itu.

Sementara itu, orang yang tadi mencari keberadaan Arga pun berhenti sejenak, lalu mendengar suara kursi berderit, ia pun melangkah menuju sumber suara tersebut.

Sebuah suara samar terdengar tak jauh dari posisi Arga, seperti langkah seseorang yang mendekat.

Arga menegakkan kepala, jantungnya berdegup cepat. ‘Kalau ketahuan, aku pasti mati.’

Cahaya lampu senter kecil menyapu ruangan, berhenti tepat di wajah Arga. Ia menyipit, mencoba melihat siapa sosok yang memancarkan senter di wajahnya. Namun, yang tampak hanyalah siluet tubuh tegap dengan hoodie gelap.

Ia berusaha berteriak minta tolong, tapi yang keluar hanya suara samar tertahan lakban. “Mmmphh ...! Mmmphh …!”

Orang itu tak berbicara sepatah kata pun, dia hanya diam. Lalu perlahan, dari balik jaketnya, ia mengeluarkan sebilah pisau berkilat.

Arga membelalakkan mata, tubuhnya menegang. Ia berusaha mundur, tapi tali di pergelangan tangannya menahan kuat. Ia tak sanggup menggerakkan kursi agar menjauh.

Sosok itu mendekat, mengangkat pisau perlahan dan tanpa suara, ujung pisaunya diarahkan tepat ke arah Arga ....